Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Masih Cewek Gue 30.
Detik yang berjalan di koridor sepi itu terasa seperti siksaan bagi Lilis.
Pertanyaan Azril masih menggantung di udara, menuntut sebuah jawaban yang bahkan Lilis sendiri tidak tahu di mana mencarinya.
Otaknya mendadak macet. Kata-kata Azril logis, sangat masuk akal. Menjadi pacar Azril yang asli jelas jauh lebih aman dan waras daripada mempertahankan status pura-pura dengan Dafa yang hobi mengacak-acak emosinya.
Tapi masalahnya, hati manusia tidak pernah bekerja memakai rumus matematika.
Jika logikanya berkata 'pilih Azril', kenapa dadanya justru terasa sesak dan berat? Kenapa tidak ada desiran manis yang seharusnya muncul saat seorang cowok baik-baik menyatakan cinta padanya?
Lilis menatap Azril, lalu beralih pada tangan cowok itu yang masih menggenggam pergelangan tangannya. "Zril, gue..."
Kalimat Lilis terputus. Bukan karena dia sengaja menggantungnya, melainkan karena sebuah derap langkah kaki yang lebar dan berat tiba-tiba terdengar mendekat dengan tergesa-gesa.
Suara sepatu yang bergesekan kasar dengan lantai semen koridor itu menciptakan atmosfer intimidatif yang instan.
Sebelum Lilis sempat menoleh penuh, sebuah lengan yang kokoh dan familier tiba-tiba mendarat di bahunya.
Sentuhan itu tidak halus, melainkan sebuah tarikan yang tegas, protektif, dan penuh dominasi.
Tubuh Lilis limbung ke samping, ketarik masuk ke dalam dekapan hangat yang sangat dia kenali aromanya.
Dafa datang merangkul Lilis protektif,
Azril terpaksa melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Lilis karena gerakan Dafa yang begitu mendadak.
"Dia masih cewek gue," ucap Dafa. Suaranya rendah, serak, dan sarat akan ancaman. Genggaman tangan Dafa di pundak Lilis mengerat, seolah sedang menegaskan kepemilikan mutlak di depan cowok yang baru saja mencoba mengusik wilayahnya.
Lilis mendongak, menatap profil samping wajah Dafa dari jarak sedekat ini.
Rahang cowok itu mengeras, dengan urat leher yang menegang halus.
Matanya yang biasa terlihat santai atau menyebalkan, kini menggelap penuh amarah.
Lilis bisa merasakan dada Dafa naik turun dengan ritme napas yang memburu, menempel pada bahu nya. Ada getaran emosi yang hebat dari tubuh cowok itu.
Azril tidak langsung mundur. Dia berdiri tegak, melipat tangan di dada dengan senyum sinis yang dipaksakan. "Cewek lo? Cewek pura-pura maksud lo, Daf? Jangan belaga bego deh. Sandiwara lo berdua itu udah basi."
"Gak peduli mau ini sandiwara atau bukan di mata lo," potong Dafa cepat, suaranya naik satu oktav, menembus kesunyian koridor.
Dafa melangkah satu tindak ke depan, otomatis menyeret Lilis ikut bersamanya, memosisikan dirinya agak di depan Lilis seolah menjadi tameng. "Status dia di kertas, di depan anak-anak, dan di depan gue... dia masih pacar gue. Dan lo gak punya hak seujung kuku pun buat nawarin hubungan baru ke cewek yang jelas-jelas masih jalan sama gue."
"Gue cuma nawarin dia keluar dari toxic-nya kelakuan lo, Daf!" Azril mulai terpancing. Suaranya meninggi. "Lo sadar gak sih, lo itu egois? Lo megang Lilis lalu membuatnya cemburu dengan dekat dengan Kinar?, atau buat muasin ego lo doang? Sementara lo bebas jalan sama Kinar, lo ngebiarin Lilis nangis sendirian. Lo cowok apaan kayak gitu?"
Pertanyaan Azril menghantam tepat di ulu hati Dafa. Ada kilat bersalah yang sempat melintas di mata Dafa selama satu milidetik, sebelum akhirnya digantikan kembali oleh kobaran harga diri dan rasa takut kehilangan yang mendalam.
