NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Taksi yang ditumpangi Nadia melaju membelah padatnya jalanan kota. Di dalam mobil, Nadia memeluk tas jinjingnya erat-erat, meresapi rasa perih yang menjalar di sekujur lengan dan bahunya. Dengan jemari yang masih sedikit bergetar, ia membuka ponselnya dan menekan nomor Amira.

​Panggilan itu diangkat pada dering kedua.

​"Halo, Nad? Ada apa?" suara Amira terdengar ceria di ujung telepon, namun seketika berubah tegang saat mendengar deru napas Nadia yang berat.

​"Ra... bisa tolong susul aku ke Rumah Sakit Medika sekarang?" bisik Nadia, suaranya parau menahan rasa sakit dan air mata.

​Amira terperanjat, kepanikan seketika menguasai dirinya. "Rumah sakit?! Kamu kenapa, Nad?! Kamu sakit? Atau kecelakaan?!"

​"Nanti aku jelaskan di sana, Ra. Tolong... aku butuh kamu sekarang," lirih Nadia.

​"Oke, oke! kamu tenang dan tutup teleponnya dulu, aku pesan ojek online sekarang juga! Aku langsung meluncur ke sana!" jawab Amira tanpa bertanya lebih lanjut. Ia bisa merasakan ada hal yang baru saja terjadi pada sahabatnya.

​Setibanya di rumah sakit, Nadia melangkah menuju ruang Unit Gawat Darurat (UGD). Dengan mencoba setenang mungkin, ia meminta dokter jaga untuk menangani luka-lukanya sekaligus menerbitkan dokumen visum et repertum. Perawat yang merawatnya sempat mengelus dada prihatin saat melihat bilur-bilur kemerahan dan memar kebiruan berbentuk garis tebal di kulit halus Nadia. Setiap usapan antiseptik terasa begitu membakar, namun Nadia mengepalkan tangannya erat-erat, menahan ringisan tanpa meneteskan air mata sedikit pun di depan dokter.

​Usai seluruh prosedur medis dan pencatatan visum selesai, Nadia melangkah keluar dari ruang pemeriksaan. Di lorong luar UGD, Amira sudah berdiri dengan wajah khawatir dan napas terengah-engah.

​"Nadia!" panggil Amira setengah berteriak saat melihat sosok sahabatnya.

​Namun, begitu langkah mereka beradu dan mata mereka saling bertatap, seluruh benteng pertahanan yang dibagun Nadia sepanjang sore itu runtuh seketika. Pertahanan dirinya jebol. Tangis Nadia pecah begitu saja di atas pundak Amira. Tubuhnya terguncang hebat oleh terpaan rasa hancur, kekecewaan, dan kepedihan yang memuncak.

​Amira memeluk erat tubuh Nadia, melindunginya di sudut lorong rumah sakit. Ia tidak bertanya apapun kepada Nadia dengan pertanyaan. Amira hanya mengelus punggung sahabatnya dengan lembut, membiarkan air mata yang tertahan itu tumpah sepenuhnya sampai napas Nadia perlahan kembali teratur dan tangisnya reda.

​Setelah tangis Nadia mereda menjadi isakan kecil, Amira menuntunnya duduk di bangku taman rumah sakit yang sepi dan jauh dari lalu lalang pengunjung.

​Amira menggenggam tangan Nadia yang dingin, menatap deretan memar yang samar-samar terlihat di balik lengan bajunya. "Nad...kamu kenapa? tolong jujur sama aku. Siapa yang bikin kamu kayak gini?"

​Nadia menarik napas panjang, dan menghembuskannya perlahan, lalu menceritakan seluruh kejadian beberapa jam lalu secara runtut. Ia menceritakan tentang foto yang dikirimkan Sarah yang tidak berdasar, tuduhan kalap Rian tanpa mau mendengar penjelasan darinya, hingga sabetan sabuk kulit yang mendarat bertubi-tubi di tubuhnya sementara ibu mertua dan sepupunya hanya menonton dengan senyum puas tanpa ada niat sedikitpun untuk menghentikan Rian.

​Tangan Amira mengepal, gemetar hebat menahan amarah yang membakar dadanya. Matanya membelalak lebar, memerah karena marah dengan apa yang baru saja dia dengar.

