Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 - Kupu-Kupu berterbangan
Nayla menyeret lengan Mira menyusuri selasar sepi yang mengarah ke area tangga darurat paling ujung. Begitu memastikan pintu besi itu tertutup rapat dan tidak ada satu orang pun yang melintas, Nayla berbalik, menatap sahabatnya dengan raut memohon yang luar biasa pasrah.
"Mir... tolong. Aku mohon banget, jangan heboh," bisik Nayla dengan suara tertahan, kedua tangannya terangkat mengatup di dada.
Mira, berusaha menekan detak jantungnya yang berdegup kencang akibat lonjakan rasa penasaran. Sebagai orang dengan posisi manajemen menengah di kantor, logika dan jiwa detektifnya mendadak berputar cepat menyusun kepingan teka-teki masa lalu.
Mira menatap Nayla lekat-lekat. "Nay... dengar. Aku ingat banget. Setahun lalu, waktu almarhum ayahmu meninggal... keluarga Dewangga Group datang melayat ke pemakaman. Mereka bahkan ikut berdiri di samping makam sampai selesai. Hubungan kalian... apa sebenarnya sudah dimulai dari sebelum itu?!"
Nayla menarik napas panjang, mencoba melapangkan dadanya yang terasa sempit. "Dengarkan aku dulu, Mir. Ya, aku memang sudah menikah dengan Pak Adrian. Tapi... pernikahan itu terjadi hanya karena keluarga Dewangga merasa berutang budi yang sangat besar pada almarhum Bapak."
Mira mengernyitkan alisnya, dahinya berkerut dalam. "Maksudnya bagaimana, Nay?"
"Kamu ingat kan berita setahun lalu kalau ayahku meninggal karena kecelakaan?" tanya Nayla pelan, netranya menerawang pilu. "Sebenarnya... Bapakku tidak terlibat kecelakaan waktu itu. Hari itu, ayahku cuma berniat menolong kedua orang tua Pak Adrian yang terjebak di dalam mobil mereka yang ringsek. Tapi... saat Bapak berusaha mengeluarkan mereka, tangki bensin mobil itu meledak. Bapak terkena ledakannya..."
Mata Mira membelalak lebar, menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Astaga... jadi... korban yang ditolong Paman waktu itu adalah keluarga Dewangga?!"
Nayla mengangguk lirih. "Iya, Mir. Karena rasa bersalah dan utang nyawa yang begitu besar, sebelum Bapak menghembuskan napas terakhir, beliau meminta Pak Adrian untuk menjagaku. Dan atas desakan kedua orang tuanya juga... Pak Adrian akhirnya terpaksa menikah denganku. Jadi, aku mohon sama kamu, Mir... tolong simpan rahasia ini rapat-rapat. Jangan sampai ada satu orang pun di kantor ini yang tahu."
Raut heboh di wajah Mira mendadak sirna, berganti dengan tatapan simpati yang amat dalam. Ia melangkah mendekat dan merengkuh bahu Nayla hangat.
"Iya, Nay... aku mengerti sekarang," tutur Mira lembut. Namun, sepersekian detik kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman hangat. "Tapi Nay... kamu jangan sedih atau meragukan dirimu lagi. Aku lihat sendiri kok dari tadi, Pak Adrian itu perhatian banget sama kamu! Tadi saja waktu kamu menghilang, dia nyariin kamu ke mana-mana sampai panik gitu. Ngomong-ngomong... tadi waktu kalian berdua di bawah pohon, kalian ngomongin apa sih sebenarnya?"
Pipi Nayla yang mulus mendadak menunjukkan rona merah tipis. Ia menundukkan kepala, mengikis pandangannya dari Mira. "H-hmm... Mas Adrian... dia bilang... dia cinta sama aku, Mir."
"HAH?!"
Mira menepuk kedua paha atasnya heboh, matanya berbinar-binar seperti baru saja menang undian. "Ya bagus dong, Nyonya Muda! Kan suami istri memang harusnya saling mencintai! Gimana sih kamu ini? Kalian juga sudah setahun nikah!"
"Tapi aku beneran nggak siap, Mir!" sahut Nayla merengek pelan, jemarinya meremas tepi kemeja birunya. "Aku merasa kaya nggak percaya gitu... Masa seorang Adrian Dewangga, pria yang sempurna seperti dia, bisa suka sama aku? Kamu lihat sendiri kan, Mir... aku ini punya banyak banget kekurangan..."
