Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI DI BAWAH SUASANA SUNYI
Sorak-sorai wartawan di luar gerbang perlahan memudar seiring berlalunya langkah tegap Ammar kembali masuk ke dalam rumah. Pintu jati tebal itu dikunci rapat oleh Ustaz Ridwan, mengisolasi kembali keheningan di dalam ruang tamu dari kejaran media.
Ammar melangkah masuk, melepaskan jas koko hitamnya lalu menyampirkannya di lengan. Napasnya teratur, namun guratan lelah yang amat sangat tak bisa disembunyikan dari paras tampannya.
Di sofa utama, Umi Khadijah masih terduduk kaku. Mata tua wanita mulia itu menatap putranya yang baru saja pasang badan di depan publik. Keberanian Ammar meluruskan fitnah sekaligus ketegasannya mempertaruhkan martabat keluarga demi seorang wanita membuat rasa kecewa di hati sang Umi perlahan tergerus oleh rasa haru dan takjub.
"Ammar..." panggil Umi Khadijah parau.
Ammar menghampiri sang ibu, kembali berlutut dan mencium tangan Umi Khadijah dengan amat lembut. "Semuanya sudah Ammar klarifikasi, Umi. Tidak ada lagi simpang siur atau fitnah di luar sana."
Umi Khadijah menghembuskan napas panjang. Jemari tuanya yang gemetar mengusap kepala Ammar. "Kamu memang putra Abahmu... tegas dan tidak ragu membela apa yang menurutmu benar. Umi... Umi cuma terkejut, Ammar. Umi takut keturunan kita dihina orang."
"Aisyah wanita baik-baik, Umi," sela sebuah suara dari samping sofa.
Ammar dan Umi Khadijah menoleh. Nabila berdiri di sana, menundukkan pandangannya di balik kain niqab. Gadis itu menarik napas pelan sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Waktu Nabila ketemu Aisyah di toko baju kemarin... Aisyah santun banget. Cara bicaranya tulus, matanya jujur. Nabila sempat kagum sama dia sebelum tahu kalau dia istrinya Mas Ammar. Nabila tadi cuma kaget dan merasa dibohongi... tapi Nabila tahu Aisyah bukan wanita jahat."
Mendengar pengakuan dari putrinya, kelopak mata Umi Khadijah berkaca-kaca. Beliau mengangguk pelan. "Panggil Aisyah turun, Ammar. Umi mau bicara."
Aku melangkah turun dari tangga kayu lantai dua dengan jemari yang saling bertaut erat di atas kain gamis dusty rose. Ibu mendampingiku dari belakang, memegang bahuku untuk menyalurkan kekuatan.
Begitu kakiku menyentuh marmer ruang tamu, pandanganku beradu lurus dengan mata Umi Khadijah. Jantungku berdegup heboh, namun aku memberanikan diri berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan beliau—persis di samping Ammar yang menatapku dengan binar penuh hangat.
"U-Umi..." bisikku hampir tak terdengar, menundukkan kepala sangat dalam. "Aisyah memohon maaf yang sebesar-besarnya. Aisyah tahu Aisyah tidak pantas bersanding dengan Mas Ammar... Aisyah cuma wanita dari masa lalu yang kelam. Kalau kehadiran Aisyah membuat Umi malu—"
"Cukup, Nak," potong Umi Khadijah halus.
Sebuah telapak tangan yang hangat dan lembut menyentuh daguku, mengangkat wajahku perlahan. Aku menatap mata Umi Khadijah yang dibasahi air mata. Tidak ada lagi kilatan amarah di sana, melainkan pendar kedamaian seorang ibu.
"Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri di depan Umi," tutur Umi Khadijah dengan suara lembut yang menenangkan jiwa. "Ammar sudah memilihmu di hadapan Allah dan di hadapan seluruh media pagi ini. Jika suamimu sudah menempatkanmu sebagai ratu di hatinya, maka Umi tidak punya alasan untuk menolakmu sebagai menantu Umi."
