NovelToon NovelToon
Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Ogah Jadi Madu, Pilih Jadi Mantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: gadis bucin

Ogah jadi istri kedua aki-aki tapi tak mau rugi, Elara (22) memutar otak saat hendak dijadikan istri muda oleh Pak Broto (65). Di tengah acara lamaran yang tegang, dengan nekat dia menunjuk pria berjas hitam di seberang meja.

"Maaf Pak, saya nolak jadi istri kedua Bapak. Tapi kalau nikah sama anak Bapak yang itu... saya mau."

​Arka (30), CEO sekaligus anak tunggal Pak Broto, mendadak tersedak dan langsung mengiyakan tawaran gila itu, demi menyelamatkan perasaan ibunya. Namun, niat Arka menyelamatkan rumah tangga orang tuanya justru menjadi awal dari bencana di rumah mewahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gadis bucin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehormatan Sang CEO

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Malam Gala Dinner perayaan kerja sama proyek resort mewah Valora Group digelar di ballroom utama sebuah hotel bintang lima termewah, di kawasan Jakarta Selatan. Acara ini digadang-gadang menjadi ajang paling bergengsi tahun ini. Menghadirkan para pebisnis papan atas, investor asing, hingga pejabat pemerintahan.

Sejak sore hari, suasana di rumah megah milik Arka sudah diramaikan oleh kedatangan tim penata rias, fashion stylist, dan desainer kenamaan yang diutus langsung oleh Arka. Elara, yang biasanya sangat santai hanya dengan kaus oversized dan celana jins belel, kini harus pasrah ditarik ke sana kemari untuk dipoles selama hampir tiga jam penuh. Dari mulai perawatan kulit kilat, tatanan rambut, hingga pemilihan gaun yang paling sesuai.

Ketika pintu kamar utama akhirnya terbuka, Arka yang sudah berdiri menunggu di koridor luar tampak amat gagah. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam berpotongan pas badan buatan penjahit Italia, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang tertata rapi. Namun, saat pendengarannya menangkap langkah kaki Elara yang ragu-ragu keluar dari kamar, fokus Arka seketika teralih sepenuhnya.

Pria itu mematung di tempatnya berdiri. Pandangan matanya mengunci sosok wanita di hadapannya tanpa berkedip sedikit pun.

Elara mengenakan gaun malam berpotongan A-line berwarna emerald green berbahan sutra halus yang jatuh sempurna membalut tubuhnya. Warna hijau zamrud yang mewah itu berpadu kontras dengan warna kulitnya yang terang dan mulus. Rambut hitamnya yang biasa dikuncir asal kini ditata sanggul modern yang anggun, menyisakan beberapa helai keriting halus yang jatuh alami membingkai sisi wajahnya. Riasan wajahnya dipoles sempurna, tidak terlalu tebal, namun sangat menonjolkan kecantikan alami serta binar matanya yang indah. Sebuah kalung berlian simpel berdesain elegan melingkar cantik di leher jenjangnya.

"M-Mas Arka," panggil Elara canggung. Jemarinya yang sedikit gemetar meremas pelan kain gaun mewahnya. "Ini enggak terlalu berlebihan, kan? Ara berasa aneh banget, kayak putri dari kerajaan antah-berantah yang salah kostum."

Arka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Elara dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan intensitas yang teramat dalam. Ada kilat kekaguman dan keterpukauan yang terpancar sangat jelas dari bola mata hitam milik pria kaku itu.

Arka melangkah mendekat tanpa tergesa, memotong jarak di antara mereka. Pria itu mengulurkan tangannya yang kokoh ke hadapan Elara.

"Kamu sangat cantik, Elara. Benar-benar sempurna," tutur Arka dengan suara berat yang terdengar begitu jujur dan tulus dari lubuk hatinya.

Pujian yang meluncur santai tanpa nada dingin itu sukses membuat kedua pipi Elara merona merah padam dalam sekejap. Jantungnya berdegup tak karuan. Dengan sedikit ragu, Elara menyambut uluran tangan Arka, merasakan kehangatan jemari pria itu menyelimuti jemarinya dengan erat dan protektif.

"Ingat," bisik Arka pelan di dekat telinga Elara saat mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju mobil mewah yang sudah menunggu, "malam ini kamu tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Kamu tidak perlu berusaha keras membuktikan apa pun. Cukup jadi diri kamu sendiri. Saya yang akan berdiri di samping kamu."

Suasana ballroom hotel malam itu terasa begitu megah dan berkilauan. Lampu kristal raksasa yang menggantung tinggi di langit-langit membiaskan cahaya keemasan ke arah ratusan tamu undangan bergengsi. Musik klasik bergema halus di udara, berpadu dengan gemerincing gelas kristal dan percakapan formal kelas atas.

Clarissa tampil mencolok malam itu. Wanita itu mengenakan gaun merah menyala bertabur payet yang cukup terbuka di bagian punggung. Ia berdiri anggun di dekat Pak Broto, tersenyum percaya diri sambil sesekali meminum sampanye dan menyapa rekan-rekan bisnis perusahaannya.

"Papa tenang saja," bisik Clarissa pada Pak Broto dengan nada penuh percaya diri. "Clarissa sudah menyiapkan beberapa mitra investor penting dari Inggris untuk bicara langsung sama Arka nanti. Kalau Arka nekad membawa cewek penjual baju bekas itu, Clarissa pastikan dia bakal mati gaya di depan umum karena tidak paham bahasa Inggris dan etika bisnis internasional."

Pak Broto tersenyum puas, seraya membetulkan posisi jasnya. "Bagus. Biar Arka sadar seberapa memalukannya keputusan dia mempertahankan wanita seperti itu."

Namun, keangkuhan mereka tidak bertahan lama. Suasana riuh dan penuh canda tawa di dalam ballroom mendadak hening secara bertahap saat dua petugas berjas membuka lebar pintu kayu raksasa di ruang utama.

Arka melangkah masuk terlebih dahulu. Aura kepemimpinan dan wibawanya yang dingin mendominasi ruangan dalam sekejap. Namun, hal yang benar-benar menyedot perhatian seluruh pasang mata di ruangan itu bukanlah sang CEO ternama, melainkan sosok wanita anggun yang menggandeng mesra lengan Arka dengan penuh percaya diri.

Elara berjalan dengan postur tubuh yang tegak dan anggun. Dagunya terangkat halus, memancarkan pesona berkelas yang sangat alami tanpa sedikit pun terkesan dipaksa atau dibuat-buat. Warna hijau emerald pada gaunnya membuat kulit bersihnya tampak makin bercahaya di bawah sorotan lampu kilat para fotografer acara.

Bisik-bisik kagum dan takjub mendadak terdengar bersahutan dari berbagai sudut ruangan.

"Siapa wanita luar biasa di sebelah Pak Arka itu?"

"Itu istrinya! Cantik, anggun, dan berkelas sekali."

"Ternyata rumor kalau istrinya cuma cewek biasa yang tidak selevel itu cuma kabar burung."

Wajah Clarissa seketika berubah pucat pasi. Gelas kristal di tangannya hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai saat melihat betapa memukau dan cantiknya Elara malam ini. Pak Broto yang berdiri di sampingnya pun hanya bisa mematung dengan mata melotot tak percaya.

Arka mengulas senyum tipis yang hampir tak terlihat, saat menyadari reaksi heboh orang-orang di sekitar mereka. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Elara. "Lihat? Semua mata di ruangan ini tertuju pada kamu."

"Aduh, Mas CEO, Ara mendadak mules dan pengen pingsan. Tapi tenang, gengsi Elara Paramita nomor satu! Nggak boleh kelihatan ndeso," bisik Elara pelan dengan bibir tetap memasang senyum anggun paling menawan ke arah para tamu.

Tak mau tinggal diam melihat rencananya berantakan, Clarissa menyipitkan mata. Dengan memasang wajah angkuh, dia sengaja melangkah menghampiri Arka dan Elara sambil membawa dua orang investor pria berwajah Eropa.

"Halo Arka," sapa Clarissa dengan senyum manis yang dipaksakan. Dia lalu menoleh ke arah Elara, menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. "Wah, Elara. Pangling banget, ya. Pakai gaun mahal buatan desainer ternyata memang bisa menyulap penampilan orang biasa secara instan."

Elara tidak sedikit pun terpancing oleh sindiran pedas itu. Dia justru mengulas senyum ramah. "Terima kasih pujian terselubungnya, Mbak Clarissa. Tapi menurut suami saya, bukan gaunnya yang mahal, melainkan orang yang memakainya yang membuat gaun ini kelihatan makin mahal dan berkelas."

Arka berdeham pelan demi menahan tawa yang hampir meledak, melihat balasan cerdas istrinya. Di sisi lain, wajah Clarissa makin mengeras menahan rasa kesal.

