NovelToon NovelToon
Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Beri Aku Waktu Untuk Pulih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Rosemeera_

​Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.

​Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.

​"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."

​Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?

​Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Persimpangan di Ujung Malam

Kipas angin gantung di ruang kerja Pak Bambang berputar dengan suara dengung halus. Di atas meja jati berlapis kaca, selembar dokumen tebal bertuliskan Proposal Pengembangan Lini Produksi Otomatisasi Surabaya tergeletak terbuka.

"Pihak direksi pusat mengalokasikan waktu dua minggu untuk persiapan tim inti, Reno," kata Pak Bambang sambil memperbaiki letak kacamata minusnya. "Surabaya adalah proyek percontohan terbesar perusahaan kita tahun ini. Kalau kamu bersedia memimpin divisi produksi di sana, ini akan jadi loncatan karir yang sangat signifikan buat kamu."

Aku memandangi baris-baris kalimat dalam proposal tersebut. Di atas kertas, tawaran itu tampak seperti impian setiap pekerja pabrik: kenaikan jabatan, tunjangan fasilitas tempat tinggal, dan kenaikan penghasilan yang lebih dari cukup.

"Pak Bambang," suaraku terdengar sedikit ragu. "Terima kasih banyak atas kepercayaan besar ini. Tapi ... boleh saya minta waktu dua atau tiga hari untuk mempertimbangkannya?"

Pak Bambang tersenyum maklum, menganggukkan kepala hangat. "Tentu, Reno. Saya paham. Pindah kota bukan keputusan kecil, apalagi kamu punya Rayan yang baru saja masuk SMA. Pikirkan matang-matang. Diskusi dengan keluargamu."

Keluar dari ruangan Pak Bambang, pikiranku terasa sarat oleh beban baru. Saat berjalan menyusuri lorong antar-divisi, Dion menepuk bahuku dari belakang.

"Reno! Tadi saya dengar rumor dari bagian HRD," panggil Dion dengan mata berbinar. "Kamu dapat penawaran buat proyek Surabaya, ya? Wah, selamat, Man!"

Aku tersenyum tipis, menatap Dion yang kini tampak begitu suportif. "Terima kasih, Dion. Tapi aku belum mengambil keputusan. Masih bingung."

Dion mengerutkan dahi, tampak heran. "Bingung kenapa? Itu kan kesempatan emas. Kalau saya di posisimu, saya pasti langsung ambil tanpa pikir panjang."

"Tiap orang punya pertimbangan yang berbeda, Dion," sahutku pelan. "Ada Rayan yang baru saja mulai nyaman di sekolah barunya. Aku tidak bisa cuma memikirkan ambisi pribadiku sendiri."

Dion diam sejenak, lalu mengangguk paham. "Iya juga, sih. Tapi apa pun pilihanmu nanti, kamu sudah membuktikan kalau kamu layak berada di posisi itu, Reno."

Sore harinya, perjalanan pulang menuju kontrakan terasa lebih panjang dari biasanya. Pikiran-pikiran yang berseliweran di kepalaku saling berbenturan, menciptakan gemuruh yang sulit ditenangkan.

Setibanya di rumah, suara renyah Rayan menyambutku dari arah meja belajar. Adikku sedang tekun mencatat pelajaran Fisika, mengenakan seragam putih-abu-abu yang masih kaku. Buku-buku barunya tertata rapi di sudut meja.

"Mas Reno sudah pulang?" sapa Rayan sumringah sambil berdiri membawakanku segelas air putih hangat. "Gimana kerjaan hari ini, Mas?"

"Lancar, Dek," jawabku sambil menerima gelas dari tangannya dan mengusap bahunya pelan. Aku memandangi wajah polos Rayan yang kini memancarkan ketenangan.

Beberapa bulan lalu, Rayan harus beradaptasi dengan sifat dinginku dan krisis finansial yang mencekik. Kini, saat hidupnya baru saja tertata rapi, saat ia baru mulai menemukan teman-teman baru di SMA Jakarta, apakah aku tega mengacaukan ritme hidupnya lagi?

Jika aku memboyongnya ke Surabaya, ia harus mengurus kepindahan sekolah yang rumit dan beradaptasi dari nol lagi. Namun, jika aku meninggalkannya di Jakarta sendirian, rasa cemas sebagai seorang kakak tentu tidak akan pernah membiarkanku tidur tenang di kota orang.

Rayan yang menyadari tatapan lamunku menaikkan sebelah alisnya. "Mas Reno kenapa? Kok ngelihatin Rayan begitu amat? Ada yang salah ya?"

