"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi Berlebih Timy 11.
Aroma kuah bakso dan es jeruk bercampur dengan riuh suara anak-anak SMA Veteran siang itu.
Kantin sedang padat-padatnya. Di salah satu meja sudut, Nawang duduk bersama dua temannya, memutar-mutar sedotan di dalam gelas es teh yang tinggal setengah.
Demamnya memang sudah turun sejak kemarin, tapi energi di dalam dirinya seperti belum sepenuhnya terisi ulang.
Dari arah pintu masuk kantin, langkah kaki yang tergesa memecah fokus Nawang.
Timy berjalan masuk, dan di sampingnya, ada Kanaya.
Nawang hanya memperhatikan dari jauh.
Cara Timy membawakan tas ransel Naya di bahu kirinya, cara cowok itu sesekali menoleh untuk memastikan Naya tidak tersenggol gerombolan anak kelas sepuluh yang sedang bercanda, semuanya terekam jelas di mata Nawang.
Pikiran nya berjalan otomatis, Timy tidak pernah se-protektif itu pada perempuan lain, terkecuali dengan Nawang.
"Eh, Wang, itu cowok lo ngapain nempel terus sama si anak baru?" bisik cewek di sebelah Nawang, menyenggol lengannya.
"Nggak apa-apa, lagi bantuin aja mungkin," jawab Nawang pendek, datar, tanpa beban.
Timy menyadari keberadaan Nawang. Ia melempar senyum sekilas, lalu memberi isyarat dengan dagunya ke arah Naya, memberi tahu bahwa mereka akan ikut bergabung di meja yang sama. Nawang hanya mengangguk kecil.
Senyum formalnya yang sudah terlatih sejak kemarin siang langsung terpasang rapi.
Naya duduk di depan Nawang dengan canggung. Wajah cewek itu agak pucat, matanya bergerak gelisah melihat ramainya kantin. "Hai, Nawang. Maaf ya, gue ikut gabung. Di sana penuh banget," cicit Naya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara suara bising sekitar.
"Santai aja, Nay. Duduk aja," balas Nawang ramah. Keramahan yang murni lahir dari sopan santun, bukan dari hati.
Timy berdiri di dekat mereka, menaruh tas Naya di sandaran kursi. "Neng, Aa pesenin siomay dulu ya? Naya belum makan dari pagi, maag-nya gampang kambuh katanya. Neng mau sekalian dititip apa?"
Nawang mendongak, menatap mata Timy.
Kemarin cokelat untuk Nawang, hari ini siomay untuk Naya dengan alasan maag. Alibi yang sangat masuk akal bagi seorang cowok berjiwa penolong. "Nggak usah, A. Ini es teh aja belum habis."
"Ya udah, Aa ke sana dulu. Jagain Naya bentar ya," kata Timy sebelum melangkah pergi menuju stan makanan.
Jagain Naya.
Kalimat itu terdengar menggelitik di telinga Nawang. Sejak kapan posisinya bergeser dari orang yang dijaga menjadi penjaga orang lain?
Di meja, keheningan yang aneh sempat tercipta. Naya terlihat semakin tidak nyaman. Tangan cewek itu agak gemetar saat meraih gelas jus alpukat yang tadi dibawanya. Nawang yang melihat hal itu berniat baik. Ia menggeser mangkok baksonya yang sudah kosong agar Naya punya ruang lebih luas untuk menaruh gelasnya.
"Sini, Nay, geser—"
Prang!
Gerakan Nawang yang berniat menggeser mangkok justru membuat Naya terkejut.
Naya menarik tangannya terlalu cepat karena gugup, membuat gelas jus alpukat yang belum sempat ditaruh dengan benar langsung tersenggol. Cairan hijau kental dan es batu itu tumpah ruah, mengalir cepat membasahi meja dan langsung terjun bebas ke seluruh bagian depan seragam putih Nawang.
Nawang tersentak. Rasa dingin dan lengket langsung menusuk kulitnya di balik kain seragam.
"Eh! Ya ampun, maaf! Maaf banget, Nawang! Gue nggak sengaja, sumpah!" Suara Naya langsung meninggi karena panik. Cewek itu berdiri dari kursinya, tubuhnya mendadak bergetar hebat. Kedua tangannya menutup mulut, dan matanya mulai berkaca-kaca secara berlebihan.
Reaksi Naya tampak seperti seseorang yang baru saja melakukan kejahatan besar, ketakutan setengah mati.
Nawang mendesah pelan, melihat noda hijau yang melebar di badannya. "Iya, nggak apa-apa, Nay. Cuma baju kok—"
"Ada apa ini?!"
Suara berat dan tinggi itu datang memotong kalimat Nawang. Timy kembali dengan setengah berlari, meninggalkan antrean siomay-nya begitu mendengar keributan.