Ingin membalas dendam dan mempermalukan Elara lebih jauh, Clarissa dengan cepat mengalihkan pembicaraan menggunakan bahasa Inggris kental beraksen British kepada investor asing di sebelahnya.

"Mr. Smith, this is Arka's wife, Elara. I was just telling her how exclusive and high-class this event is, though I'm not entirely sure if she's familiar with international business networking or corporate etiquette," ujar Clarissa sinis dengan senyum licik. (Mr. Smith, ini istrinya Arka, Elara. Saya baru saja bilang betapa eksklusifnya acara ini, meski saya tidak yakin apakah dia paham dengan jaringan bisnis internasional atau etika korporat).

Clarissa bersedekap dada, bersiap menikmati momen saat Elara kebingungan, gugup, atau terpaksa memohon pada Arka untuk menerjemahkan ucapan tersebut.

Namun, dugaan Clarissa meleset jauh. Elara justru memajukan langkahnya sedikit dengan sangat tenang. Berkat pengalamannya melayani pembeli asing saat berburu barang vintage impor serta kebiasaannya mempelajari tren mode global secara otodidak, kemampuan bahasa Inggris Elara jauh dari kata buruk.

"It’s a absolute pleasure to meet you, Mr. Smith," sahut Elara lancar dengan intonasi percaya diri, artikulasi jernih, dan senyum yang amat ramah. "International networking is all about connecting with people and understanding true value, isn't it? Just like in sustainable fashion, it’s about finding the hidden gem, nurturing it, and making it shine. I strongly believe Valora Group's new resort project carries that exact same great value." (Senang bertemu dengan Anda, Mr. Smith. Jaringan internasional itu tentang terhubung dengan orang-orang dan memahami nilai sejati, bukan? Sama seperti dalam mode berkelanjutan, ini tentang menemukan permata tersembunyi dan membuatnya bersinar. Saya percaya proyek resort baru Valora Group memiliki nilai luar biasa yang sama).

Pria investor Eropa itu terbelalak kaget sekaligus kagum. Keheranan itu dalam sekejap berubah menjadi tawa renyah yang penuh apresiasi. Ia bahkan bertepuk tangan pelan dengan raut wajah sangat terkesan.

"Magnificent! What a brilliant and inspiring analogy!" puji Mr. Smith antusias. "Arka, your wife is not only breathtakingly gorgeous, but also sharp, smart, and deeply charming!" (Luar biasa! Analogi yang sangat cerdas dan menginspirasi! Arka, istrimu tidak hanya sangat cantik, tapi juga tajam, pintar, dan sangat mempesona!)

Arka merangkul pinggang Elara dengan penuh kebanggaan, menarik tubuh wanita itu lebih dekat ke sisinya. Pria itu menatap sang investor dengan wibawa penuh. "Thank you, Mr. Smith. She is indeed the brightest highlight of my life." (Terima kasih, Mr. Smith. Dia memang pusat kebanggaan paling bersinar dalam hidup saya).

Clarissa berdiri membatu di tempatnya, menelan kekalahan telak di depan umum untuk kesekian kalinya. Wajahnya memerah padam menahan malu yang tak tertahankan. Sementara itu, Pak Broto yang menyaksikan pemandangan tersebut dari kejauhan hanya bisa mengepalkan tangannya rapat-rapat tanpa sanggup berkata-kata lagi.

Di tengah keramaian ballroom yang berkilauan, Arka menunduk, menatap dalam-dalam ke arah Elara yang sedang tersenyum manis padanya. Malam ini, di balik riuh tepuk tangan dan decak kagum orang-orang, Arka menyadari satu hal dengan sangat pasti. Elara Paramita bukan lagi sekadar istri sandiwara dalam lembaran kontraknya, melainkan satu-satunya wanita yang telah berhasil mencuri seluruh hatinya.

1
Adinda
🤣🤣🤣🤣🤣
gadis bucin: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Rian Moontero
lanjooott👍😍
gadis bucin: pantengin terus updatenya, ya, kak. 🤗❤️
total 1 replies
Putry Chan
untung dia masih waras ya walaupun kaya raya tapi dia udh tua punya bini lagi , ogah lah 🤣
gadis bucin: iyaa bener 🤣🤣🤣
total 1 replies
Putry Chan
buset pria kaya tua bangka pengen nikah
gadis bucin: nikah lagi tepatnya, kak 🤭
total 1 replies
gadis bucin
Kalau suka jangan lupa like dan komen, ya. Terima kasih untuk dukungannya. 🤗❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!