NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lembaran Baru di Ruang Hati yang Tenang

Pancaran sinar matahari pagi menembus tirai jendela kamar utama istana, menyapukan hangatnya cahaya keemasan di atas lantai marmer putih. Suasana pagi itu terasa begitu syahdu, jauh dari ingar-bingar dunia luar maupun sisa ketegangan yang sempat melanda beberapa waktu lalu.

Di atas ranjang king-size, Kenzie Al-Ghazali membuka matanya perlahan. Napasnya teratur, tanpa ada beban atau rasa waswas yang biasa menghantui hari-harinya di masa lalu. Pandangannya langsung tertuju pada sosok Aisyah Humaira yang masih terlelap tenang di sisi dadanya.

Wajah damai sang istri tampak begitu polos dan meneduhkan. Helai rambut hitam legam yang menjadi rahasia indahnya kini tergerai bebas di atas bantal putih. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Kenzie menyapukan punggung jarinya di pipi mulus Aisyah, lalu mendaratkan kecupan penuh rasa syukur di kening istrinya.

Merasa terusik oleh sentuhan itu, bulu mata lentik Aisyah bergetar perlahan. Ia mengerjap, menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya pagi, hingga manik mata biru jernihnya menangkap senyuman tulus dari sang suami. Pipi Aisyah seketika merona merah jambu.

"Pagi, Humairah..." bisik Kenzie lembut, suaranya bariton namun penuh kehangatan.

"Pagi jugaa, Mas..." balas Aisyah malu-malu, menarik selimutnya sedikit lebih tinggi untuk menyembunyikan senyumannya.

Kenzie terkekeh rendah. Pria yang dulunya dikenal dingin dan tak tersentuh itu kini menemukan kebahagiaan paling sederhana di dunia: melihat senyum malu-malu istrinya di setiap bangun pagi.

Beberapa jam berlalu, suasana istana mulai diisi oleh kesibukan positif. Di ruang kerja pribadinya di lantai dasar, Kenzie memusatkan perhatian pada layar laptop dan berkas-berkas legal. Didampingi oleh Vito yang berdiri tegap di hadapan meja kerjanya, mereka sedang membahas laporan perkembangan operasional yayasan amal sosial yang baru saja diresmikan.

"Semua laporan keuangan dari tiga cabang panti asuhan dan klinik gratis di wilayah perbatasan sudah masuk, Boss," lapor Vito dengan nada profesional. "Dana dari pengalihan aset komersial lama telah tersalurkan secara transparan sesuai target."

Kenzie mengangguk puas, menutup map dokumen di hadapannya. "Bagus, Vito. Pastikan tidak ada birokrasi yang dipersulit. Tujuan kita mendirikan yayasan ini adalah agar manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan secepat mungkin."

"Siap, Boss. Saya akan awasi langsung kelapangan," jawab Vito, lalu membungkuk hormat dan pamit meninggalkan ruangan.

Kenzie mengembuskan napas lega. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja kulit hitamnya. Langkah demi langkah, transformasi hidupnya kini telah sempurna. Ia tidak lagi membawa beban masa lalu, melainkan tanggung jawab moral untuk menebar kebaikan seluas-luasnya.

Menjelang sore hari, cuaca di luar istana mendadak berubah. Awan mendung berarak pelan, membawa aroma petrikor khas tanah basah yang menyusup masuk melalui celah jendela ruang tengah.

Aisyah yang sedang merapikan beberapa kitab di rak buku terhenti ketika ia mendengar suara rintik hujan mulai turun membasahi halaman luar istana. Mengenakan abaya gamis berwarna emerald green dengan khimar panjang yang anggun, ia melangkah menuju jendela kaca besar.

Tak lama kemudian, sebuah rangkulan hangat melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Aroma parfum maskulin yang khas langsung menyapa indra penciumannya.

"Melamunkan apa, hm?" bisik Kenzie tepat di dekat telinga istrinya.

Aisyah menyandarkan kepalanya sejenak di lengan bidang sang suami. "Tidak melamun, Mas. Hanya menikmati suara hujan. Rasanya damai sekali... jauh berbeda dari suasana kota atau masa-masa menegangkan dulu."

Kenzie memutar tubuh Aisyah pelan agar menghadap langsung ke arahnya. Ia menatap lekat-lekat manik mata biru jernih istrinya, lalu menggenggam kedua tangan Aisyah di dalam genggamannya yang hangat.

"Kamu tahu, Aisyah?" ucap Kenzie serius namun penuh kelembutan. "Hujan di luar sana mungkin membasahi bumi, tapi kehadiranmu lah yang berhasil membasahi dan menyuburkan kembali hatiku yang dulunya kering oleh amarah."

Aisyah tersenyum manis di balik khimarnya. Ia mengangkat tangannya, merapikan kerah kemeja suaminya. "Kita sama-sama belajar, Mas. Allah mempertemukan kita bukan karena kita sempurna, but untuk saling menyempurnakan dalam ketaatan."

Kenzie menarik istrinya ke dalam dekapannya, mendekap erat tubuh rapuh itu ke dadanya sambil mendengarkan alunan rintik hujan yang semakin deras di luar sana. Di bawah naungan rumah tangga yang dibangun di atas fondasi iman, lembaran demi lembaran hari esok siap mereka songsong dengan senyuman dan kedamaian yang abadi.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!