NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Suasana di ruang rapat itu seketika menegang. Eylo Lais menoleh perlahan ke arah pintu, rahang tajamnya mengeras samar saat mendengar nama keluarga yang disebut oleh asisten Naya.

"Baskara," gumam Eylo dengan nada datar yang anehnya menggetarkan udara di sekitarnya. Mata gletsernya kembali menatap Naya, kali ini dengan kilat kalkulasi yang jauh lebih tajam. "Sepertinya saya datang di waktu yang kurang tepat, Naya. Anda punya banyak antrean tamu yang ingin menyelamatkan kapal karam ini."

Naya menahan napas sejenak, menyadari Eylo baru saja menghilangkan panggilan formal 'Nona' dan langsung menyebut namanya. Sebuah manuver kecil untuk menunjukkan dominasi.

"Mereka bukan investor, Tuan Lais. Hanya rekanan penyuplai bahan baku untuk divisi perhotelan kami," jawab Naya tenang. Ia berjalan memutari meja maket, berdiri berhadapan dengan Eylo. "Dan soal tawaran Anda tadi... saya setuju dengan empat puluh persen saham."

Beberapa direktur Adiraja di ruangan itu menahan napas, namun Naya mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar tidak ada yang menyela.

"Tapi," Naya menatap lurus ke dalam mata Eylo yang membekukan, "saya tidak akan memindahkan meja kerja saya ke gedung Anda. Saya memiliki ribuan karyawan yang harus saya pimpin di sini. Sebagai gantinya, saya akan datang ke markas Lais Holdings tiga kali seminggu untuk rapat koordinasi dan pelaporan progres secara langsung kepada Anda."

Eylo menatap wanita di hadapannya dalam diam. Selama beberapa detik yang terasa sangat panjang, tidak ada yang berani bersuara. Pria itu mengamati bagaimana Naya berdiri tegak, tidak sedikit pun gentar di bawah tatapan intimidasinya. Sebagian besar orang akan hancur atau tunduk, namun Naya justru menegosiasi balik syarat personalnya.

Sebuah seringai tipis yang luar biasa menawan—namun mematikan—terbit di sudut bibir Eylo.

"Tiga kali seminggu. Dan Anda tidak boleh terlambat satu menit pun," ucap Eylo pelan, nada suaranya mengalun seperti sebuah janji. Ia mengulurkan tangan kanannya. "Sepakat, Naya Adiraja."

Naya menyambut jabatan tangan itu. Kulit Eylo terasa hangat, kontras dengan tatapan matanya. "Sepakat."

Tanpa membuang waktu, Eylo membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan, diikuti oleh asisten dan pengawalnya. Naya menghela napas panjang, memberikan instruksi singkat kepada tim legalnya untuk segera menyusun draf kontrak, lalu bergegas keluar menyusul menuju lift khusus untuk menemui tamu berikutnya.

Saat pintu lift terbuka di lobi utama lantai dasar, Naya melihat punggung tegap Eylo Lais sedang berjalan menuju pintu keluar. Di saat yang bersamaan, Arga Baskara dan adiknya, Arham, sedang duduk di ruang tunggu VIP lobi.

Mata Arga seketika membelalak melihat siapa yang baru saja keluar dari lift eksklusif perusahaannya. Menyadari kehadiran penguasa Lais Holdings, Arga buru-buru berdiri, berniat menyapa. Namun, Eylo hanya melirik Arga sekilas—tatapan kosong yang biasa ia berikan pada lalat yang tidak mengganggu—lalu terus berjalan melewati pintu putar tanpa repot-repot menghentikan langkahnya.

Naya melangkah menghampiri kakak beradik itu dengan senyum profesional.

"Selamat pagi, Pak Arga. Maaf membuat Anda menunggu," sapa Naya sopan.

Arga segera memutar tubuhnya, menutupi rasa gengsinya yang baru saja diabaikan oleh Eylo. "Pagi, Naya. Tidak apa-apa. Kebetulan kami sedang santai. Omong-omong, itu tadi... Eylo Lais? Apa Adiraja sedang membidik kerja sama dengannya?"

"Hanya urusan proyek di timur," Naya menjawab diplomatis, mengalihkan pandangannya pada pemuda yang berdiri di sebelah Arga.

Napas Naya sedikit tertahan. Di bawah cahaya terang lobi kantornya, wajah Arham terlihat jauh lebih jelas dibandingkan semalam. Kemeja rapi yang membalut tubuh pemuda itu tidak bisa menyembunyikan postur tubuhnya yang entah mengapa mengingatkan Naya pada sesuatu yang sangat ia rindukan.

"Ah, ya. Naya, kenalkan, ini adik bungsu saya, Arham," Arga menepuk bahu adiknya dengan bangga.

