Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Teng. Teng. Teng.
Suara jam dinding besar di ruang keluarga berdentang menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Ketiga nona muda keluarga itu sedang berkumpul melingkar di sofa dengan wajah yang sangat kusut.
"Aku benar-benar tidak tahan melihat wajah santainya itu," keluh Tata sambil meninju bantal sofa.
"Komputerku masih belum bisa dinyalakan sampai sekarang gara-gara sistem pertahanannya semalam," tambah Melly dengan nada merengek.
Lyly meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dengan gerakan sangat pelan namun penuh tekanan.
"Kita harus mengubah strategi kita hari ini juga," ucap Lyly dengan nada dingin.
"Kekerasan fisik dan peretasan teknologi sudah terbukti gagal total mengusir pria itu," lanjut wanita berblazer rapi tersebut menganalisis kegagalan mereka.
Tata menyandarkan punggungnya ke sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lalu kita harus pakai cara apa lagi, Kak? Mau meracuni makanannya?" usul Tata setengah bercanda karena sudah frustrasi.
"Jangan bodoh. Kita tidak akan melakukan tindakan kriminal di rumah kita sendiri," tolak Lyly dengan cepat.
Lyly membetulkan letak kacamatanya lalu menatap kedua adiknya dengan senyum tipis yang licik.
"Kita akan menyerang mental dan staminanya secara bersamaan dengan cara yang paling legal," jelas Lyly.
"Maksud Kakak, kita mau menyuruh dia kerja kasar membersihkan seluruh rumah?" tebak Melly penasaran.
"Bukan. Kita bertiga akan pergi belanja ke pusat perbelanjaan terbesar di kota ini sekarang juga," jawab Lyly membeberkan rencana barunya.
Tata dan Melly saling berpandangan dengan dahi berkerut tidak paham.
"Apa hubungannya belanja dengan mengusir gembel itu, Kak?" tanya Tata mewakili kebingungan mereka berdua.
"Pria paling kuat di dunia sekalipun pasti akan hancur mentalnya jika disuruh menemani tiga wanita berbelanja seharian," kata Lyly dengan penuh percaya diri.
"Kita akan membeli barang sebanyak dan seberat mungkin, lalu menyuruh dia membawanya keliling mall tanpa istirahat," lanjut Lyly menjelaskan inti dari rencananya.
Mata Tata dan Melly langsung berbinar terang menyadari betapa kejamnya siksaan psikologis yang direncanakan kakak mereka.
Menjadi kacung pembawa barang wanita yang sedang berbelanja memang diakui sebagai neraka dunia bagi sebagian besar pria.
"Ide yang luar biasa cerdas, Kak Lyly! Aku akan beli banyak suku cadang komputer yang terbuat dari besi padat," sorak Melly sangat bersemangat.
"Aku juga akan beli puluhan barbel baru untuk melengkapi ruang latihanku nanti," tambah Tata sambil tertawa puas.
Kriet.
Suara pintu kamar tamu di lantai bawah terbuka mengalihkan perhatian ketiga gadis itu.
Jarot berjalan keluar dengan gaya langkah yang sangat malas sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
Ia memakai celana pendek selutut dan kaos oblong putih yang sudah agak pudar warnanya.
"Pagi, Nona-nona. Ada makanan sisa untuk sarapan tidak di dapur?" sapa Jarot santai seolah tidak punya dosa apa pun pada mereka bertiga.
Lyly langsung berdiri dari sofa dan menatap Jarot dari atas sampai bawah dengan pandangan merendahkan.
"Jangan mimpi bisa sarapan gratis hari ini. Cepat ganti bajumu sekarang juga," perintah Lyly dengan nada bos besar.
"Ganti baju buat apa, Mbak? Aku kan mau lanjut tidur siang," balas Jarot beralasan dengan wajah tanpa dosa.
"Tugasmu sebagai pengawal kami baru saja dimulai hari ini," potong Tata ikut berdiri menghadap Jarot.
"Kamu harus menemani dan mengawal kami bertiga pergi ke pusat perbelanjaan Grand City sekarang," kata Tata menambahkan.
Jarot menghela nafas panjang mendengar kata pusat perbelanjaan yang sangat ramai dan merepotkan itu.
"Harus banget hari ini perginya? Kalian tidak takut ada musuh Mama kalian yang mencegat di jalan?" tanya Jarot mencoba beralasan logis.
"Itu urusanmu untuk melindungi kami. Bukankah kamu dibayar mahal untuk itu?" sindir Lyly membalikkan perkataan Jarot.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu lima menit, aku ganti celana panjang dulu," ucap Jarot akhirnya menyerah berdebat.
Jarot berbalik kembali masuk ke kamarnya dengan langkah terseret-seret.
"Pasti dia tidak punya pakaian bagus selain kaus gembelnya itu," cibir Melly yang ikut berdiri merapikan jaketnya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka berempat sudah berada di dalam mobil SUV mewah milik keluarga Nisa.
