Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
_____🌺
Pukul 10.00 Pagi.
Di ruang Kerja.
Bruk! Brak!
"Heh, Dimas! Buka pintunya! Ini Mama bawa asap kemenyan daun bidara campur serbuk kayu manis! Kata Mbah Surip, dukun online langganan Mama, asap ini ampuh banget buat ngusir aura negatif bos kamu yang sering marah-marah itu, biar rahim istrimu nggak ikutan stres!"
Gedoran membabi buta dari balik pintu ruang kerja di rumah itu sukses membuat jantung Dimas nyaris melompat keluar dari rongga dadanya.
Pria berkemeja rapi namun bercelana pendek kolor itu sedang berada di tengah-tengah panggilan video penting dengan Pak Cokro dan dua klien besar dari Jepang.
Nisa, yang sedang asyik mengetik novel di sudut ruangan yang sama, langsung menepuk jidatnya pasrah.
"Waduh, mati aku, Nis! Nyonya besar kumat lagi jam segini!" bisik Dimas panik.
Dia buru-buru mencari tombol mati suara di aplikasi Zoom-nya.
"Biarin masuk aja, Mas. Kalau dikunci, nanti pintunya didobrak beneran sama nyonya sosialita itu. Kamu tahu sendiri kan tenaga ibumu kalau lagi mode dukun online itu setara kuli bangunan," balas Nisa pelan.
Belum sempat Dimas menekan tombol, pintu sudah terbuka lebar. Sang mertua julid melangkah masuk dengan gaya angkuh, membawa sebuah tungku tanah liat kecil yang mengepulkan asap putih tebal berbau sangat menyengat. Hidung Nisa langsung kembang kempis menahan bersin.
"Ma! Astaga! Dimas lagi rapat penting banget ini sama klien Jepang! Kenapa bawa-bawa tungku asap ke sini sih? Ini bau banget sumpah, kayak bau sate kambing gosong dicampur kemenyan!" protes Dimas dengan suara setengah berbisik, wajahnya pucat pasi melihat asap mulai memenuhi layar kameranya.
"Heh, kamu itu jangan meremehkan ikhtiar jalur udara! Ini namanya aromaterapi penyubur kandungan dan penangkal stres!" bantah wanita paruh baya itu dengan suara melengking lantang, tak peduli sama sekali dengan layar laptop anaknya yang menyala.
"Tadi pagi Mama konsultasi lewat panggilan video sama Mbah Surip. Katanya auramu di kantor itu terlalu gelap karena ditekan terus sama atasanmu! Makanya Mama ruqyah kamarmu sekarang juga pakai asap bidara ini!"
Di layar laptop, wajah Pak Cokro yang garang mendadak berkerut heran.
"Dimas? Itu suara siapa di belakangmu berisik sekali? Dan kenapa kameramu tiba-tiba banyak asap putihnya? Ruanganmu kebakaran, Dimas?!" suara bariton sang bos menggelegar dari pelantang suara laptop.
Dimas gelagapan, keringat dingin sebesar biji jagung mulai mengucur di dahinya.
"Eh, bukan, Pak Cokro. Anu ... ini ... istri saya lagi nyalain pengharum ruangan, Pak. Iya, pengharum rasa ... rasa kayu manis campur teh hijau. Aromaterapi biar rileks kerjanya, Pak."
Nisa yang lagi anteng ngetik langsung mendelik tajam. Enak saja suaminya itu menjadikan dirinya tameng kebohongan. "Loh, kok aku yang dibawa-bawa sih, Mas? Jelas-jelas itu nyokapmu yang bawa tungku sajen!" bantah Nisa tak terima, suaranya masuk dengan sangat jernih ke dalam mikrofon laptop.
Mendengar suara menantunya membantah, wanita yang hobi memakai perhiasan emas itu langsung tak terima. Ia meletakkan tungku tanah liatnya di atas meja kerja Dimas dengan bunyi berdebum keras. Asapnya semakin mengepul tebal menutupi wajah Dimas.
"Heh, Bapak Cokro atau siapa pun nama situ!" seru ibunda Dimas tiba-tiba, mendekatkan wajahnya yang penuh bedak tebal ke arah kamera laptop, menggeser tubuh anaknya dengan kasar. "Saya ibunya Dimas! Nyonya Ratna! Saya mau protes keras sama cara Bapak mempekerjakan anak saya selama ini!"
"Ma! Jangan, Ma! Ampun, Ma, ini bos Dimas beneran! Bisa dipecat Dimas nanti kalau Mama nekat ngomong aneh-aneh!" jerit Dimas histeris, berusaha menarik lengan daster ibunya menjauh dari layar, tapi tenaga wanita itu benar-benar luar biasa kuat.