Air mata kebahagiaan seketika meledak dari pelupuk mataku. Aku meraih kedua telapak tangan Umi Khadijah dan menciumnya penuh takzim, menyalurkan rasa terima kasih yang tak terkira atas pintu maaf yang dibukakan untukku.
Nabila melangkah mendekat. Gadis seusiaku itu ikut berlutut di sampingku, lalu mengulurkan tangannya mengusap bahuku.
"Maafkan aku ya, Aisyah... tadi aku sempat emosi," bisik Nabila jujur dari balik niqabnya. "Aku cuma kaget sahabat baruku ternyata mba iparku sendiri. Kita mulai dari awal lagi, ya?"
Aku mendongak, menatap mata bulat Nabila yang berbinar hangat. Aku mengangguk cepat seraya menyapu air mataku. "Makasih banyak, Nabila... makasih."
Ammar yang menyaksikan momen tersebut menghembuskan napas lega yang begitu dalam. Senyuman manis dan lega terukir sempurna di bibir tipisnya. Badai restu yang tadi terasa begitu Mencekam kini telah luluh oleh ketulusan dan kebenaran.
Malam harinya, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dan damai. Umi Khadijah dan Nabila telah pamit pulang sore tadi setelah menyantap makan malam bersama Ibu dan Awan, berjanji akan membantu mengurus proses administrasi syukuran pernikahan kami secara resmi di pesantren pekan depan.
Di dalam kamar utama yang diterangi lampu tidur temaram bernuansa kuning hangat, aku berdiri di depan cermin rias, melepaskan pasmina dan merapikan rambut hitam panjangku.
Dari pantulan cermin, tampak pintu kamar terbuka pelan. Ammar melangkah masuk mengenakan pakaian santai—kaus polos berwarna abu-abu yang mencetak jelas dada bidangnya serta celana kain panjang. Pria itu mengunci pintu kamar, lalu berjalan pelan menghampiriku.
Ammar berdiri tepat di belakangku. Kedua lengan tegapnya melingkar mantap di pinggangku, menarik tubuh rampingku merapat ke dadanya. Ia menyandarkan dagunya di atas bahuku, membiarkan helai rambutku yang wangi menerpa wajahnya.
"Terima kasih untuk hari ini, Aisyah," bisik Ammar halus dengan suara baritonnya yang rendah dan seksi di dekat telingaku.
Aku memegang lengan tegapnya yang melingkar di perutku, memejamkan mata menikmati rasa aman yang meluap di dadaku. "Aku yang harusnya terima kasih sama Mas Ammar. Mas Ammar sudah melindungiku di depan semua orang... di depan Umi, KUA, dan para wartawan."
Ammar terkekeh rendah, menggeser wajahnya dan mendaratkan kecupan hangat di leher sampingku yang terbuka, membuat desiran halus menjalar cepat ke seluruh persendianku.
"Itu kewajiban saya sebagai suamimu," tutur Ammar mantap. Ia memutar tubuhku pelan hingga kami saling berhadapan. Mata cokelat mewahnya mengunci pandanganku dengan binar gairah dan kasih sayang yang teramat pekat. "Sekarang... tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan, dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Ammar membungkukkan tubuhnya, menangkup kedua pipiku dengan jemari tegapnya yang hangat. Sebelum bibirnya menyapu bibirku dalam lumatan yang lembut dan sarat akan kepemilikan utuh, ia berbisik lirik di atas permukaan bibirku:
"Malam ini... biarkan saya mencintaimu sepenuhnya tanpa ada beban dunia yang mengganggu kita, Aisyah..."
Dan di balik keheningan kamar yang syahdu, kami menyambut lembaran baru pernikahan kami yang kini berdiri kokoh, sah, dan tak tergoyahkan oleh prasangka apa pun di dunia.