NovelToon NovelToon
MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

MENIKAHI PRIA ASING BERKURSI RODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Komedi
Popularitas:75.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Di usianya yang baru 25 tahun, Inayah Putri adalah gabungan sempurna antara kecerobohan, ketomboyan, dan kejeniusan. Ide-ide cemerlangnya sukses mengguncang perusahaan papan atas, melejitkan karier dan gajinya secara instan.

Sayang, sukses di dunia kerja tak sebanding dengan percintaannya. Bertahun-tahun berkorban demi Pasya, Inayah justru menerima kenyataan pahit saat tak sengaja mendengar percakapan Pasya dan ibunya, yang menganggapnya "ATM berjalan". Janji pertunangan dan pernikahan yang diimpikan hanyalah kebohongan belaka.

Dalam keputusasaan di tepi pantai, matanya tertuju pada Abiyan Zimraan, pria misterius berkursi roda yang dikiranya hendak bunuh diri. Tepat ketika ibunya mendesak untuk segera menikah dan Inayah menolak untuk kembali pada Pasya, ia membuat keputusan ternekat dalam hidupnya.

Menatap Abiyan, meski lumpuh tapi memiliki ketampanan memikat, Inayah berpikir: "pria ini seribu kali lebih berharga dibanding pengkhianat seperti Pasya." Tanpa ragu, Inayah melamarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AYAH TELAH KEMBALI

Malam makin larut, tetapi suasana di dalam rumah kayu sederhana itu justru makin hangat. Bau harum hidangan makan malam buatan Ibu Royani menyeruak di udara. Setelah menyantap sajian rumahan dengan penuh nikmat, mereka semua kini duduk melingkar di ruang tengah, memulai pembahasan serius mengenai rancangan acara besok.

Pirman meminum kopinya perlahan, lalu menatap Abraham dengan raut tegas namun tenang.

"Bram, gua mau bicara jujur," buka Pirman. "Memang anak-anak kita ini sudah menikah sah, baik secara agama maupun negara. Tapi jujur, hati gua sebagai ayah kandung belum tenang, Bram. Waktu itu mereka menikah pakai wali hakim. Selagi gua masih hidup dan sehat begini, gua kagak terima kalau peran gua digantikan begitu saja."

Pirman mengusap dadanya pelan. "Jadi besok pagi, sebelum resepsi, gua minta ada penyerahan akad ulang. Walaupun ini sifatnya cuma formalitas dan penegasan secara agama, yang penting buat gua, anak gadis gua sah dilepas langsung dari tangan gua sendiri. Lewat ijab kabul dari mulut gua."

Abraham mendengarkan dengan saksama, lalu mengangguk setuju. "Soal itu gua setuju banget, Man. Gua paham perasaan lu sebagai ayah."

"Nah, satu lagi," lanjut Pirman penuh semangat. "Buat urusan resepsinya, gua mau pakai adat Betawi dulu di sesi pertama! Baru nanti di sesi kedua pakai adat lu. Seingat gua, keluarga lu ada keturunan Sunda, kan? Gua udah wanti-wanti sama MUA-nya buat siapin dua set pakaian adat itu."

Abraham seketika menaikkan alisnya, tak mau kalah begitu saja. "Lah, enggak bisa gitu dong, Man! Di mana-mana pihak laki-laki yang harus didulukan! Seharusnya adat Sunda dulu yang tampil di akad dan awal resepsi, baru nanti sorenya ganti ke adat Betawi!"

"Bocah ngapa ya!" cerocos Pak Pirman dengan gaya Betawinya yang kental. "Ini kan di wilayah gua, di kampung gua, Bram! Rumah gua yang punya hajat duluan, ya jelas adat Betawi yang nyambut tamu dari pagi!"

"Ya tapi kan Abiyan pengantin prianya, Pirman! Mana ada tuan rumah memaksakan adat duluan kalau pengantin prianya bawa adat sendiri!" balas Abraham sambil menunjuk meja, matanya melotot seraya mempertahankan argumennya.

Kakek Sudirja, sang Nenek, Ibu Royani, Abiyan, hingga Inayah hanya bisa melongo menyaksikan perdebatan sengit itu. Dua pria paruh baya bersetelan rapi itu berargumen dengan sangat sengit hanya untuk masalah urutan busana adat dan tata cara resepsi, seolah-olah dunia ini cuma milik mereka berdua.

Inayah menutupi mulutnya, menahan tawa melihat tingkah dua bapak-bapak yang kelakuannya mendadak kembali seperti anak remaja. "Mas, ayah kamu sama ayah aku kok malah jadi kayak Tom and Jerry begini sih?" bisiknya pelan pada Abiyan.

Abiyan hanya tersenyum tipis, matanya terus terkunci menatap sosok Abraham.

Namun, di sudut ruangan, Kakek Sudirja justru menatap perdebatan itu dengan mata yang perlahan berkaca-kaca. Sebulir air mata menetes hangat melewati pipinya yang keriput.

Melihat hal itu, Inayah yang duduk tak jauh dari Kakek Sudirja langsung mendekat dengan raut khawatir. "Loh, Ada apa, Kek? Kok Kakek malah menangis?"

Kakek Sudirja bergegas mengusap air matanya menggunakan sapu tangan, mencoba menetralkan napasnya yang agak bergetar. Ia menoleh menatap Inayah, lalu beralih menatap Abiyan yang juga sedang memperhatikan dirinya.

