Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.
Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".
Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.
Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.
Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 — Jejak di Balik Kabut
Matahari pagi baru saja merayap naik di ufuk timur, menyinari atap-atap kediaman keluarga Li yang berkilauan terkena embun. Namun ketenangan pagi itu tak bertahan lama. Tepat saat para pelayan mulai membuka pintu-pintu utama, terdengar suara gaduh di gerbang depan — bukan suara tamu yang datang dengan hormat, melainkan keributan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Li An segera keluar dari kamarnya, mengenakan jubah sederhana namun bergerak dengan sigap seperti kucing. Di belakangnya, Ling Yue mengikuti dengan napas tertahan, jantungnya berdebar kencang.
Di gerbang, tergeletak sebatang anak panah yang menancap teguh pada papan kayu pintu utama. Di ujung anak panah itu terikat selembar kain sutra hitam — warna yang selalu melambangkan ancaman kematian yang tak terelakkan.
Paman Feng berdiri di sana, wajahnya pucat. "Tidak ada yang melihat siapa yang melepaskannya," ucapnya dengan suara berat. "Penjaga yang berjaga di menara melaporkan hanya melihat bayangan hitam melesat ke arah hutan di sebelah timur, lalu lenyap seketika."
Li An mencabut anak panah itu perlahan, jemarinya meraba permukaan kain hitam yang halus namun dingin. Ia membukanya, dan di atasnya tertulis tulisan dengan tinta merah yang masih terasa basah:
"Darah penjaga kuno bukan milik kalian. Serahkan sekarang, atau api akan melahap segala yang kalian cintai."
Ling Yue membaca tulisan itu dari samping, dadanya sesak. "Mereka tahu..." bisiknya. "Mereka tahu tentang kita, tentang Rouran... tentang semuanya."
"Dan mereka sudah dekat," sambung Li An dingin, matanya memindai sekeliling hutan yang masih diselimuti kabut tipis. "Mampu menembakkan anak panah sejauh ini tanpa terlihat berarti mereka mengawasi kita sejak lama." Ia menoleh pada Paman Feng. "Perkuat penjagaan. Tutup semua pintu dan jendela. Jangan biarkan siapa pun keluar tanpa izin, terutama Rouran."
"Baik, Tuan Muda," Paman Feng mengangguk tegas, lalu segera memberi perintah kepada para pengawal.
Siang berganti sore, namun ketegangan tak surut sedikit pun. Di ruang tengah, ketiganya duduk berhadapan — suasana yang dulu hangat kini terasa berat dan hening. Rouran tampak gelisah, jemarinya saling meremas pelan di atas pangkuan.
"Aku rasa... sudah saatnya aku menceritakan semuanya," ucapnya pelan, memecah keheningan. "Sejak mendengar pesan itu, aku yakin mereka adalah kelompok yang sama yang dulu memburu orang tua kita."
Ling Yue merangkul bahu saudarinya. "Katakanlah. Kita siap mendengarkan."
Rouran menarik napas panjang, menatap ke arah jendela yang tertutup rapat seolah melihat bayangan masa lalu muncul di balik kaca itu.
"Kita berasal dari garis keturunan yang sangat tua," mulainya suaranya tenang namun bergetar. "Leluhur kita dipilih untuk menjaga 'Pintu Keseimbangan' — tempat tersembunyi yang menjaga kekuatan alam agar tidak menyimpang dan menghancurkan negeri ini. Tidak ada harta di sana, tidak ada senjata — hanya tanggung jawab yang berat. Setiap generasi, seseorang dari keluarga kita harus tinggal di dekatnya, menjaganya, dan memastikan tidak ada yang membukanya tanpa alasan yang benar."
Li An menyimak lekat-lekat. "Lalu siapa yang menginginkannya?"
"Kelompok yang menyebut diri mereka 'Penuntut Kebenaran'," jawab Rouran. "Mereka percaya bahwa kekuatan di sana bisa mengubah takdir, memberikan kekuasaan mutlak, dan bahkan menghidupkan kembali orang yang telah tiada. Mereka memburu keluarga kita turun-temurun, karena hanya darah kita yang dapat membuka jalan menuju tempat itu."
Ia menelan ludah, matanya berkaca-kaca. "Ayah dan Ibu kita diketahui keberadaannya saat aku masih kecil. Malam itu mereka datang — membakar rumah, mengepung kita. Ayah menyuruh kita lari lewat lorong rahasia, berpesan agar kita menyembunyikan identitas dan tidak pernah mencari satu sama lain demi keselamatan. Ia dan Ibu... mereka tetap tinggal untuk menahan mereka."
Air mata menetes di pipi Rouran. Ling Yue memeluknya erat, hatinya teriris mendengar kisah yang selama ini tersembunyi.
"Jadi perpisahan kita bukan kebetulan..." gumam Ling Yue.
"Bukan," Rouran mengangguk pelan. "Mereka yang memisahkan kita. Selama ini aku takut mencarimu, takut mereka melacakku lewatmu. Sampai akhirnya takdir mempertemukan kita kembali di sini."
Li An mengepalkan tangannya di atas meja, nadi pelipisnya berdenyut menahan amarah. "Mereka sudah berbuat jahat selama puluhan tahun. Dan sekarang mereka muncul lagi." Ia menatap keduanya dengan teguh. "Tapi kali ini berbeda. Kalian tidak sendirian. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang. Ayah dan Ibu kalian berkorban supaya kalian hidup — dan aku akan memastikan pengorbanan itu tidak sia-sia."
