NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:26.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan

Setelah beberapa saat pingsan, Indri tersadar juga. Begitu membuka mata, yang pertama dilihatnya adalah wajah ibunya. Weni tampak cemas melihat keadaan putrinya.

Weni membantu Indri duduk di ranjang. Mata wanita itu hanya menatap kosong ke depan.

Indri kembali menangis begitu mengingat tentang Arga. Dia menyesal sudah bersikap kekanakan dengan mengancam akan bunuh diri kepada Arga, hingga membuat pria itu nekat pergi ke rumahnya di malam hari.

Andai dia tidak melakukan itu, mungkin dia masih hidup sampai sekarang.

“Arga,” panggil Indri sambil menangis. “Maafin aku. Aku yang udah buat kamu seperti ini. Maafin aku yang selalu bersikap kekanak-kanakan,” ujar Indri di sela-sela tangis.

Mengetahui anaknya sudah tersadar, Danu segera masuk ke dalam kamar. “Indri, kamu nggak apa-apa?” tanya Danu. Dia juga mencemaskan keadaan putrinya.

“Papa sekarang puas? Arga udah nggak ada. Orang yang Papa benci nggak akan pernah menjadi pasanganku lagi. Papa puas sekarang?” tanya Indri mengeluarkan keluh kesahnya dan terus menangis.

“Maafkan Papa,” ujar Danu pelan.

“Apa maaf Papa bisa menghidupkan lagi Arga? Selama ini Papa selalu menilai orang dari materi. Padahal Arga itu tulus sayang dan cinta sama aku. Kalau nggak ditahan-tahan Arga, dari dulu aku udah kabur dari rumah.”

Indri menekuk kedua kakinya lalu membenamkan wajahnya ke lututnya. Wanita itu masih terus menangis. Kehilangan seseorang yang begitu disayangi dengan cara yang tragis benar-benar membuatnya terpukul.

Weni pun tidak bisa menahan air matanya melihat kesedihan yang dirasakan Indri. Sebagai seorang ibu, dia justru ikutan menentang hubungan Indri dengan Arga.

Wanita itu tidak pernah mau mendengar saat Indri mencoba meyakinkannya tentang Arga.

Bahkan Weni pernah mengira bahwa tujuan Arga mendekati Indri hanya karena harta. Apalagi saat tahu Arga seorang anak yatim piatu, semakin membuat wanita itu tidak menyetujui pilihan anaknya.

Indri menghapus air matanya. Dia segera keluar untuk menemui Gilang dan Pradipta.

“Di mana mayat Arga sekarang?” tanya Indri.

“Mayat Arga sedang di rumah sakit. Dokter forensik masih mengautopsinya,” jawab Gilang.

Indri kembali menangis mendengar jawaban Gilang. Wanita itu tidak sanggup membayangkan tubuh kekasihnya dibedah demi mengetahui penyebab kematiannya.

“Tapi aku bisa mengambil jenazahnya, kan?”

“Bisa kalau proses autopsinya sudah selesai.”

Setelah mendapat jawaban dari Gilang, Indri berbalik, melihat kedua orang tuanya. “Mama dan Papa lebih baik pulang aja. Aku akan tetap di sini sampai autopsi Arga selesai.

Aku yang akan memakamkannya. Aku juga ingin tetap di sini sampai pembunuhnya tertangkap dan dihukum seberat-beratnya.”

“Tapi…” ucapan Weni terhenti ketika melihat gelengan kepala Pradipta. Pria itu mengajak Weni dan Danu berbicara di luar.

“Indri masih syok setelah mengetahui kematian Arga. Saya sarankan Bapak dan Ibu kembali aja. Saya akan menjaga Indri di sini.”

“Tapi bagaimana kalau Indri sampai bunuh diri?” tanya Weni.

“Saya dan Gilang akan menjaga Indri. Saya yakin Indri tidak cukup bodoh untuk bunuh diri. Percayalah kepadanya sekali ini saja.”

Weni dan Danu saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya mereka setuju dengan usulan Pradipta.

“Apa saya bisa minta tolong?” tanya Danu.

“Soal apa, Pak? Kalau bisa, pasti saya akan bantu.”

“Tolong bantu Indri memakamkan Arga dengan layak. Apa kamu bisa melakukannya?”

“Ya, saya akan melakukannya. Biar Bapak tidak menyuruhnya, saya tetap akan membantu Indri.”

“Terima kasih. Saya titip Indri dan tolong jaga dia,” ujar Danu.

Pria itu mengeluarkan ponselnya. Dia segera memberikan bayaran yang sudah dijanjikan kepada Pradipta. Tak lama kemudian, ponsel Pradipta berdenting.

Pria itu langsung mengambil ponselnya. Sebuah notifikasi bank menunjukkan sejumlah dana masuk ke rekeningnya.

“Bayarannya terlalu banyak, Pak. Kesepakatan kita dua ratus juta aja,” ujar Pradipta begitu melihat jumlah uang yang dikirimkan Danu kelebihan lima puluh juta rupiah.

“Sisanya untuk biaya pemakaman dan tahlil Arga. Tolong lakukan yang terbaik. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuknya.”

“Baiklah.”

Danu dan Weni segera berpamitan. Mereka tahu bahwa Indri masih marah kepada mereka. Memberinya waktu sendiri,mungkin bisa sedikit meredakan kemarahan putrinya itu.

Di dalam rumah, Gilang dan Giana sedang menemani Indri. Mereka mengajak wanita itu berbicara di halaman samping.

“In, sebenarnya aku ini indigo. Salah satu hal yang membuat kami bisa menemukanmu dan Arga dalam waktu cepat, karena ada makhluk astral yang membantu kami,” ujar Gilang membuka pembicaraan.

