NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Panggilan yang Tidak Perlu

Lia sudah bersiap menghadapi hari yang panjang. Tiga surel dari calon pemasok alternatif menunggu dibalas, satu draf surat harus sampai ke divisi hukum sebelum siang, dan ia belum sempat sarapan. Hari yang normal, pikirnya, selama ia tidak berurusan dengan atap kaca di lantai tiga itu.

Kamis pukul 09.10, telepon di meja Lia berdering.

"Ophelia," kata suara di seberang. Ia tidak perlu bertanya siapa.

"Ya, Pak."

"Ke ruangan saya."

Lia menarik napas dalam-dalam, mengambil map, dan berjalan lima belas langkah menuju dinding kaca yang sudah ia tahu menghadap mejanya. Ia mengetuk dua kali.

"Masuk."

Navin duduk di balik meja dengan sebuah berkas terbuka. Ia tidak menatap Lia. Ia menatap berkas itu dengan intensitas orang yang sedang membaca surat wasiat.

"Lampiran denda keterlambatan itu," katanya. "Halaman berapa?"

Lia berkedip. "Lampiran ketiga, Pak. Halaman tujuh."

"Saya tahu."

"Baik, Pak."

Sunyi. Navin membalik satu halaman. "Saya hanya memastikan."

"Ada lagi, Pak?"

"Tidak. Boleh keluar."

Lia keluar. Ia berjalan kembali ke mejanya dengan alis mengerut. Halaman tujuh. Pria itu sudah membaca halaman itu berkali-kali di depan seluruh ruang rapat. Dinda menatapnya dari balik sekat dengan pertanyaan besar tertulis di wajah. Lia hanya mengangkat bahu.

Sinta menghampiri sambil membawa setumpuk surat, matanya melebar. "Kak Lia, tadi Pak Navin lewat depan mejaku dan bilang selamat pagi. Sambil tersenyum. Aku nyaris pingsan."

"Tersenyum?"

"Sedikit. Seperti orang yang belajar tersenyum dari buku panduan." Sinta menempelkan tangan ke dadanya. "Tapi itu senyum. Sungguhan."

Lia tidak menanggapi. Ia hanya kembali membuka surelnya dan menyimpan informasi itu di tempat yang tidak ingin ia lihat.

Pukul 10.45, telepon berdering lagi.

"Ke ruangan saya."

Lia meletakkan penanya. Kali ini ia membawa map dan catatan tambahan, siapa tahu ada pertanyaan sungguhan. Ia masuk, dan Navin berdiri di depan jendela dengan tangan di saku, membelakanginya.

"Kamu punya stabilo?"

Lia terdiam. "Stabilo, Pak?"

"Penanda teks. Warna kuning."

"Punya, Pak."

"Saya butuh."

Lia menoleh ke meja Navin. Di sana, di dalam wadah pena hitam, berdiri tiga stabilo kuning yang masih terbungkus plastik. Ia menoleh kembali pada pria itu. Navin tidak berbalik. Lia mencoba membaca ekspresinya dari pantulan di kaca jendela, tapi yang terlihat hanya bayangan samar. Bahu pria itu tegang, seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu antara tawa dan malu. Tapi itu mustahil, pikirnya. Navin Sundara tidak punya dua hal itu.

"Ada tiga stabilo di meja Bapak," ujarnya datar.

"Tidak cocok."

"Tidak cocok?"

"Warnanya kurang kuning."

Lia berdiri di sana tiga detik, lalu berjalan ke mejanya, mengambil stabilo kuningnya sendiri yang sudah setengah kering, dan kembali. Ia meletakkannya di meja Navin dengan bunyi kecil. Ia sempat menatap laci mejanya sendiri yang berisi dua stabilo baru, dan bertanya-tanya kenapa tadi ia memilih yang setengah kering. Mungkin karena ia tidak ingin pria itu menerima yang terbaik darinya. Alasan itu terdengar kekanak-kanakan bahkan di kepalanya sendiri.

"Silakan, Pak."

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Ia keluar. Di belakangnya, ia tidak melihat pria itu memegang stabilo tuanya dengan kedua tangan seperti benda pusaka.

Pukul 11.40, telepon ketiga berdering.

"Ukuran huruf di kontrak itu berapa? Sebelas atau dua belas?"

"Sebelas, Pak."

"Terlalu kecil."

"Itu ukuran standar, Pak."

"Saya tidak suka."

"Kontraknya sudah ditandatangani tahun lalu, Pak."

"Saya hanya memastikan."

