Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Derap langkah kaki terburu-buru menghantam genangan air di balik punggung Sora. Dua pasang sepatu bot karet murahan memercikkan lumpur ke dinding gang sempit yang diapit ruko-ruko tua berlantai tiga.
Sora tidak berlari membabi buta. Napasnya diatur pendek-pendek, menghemat oksigen untuk otot kakinya yang masih lemah akibat demam subuh tadi. Tangan kanannya mencengkeram erat gulungan uang satu setengah juta rupiah di dalam saku jaket parka, sementara tangan kirinya yang buntung ia tekuk merapat ke perut untuk meredam guncangan pada jahitan Dok Han.
Gang di belakang pasar loak Zona Tengah itu menyerupai labirin celah tikus. Paving bloknya pecah-pecah dimakan akar pohon beringin tua, dan kabel-kabel listrik liar menggantung rendah seperti jaring laba-laba raksasa. Gerimis tipis yang turun sejak siang tadi telah mengubah jelaga jalanan menjadi lendir licin yang berbahaya bagi siapa pun yang melangkah ceroboh.
“Berhenti lu, maling!” teriak salah satu preman di belakangnya, suaranya serak tertahan deru knalpot jalan raya yang kian menjauh. “Balikin duit meja atau gua bolongin perut lu!”
Sora melirik ke sudut gang di depannya. Sebuah tikungan sembilan puluh derajat mengarah ke lorong buntu tempat para pedagang loak menumpuk peti-peti kayu bekas buah dan krat botol kecap kosong. Tinggi tumpukan itu mencapai dua meter lebih, ditopang oleh sebatang pasak kayu reng kaso berkarat yang sudah melengkung rapuh di bagian bawahnya.
Sora berbelok tajam di tikungan itu, lalu segera memutar tumitnya. Punggungnya menempel rapat pada dinding semen berlumut di balik bayangan tumpukan peti.
Ia tidak mencabut pisau atau menyiapkan bogem mentah. Dalam pertarungan jalanan, orang yang mengandalkan otot melawan dua pria bertubuh lebih besar dengan tangan buntung adalah orang yang sedang memesan liang kubur sendiri. Yang dibutuhkan seorang bandar hanyalah memahami titik tumpu dan momen pelepasan beban.
Preman pertama melompat melewati tikungan dengan pisau lipat terhunus di tangan kanan. Matanya menyapu lorong buntu yang gelap, mencari siluet mangsanya yang ia kira terjebak.
“Di mana bocah…”
Ujung sol sepatu bot Sora menghantam pasak kayu kaso di dasar tumpukan peti sebelum preman itu menuntaskan ancamannya.
KRAK.
Kayu kaso yang lapuk patah dua seketika. Gravitasi dan bobot ratusan kilogram kayu mengambil alih. Tumpukan peti kayu setinggi dua meter meluncur runtuh, menimpa dada dan bahu preman pertama hingga ia terhempas ke lantai paving berlumut. Pisau di tangannya terlepas berdentang.
Preman kedua di belakangnya tersandung kayu yang menggelinding, lalu terbanting keras dengan kening membentur dinding bata hingga ambruk tak berkutik.
Hening kembali merayap di lorong buntu, diselingi erangan parau dari bawah timbunan kayu.
Sora melangkah mendekat. Sepatunya menyepak bilah pisau lipat ke dalam parit gelap, lalu tumit kanannya menginjak tulang selangka preman bertato kalajengking itu. Bobot tubuh Sora menekan telak, memutus pasokan udara di dada pria itu.
“Ampun, Bang…” keluh preman itu serak, darah kental merembes dari sela giginya. “Ambil duitnya… jangan patahin tulang gua…”
“Siapa yang pasang lempengan magnet di meja dadu tadi?” tanya Sora datar. Suaranya dingin tanpa emosi, seperti seorang pengawas yang mendata kecurangan di buku harian meja.
“Gua cuma disuruh jaga lapak, Bang! Sumpah!”
“Jerry?”
Mata preman itu membelalak liar. Jakunnya naik-turun menelan ludah bercampur darah asin.
“Koko Jerry gak pernah turun ke lapak becek kayak gini, Bang…” suara preman itu bergetar menahan sakit. “Tapi anak buah Rusli… tiap jam sebelas malam anak buah Rusli datang nagih jatah perlindungan. Delapan puluh persen hasil lapak disetor ke ruko Tiga Naga.”
Sora menatap genangan air di samping kepala preman itu. Pantulan lampu merkuri yang berkedip di kejauhan memperlihatkan riak air yang tenang.
“Berapa setoran harian mereka dari pasar loak ini?”
“Tiga sampai lima juta per malam, Bang,” sahut preman itu cepat, tidak berani menyembunyikan informasi sedikit pun. “Jerry lagi butuh banyak uang tunai. Katanya orang-orang dari konsorsium utara minta kenaikan setoran izin ruko dua kali lipat bulan ini. Kalau ruko Tiga Naga gak bisa bayar sebelum audit tahunan minggu depan, izin operasinya bakal dikasih ke Bos Tarigan.”