“Kamu indigo? Jadi kamu bisa lihat hantu dan sebangsanya?” tanya Indri.

“Iya. Aku juga bisa melihat arwah manusia yang masih tertahan di dunia.”

“Apa kamu bisa melihat Arga?” tanya Indri cepat.

“Iya. Sekarang dia ada di dekat kamu. Di sebelah kanan kamu.”

Refleks, Indri menoleh ke kanan. Tentu saja dia tidak melihat siapa pun di sebelahnya. Matanya kembali berkaca-kaca. “Arga, maafkan aku,” ujarnya pelan sambil melihat ruang kosong di sampingnya.

“Arga nggak pernah menyalahkanmu, In. Dia justru bersyukur kamu baik-baik aja.”

“Apa kami bisa bicara?”

“Dia bisa mendengar perkataanmu. Aku akan mengatakan apa yang dia sampaikan kepadamu.”

Kesedihan Indri sedikit berkurang mendengar ucapan Gilang. Meski tidak bisa melihat Arga, setidaknya dia bisa berkomunikasi dengan kekasihnya lewat bantuan Gilang.

***

Sebuah sedan mewah berhenti di pelataran parkir kantor Polda. Dari dalamnya keluar Cahyo. Wajah pria itu terlihat garang.

Dia baru saja mendapat kabar bahwa polisi sudah menggeledah vilanya. Sialnya, mereka menemukan mayat Arga di sana.

“Siapa di antara kalian yang datang menggeledah vila saya?!” tanya Cahyo dengan suara lantang begitu berada di dalam kantor.

Mendengar suara gaduh, Nino dan Asep segera keluar. Keduanya segera menghampiri Cahyo.

“Kami yang pergi ke sana dan menggeledah vila Bapak,” jawab Nino.

“Dasar kurang ajar!” geram Cahyo seraya mengepalkan tangannya.

“Kami datang secara resmi dengan membawa surat perintah penggeledahan,” sambung Asep.

“Kalian mencoba menjebak saya, hah? Kalian bekerja sama dengan penjaga vila sialan itu demi menjatuhkan saya!”

“Kami melakukan pekerjaan secara profesional. Tidak seperti yang Bapak tuduhkan. Kami datang ke vila itu karena pernyataan salah satu saksi. Anak Bapak, Bimo, membawa korban ke vila itu bersama teman-temannya lalu memukulinya sampai meninggal.”

“Apa kalian punya bukti kalau anak saya pelakunya? Mana buktinya?! Itu hanya tuduhan tidak berdasar!”

“Kami masih menunggu hasil autopsi. Kami yakin, pembunuh meninggalkan jejaknya di tubuh korban,” jawab Nino yakin. Sebelumnya dia sudah masuk ke ingatan Arga dan melihat darah Bimo tertinggal di buku-buku tangan pria itu.

“Kalau sampai terbukti anak saya tidak bersalah, saya akan membuat kalian dipecat!” ancam Cahyo.

Tidak lama berselang, Bimo muncul bersama Pablo, pengacaranya. Pria itu kembali harus menjalani interogasi.

“Pa,” panggil Bimo. Wajahnya tampak panik. Pria itu tidak mau kalau sampai mendekam di penjara.

“Kamu tenang aja. Papa nggak akan biarkan kamu masuk penjara. Ikuti petunjuk Pablo.”

Bimo mengangguk pelan. Pria itu segera diminta menuju ruang interogasi. Pablo dengan sigap menemaninya. Dia harus memastikan Bimo tidak memberikan keterangan yang justru bisa memberatkannya.

Sepeninggal Bimo, Cahyo keluar dari kantor polisi. Dia menghubungi kenalannya di kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Jangan sampai anaknya divonis bersalah dalam kasus ini.

“Halo,” terdengar suara dari seberang.

“Aku butuh bantuanmu,” ujar Cahyo sambil berjalan menuju mobilnya.

***

Mau pake jalur atas nih roman²nya

1
vania larasati
lanjut kak
Umma Ridwan
iiiiih kalo bener yang ngikutin Giana teh si Ruben, berarti yang gondal gandulnya segede uprit punya nya si Ruben donk 🤣🤣
semoga neng Giana baik baik aja 🙏
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kena sial dia 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
senasib🤣🤣
Ani
bisa iya bisa nggak sih tapi kok yo beneran diikuti 🤔🤔🤔🤔
Safitri Agus
kenapa lari gi, tendang aja biar kapok kan reflek itu ya pas terkejut 🤭
Safitri Agus
Oalah kasihan 🤭🤣
Safitri Agus
🤭🤣🤣🤣
Safitri Agus
bisa jadi
Safitri Agus
sadiz ya😱
tehNci
Dari motor trail ke sepeda BMX,..jauh bangettt seenggaknya motor bebek atau matic gitu, masih sama¹ motor😂😂😛😛😛
tehNci
Wuiiih keren banget. si Leya ini😍🤩
tehNci
kirain Kania...
tehNci
Kania bukan ya?
tehNci
Giana lagi cosplay jadi detektif😄
tehNci
Mau mengumpankan dirikah? Semoga hanya menyelidiki saja
tehNci
Dasar gila nih orang. Buang mayat manusia kayak buang kresek bekas gorengan aja
tehNci
Kalo sudah mati, arwahnya bisa jadi petunjuk buat Jungkook dan Prisa
Lina Suwanti
semoga yg meninggal bukan Anjani n arwah korban ketemu sm Prisa atau Jun Kok biar bisa jd petunjuk
Ria alia
Murah banget tuh rudal dikeluarin mulu 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!