Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Margasatwa.
Selama di perjalanan Ardi memasang lagu anak-anak. Malika menyanyikan lagu dengan riang gembira. Ketika melintasi tol Cipularang, perjalanan mereka lancar. Hanya sedikit kendaraan yang melintas di jalan tol Cipularang.
Ani teringat dengan kue yang ia beli. Ada kue untuk Malika. “Malika mau kue?” tanya Ani sambil mengusap rambut Malika yang lebat. “Tante punya kue untuk Malika.”
Malika menoleh ke Ani. “Mau,” jawab Malika.
Ani menoleh ke kursi belakang. Ia mencari kantong plastik yang berisi kotak kue. Rupanya Ardi menyimpan kantong plastik di kursi belakang. “Mbak, tolong ambilkan kantong plastik itu.” Ani menunjuk ke kantong plastik yang berada di samping Tri. Tri mengambil kantong plastik lalu diberikan ke Ani.
“Nih, kue untuk Malika.” Ani menaruh kotak kue di atas pangkuan lalu membuka tutup kotak kue. Malika melihat isi kotak kue. Di dalam kotak kue ada berbagai macam jenis kue yang membuat Malika bingung mau pilih yang mana.
“Malika mau donat.” Malika menunjuk donat yang diberi taburan dengan coklat butiran. Ani mengambil donut dengan menggunakan tisu lalu ia berikan ke Malika.
Ani menoleh ke Ardi yang sedang fokus menyetir mobil. “Pak Ardi mau kue?” tanya Ani.
Ardi menoleh sebentar ke Ani. “Nggak, nanti saja di rest area,” jawab Ardi. Ia kembali fokus ke jalan. Jalan tol Cipularang ke arah Jakarta menurun dan berbelok, sehingga membuat mobil Ardi melaju dengan kecepatan tinggi. Ia harus konsentrasi ke jalan.
Setelah 45 menit lamanya melintasi tol Cipularang, akhirnya mereka memasuki tol Cikampek. Banyak truk dan mobil box yang melintas di tol Cikampek. “Kita ke rest area dulu.” Ardi menyalakan sein ke kiri, ia mengarahkan mobil ke kiri. Sampai akhirnya terlihat pintu masuk rest area. Ardi membelokan mobil ke rest area. Ia memarkirkan mobil di tempat yang teduh. “Papa mau makan kue dulu.” Ardi menarik rem tangan. “Mana kuenya?” Ia menoleh ke samping, tetapi kotak kue sudah tidak terlihat lagi. Ani sudah mengembalikan kotak kue ke belakang.
Ani menoleh ke belakang. “Mbak, tolong ambilkan kotak kue yang tadi,” ucap Ani. Tri mengambil kotak kue lalu diberikan ke Ani.
“Ini, Pak.” Ani memberikan kotak kue ke Ardi. Ardi membuka tutup kotak lalu melihat isi kotak. “Banyak sekali isinya,” ujar Ardi sambil mengambil satu kue. Ia memakan kue tersebut.
“Malika mau p****\,” kata Malika dengan tiba-tiba.
“Ayo, Tante anterin.” Ani membuka pintu mobil. Ia keluar dari mobil bersama Malika.
“Tri, temani Ibu Ani!” ujar Ardi sambil mengunyah kue.
“Iya, Pak.” Tri membuka pintu lalu keluar dari mobil. Ani menuntun Malika menuju ke toilet. Tri mengikuti mereka dari belakang.
Sepuluh menit kemudian mereka kembali ke mobil. Namun, Ardi tidak terlihat di dalam mobil. “Papanya nggak ada,” kata Malika.
“Mungkin Papa sedang ke toilet. Kita tunggu di sini.” Ani berdiri di sebelah mobil.
Lima menit kemudian, Ardi terlihat berjalan menuju ke mobil. Ia membuka kunci pintu dengan menggunakan pengendali jarak jauh. Ani membuka pintu mobil lalu Malika dan Ani masuk ke mobil. “Ayo, kita jalan lagi.” Ardi menurunkan rem tangan lalu memundurkan mobil. Setelah mobil mundur, ia pun menjalankan mobil meninggalkan rest area.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, akhirnya mereka sampai di Taman Margasatwa Ragunan. Taman Margasatwa terlihat masih sepi belum banyak pengunjung yang datang. Ardi membeli tiket masuk lalu mereka masuk ke dalam Taman Margasatwa.
Mereka berjalan mengelilingi Taman Margasatwa. Malika senang melihat hewan-hewan yang berada di Taman Margasatwa. Apalagi koleksi hewan di Taman Margasatwa lebih banyak dari kebun binatang di Bandung.
Pukul 10 lewat 30 menit Malika sudah terlihat lelah. Taman Margasatwa Ragunan sangat luas. Berjalan mengelilingi Taman Margasatwa membuat Malika kehabisan energi. Malika mengangkat kedua tangannya. “Gendong,” kata Malika dengan manja. Ardi mengangkat tubuh Malika lalu menggendongnya.
“Kita cari makan. Papa sudah lapar,” ujar Ardi sambil berjalan.
Ketika mereka hendak menuju ke pintu keluar ada delma lewat di samping mereka. “Papa, Malika mau naik itu.” Malika menunjuk ke delma. Ardi menoleh ke delman yang ditunjuk Malika. Delman itu penuh dengan penumpang.
“Itu sudah penuh. Nanti kita cari yang kosong.” Ardi lanjut berjalan. Ani dan Tri mengikuti Ardi dari belakang.
Akhirnya mereka sampai ke pangkalan delman. Kebetulan ada delman yang kosong. Mereka pun naik ke atas delman. Ardi dan Malika duduk di depan, sedangkan Ani dan Tri duduk di belakang. Setelah mereka semua naik, delman pun jalan.
Malika terlihat senang naik delman. Ia mengikuti gerakan kusir yang sedang mengendalikan kuda. Setelah delman mengelilingi Taman Margasatwa, mereka pun sampai di pangkalan delman. “Sudah sampe, kita turun.” Ardi turun dari delman lebih dulu.
“Gendong.” Malika mengangkat kedua tangannya.
“Anak Papa sudah besar tapi masih minta digendong terus,” ujar Ardi sambil menggendong Malika.
Malika tidak mengatakan apa-apa, ia hanya merebahkan kepalanya di bahu Ardi. Ia terlihat seperti sudah mengantuk. Mereka pun berjalan meninggalkan Margasatwa.