Arham mengulurkan tangannya, matanya menatap Naya dengan sorot yang sulit diartikan. Ada getaran aneh di sana, sebuah kebingungan yang tertahan. "Kita bertemu lagi, Bu Naya. Maaf atas insiden semalam di hotel."

"Tidak perlu minta maaf, Arham. Itu murni kecelakaan kecil," Naya membalas jabatan tangan itu. Sekali lagi, sengatan halus merayap di kulitnya. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak wajar. Naya buru-buru menarik tangannya, berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik ekspresi datar. "Silakan duduk. Apa yang bisa saya bantu hari ini, Pak Arga?"

Mereka bertiga duduk di sofa kulit ruang tunggu. Arga mencondongkan tubuhnya ke depan, menampilkan gaya khasnya yang selalu percaya diri.

"Kontrak penyuplai bahan baku untuk divisi restoran kalian akan segera kami perpanjang dengan harga spesial. Tapi selain itu, ada satu permintaan pribadi yang ingin saya ajukan," Arga menatap Naya lekat-lekat. "Arham baru saja menyelesaikan masa pemulihan kesehatannya dan sedang bersiap masuk ke jajaran manajemen Baskara. Ayah kami ingin dia belajar dari yang terbaik sebelum memegang divisi sendiri."

Naya menautkan alis. "Lalu?"

"Saya ingin Arham magang di Adiraja Hospitality. Di bawah pengawasan Anda langsung, Naya," ucap Arga tanpa basa-basi. "Dia pintar, penurut, dan saya jamin tidak akan menyusahkan. Anggap saja ini sebagai bentuk pertukaran ilmu antar keluarga."

Naya terdiam. Ia menatap Arham yang duduk dengan postur sedikit kaku. Pemuda itu terlihat tidak sepenuhnya nyaman dengan permintaan kakaknya. Namun, saat mata Naya bertemu dengan mata Arham, ia kembali merasakan dorongan tak kasat mata itu. Sebuah bisikan dari dalam batinnya yang menyuruhnya untuk mengiyakan. Ada sesuatu tentang Arham yang membuat Naya enggan menolaknya, meskipun logikanya berteriak bahwa ini hanya akan menambah beban kerjanya.

Mungkinkah karena Arham seusia Kafka saat pria itu meninggalkannya?

"Saya sangat disiplin dan tidak memberikan perlakuan khusus kepada siapa pun, Pak Arga. Sekalipun dia pewaris perusahaan besar," Naya memberikan peringatan, nada suaranya mengeras.

Arham yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap Naya dengan tekad yang mendadak muncul, didorong oleh rasa penasaran yang membakar dadanya sejak semalam. "Saya siap mengikuti semua aturan Anda, Bu Naya. Saya di sini untuk belajar, bukan untuk bersantai."

Melihat kesungguhan di mata pemuda itu, Naya akhirnya menghela napas pelan.

"Baik. Datanglah ke kantor besok pagi pukul tujuh tepat. Riri, asisten saya, akan menyiapkan ruang kerjamu," putus Naya.

Arga tersenyum puas, merasa rencananya untuk menyelipkan adiknya sekaligus mempererat hubungan dengan Naya berhasil dengan mulus. Namun, pria itu sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan ini akan menjadi awal dari terbongkarnya rahasia terbesar yang telah lama terkubur.

Malam itu, di dalam kesunyian ruang kerjanya yang gelap, Naya memutar-mutar pena di tangannya. Berkas profil Arham Baskara yang baru saja ia perintahkan untuk dicari oleh tim HRD-nya tergeletak di atas meja. Matanya terpaku pada satu baris informasi medis yang tercatat dalam rekam jejak pemuda tersebut.

Riwayat Medis: Operasi transplantasi hati dua tahun lalu akibat gagal fungsi organ akut.

Jari Naya bergetar saat menyentuh kertas itu. Dua tahun lalu. Waktu yang sama persis saat rumah sakit menyatakan bahwa hati Kafka didonorkan kepada seorang pemuda yang sedang sekarat.

Naya menelan ludah, dadanya terasa sesak seolah kehabisan oksigen. Mungkinkah rasa familier dan tarikan magnetis setiap kali ia menatap Arham bukanlah sebuah kebetulan? Mungkinkah sebagian dari jiwa pria yang paling ia cintai kini bernapas dan hidup di dalam tubuh pemuda itu? Pertanyaan-pertanyaan itu mengelilingi kepalanya bagaikan badai, memaksanya untuk menelusuri kebenaran yang akan mengubah seluruh hidupnya.

1
Bebe Honey
mantap ceritanya Kak...terima kasih 😍
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!