Aku dengan cepat menggelengkan kepala, melempar senyum menenangkan. "Gak ada apa-apa, Dek. Cuma agak capek saja. Kamu lanjut belajar ya."

Malam harinya, setelah Rayan pamit masuk ke kamar untuk tidur, aku melangkah keluar menuju teras kecil kontrakan. Angin malam Jakarta bertiup cukup kencang, membelai wajahku yang dihinggapi kebingungan.

Aku mengambil ponsel dari saku celana, lalu menekan tombol panggilan ke nomor Kareen. Dalam situasi penuh keraguan seperti ini, suara Kareen adalah hal pertama yang ingin kudengar untuk menjernihkan pikiran.

Panggilan tersambung pada nada dering ketiga.

"Halo, Reno? Selamat malam," panggil Kareen di ujung telepon. Suaranya terdengar lembut di tengah latar belakang musik instrumental pelan dari kediamannya di Bandung.

"Selamat malam, Kareen. Maaf menelepon malam-malam begini. Kamu sedang sibuk?" tanyaku.

"Sama sekali tidak. Aku baru saja selesai membaca dokumen kantor. Ada apa, Reno? Suaramu terdengar agak berat malam ini."

Aku menarik napas panjang, mencoba menyusun kata-kata yang bergulat di dadaku. "Tadi sore Pak Bambang memanggilku. Manajemen menawarkan posisi kepemimpinan produksi untuk cabang baru di Surabaya."

Hening sejenak di ujung telepon. Aku bisa mendengar helaan napas halus dari Kareen sebelum ia merespons.

"Surabaya? Itu ... pencapaian yang sangat besar, Reno. Selamat!" kata Kareen, meski aku bisa menangkap nada keterkejutan yang tersembunyi di balik suaranya.

"Terima kasih, Kareen. Tapi jujur, aku malah merasa sangat bingung," akuku terus terang. "Di satu sisi, ini peluang bagus untuk karir dan finansial. Tapi di sisi lain, Rayan baru saja masuk SMA di Jakarta. Dia baru mulai merasa stabil dan gembira. Aku tidak tega kalau harus memindahkannya lagi atau meninggalkannya sendirian."

Aku jeda sejenak, memandangi langit malam yang pekat tanpa bintang. Ada satu hal lagi yang mengganjal di dalam dadaku, sebuah pikiran yang diam-diam paling menakutkan bagiku.

"Dan selain soal Rayan ... ada hal lain yang bikin aku ragu, Kareen," lanjutku dengan nada suara yang lebih pelan.

"Apa itu, Reno?"

"Selama ini, Jakarta dan Bandung rasanya tidak begitu jauh. Kalau ada apa-apa, aku tahu kamu cuma berjarak beberapa jam perjalanan kereta dari tempatku. Tapi kalau aku pindah ke Surabaya ... jarak kita akan jadi makin jauh. Aku takut ... kehilangan tempat bersandarku yang paling berarti."

Keheningan melingkupi panggilan kami selama beberapa detik. Kata-kata jujur yang baru saja terucap dari mulutku menggantung di udara malam, membawa riak emosi yang begitu dalam di antara kami berdua.

"Reno ..." panggil Kareen pelan, suaranya terdengar begitu hangat dan bergetar lembut. "Jarak geografis memang bisa bertambah, tapi kamu harus ingat seberapa jauh kamu sudah melangkah sampai hari ini. Jangan membuat keputusan berdasarkan rasa takut, Reno."

"Aku cuma butuh waktu untuk berpikir, Kareen. Pikirkanku benar-benar buntu malam ini."

"Ambil waktumu, Reno. Tanyakan pada hatimu, bukan cuma pada ketakutanmu. Aku akan selalu ada untuk mendengarkan, di mana pun kamu berada."

Setelah percakapan telepon itu berakhir, aku tetap berdiri di teras kontrakan. Kota Jakarta di sekelilingku terus berdenyut dengan lampu-lampunya yang tak pernah padam, sementara aku berdiri di persimpangan jalan paling krusial dalam hidupku. Karir di Surabaya, kedamaian Rayan di Jakarta, dan ikatan emosional dengan Kareen di Bandung—semuanya menuntut sebuah jawaban yang belum mampu kuberi malam ini.

1
Laksmi Harsa
nunngguin bab selanjutnya nih kak... 💪
Rosemeera_: Wah, makasih banyak dukungannya! Makin semangat nulisnya nih. Jangan lupa simpan/favoritkan cerita ini ya Kak biar langsung dapet notif pas bab baru rilis!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!