Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14: Gelisah di Ujung Malam
Jam dinding berdetak nyaring di ruang tengah rumah Yoga. Jarum panjang dan pendek telah berimpit tepat di angka sembilan malam.
Suasana rumah yang luas itu terasa makin dingin dan mencekam. Lampu-lampu teras menyala terang, membiaskan cahaya pada pelataran yang sepi tanpa tanda-tanda keberadaan kendaraan anak-anaknya.
Di dalam ruang keluarga, Yoga berjalan bolak-balik tanpa henti. Kemeja kerjanya sudah kusut, lengan kemejanya tergulung hingga siku, dan raut wajah pria empat puluh tahun itu tampak sangat tegang.
Rasa lelah akibat pekerjaan seharian sirna sepenuhnya, berganti menjadi kecemasan yang membakar dada.
"Mas... minum dulu teh hangatnya," bisik Ayu seraya meletakkan cangkir porselen di atas meja kayu.
Ayu berdiri di samping meja, matanya sendiri tak mampu menyembunyikan pendar kekhawatiran yang sama besarnya. Lengannya yang masih dibalut kassa tipis refleks mengusap jemarinya sendiri yang terasa dingin.
Yoga menghentikan langkahnya, lalu menatap Ayu dengan pandangan mata yang nanar. "Bagaimana aku bisa tenang, Ayu? Lea hilang dari jam sekolah, teleponnya mati, lalu Kenzo pergi begitu saja membawa motor tanpa pamit! Ini sudah jam sembilan malam!"
"Mas, tolong tenang dulu... Kita sudah berusaha telepon teman-teman mereka. Tadi kata Pak Maman, dia juga sedang keliling di sekitar area sekolah untuk mencari," tutur Ayu mencoba menenangkan suaminya, meski di dalam hati kecilnya ia sendiri terus berdoa tanpa putus.
"Aku tidak bisa diam saja di sini!" tegas Yoga, lalu menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. "Aku akan cari mereka sendiri ke tempat-tempat yang biasa Kenzo kunjungi!"
Tepat saat Yoga memutar badannya hendak menuju pintu utama, suara derum mesin motor yang melaju pelan memasuki pelataran rumah terdengar memecah sunyi malam.
BROOMM...
Suara mesin itu mati seketika, disusul bunyi standar motor yang diturunkan menghentak ubin garasi.
Yoga dan Ayu membeku di tempat. Tanpa mengulur waktu, Yoga langsung melangkah lebar membuka pintu utama dengan kasar.
Di bawah pendar lampu teras yang kekuningan, Kenzo dan Lea baru saja melepaskan helm mereka. Lea berjalan menunduk dengan tas ransel tergantung berat di bahunya, sementara Kenzo berjalan santai di belakangnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket hoodie hitam.
Melihat kehadiran kedua anaknya yang pulang tanpa rasa bersalah di jam semalam ini, emosi Yoga yang sudah tertahan sejak sore meledak seketika.
"DARI MANA SAJA KALIAN?!" suara Yoga menggelegar menembus kegelapan malam, gema suaranya memantul di dinding-dinding teras.
Kenzo dan Lea terlonjak kaget, dan spontan menghentikan langkah kaki mereka di undakan teras.
"Mas, sabar, Mas..." desis Ayu yang menyusul berdiri di samping Yoga, dan berusaha memegang lengan suaminya agar tidak terhanyut emosi.
Yoga mengibaskan tangannya dengan pelan, lalu menatap tajam kedua anak remajanya. "Lea! Kamu tahu jam berapa ini?! Kamu kabur dari sekolah sejak jam istirahat, ponsel mati, dan membuat seluruh orang di rumah ini panik setengah mati! Ke mana kamu pergi?!"
Lea mendongak. Matanya yang sembab dan memerah akibat menangis di makam dan di kafe tadi menatap Yoga dengan tatapan menantang.
"Aku dari makam Mama!" bentak Lea dengan suara serak namun nyaring. "Aku kangen sama Mama! Aku gak betah di rumah ini!"
Yoga tertegun sejenak mendengar jawaban itu, rasa sakit pun menyengat dadanya. Namun, fakta bahwa Lea pergi tanpa kabar hingga larut malam tetap tidak bisa dibenarkan.