​"Keparat!" bentak Amira, suaranya bergetar hebat. "Rian bener-bener sudah gila! Dia itu manusia atau iblis sih?! Ini KDRT, Nad! Kekerasan fisik! Kita ke kantor polisi sekarang juga, kita laporkan pria bajingan itu supaya dia masuk penjara!"

​Amira berdiri hendak menarik tangan Nadia, namun Nadia memegang lengan Amira pelan, menggelengkan kepalanya dengan tenang.

​"Jangan sekarang, Ra," potong Nadia lembut namun sangat mantap.

​"Kenapa, Nad?! Kamu mau biarin pria itu lolos begitu saja setelah menyiksa kamu?!" seru Amira tak percaya."Dia itu yang nggak sadar diri. Padahal dia yang jelas-jelas udah selingkuh, malah nuduh kamu selingkuh dengan cuma berbekal sebuah foto yang nggak jelas. Emangnya siapa sih si Sarah itu, ikut campur banget sama rumah tangga orang. Rian juga kenapa dah, lebih percaya padanya dari pada kepadamu. Emang dasar to*ol tuh laki. Dan sekarang kamu mau ngelepasin dia begitu aja dengan semua bukti yang sudah kamu pegang?" omel Amira panjang lebar, tanpa filter sedikitpun meluapkan amarah dan kekesalannya.

​"Nggak, Ra. Aku nggak akan pernah membiarkan dia lolos," jawab Nadia, matanya memancarkan sorot dingin dan tajam. "Bukti visum ini akan aku simpan sebagai kartu as utama di pengadilan agama nanti. Aku mau jadikan bukti KDRT ini sebagai senjata mutlak supaya proses perceraian kami berjalan cepat dan lancar tanpa ada alasan buat dia menunda-nunda atau mengelak."

​Nadia jeda sejenak, menatap lurus ke depan. "Tapi... kalau Rian mencoba mempersulit proses perceraian kita nanti, atau kalau ibunya masih berani menggangguku... aku tidak akan segan-segan menyerahkan berkas visum ini bersama berkas laporan polisi untuk memenjarakannya."

​Amira menatap sahabatnya lama, merasakan perubahan besar pada diri Nadia. Dulu, Nadia adalah sosok yang selalu mengalah dan mencari alasan untuk memaafkan. Kini, wanita di hadapannya adalah sosok yang teguh, dingin, dan penuh perhitungan logis.

"Bener nih, kamu mau melakukan itu? Kamu nggak akan ngasih dia kesempatan lagi kan? " tanya Amira ragu dengan sebelah alis terangkat.

Nadia mengangguk mantap dengan sorot mata penuh tekad. "Aku sangat yakin, tidak ada kesempatan ke dua dan ke tiga, satu kesempatan sudah aku berikan. Tapi dia sudah menyia-nyiakannya. Dan masih menganggap masih punya kesempatan lain, sehingga dia masih bisa main-main dibelakangku."

​Amira menghela napas panjang lalu mengangguk penuh dukungan. "Baik. Apapun keputusanmu, aku bakal mendukung dan mengawal sampai tuntas. Ayo kita pulang ke galeri sekarang."

​Malam semakin larut saat mereka berdua kembali ke studio galeri. Amira membantu Nadia mengoleskan salep pereda nyeri pada luka-luka memarnya dan menyiapkan tempat tidur yang nyaman di lantai atas bersamanya.

​Nadia berdiri di dekat jendela balkon, menatap kegelapan malam Jakarta di bawah naungan pohon mangga yang rindang. Angin malam berembus menyejukkan kulitnya yang memar, membawakan rasa bebas yang sudah lama tak dirasakannya.

​Di dalam hatinya, Nadia tahu bahwa pintu maaf dan pintu hatinya untuk Rian telah terkunci rapat dan kuncinya telah ia buang jauh-jauh. Tidak ada lagi kesempatan kedua dan ketiga, tidak ada lagi air mata penyesalan yang bisa memanggilnya kembali ke rumah itu. Lembaran hitam dalam hidupnya resmi ditutup malam ini, dan esok hari, giliran Rian yang harus menghadapi konsekuensi atas segala perbuatannya.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!