Jarot terpaksa bertugas menjadi supir dadakan karena ketiga gadis itu menolak duduk di kursi depan.
Brummm.
Jarot mengemudikan mobil besar itu dengan sangat mulus dan santai membelah jalanan ibu kota yang mulai padat.
Sesampainya di lobi utama Grand City Mall, Jarot menyerahkan kunci mobil kepada petugas valet.
Ia berjalan di belakang tiga gadis cantik yang langsung menjadi pusat perhatian banyak pengunjung mall tersebut.
Lyly, Tata, dan Melly memang memiliki pesona dan aura anak orang kaya yang sangat kuat.
Sementara Jarot yang berjalan di belakang mereka lebih terlihat seperti asisten pribadi yang kurang gizi.
"Kita mulai dari lantai dasar, masuk ke semua toko merek terkenal," komando Lyly memimpin jalan.
Mereka bertiga mulai masuk dari satu butik pakaian mahal ke butik lainnya tanpa membuang waktu.
"Pelayan, tolong bungkus sepuluh gaun ini beserta sepatu hak tingginya," perintah Lyly di toko pertama.
Tiga kantong belanjaan besar berbahan kertas tebal langsung disodorkan ke arah Jarot.
Jarot menerimanya dengan satu tangan tanpa berkomentar apa pun.
"Masih ringan, paling cuma dua kilo," batin Jarot menimbang berat kantong tersebut.
Di toko berikutnya, giliran Melly yang membeli dua set komputer rakitan lengkap dengan monitor besarnya.
"Bawa ini semua, hati-hati jangan sampai jatuh karena harganya sangat mahal," kata Melly menyerahkan lima kotak besar kepada Jarot.
Jarot menumpuk kelima kotak besar itu di atas tangan kirinya dengan keseimbangan yang sangat sempurna.
"Tenang saja, Mbak. Tangan aku sudah ada fitur anti gempa," canda Jarot membuat Melly mendengus kesal.
Satu jam berlalu, barang belanjaan ketiga gadis itu sudah menumpuk menjadi sangat banyak.
Mereka sengaja membeli barang-barang yang tidak terlalu mereka butuhkan asalkan ukurannya besar dan berat.
Jarot kini membawa lebih dari dua puluh kantong belanja dan kardus di kedua tangan serta bahunya.
Tumpukan barang itu bahkan sudah menutupi wajah Jarot sampai ia harus memiringkan kepalanya untuk melihat jalan.
Tap. Tap. Tap.
Lyly berjalan di depan dengan senyum kemenangan yang tercetak jelas di bibirnya merahnya.
Ia sesekali menoleh ke belakang berharap melihat wajah Jarot yang pucat kelelahan dan berkeringat deras.
Namun anehnya, nafas Jarot masih terdengar sangat teratur dan langkah kakinya sama sekali tidak melambat.
"Dia ini manusia atau mesin pemindah barang sih?" bisik Tata kepada Lyly dengan nada mulai frustrasi.
"Bertahanlah, Tata. Tidak ada otot manusia yang tahan mengangkat beban puluhan kilo sambil berjalan berjam-jam," balas Lyly meyakinkan adiknya.
Mereka pun melanjutkan penyiksaan itu dengan masuk ke toko perabotan rumah tangga.
Tata membeli tiga buah vas bunga besar yang terbuat dari keramik tebal yang sangat berat.
"Tambahkan ini ke daftar bawaanmu, pengawal," ucap Tata meletakkan kantong vas itu ke atas lengan Jarot.
Wusss.
Jarot menyusun ulang tumpukan barangnya dengan gerakan sangat cepat agar vas berat itu tidak merusak kardus di bawahnya.
"Mbak Tata mau buka toko bunga di rumah ya? Beli vasnya banyak banget," komentar Jarot santai dari balik tumpukan kardus.
Ketiga gadis itu tidak menjawab dan terus berjalan keliling mall dengan langkah kaki yang sengaja dipercepat.
Mereka ingin memaksa Jarot untuk berjalan cepat sambil membawa beban berat agar staminanya cepat terkuras habis.
Dua jam kemudian, situasi justru berbalik seratus delapan puluh derajat dari rencana awal mereka bertiga.
Bruk.
Tata langsung menjatuhkan dirinya ke salah satu kursi panjang di pinggir koridor mall karena kakinya sudah sangat pegal.
"Aku menyerah, Kak. Betisku rasanya mau kram kalau disuruh jalan satu keliling lagi," keluh Tata memijat kakinya.
Melly juga ikut duduk di sebelah Tata sambil bersandar ke dinding kaca toko dengan napas terengah-engah.
"Kak Lyly beli barangnya kejauhan ujung ke ujung, aku capek banget," rengek Melly yang memang jarang berolahraga.
Lyly sendiri sebenarnya sudah sangat kelelahan berdiri menggunakan sepatu hak tinggi selama dua jam penuh.