Ardhan Husein Zakhori adalah CEO di Millenial Group. Ia mewarisi perusahaan Kakeknya. Pribadinya yang sangat ramah membuatnya disukai banyak orang. Ia memiliki ambisi yang besar diumur yang masih muda. Namun, karena Kakeknya semakin tua dan mulai sakit-sakitan ia harus mencari calon istri dan menikah secepatnya. Saat itu pula cinta masa kecilnya datang.
"Will you marry me?" tanya Ardhan.
"Yes, I do," jawab wanita itu.
Ardhan yang malang. Ia tak tau jika hal itu akan menjadi awal ia mengetahui banyak kenyataan pahit. Akankah Ardhan menerima kenyataan dan mempertahankan cinta masa kecilnya? Atau menikahi orang lain demi mewujudkan keinginan Kakeknya? Dapatkah Ardhan bertahan dengan semua ujian ini? Penuh puzzle yang harus diselesaikan, ikuti perjuangan Ardhan dalam cerita ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daratullaila 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham
..."Selesaikan sesuatu dengan kepala dingin bukan sikap yang dingin."...
...✨...
Key tergesa-gesa memasuki kelas. Ia belum melihat Ardhan datang. Namun, tatapan sinis lah yang ia dapat dari teman sekelasnya.
Ada apa ini, batinnya.
Ia melangkah perlahan ke kursinya. Dilihatnya Noah dan Aiko di belakang kelas memberi tatapan membunuh. Rasanya ingin pulang saja. Key tak mengerti apa yang terjadi.
Ia memberanikan diri menghampiri Aiko.
"Ko," panggilnya.
"Kalian kenapa?" lanjutnya karena tak mendapat respon dari Aiko.
Noah berbisik pada Aiko. Sekarang mereka tak mengacuhkan Key. Ia pun kembali ke kursinya.
Adan kamu kapan datang? batinnya hampir menangis.
Ardhan memasuki kelas ragu-ragu. Entah kejutan apalagi yang akan ia dapat hari ini. Ia berjalan menghampiri Key.
Dilihatnya Key melamun sampai tak sadar dengan kedatangan Ardhan. Ardhan tak berani menegur. Takutnya ia kena semburan marah Key.
Tumben Key gak marah-marah, batinnya mengangkat bahu.
Ardhan memeriksa buku tugasnya. Saat itu pula Key menoleh karena suara di sampingnya.
"Adan kamu udah datang?" tanya Key lirih.
"Kamu sakit?" tanya Ardhan balik.
Muka Key pucat sekarang. Tatapan matanya sendu. Air di pelupuk matanya sudah siap jatuh.
"Kamu kenapa?" tanya Adhan lagi.
Key menggeleng menahan air matanya. Ia membalikkan badan dan membenamkan kepala.
Ardhan mengelus lembut kepala Key. "Kalau kamu sakit aku antar pulang ya," ucap Ardhan.
Key mengangguk. Ardhan membantu Key memakaikan tasnya. Memapah Key untuk sampai ke ruang guru dan minta izin. Belum sampai ke ruang guru, pengawal Key sudah sigap menghampiri mereka.
"Ada apa Nona?" tanya salah satu pengawal.
"Key sakit," Ardhan yang menjawab.
"Ayo pulang Nona," ucap si pengawal.
"Gak. Dia harus ke ruang guru dulu," tolak Ardhan.
Pengawal itu menggendong Key paksa. Ardhan mencoba mengejar. Namun, Key menganggukkan kepalanya isyarat bahwa ia baik-baik saja.
***
Ardhan meraih tangan Alia mencegahnya pergi. Terlalu kuat tarikannya hingga tubuh Alia jatuh ke dada bidangnya.
Deg
Mereka sama-sama membeku. Tangan Ardhan masih memegang tangan Alia dan Alia masih diam di depan Ardhan.
"Oh jadi gini sikap kamu di belakang aku?" tanya Key yang datang entah darimana.
Mereka berdua tersentak. Ardhan menjauhkan diri dari Alia dan menatap Key kaget.
"Apalagi yang mau dijelasin? Bukti udah ada. Saksi udah banyak," ucap Key menatap seluruh orang di kedai kopi.
Ardhan memberi kode kepada Noah. Noah yang mengerti segera mengosongkan kedai dan kembali.
"Key ini gak seperti yang kamu pikirkan," ucap Noah membantu menjelaskan.
"Kalian ini sama ya ternyata. Punya selera yang rendahan. Kamu pikir aku gak tau kalau kamu jemput cewek ini tadi pagi?" tanya Key pada Noah.
Noah terkejut. Ia mendapat tatapan horor dari Ardhan. Tak tau mau menjawab apa dia pun terdiam.
Mampus ketauan, batin Noah.
"Diam kan lo? Kemana Iko? Lo campakkan? Kamu juga Dhan. Udah mau nikah juga masih pelukan sama cewek lain. Dasar gak tau diri!" ketus Key.
"Maksud kamu apa?!" tanya Ardhan emosi.
"Maksud kamu yang apa?! Udah jelas pelukan sama cewek lain masih aja ngelak! Aku lihat sendiri Dhan bukan dengar dari orang lain!" bentak Key.
"Kejadiannya gak seperti ini!" bentak Ardhan balik.
"Bahkan kamu ngebentak aku demi bela cewek ini. Lo gak ikutan Noah? Lo juga ya. Jadi cewek murahan banget. Lo mau ngerebut calon suami gue? Lo juga mau ngerebut calon pacar sahabat gue? Sadar diri deh lo!" ucap Key kasar.
"Jaga omongan lo Key!" Noah membentak Key.
"Lo mulai ikutan Noah? Lo pikir gue gak tau kalian ngapain aja saat Ardhan gak masuk kantor? Dengar ya Dhan. Setiap pagi adik kamu jemput cewek murahan ini. Kamu gak heran kenapa dia mau bawa mobil sendiri? Atau dia bilang dia jemput Iko? Haish Iko malang. Namanya cuma dijadikan tameng sama Noah. Lebih baik lo berhentiin semua drama lo!" ucap Key panjang lebar.
"Lo jangan keterlaluan! Dia bukan cewek murahan! Gue jemput siapa juga bukan urusan lo!" ketus Noah.
"Yayaya gue tau kalian bakal bela cewek murahan ini," ucap Key santai.
Plak
Pipi Key memanas. Dilihatnya tangan Alia masih gemetar sehabis menamparnya.
Plak
Plak
Key membalas menampar dua kali. Saat ingin mengangkat tangan lagi, Ardhan mencegahnya.
"Apa Dhan? Kamu juga bela cewek ini?" tanya Key santai menurunkan tangannya.
"Kamu ada cegah dia nampar aku? Gak ada kan haha," ucap Key tertawa hambar.
"Karena kamu yang salah!" bentak Ardhan.
"Jadi kalian gak salah? Ha?" bentak Key balik.
"Kecewa aku Dhan," ucap Key berlari keluar memegang pipinya yang panas.
Ardhan dan Noah menghela napas. Tak tau siapa yang benar siapa yang salah. Mereka diam satu sama lain. Sedangkan Alia sudah pergi ke dapur.
"Lo benar jemput Alia dek?" tanya Ardhan serius.
"Hm ...," gumam Noah.
"Kenapa lo bilang kalo lo jemput Iko? Jadi perasaan lo ke Iko gimana? Dia udah ngelepas gue. Ini saatnya lo ngejar dia. Lo udah ngelepas Iko juga?" tanya Ardhan bertubi-tubi.
Noah diam. Perasaannya campur aduk sekarang. Ia tak tau harus menjawab apa lagi karena ia pun tak mengerti yang sebenarnya.
"Kenapa Key kasar banget bang?" tanya Noah di sela-sela diam mereka.
"Mungkin gue juga bakal gitu kalau keadaannya dibalik," jawab Ardhan lesu.
"Gue balik dulu deh dek. Gue harus bujuk Key," ucap Ardhan berlalu pergi.
Ardhan kembali ke ruangannya lewat jalan pintas. Ia tak ingin karyawannya melihat dirinya yang berantakan. Ia sampai di ruangan dan merebahkan diri ke sofa.
"Huhh ...," ia mendengkus kasar.
Ia mencoba memikirkan cara agar Key dapat menghangat lagi.
Kalau gue kasar sama Key dia bakal lebih kasar. Kalau gue bentak dia bukannya malah luluh tapi makin memperkeruh. Ego dia tinggi. Gue harus melawan ego sendiri saat ini, batinnya.
Ardhan menelepon seseorang.
"Siapkan 'Kolam Merah' di sekitar taman rumah. Buatkan juga pesta kecil di sana," perintah Ardhan langsung mematikan sambungan.
Ardhan menarik napas dalam. Ia akan mengunjungi Key sekarang. Sebelum itu ia mencuci muka dan merapikan dirinya. Ia keluar ruangan dan berjalan dengan cool.
"Key," panggilnya sambil membuka pintu.
Dimana dia, batin Ardhan.
Ruangan Key berantakan. Ardhan mencari-cari Key di dalam ruangan. Namun, hasilnya nihil. Key tidak ada di sana.
Ia bertanya pada karyawan yang dekat dengan ruangan Key.
"Kalian ada yang lihat Sekretaris Key?" tanya Ardhan gelisah.
Mereka diam dan menggeleng. Ardhan frustasi sekarang.
"Siapa yang lihat?!" tanya Ardhan menaikkan suaranya.
"Sa--saya Pak," ucap seorang karyawan menaikkan tangannya.
"Sekretaris Key tadi naik ke rooftop," lanjutnya.
Ardhan tercengang. Ia berlari secepat yang ia bisa.
Key kamu mau ngapain? Kalau terjadi apa-apa sama kamu aku gak akan memaafkan diri aku, batinnya.
Ia takut Key akan berpikir pendek saat emosi. Ia pun menambah kecepatan larinya.
mohon dukungannya juga untuk novelku kak....SunFlower. mohon tinggalkan saran, masukan dan kritik kan dariku yang masih belajar ini....🙏🏻😊🤗
semangat terus, ditunggu updatenya
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
💛 Good luck! 💛
⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
semangat^^
maaf Cinta dan air mata dan cinta Berlumur Dosa tahap penghapusan gak usah di like ya Thor 🙏🙏