Sore itu mereka menyusun rencana lebih matang. Paman Feng mengirim orang-orang kepercayaannya mencari jejak kelompok itu, sementara di dalam kediaman, pengawasan diperketat dua kali lipat. Namun di tengah kesibukan itu, Li An menyempatkan diri mendekati Ling Yue di beranda belakang, tempat bunga melati yang ia tanam sendiri mulai mekar harum.
"Kau tahu," ucapnya pelan, berdiri di samping gadis itu menatap ke arah matahari yang mulai terbenam, "semakin banyak aku tahu, semakin aku menyadari betapa beratnya beban yang kau pikul sendirian selama ini."
Ling Yue tersenyum tipis, namun senyumnya terasa getir. "Aku sudah terbiasa. Tapi sejak bertemu denganmu... rasanya aku tidak ingin sendirian lagi."
Li An memutar tubuhnya menghadapnya, menggenggam kedua tangan gadis itu erat. "Maka jangan sendirian. Biarkan aku menanggungnya bersamamu. Itulah makna pernikahan — bukan sekadar berbagi hari-hari bahagia, tapi memikul beban bersama saat langit menjadi gelap." Ia menatapnya dalam, matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Karena itulah aku ingin menikahimu secepatnya. Bukan untuk melarikan diri, melainkan supaya dunia tahu — kau bukan milik siapa-siapa selain aku. Dan aku akan melindungimu dengan segala yang kumiliki."
Ling Yue menatapnya, air mata bahagia bercampur haru menggenang di matanya. Ia mengangguk pelan.
"Ya. Menikahlah denganku. Biarkan dunia tahu kita tidak bisa dipisahkan."
Kabar itu menyebar di antara mereka yang dipercaya. Pernikahan diatur sederhana namun khidmat, dijadwalkan tiga hari lagi — waktu yang singkat, namun cukup untuk menyatukan hati mereka di tengah bayangan ancaman yang mengintai.
Malam sebelum pernikahan, Ling Yue duduk sendirian di kamarnya, menyisir rambutnya pelan di depan cermin. Ia memikirkan ayah ibunya, memikirkan apakah mereka tersenyum melihatnya sekarang. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu — di cermin, bayangan jendela di belakangnya tampak sedikit terbuka, padahal ia ingat sudah menutupnya rapat.
Darahnya mendingin. Ia berbalik perlahan.
Tidak ada siapa-siapa. Namun di ambang jendela, tergeletak sehelai kain hitam lainnya, berlipat rapi. Ia mendekat, tangan gemetar mengambilnya. Tertulis pesan lain, kali ini lebih pendek dan lebih mengancam:
"Perayaan kalian akan menjadi pemakaman kalian."
Ling Yue berlari keluar kamar seketika, memanggil nama Li An. Pria itu muncul tak lama kemudian, wajahnya tegang melihat kain hitam itu di tangan gadisnya.
"Mereka sudah masuk," ucap Li An rendah, suaranya tajam seperti bilah pedang. "Mereka ada di dalam kediaman ini."
Malam itu tidak ada yang tidur. Lampu-lampu tetap menyala, pengawal berpatroli tanpa henti, namun tidak ada jejak siapa pun yang masuk atau keluar. Ancaman itu menggantung di udara seperti asap yang tak terlihat — dekat, nyata, namun tak bisa disentuh.
Di pagi hari pernikahan, langit mendung kelabu. Tidak ada matahari yang menyapa seperti biasanya. Namun ketika Li An berdiri menunggu di halaman utama, mengenakan jubah pengantin berwarna merah tua yang gagah, dan melihat Ling Yue melangkah mendekat — wajahnya tenang, matanya bersinar teguh meski pucat — semua kegelisahan sejenak luruh.
Rouran berdiri di samping saudarinya, memegang buket bunga sederhana yang diambil dari taman. Di sekeliling mereka, hanya ada sedikit orang — mereka yang setia, mereka yang berani. Upacara berlangsung singkat, namun setiap kata yang terucap terasa berat dan abadi.
"Aku mengambil engkau menjadi istriku," ucap Li An lantang, suaranya terdengar di antara keheningan halaman, "dalam bahagia maupun susah, dalam terang maupun kabut, dalam damai maupun bahaya. Aku akan melindungimu, mencintaimu, dan setia kepadamu seumur hidupku."
Ling Yue menatapnya, air mata mengalir lembut di pipinya. "Aku menerimamu menjadi suamiku. Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Apa pun yang terjadi, tangan ini takkan melepaskan tanganmu."
Saat mereka saling bertukar sumpah, tiba-tiba angin kencang berhembus, memadamkan sebagian lentera yang menyala di sekeliling mereka. Langit menggelegar satu kali, panjang dan mengancam.
Namun tidak ada yang bergerak pergi. Li An merangkul bahu istrinya, menatap lurus ke arah kegelapan di balik gerbang seolah menantang siapa pun yang mengintai.
"Datanglah," bisiknya pelan, hanya terdengar oleh Ling Yue. "Kita sudah siap."
Dan di kejauhan, di balik pepohonan tua yang rimbun, sepasang mata menyaksikan — dingin, tak berkedip, menunggu momen yang tepat untuk melompat keluar dari kegelapan.