Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Kebakaran Markas
Kedua orang tua Isabella memang sedang tidak di rumah. Mereka tengah ada perjalanan bisnis ke luar negeri selama satu minggu ini.
"Non, ini minuman anda!" Sofia datang meletakan minuman di atas meja tepat di hadapan Isabella.
"Kenapa kamu yang bawa? Apakah tidak ada pelayan?" tanya Isabella. Matanya menatap Sofia dengan dingin.
"Mereka sedang istirahat. Tidak apa Non hanya minuman saja!" jelas Sofia, membawakan minuman untuk orang yang sudah menyelamatkan dia adalah hal yang paling membuat dia beruntung.
"Baiklah, ayo duduk! Aku akan ajari kerjaan kamu!" kata Isabella. bergeser sedikit agar Sofia bisa duduk.
Sofia agak ragu. Dia ini tidak bisa duduk tempat dengan Isabella karena bagaimanapun status mereka berbeda.
"Disini! Kenapa malah mau duduk di bawah?" cegah Isabella. Saat Sofia akan duduk di lantai.
"Non, kurang pantas kalau saya duduk sama Non Isa, biar saya du—"
"Aduh! Kurang pantas apa lagi?" ketus Isabella. Dia segera membawa Sofia untuk duduk di sofa yang sama.
Isabella dengan baik membantu Sofia untuk belajar menggunakan laptop, ponsel mewah dan beberapa benda elektronik lainnya karena pekerjaan sebagai Asistennya harus pintar menggunakan semua ini.
"Bisa tidak?" tanya Isabella, dengan sabar dia bertanya pada Sofia.
"Saya akan belajar perlahan. Terima kasih sudah memberikan kesempatan itu pada saya Nona!" kata Sofia, wanita tidak terpelajar seperti dirinya sangat beruntung mendapatkan pekerjaan ini.
"Kamu pasti bisa. Sama seperti di kehidupan sebelumnya!" Isabella mengatakan kalimat akhirnya di dalam hati.
Malam semakin larut. Saat Isabella kembali ke dalam kamar, dia akan istirahat besok karena pagi-pagi sekali dia harus ke perusahaan dan mengecek beberapa berkas keuangan yang menurut Asistennya memiliki beberapa kejanggalan.
Sedangkan di sisi lain.
Pergerakan tak biasa terjadi di markas gelap milik Davis. Beberapa penjaga tumbang begitu saja di depan pintu markas.
"Aku pikir Davis itu kuat, ternyata mereka hanya tikus lemah!" dia mencibir dengan angkuh.
Dia bergerak dengan cepat. Mata gelap di balik masker itu menatap dingin pada lorong di depannya menuju penjara bawah tanah.
Di sudut penjara yang gelap dan pengap, sosok Lyra tengah duduk di sana, keadaan yang tak baik dengan tubuh meringkuk kedinginan.
"Nona Lyra!" seseorang memanggil dan itu membuat Lyra tersentak.
Lyra mendongak. Matanya memicing tajam saat melihat seseorang berdiri di luar penjara dengan masker di wajahnya.
"Si—siapa kamu?" tanya Lyra, suaranya serak dengan penampilan yang tak lagi sama.
"Apa pentingnya kamu tahu atau tidak? Sekarang yang akan membebaskan kamu adalah saya," ucapnya. Suara dinginnya menyapa lebih dingin dari pada dinding penjara bawah tanah itu.
Lyra tak mengatakan apapun, dia hanya membiarkan orang asing itu membuka gembok di penjara itu dengan sekali pukul.
"Ayo keluar! Seseorang sudah menunggu kamu," katanya.
"Siapa?" suara Lyra lemah. Dengan penampilan yang tak lagi sama.
Lyra, wanita yang selalu berpenampilan glamor dan mewah itu kini tak lagi sama. Dia berwajah kuyu, dekil dan tak terawat dengan wajah kusam.
"Bagaimana kamu masuk?" tanya Lyra, suaranya benar-benar lemah karena dia tak ingin menyantap makanan sejak tiba di sana.
"Hanya masuk bukan masalah, untuk apa bertanya?" sahutnya dingin.
"Tapi penjaga di sini ketat, dan mustahil kamu bisa masuk dengan mudah!" kata Lyra, dia benar-benar tak percaya kalau dia bisa masuk semudah itu.
Pria itu melemparkan seseorang yang sudah tak bernyawa ke dalam penjara Lyra, itu sebagai bukti kalau wanita itu lenyap sesuai perintah sang Tuan.
Lyra tak mengatakan atau bertanya apapun, walaupun perasaannya tak nyaman. Namun, dia berusaha menepis itu dan bermaksud mengabaikan perasaan itu karena mungkin saja penjaga sedang lengah.
Mobil hitam sudah terparkir jauh dari sana. Lyra masuk dan karena dia tak tahu apapun dia hanya mau bebas tentu dia tak memikirkan hal buruk apa yang akan terjadi nantinya.
Dalam pikiran Lyra, ini adalah kesempatan bagus untuk bebas dan dia akan membalas dendam pada Isabella.
Pria bertopeng tadi, melemparkan sesuatu ke arah markas Davis, seketika api langsung membesar dengan cepat dan melahap apapun yang ada di sana.
"Kau gila!" pekik Lyra, dia sana masih ada Darel.
"Ini adalah bukti agar kamu bisa bebas sesuai rencana orang di belakang mu!" jawabnya acuh.
"Siapa dia? Di sana masih ada Darel, dia belum keluar!" makinya, nada suaranya meninggi.
"Aku hanya di tugaskan membebaskan kamu dan tak peduli akan pria bernama Darel itu," katanya.
Menyalakan mesin mobil, dia mulai melajukan mobil itu pergi dari sana meninggalkan area itu dengan cepat.
Sedangkan di belakang. Kobaran api terus melahap apapun yang ia lewati. Awan gelap membumbung tinggi dengan hawa panas yang tak bisa di abaikan.
Seseorang tersenyum tipis. Menatap api dan perlahan melirik pada mobil yang mulai menjauh dan hanya meninggalkan titik hitam sebelum akhirnya benar-benar menghilang.
"Akhirnya kamu muncul juga!" gumamnya.
Mata indahnya memancarkan kobaran api di depan sana. Dengan senyum smrik yang tak bisa ia sembunyikan lagi.
Pagi itu.
Suasana langsung riuh. Beberapa anak buah menelpon ponsel Isabella di pagi buta dan suara notifikasi tak berhenti sejak dini hari.
"Ada apa?" tanya Isabella, dia melirik jam di dinding kamarnya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
"Nona, markas kebakaran!"
Suara dan berita dari sebrang sana membuat Isabella terkejut. Dia langsung terbangun dari tidurnya dengan mata mendelik tak percaya.
"Apa? Bagaimana bisa?" pekik Isabella, nada suaranya meninggi.
"Kamu sedang menyelidiki masalahnya. Apa anda bisa datang Nona?"
"Aku akan kesana, cari tahu apa yang terjadi dan pastikan semua yang di dalam sana selamat!" kata Isabella.
Setelah itu panggilan berakhir. Dan tanpa basa-basi Isabella segera turun dari ranjangnya untuk bersiap. Tak lupa mengirim pesan pada Arion untuk datang hari ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Isabella penasaran.
Semua pertanyaan itu akan dia dapatkan saat tiba di markas nanti.