Pak Cokro di seberang layar tampak sangat terkejut, kacamatanya sampai melorot ke ujung hidung. "Ibu ... ibunya Dimas? Ada masalah apa ini, Bu? Kita sedang rapat penting dengan klien dari Tokyo. Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda."
"Tokyo, Kyoto, terserah Bapak! Yang jelas, saya nggak terima anak kandung saya ditekan terus-terusan soal target jualan mesin rongsokan di kantor Bapak! Gara-gara stres dimarahin Bapak terus, anak saya ini jadi susah bikin anak! Kualitas bibitnya menurun drastis, Pak! Istrinya, si Nisa ini, udah tujuh tahun perutnya kosong melompong nggak isi-isi! Bapak mau tanggung jawab kalau keluarga besar Bratadikara punah nggak ada penerus silsilahnya?!" cerocos wanita sosialita itu tanpa titik koma.
Telunjuknya menuding-nuding garang ke arah layar komputer.
Nisa yang melihat adegan itu dari sudut ruangan hanya bisa menutup wajahnya dengan bantal sofa. Antara malu, kaget, dan ingin tertawa meledak melihat bos suaminya yang terkenal galak itu kini mati kutu diceramahi oleh sang mertua julid perkara kualitas bibit unggul.
"Loh, Ibu. Urusan target perusahaan itu kewajiban Dimas sebagai pegawai bagian penjualan. Apa hubungannya dengan urusan reproduksi rumah tangga anak Ibu? Itu sangat di luar batas yurisdiksi perusahaan saya!" balas Pak Cokro.
Ia mencoba mempertahankan wibawanya meskipun wajahnya sudah memerah menahan kaget dan malu di depan klien asing.
"Ya pasti ada hubungannya dong! Pakai logika aja, Pak Bos! Kalau pikirannya pusing mikirin target yang nggak masuk akal pikiran sehat, mana bisa dia rileks pas lagi tempur di ranjang sama istrinya?! Makanya Bapak itu jadi bos jangan pelit-pelit kasih bonus buat bawahan! Kasih libur kek seminggu ke Bali biar mereka berdua bisa madu kasih lagi! Bukannya malah disuruh nungging ngetik laporan sambil nahan encok punggung!" sembur sang ibunda Dimas makin beringas, tak memberikan celah sedikit pun pada Pak Cokro untuk mengambil napas.
Dua klien Jepang di layar yang didampingi penerjemah bahasa mereka tampak kebingungan luar biasa melihat layar Dimas yang dipenuhi asap kemenyan putih dan seorang ibu-ibu berlipstik merah menyala yang sedang marah-marah menunjuk layar.
"Ada apa ini sebenarnya, Dimas? Siapa wanita ini?" tanya salah satu klien lewat penerjemahnya dengan wajah bingung campur heran.
_____🌺
Dimas yang sudah setengah menangis merana akhirnya berhasil merebut kembali tetikusnya dan menekan tombol putus panggilan secara paksa. Layar langsung menjadi hitam kelam seketika. Keheningan yang sangat canggung dan menyeramkan menyelimuti ruang kerja yang kini berbau tajam seperti makam keramat itu.
"Ma ... Mama sadar nggak sih barusan ngomong apa ke Pak Cokro?" suara Dimas bergetar hebat .
"Dimas baru aja memutus panggilan sama klien bernilai miliaran, Ma. Besok pagi, bukan cuma bibit Dimas yang mati, tapi karir kerja Dimas juga pasti ikut mati dikubur hidup-hidup sama Pak Cokro!"
Wanita paruh baya itu malah mengibaskan tangannya dengan gaya sangat santai dan angkuh meremehkan.
"Halah! Lebay banget kamu jadi laki-laki, Dim. Perusahaan kayak gitu mah tinggalin aja! Bosnya nggak punya hati nurani sama sekali, nggak peduli sama kesejahteraan batin karyawannya. Besok kamu keluar aja dari sana! Cari kantor baru yang bosnya lebih peduli sama keluarga!"
"Keluar dari kantor Mama bilang?!"
Nisa akhirnya ikut bersuara tegas, tak tahan lagi melihat ke-absurd-an mertuanya siang ini. Ia bangkit dari kursinya dan menghampiri meja kerja suaminya dengan cepat.
"Ma, kalau Mas Dimas keluar berhenti kerja besok pagi, terus yang bayar cicilan rumah bulan depan siapa? Yang bayar tagihan kartu kredit Mama pas borong kasur batu giok puluhan juta kemarin siapa coba? Emang Mbah Surip dukun sakti itu mau bayarin semua utang-utang kita ke bank?"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh