Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Dia melirik jam tangan. Sudah pukul 10.20. Tinggal sepuluh menit. Kalau tidak mau terlambat, dia harus ganti kendaraan.
Sana memang tipe orang yang langsung bertindak begitu memutuskan sesuatu. Dia turun dari bus di pemberhentian terdekat dan langsung menyetop taksi.
Tapi baru saja dia mau membuka pintu taksi, seorang perempuan berpenampilan penuh perhiasan menyerobot dan bersikeras masuk lebih dulu.
"Mbak, kok gitu? Saya yang lihat taksi ini duluan, Mbak..." Sana mengernyit. Dia tidak percaya dengan yang baru dialaminya.
"Aku nggak peduli. Aku sudah duduk duluan."
Pintu dibanting tepat di depan Sana. Perempuan itu duduk dengan sikap angkuh dan menyuruh sopir segera jalan.
"Mbak, tadi Mbak yang ini lebih dulu menyetop saya. Maaf, saya nggak bisa antar Mbak." Sopir yang sudah tidak tahan itu mengambil keputusan sendiri dan membukakan pintu supaya perempuan itu keluar.
Bertahun-tahun jadi sopir taksi, baru kali ini dia bertemu penumpang yang begitu tidak tahu aturan. Memang mencari nafkah itu harus ramah pada siapa pun. Tapi dia lebih baik kehilangan uang daripada melayani orang yang sombong seperti itu.
"Hmph! Ya sudah, aku juga nggak mau naik. Taksi butut begini, siapa juga yang sudi! Aku, Sheila Maheswari, nggak peduli!" Perempuan berhias permata itu turun dengan marah, menggerutu sambil melotot ke arah Sana yang berdiri di dekatnya.
"Terima kasih, Pak! Saya minta tolong antar ke Jalan Jenderal Sudirman nomor 5..."
Sana sengaja mengabaikan tatapan tajam Sheila. Dia cepat-cepat masuk ke taksi dan menyebut alamat Hanggara Group.
"Siap, Mbak. Saya mengerti." Sopir mengangguk, menginjak gas, dan segera membawa mobilnya pergi dari tempat keributan itu.
Sopir itu berpikir, makin lama kok makin banyak orang aneh di jalan. Dia sebenarnya mampu menghadapi seorang perempuan seperti tadi. Tapi siapa yang bisa menjamin perempuan yang dia turunkan itu tidak lebih merepotkan dan tidak masuk akal daripada Bram Chandra, orang yang entah datang dari mana itu?
"Pak, tadi Bapak berani sekali. Terima kasih banyak sudah membela saya." Sana tersenyum dan berterima kasih pada sopir, lalu tanpa sadar melirik jam tangannya lagi.
"Mbak lagi buru-buru, ya?" Sopir memandangnya lewat kaca spion. Dari pengalaman bertahun-tahun mengantar penumpang, perempuan ini jelas sedang terdesak waktu.
"Iya, Pak. Saya ada wawancara kerja jam setengah sebelas..." Sana menghela napas dengan wajah lesu.
Keributan dengan Sheila tadi memakan waktunya yang sudah sempit. Peluang untuk tiba di Hanggara Group tepat waktu kecil sekali.
"Jangan sedih, Mbak. Saya usahakan bisa sampai tepat waktu," kata sopir itu bersemangat begitu tahu Sana mau wawancara kerja.
Dia ikut merasakan susahnya mencari pekerjaan. Dia pernah mengalaminya sendiri, jadi dia paham betul perasaan Sana sekarang. Karena itu dia mau membantu.
"Terima kasih, Pak... Aduh—" Belum selesai Sana mengucap terima kasih, mobil tiba-tiba melaju kencang.
Beberapa saat kemudian, sebelum dia sempat tahu sedang lewat jalan mana, gedung Hanggara Group sudah muncul di hadapannya.
"Semoga sukses wawancaranya, Mbak. Hati-hati." Sopir membukakan pintu, melambaikan tangan, lalu pergi tanpa menoleh lagi.
"Pak! Ongkosnya..."
Sana menatap taksi itu menjauh. Dia berdiri bengong dengan ongkos yang belum dibayar dan tampak benar-benar bingung.
Ada apa ini? Apa dia baru bertemu orang yang suka menolong tanpa pamrih? Tapi sopir ini baik sekali, terlalu baik.
Dia memiringkan kepala, tidak habis pikir, lalu mengangkat bahu dan berhenti memikirkannya. Anggap saja ini keberuntungan, bertemu orang baik hari ini.
Setelah merapikan diri, Sana berjalan masuk ke gedung Hanggara Group untuk menjalani wawancara kerja formal pertamanya.