"Kangen Mama bukan alasan buat kamu bertindak seenaknya, Lea!" tegas Yoga dengan napas memburu. "Kalau kamu ada masalah, bicara sama Papa! Bukan malah kabur dan bikin susah semua orang! Dan kamu, Kenzo... Kamu tahu adikmu menghilang, kenapa kamu tidak memberi tahu Papa dan malah pergi membawa dia nongkrong sampai jam sembilan malam?!"
Kenzo maju satu langkah, dan berdiri pasang badan di depan Lea. Matanya yang datar kini memancarkan aura dingin yang membentengi adiknya.
"Aku cuma nemenin Lea, Pa," sahut Kenzo dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. "Lea cuma butuh tempat tenang buat cerita. Kalau kita pulang cepat-cepat ke rumah ini, yang ada Lea makin stres karena harus liat pemandangan yang gak mau dia liat."
Pandangan mata Kenzo melirik sekilas namun tajam ke arah Ayu yang berdiri di belakang Yoga.
Ayu merasa dadanya dihantam benda tumpul yang sangat berat. Sindiran Kenzo begitu jelas menunjuk pada dirinya sebagai penyebab utama ketidaknyamanan mereka.
"Kenzo! Jaga bicaramu!" bentak Yoga, dengan rahang yang mengetat keras. "Ayu ini istri Papa! Dia ibu kalian sekarang! Dari sore Ayu yang paling panik dan khawatir nyariin kalian berdua, tapi kalian malah bersikap kurang ajar seperti ini?!"
"Dia bukan ibu kita!" potong Lea histeris. Airmata pun kembali menetes deras di pipinya yang pucat. "Sampai kapan pun dia bukan ibu kita, Pa! Jangan paksa kita buat terima dia!"
"LEA!"
Tangan Yoga terangkat di udara, emosinya sudah berada di puncak batas kesabaran.
Ayu yang melihat hal itu langsung panik. Tanpa memedulikan rasa sakit pada tangannya yang terluka, Ayu langsung melangkah cepat dan berdiri di depan Yoga, seraya menahan dada suaminya agar tidak melayangkan pukulan atau tindakan fisik.
"Mas, jangan! Tolong jangan!" teriak Ayu dengan suara gemetar dan air mata yang akhirnya pecah. "Jangan pukul anak-anak, Mas! Tolong..."
Seketika gerakan Yoga terhenti. Napasnya memburu keras, lalu menatap Ayu yang memohon padanya dengan linangan air mata.
Ayu lalu berbalik menghadap Lea dan Kenzo. Meskipun hatinya sendiri terasa hancur dan iris matanya basah oleh kepedihan akibat penolakan bertubi-tubi, Ayu tetap berusaha mengulas tatapan selembut mungkin pada kedua remaja di hadapannya.
"Lea... Kenzo..." bisik Ayu dengan suara bergetar menahan tangis. "Ibu minta maaf kalau keberadaan Ibu di rumah ini membuat kalian merasa terluka dan tidak nyaman. Ibu demi Allah tidak pernah berniat merebut posisi almarhumah Mama kalian, tidak pernah... Ibu cuma mau kalian aman dan ada yang merawat."
Lea menatap Ayu dengan napas memburu dan bibir yang gemetar. "Gak usah sok suci!" teriak Lea sebelum berbalik, berlari kencang menaiki tangga luar teras dan menerobos masuk ke dalam rumah. Suara pintu kamarnya yang dibanting keras kembali terdengar menggelegar dari lantai dua.
Kenzo menatap Ayu tanpa ekspresi, lalu menatap Yoga yang tampak sangat lesu dan frustrasi.
"Rumah ini udah gak hangat lagi, Pa," gumam Kenzo datar kemudian melangkah pergi menyusul adiknya masuk ke dalam.
Di bawah temaram lampu teras, Yoga terduduk di bangku teras sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Suara helaan napasnya yang berat dan serak memecah kesunyian malam.
Ayu pun berlutut di samping Yoga, dan mengusap bahu suaminya yang berguncang pelan. Di tengah kegelapan malam yang makin pekat, Ayu tahu bahwa gelombang ujian dalam rumah tangga barunya ini masih jauh dari kata usai.
"Apa aku salah masuk ke keluarga ini?"
Bersambung...