Lia menutup telepon tanpa menjawab lagi, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia menggigit bibir agar tidak tertawa. Tidak lucu, ia mengingatkan diri. Ini sama sekali tidak lucu.

Pukul 13.20, telepon keempat berdering.

Lia sedang menyuap nasi kotak. Ia menghela napas sepanjang yang ia bisa, meletakkan sendoknya, dan mengangkat telepon.

"Ophelia."

"Ya, Pak."

"Apakah kontrak ini menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris?"

Lia menatap gagang telepon seperti menatap makhluk luar angkasa. "Bahasa Indonesia, Pak. Sama seperti ketika Bapak membacanya kemarin."

"Saya hanya memastikan."

"Ada yang lain, Pak?"

"Tidak."

Telepon terputus.

Lia menurunkan gagang dengan sangat pelan dan menatap nasi kotaknya yang mulai dingin. Dinda menyodorkan kepala dari balik sekat.

"Lagi?"

"Lagi."

"Dia minta apa?"

"Dia bertanya bahasa kontrak."

Dinda mengedipkan mata. "Lia, aku bukan detektif. Tapi aku membuat daftar: satu, halaman tujuh. Dua, stabilo. Tiga, bahasa kontrak. Menurutku ini bukan pekerjaan. Ini alasan."

"Alasan untuk apa?"

"Untuk memanggil kamu."

"Dinda." Lia menjejalkan sesendok nasi ke mulutnya. "Dia sedang menghukumku."

"Menghukum pakai stabilo?"

"Dia menguji seberapa lama aku tahan. Sejak kejadian Kamis lalu, aku tidak membalasnya. Aku bahkan tidak menangis di depannya. Mungkin itu membuatnya penasaran. Orang seperti dia tidak suka kalah." Lia mengangguk yakin pada teorinya sendiri. "Ini permainan kekuasaan."

Dinda memandangnya dengan simpati yang hampir menyedihkan. "Lia, orang yang ingin menghukum tidak memasang mesin kopi baru untuk seluruh pantry."

"Apa?"

"Kamu belum lihat? Mesin kopi otomatis, dipasang tadi pagi. Ada pilihan kopi hitam murni."

Lia terdiam. Sendoknya berhenti di udara.

"Itu kebetulan."

"Kebetulan yang sangat spesifik."

"Kantor ini memang butuh mesin kopi."

"Lima tahun aku bekerja di sini, tidak pernah ada yang peduli soal mesin kopi, sampai sehari setelah dia pindah ke lantai ini." Dinda mengangkat alis tinggi-tinggi. "Dan tadi pagi Dimas bertanya padaku, staf kontrak lebih suka teh atau kopi. Kamu yakin itu kebetulan?"

Lia meletakkan sendoknya. Di balik dinding kaca, ia melihat siluet pria itu duduk di mejanya, menunduk membaca sesuatu. Tidak menoleh. Tidak sedikit pun.

"Aku tidak mau memikirkannya," katanya akhirnya, tegas. "Aku punya aturan."

"Aturan?"

"Tidak mendengarkan apa pun yang bukan tentang kontrak."

"Aturan yang aneh."

"Aturan yang perlu."

Ia mengambil sendok lagi, tapi nasinya tidak lagi terasa enak. Di kepalanya, sesuatu berdengung pelan seperti lebah kecil yang menolak diusir: tiga stabilo di meja. Warnanya kurang kuning.

Tidak masuk akal. Sama sekali tidak masuk akal.

Sore itu, Lia berdiri di depan mesin kopi baru yang berkilat dan memilih tombol kopi hitam. Cairannya keluar pekat, harum, dan jauh lebih enak daripada instan yang biasa ia seduh. Ia menggenggam cangkir itu lebih lama dari yang perlu, menikmati kehangatan yang merambat ke telapak tangannya. Di sudut pikirannya, ia tahu ia sedang menikmati sesuatu yang dibelikan oleh orang yang seharusnya ia benci. Ia meneguk lagi, lebih cepat, seolah mencoba menelan kesadaran itu bersama kopinya. Lalu, tanpa bisa dicegah, matanya melirik ke dinding kaca di seberang.

Pria itu sedang menatapnya.

Sedetik. Hanya sedetik. Lalu pandangannya turun ke berkas seolah tak terjadi apa-apa.

Lia menurunkan cangkir pelan-pelan. Untuk pertama kalinya, bukan kebencian yang menyelinap di dadanya. Sesuatu yang lebih membingungkan.

Dan itu, ia sadar, jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!