Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Ancaman
Bab 3
“Eh ….”
Tubuhnya menabrak seseorang dan mendadak oleng. Begitulah penderita anemia, tubuhnya lemas, tersenggol saja bisa membuatnya oleng dan kali ini Aya yakin ia akan tersungkur.
“Kamu ….”
Tunggu, nyatanya ia berada dalam dekapan seseorang. Dokter yang tadi dia temui, Edward Wijaya. Kedua tangan pria itu berada di pinggang dan tangan Aya mencengkram kemeja bagian dad4 sang dokter.
“Maaf dok.” interaksi begini macam di adegan drama dan roman picisan. Jantung Aya berdetak tidak biasa, mengira ia mungkin sudah tersungkur. Mungkin juga karena dipeluk seorang pria, entahlah ia tidak bisa mendefinisikan.
“Lain kali hati-hati,” Edward melepaskan tangannya, masih menatap Aya yang menjawab dengan anggukan dan tampak mengatur nafasnya.
Hati-hati dengan hati ya, dok, batin Aya.
“Mau ke dalam?” tanya Edward menunjuk pintu café, Aya mengangguk.
"Makasih ya dok, sekali lagi maaf." Aya gegas mendorong pintu cafe.
“Edward, my man.”
Edward berdecak menoleh ke arah suara, siapa lagi kalau bukan salah satu penghuni UGD yang mulutnya menyebalkan. Orang nomor 2 paling sengklek se SM dari sekian banyak orang yang dia kenal. Posisi pertama masih ditempati oleh Rama.
“Tadi siapa? Kok, peluk-peluk di tempat umum. Wah curiga, si duda sekalinya ada lawan malah meresahkan.”
“Hanya kebetulan, aku tolong gadis itu, dia hampir jatuh.” Edward berjalan meninggalkan café, diikuti oleh Anji yang sempat menoleh ke belakang.
“Cantik Ward. Siapa sih?”
“Heran. Sama yang cantik kok notice banget.”
Anji terkekeh lalu merangkul bahu Edward dan menepuk sambil berjalan beriringan. Edward sempat mendorongnya menjauh, tapi Anji kembali mendekat dan kembali merangkul. Interaksi mereka menjadi perhatian orang yang berpapasan dan mereka lewati.
“Minggir, orang bisa salah paham kalau interaksi kita begini.”
“Sayang kok gitu sih, ada yang cantik aja lupa sama aku.”
“Sumpah Nji, ke laut aja sana” cetus Edward mempercepat langkahnya. Anji kembali terbahak mengejar Edward.
“Mau kemana lo, buru-buru amat.”
“Pulang.”
“Yaelah, mending temenin gue di UGD. Lagian pulang mau ngapain? Nggak ada yang nungguin, nggak ada yang datengin. Paling selonjoran nonton netfl1x.”
Edward mengacuhkan Anji, kebetulan parkiran mobil tidak jauh dari UGD. Mau tidak mau mereka searah.
“Ward, salamin dari gue kalau ketemu cewek tadi dari Anji paling ganteng di UGD.” Teriakan Anji mendapat balasan jari tengah dari Edward. “Eh, nakal ya. Pelanggaran itu.”
Bip
Suara sensor kunci pintu mobil. Edward menghidupkan mesin lalu pendingin udara. Meletakan ponsel di holder dashboard. Mulai melajukan mobilnya, mengingat ucapan Anji tadi. Memang benar adanya, tidak ada yang menunggu dia pulang atau tempat yang harus dikunjungi apalagi ada yang datang. Asisten rumah tangga akan pulang setiap sore atau setelah pekerjaannya selesai. Tidak banyak yang bisa dikerjakan di rumah. Edward tinggal sendiri, makan pun jarang di rumah. Begitupun dengan tukang yang bertugas di taman dan area luar rumah. Keamanan rumah sudah sepaket dengan manajemen perumahan tempat tinggalnya. Jadi, sore sampai malam ini ia akan sendirian dan kesepian.
Hampir empat tahun menduda, bukan karena trauma atau enggan menikah lagi. Hanya saja belum mendapatkan calon yang tepat. Mungkin saja dia terlalu pemilih atau berhati-hati. Pernikahan yang pernah ia jalani bukan gagal, tapi ia ditinggalkan selamanya oleh sang istri. Kecelakan merenggut nyawa wanita itu, di usia pernikahan belum genap satu tahun. Yang paling menyakitkan, kondisi sang istri sedang hamil dan Edward tahu saat tubuh itu sudah terbujur kaku menjadi jenazah. Mereka bertengkar, dua jam kemudian mendapatkan kabar kalau istrinya kecelakaan. Mungkin ia memang, trauma. Entahlah.
Berbelok ke minimarket, sebelum memasuki kawasan tempat tinggalnya. Sejak tadi ponsel terus bergetar, khawatir ada pesan darurat dari rumah sakit ia pun mengaktifkan layarnya.