"Kakek... Kakek cuma sangat bersyukur, Nak," bisik Kakek Sudirja dengan suara bergetar haru. "Malam ini, Kakek akhirnya bisa melihat Bram yang dulu lagi. Bram yang sudah sangat lama hilang... akhirnya hidup kembali."

Kakek Sudirja menghela napas panjang, mengenang masa-masa kelam yang menghantui keluarganya. "Semenjak ibu Abiyan meninggal dunia beberapa tahun lalu, ditambah Bram terjebak dan dimanipulasi oleh ibu tiri Abiyan... Bram seperti kehilangan nyawanya. Dia hidup seperti kerbau yang dicocok hidungnya, hanya menurut tanpa jiwa, kehilangan ketegasan dan keceriaannya. Sejak saat itu pula, hubungannya dengan Kakek dan Abiyan jadi sangat renggang dan dingin."

Kakek Sudirja tersenyum haru seraya memegang tangan Inayah. "Makanya waktu menelpon tadi, Kakek sengaja melarangnya membawa istrinya. Karena Kakek tahu, kalau perempuan itu ada di sisinya, aura Bram tidak akan pernah secerah dan sebebas malam ini."

Mendengar penuturan sang Kakek, Abiyan terpaku dalam diam. Tatapan matanya yang biasa dingin kini memancarkan keharuan yang luar biasa. Ia menatap lekat wajah ayahnya yang sedang tertawa lepas sambil memukul bahu Pak Pirman karena kalah berdebat.

Perasaan rindu yang selama ini terendam rapat di dasar lubuk hatinya mendadak mendobrak keluar. Ya, inilah sosok Ayah yang sangat dirindukan Abiyan, sosok pria tegas, hangat, dan mau berdebat secara emosional demi membela kepentingan dirinya.

"Sudah! Gini aja!" seru Ibu Royani menengahi perdebatan yang makin absurd itu. "Biar adil dan kagak ada yang iri, pas ijab kabul pagi pakai baju koko dan kebaya putih formal biasa! Nanti pas kirab pengantin pertama, pakai adat Betawi lengkap sama Palang Pintu! Nah, pas resepsi siang sampai sore, baru ganti pakai baju pengantin adat Sunda yang anggun! Gimana? Adil kagak?!"

Pak Pirman dan Abraham mendadak terdiam, saling pandang seraya mencerna ide tersebut.

"Nah... kalau begitu oke juga," sahut Pak Pirman manggut-manggut.

"Setuju! Ide Ibu Royani sangat masuk akal," timpal Abraham seraya merapikan kerah bajunya, berpura-pura tetap menjaga wibawa.

Kakek Sudirja dan sang Nenek tertawa terkekeh melihat kedua sahabat itu akhirnya luluh oleh ketegasan Ibu Royani. Suasana di ruang tengah itu kembali dipenuhi oleh tawa riang dan canda tawa yang hangat.

Di tengah riuhnya pembicaraan mengenai persiapan besok, Abiyan perlahan memiringkan tubuhnya ke arah Inayah. Ia meraih tangan halus istrinya di bawah meja, menggenggamnya dengan jemari yang erat dan hangat.

Inayah menoleh kaget, menatap mata Abiyan yang malam itu tampak begitu bersinar lembut, berbeda dari biasanya.

"Terima kasih, Nayah," bisik Abiyan amat pelan di dekat telinga istrinya.

Inayah mengerutkan keningnya, tersenyum manis. "Terima kasih untuk apa, Mas?"

"Terima kasih karena sudah membawaku kembali ke dalam sebuah keluarga... dan sudah mengembalikan Ayahku," ucap Abiyan tulus dari relung hatinya yang paling dalam.

Inayah membalas genggaman tangan Abiyan dengan remasan lembut, matanya berbinar penuh kasih. "Sama-sama, Mas. Besok adalah hari bahagia kita, jadi enggak boleh ada yang memasang wajah dingin seperti kulkas dua pintu lagi, ya?"

Malam itu ditutup dengan kehangatan tak ternilai. Di bawah atap rumah kayu yang sederhana, takdir tidak hanya mempertemukan dua insan dalam ikatan pernikahan, tetapi juga memulihkan luka lama dan merajut kembali tali kasih sebuah keluarga yang sempat terputus.

1
Pujiastuti
akhirnya selwsai sudah drama sang paman yang bermuka baik tapi berhati jahat, selamat menikmati tempat tinggal yang baru Yohanes
Kaylaa
besok pagi ya.....nunggu drakor Inayah 😄
Teh Fufah
besok pagi yaaaa duhhh gk sabar
Oma Gavin
ngga sabar nunggu besok yohanes dikuliti abyan 🤣
Juriah Juriah
sebenarnya panggilan Inayah ke Abyan Abang atau mas kak? yg jelas dong🙏.. semangat ya kak💪
Naftali Hanania
jagoan condet tenanan...🤭
Pujiastuti
ngak sabar rasanya liat terbongkarnya kejahatan Yohanes
lanjut kak semangat 💪
Tiyas Dimas
seru kak,,,ditunggu up nya lagi💪💪💪
Sastri Dalila
lnjt👍
Sastri Dalila
👍🤣😅🙄
Sastri Dalila
🤣🤣👍
Sastri Dalila
👍👍👍
Sastri Dalila
👍👍
Sastri Dalila
🤣👍
Sastri Dalila
🤣
Kaylaa
😄😄😄
Pujiastuti
makin seru aja ni drama si jagoan condet
lanjut kak 💪💪
Sastri Dalila
👍👍🤭
Sastri Dalila
👍👍
Sastri Dalila
😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!