Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Azmi
"Zahra siapa, Nak?"
Zahra terdiam.
Ketiga objek di ruang tamu itu hanya saling pandang. Ummi yang merasa khawatir langsung berdiri untuk menghampiri Zahra. Tatapan Zahra terlihat sangat aneh seolah ketakutan, kedua tangannya mengepal merasakan sesak di dada.
Seorang pria tidak jauh darinya berjalan dengan pelan, tapi semakin dekat.
Pria bertubuh tinggi, tegap, dan berparas tampan menatap Zahra tanpa kedipan sekalipun. Wajahnya tenang bak seperti air jernih. Tatapannya meneduhkan, akan selalu memberi kedamaian.
Namun, semua itu tidak berlaku bagi Zahra. Tatapan yang seolah meneduhkan, wajah yang damai dengan hati jernih justru ... bagaikan ombak yang menghantam dadanya saat ini.
Orang yang ingin dia lupakan kini datang tanpa diundang.
"Assalamualaikum, Zahra," ucapan salam penuh keraguan.
"Waalaikumsalam," balas Zahra, dengan bibir bergetar.
"Nak, Azmi," ucap Ummi demikian.
Abi Adam langsung menoleh, wajahnya terkejut mendengar nama itu disebut.
Azmi? Ada apa dia datang?
Pasti itu yang ada dipikiran Abi Adam. Abi Adam pun permisi kepada Ilham untuk menemui Azmi.
Wajah Abi Adam begitu tenang, tidak memperlihatkan keterkejutan, dan kebencian. Dia tetap menyambut tamunya dengan hangat.
"Nak, Azmi. Sejak kapan?" tanya Abi yang melewati Zahra. Sebagai seorang ayah Adam tahu seperti apa perasaan Zahra saat ini.
"Assalamualaikum Abi. Azmi baru saja sampai," jawab Azmi yang bersalaman pada Abi Adam juga Ummi.
Ummi Hawa hanya tersenyum.
"Zahra, apa kabar?" tanya Azmi yang hendak bersalaman walau tanpa sentuhan. Namun, Zahra seakan tak sudi menatap wajah mantan pria yang dulu mengkhitbahnya.
"Zahra, permisi ke belakang Ummi. Mau buatkan minum," ucap Zahra tanpa melirik Azmi di depannya. Dia melengos menuju dapur.
Ilham yang lebih dulu bertamu juga ikut merasakan kecanggungan antara Zahra dan Azmi.
"Kamu datang sendiri?" tanya Ummi Hawa. Mereka masih mengintrogasi Azmi di depan pintu.
"Iya, Ummi. Azmi ingin membicarakan sesuatu dengan Ummi, Abi juga Zahra," jawab Azmi.
"Mmm... Kalau begitu ayo masuk, duduk dulu. Kebetulan Ummi juga ada tamu, dia Nak, Ilham kalian saling kenal kan?"
Azmi menatap Ilham dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Penuh tanda tanya, rasa penasaran untuk apa Ilham datang ke rumah Zahra.
"Terima kasih Ummi." Azmi mendaratkan bokongnya di samping Ilham, tapi sebelum itu mereka saling bersalaman.
Sebenarnya mereka sudah saling mengenal. Dulu, ketika Ilham sama-sama mondok di An-Nur, Ilham terkenal dengan sosok pria yang paling dekat dengan Zahra. Selain berteman sejak kecil, Ilham salah satu pria yang sering membuat Azmi salah paham.
Azmi dan Zahra, sudah dijodohkan sejak lama bahkan saat Zahra masih duduk dibangku Tsanawiyah dan Azmi adalah kakak seniornya.
Perjodohan itu sampai terdengar oleh santri dan santriwati dan menjadi topik hangat diarea pondok. Sampai tidak ada yang berani mengagumi Zahra atau sebaliknya karena mereka sudah dijodohkan dari lahir — itu kata santri lain.
Namun, semua kembali lagi kepada sang pencipta. Urusan jodoh ada ditangannya, dan hubungan mereka harus berakhir sampai hubungan dekat antara orang tuanya terpecah belah.
"Mak Wiroh, tolong buatkan teh," ujar Zahra setelah tiba di dapur.
"Baik, Neng. Manisnya sedang apa manissss banget?" tanya Mak Wiroh yang menduga itu teh untuk Zahra.
"Nggak manis, tawar saja." Zahra bicara dengan ketus.
Mak Wiroh yang melihat sikap Zahra pun merasa heran. "Ada apa Neng, kok judes gitu. Nanti yang ada rasa teh yang manis jadi pahit."
Zahra menoleh, menatap tajam Mak Wiroh. Wanita yang ditatap langsung salah tingkah.
"Kalau perlu yang pahit aja gak apa-apa."
"Waduhh ...."
"Seperti mulut ibunya yang pahit."
Mak Wiroh langsung diam. Mendengar Zahra yang menggerutu membuat Mak Wiroh tidak lagi ingin bertanya, karena dia tahu pasti hati anak majikannya itu sedang kesal.