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng : Tes, tes, woi, ada yang lagi on nggak. Online ya, bukan s4nge
Asoka Harsa : Di UGD sepi gitu, si anji kayak nggak ada kerjaan aja ngurusin orang s4nge
dr. Rendi Oye : Oka. Nggak boleh gitu ya. Nanti mendadak UGD kebanjiran pasien. Abaikan aja si Anji, Edward bilang dia manusia nggak jelas
Anji nggak pake ng : Kebetulan guys, gue mau bahas si vampire. Paling dia masih di jalan, nyetir sambil mikir yang nggak-nggak
dr. Rendi Oye : Kenapa dia? Udah ketemu Bella Swan
Anji nggak pake ng : Bela mana nih? Bela kampung sawah lagi gue bidik. Yang lain aja, jangan si bela. Btw, tadi gue lihat Edward peluk cewek di depan café mana mesra banget
Asoka Harsa : Infonya agak meragukan 🤔
Anji nggak pake ng : Demi apa gue serius. Dia peluk cewek, mana cakep. Kalau nggak ada Bela, gue kejar dah tuh cewek
dr. Rendi Oye : Seriusan? @dokter vampir : coba anda klarifikasi
dokter vampir : Anji emang 4njimm banget. Itu pasien, dia anemia kronis. Hampir terjengkang tadi. Nggak percaya tanya Rama, adiknya Andin
Asoka Harsa : Oh, temennya Lisa juga si andin mah
Anji nggak pake ng : Masa sih, kelihatan meluknya beda. Kayak dunia besok kiamat, hampir aja nyosor. Jangan-jangan ini jodoh lo ward. Ya ampun, ternyata secepat itu 😀🤭
“Si4lan,” umpat Edward.
***
Aya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan pulang. Menunggu Andin selesai shift, kebetulan kakaknya itu pakai mobil bertukar dengan suaminya yang memakai motor.
“Lusa mbak masih shift pagi, kamu medical check up sendiri nggak pa-pa ya? Kalau sikonnya aman, mbak nyusul. Jangan drama kayak tadi ah, kamu ini bikin heboh aja,” keluh Andin karena Aya takut jarum suntik.
“Iya.” Aya menjawab dengan malas, pandangannya masih keluar jendela.
“Aya, mbak serius loh. Jangan mangkir dari jadwal MCU kamu. Ingat aturannya. Kalau mau tinggal di Jakarta, nurut sama mbak dan mas Dani. Ikuti jadwal terapi dengan dokter Edward.
Aya menarik nafas mendengar ancaman sekaligus perintah dari Andin. “Aku bosan di rumah, mbak. Pengen kerja.”
“Kerja yang bisa dikerjakan jarak jauh. Sekarang banyak loh. Ada affiliate, content creator, penulis, editor dan … banyaklah. Lagian kamu masih bisa lanjutkan bakat kamu, mendesain.”
“Di café tadi ada pengumuman butuh tenaga freelance. Aku ambil ya mbak,” cetus Aya penuh semangat bahkan sampai menoleh menatap Andin yang fokus mengemudi.
“Jangan. Kerja di café itu capek. Kamu berdiri, mondar-mandir. Apalagi freelance, penghasilannya harian dan nggak seberapa.”
“Aku jenuh di rumah mbak. Boleh ya, kalau capek aku stop. Sambil cari kerjaan yang lebih baik. Boleh ya mbak, please!” Aya sampai memegang lengan Andin untuk meyakinkan.
Mobil berhenti karena lampu lalu lintas. Andin pun menoleh, dari pandangan mata Aya terlihat kalau gadis itu serius.
“Aku janji akan jaga kesehatan mbak. Aku mau sehat, cari pacar terus nikah kayak mbak dan Mas Dani. Cari yang udah dewasa, om-om juga nggak pa-pa yang penting mau terima aku yang begini.”
“Mulut kamu,” cetus Andin lalu menghela nafas, ia pernah dengar dari dokter Aya sebelumnya. Meski seseorang menderita suatu penyakit, bukan berarti hidupnya berakhir. ia masih bisa beraktivitas normal, setidaknya jiwa orang itu tetap sehat.
“Kalau capek harus berhenti dan pola hidup kamu harus ikut apa kata dokter.”
Aya mengangguk cepat, rasanya luar biasa bagai memenangkan undian berhadiah. Baru kali ini ia bisa melakukan sesuatu sesuai keinginannya selain lepas dari cengkraman Wira Janitra.
Drt drt
Getaran ponsel mengalihkan perhatiannya. Wajah yang tadinya tersenyum perlahan memudar membaca pesan yang masuk.
...Romo...
Cahaya, cepat pulang atau kamu tidak akan Romo akui sebagai keturunan Janitra, seperti Andin.
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