"Oh, Nayla sayang..." Mira memotong cepat, memegang kedua pipi berisi milik sahabatnya itu dan menatapnya gemas. "Berhenti terus-terusan minder! Kamu itu wanita yang luar biasa. Pak Adrian itu punya mata, dia punya hati! Dia melihat kepribadian kamu yang tulus, baik, dan kerja kerasmu selama ini. Fisik itu cuma bonus, Nayla!"
Nayla mengusap wajahnya yang terasa hangat. "Trus... aku harus gimana, Mir? Jujur, aku bingung banget harus bersikap gimana waktu berhadapan sama Mas Adrian nanti..."
Mira menepuk dadanya penuh percaya diri, menyengir lebar. "Jangan ragu, jangan bimbang! Solusinya gampang banget, sekarang kamu temui suamimu itu, dekati dia, tatap matanya, terus katakan 'Aku juga mencintaimu, Mas!' Habis itu pelukan, ciuman, beres deh! Masalah selesai!"
Blush!
Wajah Nayla mendadak membara hebat hingga ke ujung telinganya. Bayangan-bayangan intim yang diucapkan Mira langsung berputar liar di dalam otaknya, membuat dadanya berdesir tak karuan.
"Mira! Ih, nggak semudah itu, tahu!" seru Nayla salah tingkah setengah mati, memukul pelan lengan Mira. "Udah ah! Aku mau balik ke lantai atas, pekerjaanku masih tumpuk-tumpuk!"
"Hei, Nayla! Tunggu dulu, Nyonya Muda!" gelak Mira tertawa geli menyaksikan tingkah sahabatnya yang merona hebat, lalu melangkah cepat mengekor dari belakang.
Begitu lift membawa mereka kembali ke lantai eksekutif dan pintu berdenting terbuka, langkah kaki Nayla dan Mira langsung disambut oleh percakapan dua orang staf yang berjalan melewati mereka.
"Yah... si Bimo malah dipecat hari ini," keluh salah satu staf wanita dengan nada kecewa. "Berarti harus ngajarin OB lain lagi deh dari awal buat bikin kopi spesial langgananku."
Mira yang tidak tahu-menahu soal insiden pantry pagi tadi hanya mengibaskan tangan santai dan melangkah menuju area divisinya di Marketing. Namun, bagi Nayla, kalimat itu bagaikan petir di siang bolong. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku di tempat.
'Bimo... dipecat...?' batin Nayla terpaku. 'Tapi kenapa mendadak sekali? Apa... apa Mas Adrian tahu soal kejadian di pantry tadi pagi?'
Perasaan haru dan tak percaya seketika membuncah di dalam dada Nayla. Jika benar pemecatan itu adalah buntut dari perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya pagi tadi, itu artinya Adrian benar-benar membentenginya. Pria itu tidak sekadar mengumbar janji manis di bawah pohon, melainkan langsung mengambil tindakan tegas untuk melindunginya.
Dengan jantung yang berdebar kencang bagaikan genderang perang, Nayla menguatkan hatinya dan berjalan pelan menuju meja kerjanya. Setiap langkah terasa begitu ringan sekaligus mendebarkan.
Saat mendudukkan diri di kursinya, mata Nayla secara refleks teralih pada dinding kaca transparan yang membatasi area kerjanya dengan ruang kerja CEO.
Di dalam sana, Adrian sedang duduk di balik meja kebesarannya. Pria jangkung berbusana kemeja biru yang sama dengannya itu mendongak. Pandangan mata mereka seketika bertemu di udara.
Tidak ada raut dingin atau tatapan tajam yang biasa dipamerkan sang CEO kepada dunia. Dari balik kaca bening itu, Adrian melempar senyum hangat yang begitu tulus, sebuah senyuman langka nan memikat yang dikhususkan hanya untuk Nayla seorang.
Deg!
Nayla memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Senyuman itu sukses membuat seluruh pertahanan dirinya remuk tak bersisa. Pipinya kembali memerah panas, kakinya mendadak lemas, dan rasa salah tingkah yang luar biasa hebat menyergap seluruh tubuhnya. Rasanya ada beribu-ribu kupu-kupu yang beterbangan liar di dalam perutnya.
Nayla buru-buru menundukkan kepalanya berpura-pura sibuk menata tumpukan berkas di meja, demi menutupi senyuman manis dan binar bahagia yang tak sanggup lagi ia sembunyikan dari wajahnya.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️