Ego Dafa yang selama ini setinggi langit, runtuh berantakan dalam satu kepalan tangan.
Dia tahu dia salah selama ini. Dia tahu dia brengsek karena sempat mengabaikan perasaan Lilis demi masa lalunya dengan Kinar.
Tapi melihat Lilis nyaris diambil oleh cowok lain? Itu adalah tamparan keras yang membuat Dafa sadar secara instan: dia tidak akan sanggup kalau Lilis benar-benar pergi.
"Gue emang brengsek kemarin pulang bareng Kinar" kata Dafa jujur, sebuah pengakuan yang membuat Lilis refleks menatapnya tak percaya. Dafa tidak pernah mau mengalah, tapi kali ini dia menurunkan gengsinya di depan rivalnya. "Gue salah, dan gue bakal selesaiin urusan gue sama Lilis berdua. Bukan sama lo. Jadi, lepasin pandangan lo dari cewek gue, Zril. Sebelum tangan gue yang maksa lo buat balik badan."
Atmosfer di antara kedua cowok itu semakin memanas.
Jarak mereka hanya tersisa puluhan sentimeter. Lilis bisa merasakan ketegangan yang pekat. Dia tahu, kalau dia tetap diam, koridor ini akan berubah menjadi ring tinju dalam hitungan detik.
Lilis menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat tercecer. Dia memegang lengan Dafa yang berada di pundaknya, mencoba melonggarkan cekalan cowok itu. "Daf, lepasin dulu. Malu dilihat orang kalau ada yang lewat."
Dafa menunduk, menatap Lilis.
Sorot matanya yang tadi penuh amarah mendadak melunak, menyiratkan semacam permohonan yang tersirat. "Lis, kita ke kantin sekarang, sekarang gue bakal beliin lo es teler dua porsi jumbo kesukaan lu, atau lu mau apa bebas"
Lilis lalu menatap Azril yang masih menatap mereka dengan napas memburu. "Zril... sori. Buat yang tadi... gue gak bisa. Makasih buat semuanya, tapi gue harus urus ini dulu sama Dafa."
Wajah Azril berubah kecewa, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika Lilis sendiri yang memutuskan untuk berpihak pada Dafa, meskipun hubungan mereka penuh kepalsuan.
Azril mundur selangkah, menurunkan tangannya. "Gue harap lo gak nyesel sama pilihan lo, Lis. Gue selalu ada di kelas sebelah kalau lo butuh tempat buat berhenti jadi badut."
Dafa tidak memberi waktu bagi Azril untuk menyelesaikan kalimatnya.
Dia langsung menarik Lilis, menuntun cewek itu setengah menyeret untuk menjauh dari area koridor kelas XII A.
Mereka berjalan cepat menelusuri koridor yang mulai sepi karena bel istirahat baru saja berbunyi sekitar sepuluh menit lalu.
Genggaman tangan Dafa yang tadinya di pundak, kini turun ke pergelangan tangan Lilis.
Tidak selembut Azril tadi, tapi tidak juga menyakitkan.
Genggaman Dafa terasa erat, posesif, dan agak gemetar—sebuah tanda tersembunyi bahwa cowok itu sebenarnya sedang dilanda kepanikan yang luar biasa di dalam hatinya.
Lilis membiarkan dirinya ditarik menuju ke kantin untuk ditraktir oleh jagoan 'salah tembak' nya.
Pikirannya berkecamuk. Dia tahu, setelah kejadian ini, tidak ada lagi yang bisa disebut 'pura-pura' di antara mereka.
Batas antara sandiwara dan kenyataan sudah blur, hancur lebur oleh rasa cemburu Dafa yang terlalu nyata untuk disebut sebagai sebuah akting.
Begitu sampai di pintu kantin, Dafa akhirnya menghentikan langkahnya. Dia melepaskan tangan Lilis, lalu berbalik badan membelakangi cewek itu, berkacak pinggang sambil mengembuskan napas panjang berulang kali demi menenangkan gemuruh di dadanya.
Lilis berdiri diam, melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu cowok di depannya membuka suara.
Logika Lilis menuntut kejelasan, sementara hatinya... masih berdegup kencang karena rangkulan protektif Dafa beberapa menit yang lalu.
......................
...***************...
Tbc,