Pandangan pertama Timy tidak jatuh pada seragam Nawang yang basah kuyup dan lengket. Pandangannya langsung mengunci sosok Naya yang sedang berdiri gemetar dengan wajah ketakutan, tampak sangat ringkih.
"NAWANG? KAMU NGAPAIN SIH?!" bentak Timy refleks. Suaranya menggelegar di area sudut kantin, membuat beberapa orang di meja sekitar menoleh seketika.
Nawang membeku. Kata "kamu" dan nada tinggi itu terasa seperti tamparan tak kasat mata di wajahnya. Timy tidak pernah membentaknya. Tidak pernah sekalipun selama satu tahun mereka pacaran.
"Gue... gue nggak sengaja, Tim. Gue tadi mau taruh gelas terus kaget..." Naya mulai terisak, memegang ujung jaket Timy dengan jari-jarinya yang gemetar. "Jangan salahin Nawang, ini salah gue."
Timy langsung memegang pundak Naya, berusaha menenangkannya.
Wajah cowok itu dipenuhi kepanikan yang luar biasa, kepanikan yang belum pernah Nawang lihat sebelumnya—bahkan saat Nawang pingsan karena tipes tahun lalu. "Udah, Nay, tenang. Jangan gemetar gitu. Enggak apa-apa, enggak ada yang salahin kamu." Timy beralih menatap Nawang, matanya memancarkan rasa frustrasi dan kekesalan yang aneh. "Kamu bisa ganti tempat atau hati-hati sedikit nggak sih, Wang? Kamu tahu kan Naya gampang panik dan trauma kalau ada barang pecah begini? Kenapa harus bikin masalah di kantin yang lagi ramai gini?"
Nawang menatap cowok di depannya. Kepalanya tidak panas. Dadanya tidak berdegup kencang karena marah. Pikirannya justru mendadak bekerja dengan sangat jernih dan dingin.
Dia membentak Nawang untuk melindungi wanita teman masa kecilnya.
Dia menuduh Nawang memicu trauma wanita ini, padahal baju Nawang yang basah kuyup.
Di mata Timy saat ini, Nawang bukan lagi pacarnya yang sedang kesusahan atau butuh dibela. Nawang melihat dirinya sendiri telah berubah menjadi sosok antagonis di mata pacarnya sendiri, hanya karena ada cewek lain yang terlihat lebih butuh dikasihani.
Teman-teman Nawang di meja itu mulai bersuara, tidak terima. "Eh, Tim! Apa-apaan sih lo? Yang ketumpahan itu Nawang, baju dia basah semua! Kok lo malah marahin dia?!"
Timy agak tersentak mendengar teguran itu. Ia memandang seragam Nawang yang kotor, baru menyadari kondisi pacarnya. Ada kilat penyesalan yang lewat di mata Timy selama sedetik. "Wang... bukan gitu, maksud Aa—"
"Enggak apa-apa," potong Nawang. Suaranya sangat tenang. Begitu tenang hingga terdengar asing di telinga Timy.
Nawang berdiri dengan anggun, membersihkan sisa es batu yang menempel di roknya menggunakan selembar tisu yang tersisa di meja. Ia tidak menangis. Tidak ada air mata, tidak ada wajah memelas, tidak ada kemarahan. Hanya ada kekosongan yang mutlak.
Ia menatap Timy lurus-lurus. Cowok di depannya ini terasa seperti orang asing yang memakai wajah pacarnya. Rasa asing itu begitu kuat hingga Nawang merasa tidak punya ikatan apa pun lagi dengan orang ini.
"Aa urusin Kanaya aja dulu. Dia kayaknya mau pingsan," kata Nawang, intonasinya sedatar papan tulis. "Nawang mau ke toilet, mau numpang cuci baju."
"Neng, Aa anter—" Timy melangkah maju, tangannya refleks ingin menggapai lengan Nawang.
Namun, Nawang mengambil satu langkah mundur secara halus. Penolakan yang tidak kentara, tapi sangat tegas. "Nggak usah. Baju Aa nanti kotor kena jus."
Nawang melempar pandangan sekilas pada Naya yang masih memegangi ujung jaket Timy. Cewek baru itu menatap Nawang dengan rasa bersalah yang amat sangat, atau mungkin ketakutan. Nawang tidak peduli lagi apakah cewek itu tulus atau manipulatif.
Otak Nawang sudah sampai pada satu kesimpulan mutlak: masalahnya bukan pada Kanaya. Masalahnya ada pada Timy yang memilih untuk berpaling.
Tanpa sepatah kata lagi, Nawang membalikkan badan. Ia berjalan menembus kerumunan kantin dengan punggung tegak. Setiap pasang mata yang menatapnya dengan pandangan kasihan tidak ia gubris.
......................
...****************...
Tbc,