Mak Wiroh langsung membuatkan teh, yang pahit karena sari teh yang banyak ditambah tidak pakai gula.
"Ini Neng, tehnya sudah jadi." Ujar Mak Wiroh sambil menyodorkan nampan.
"Bawakan saja ke depan Mak Wiroh, ada tamu baru."
"Baik Neng, kalau begitu Mak Wiroh permisi, ya."
Mak Wiroh pergi menuju ruang tamu sambil membawa nampan itu. Zahra, masih memendam amarahnya di dapur.
Di Ruang Tamu
"Nak, Azmi tadi bilang ada yang mau diobrolkan?" tanya Abi Adam.
Azmi, terdiam. Matanya melirik kepada Ilham.
"Ouh ... Pak Kiyai, saya izin ke kamar mandi," ujar Ilham yang tahu situasi.
"Ouh, silakan. Kamu jalan lurus saja, nanti di ruangan tengah ada pintu kecil sebelah kiri. Itu kamar mandinya," jelas Abi.
"Iya pak Kiai. Kalau begitu saya permisi dulu ke kamar mandi."
Ilham pamit, dia melangkah ke belakang walau sebenarnya dia sama sekali tidak ada keinginan untuk buang hajat. Namun, karena kondisi yang tidak memungkinkan, Azmi seolah ingin berbicara hal pribadi tanpa ingin Ilham ketahui.
Setelah tiba di ruang tengah, Ilham jalan-jalan sendiri bagaikan orang bingung. Berulang kali ia menghela napas lalu dibuangnya dengan kasar. Ilham lalu duduk di bangku meja makan sambil mengetuk-ngetuk kan jarinya di atas meja.
Sambil celingukan ia melirik sekitarnya. Sampai dia melihat Zahra berdiri di dapur.
Zahra, batinnya.
Ilham langsung bangun, ia berjalan ke arah Zahra. Namun, dengan batasan. Ilham berdiri dengan jarak satu meter dari Zahra, karena ia tahu batasan bagi muslimah yang belum muhrim.
"Tok, tok, tok." Ilham mengetuk pintu dapur.
Terkejut dengan suara itu, Zahra langsung menoleh.
"Ganggu, ya?" tanya Ilham.
"Mmm... Nggak, kok," jawab Zahra sedikit gugup. "Tadi aku abis bikin teh," sambung Zahra dengan salah tingkah.
Ilham hanya tersenyum.
"Mau cerita?" tanya Ilham lagi. Pria itu seolah tahu jika Zahra sedang butuh teman bicara.
Zahra diam.
Diamnya Zahra membuat Ilham semakin yakin, jika sahabat kecilnya itu sedang ada masalah. Ilham tahu seperti apa karakter Zahra, tapi Ilham tidak tahu seberat apa ujian yang Zahra alami lima tahun ini.
"Mau jalan-jalan di luar? Sambil keliling pondok mungkin, aku udah lama gak lihat lingkungan pondok sekarang. Tadinya sih mau sama pak Kiai tapi, masih ada tamu. Sepertinya ada hal penting, jadi ... Aku kesini saja."
Apa, ya, yang mau Mas Azmi bicarakan sama Abi? batin Zahra.
"Atau kamu mau gabung sama Abi?" tanya Ilham.
Nggak mungkin juga aku gabung sama Abi, nanti ketemu Mas Azmi. batin Zahra lagi.
"Itu urusan orang tua. Kita ke luar aja, mau keliling pondok kan?" tanya Zahra, Ilham mengangguk.
"Ya udah ayo, kita jalan belakang aja," ujar Zahra.
Ilham jalan lebih dulu di depannya. Sekitar satu meter barulah Zahra yang mengikutinya di belakang.
Dari atas tangga terlihat dua pasang mata kecil yang mengintai. Mereka mengawasi gerak-gerik Ilham dan Zahra, siapa lagi jika bukan Semi dan Arsyad.
"Abang, kita ikutin yuk?"
"Nggak ah, nanti ketahuan."
"Ih ... Abang. Kalau nggak diikutin kita kan gak tahu yang diomongin Mama sama Om Ilham."
"Nguping juga gak benar," timpal Arsyad.
"Iya sih. Tapi kan demi kebaikan," balas Semi dengan nada comelnya.
Arsyad memandang Semi dengan tatapan mengintimidasi. Bujukannya tidak membuat Arsyad luluh. Bocah kecil itu bangkit dari tangga berjalan ke arah balkon. Melihat sang Abang pergi, Semi ikut berlari menyusulnya.
"Abang, ih ... kok malah pergi. Ayo, Bang kita ikutin Mama dan Om .... Uncle Haesung!"
Semi membola dengan mata berbinar melihat kedatangan sang idola. Arsyad, yang ikut mendengar langsung mengikuti arah tatapan sang Adek. Dari bawah terlihat Haesung turun dari mobilnya.
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