Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Pagi hari yang cerah, hawa segar menyelimuti seluruh negeri, mentari terasa sangat hangat menyinari dengan sepoy angin yang mengiringi.
Di ramalan oleh BMKG, cuaca hari ini sangatlah bagus. Hari yang sangat cocok untuk melakukan aktivitas pagi.
Bianca benar-benar menikmati masa menganggurnya. Ia berjalan ke pintu depan rumah, menggunakan pakaian sport, dengan celana di atas dengkul dan jangan lupa sepatu kets.
Bianca memulai pemanasan, memulai peregangan pada otot-ototnya agar tidak terasa kaku. Setelah di rasa sudah cukup, ia pun mulai berjoging. “Ayo Bianca, nikmatilah moment ini sebelum pada akhirnya kamu akan kerja lembur, bagai kuda lagi." ucapnya dengan perasaan riang dan senyuman yang lebar. Gadis itu berjalan menyusuri kampung dan pergi ke taman kota untuk berjoging.
"Indahnya hari ini, dan aku asik menganggur, yuhuuuuu"
“Kenapa aku baru sadar sekarang jika berjoging semenyenangkan ini, jika di ingat-ingat lagi, aku bahkan hampir tidak pernah cuti sama sekali dalam 3 bulan terakhir,” ucap Bianca kepada dirinya sendiri.
Ia kini sudah sampai di taman kota, banyak orang berlalu lalang, yang tengah berjoging di sana, Bianca kemudian melewati sebuah tempat di mana tempat itu adalah tempat terakhir ia dan Arsen menyandang status pacar.
“Tampat ini, sepertinya benar-benar akan menjadi keramat untuk ku mulai sekarang,” ketus Bianca yang setelahnya kembali berlari.
Ia benar-benar menikmati moment ini, menikmati hawa pagi yang belum terlalu panas, kicauan burung serta indahnya danau di tengah-tengah taman.
Namun siapa sangka, moment menyenangkan itu hanya sebentar untuknya.
Tak ada angin, tak ada hujan, bukan lah sulap atau pun sihir karena tiba-tiba saja sang mantan pacar keramatnya, telah datang entah dari mana dan berjoging di belakang Bianca.
Arsen dengan cepat langsung menyelaraskan posisinya dengan Bianca. “Kasian banget mba, joggingnya sendirian," Ledek Arsen.
"Pasti jomblo ya?" Ucapan itu terdengar familiar.
Mendengar suara yang itu, membuat Bianca dengan spontan langsung menoleh, dan benar saja, tebakannya sangat-sangat tepat. Ia mendapati Arsen yang sudah berada di sampingnya.
“Arsen,” hal itu pun menbuat Bianca dengan spontan langsung menghentikan langkahnya.
“Katanya asing, tapi kok masih di panggil si mba, mbak.” Arsen benar-benar datang hanya untuk menggoda Bianca. Akal-akalan Arsen, memang banyak sekali.
Ia bahkan kini mempercepat larinya dan meninggalkan Bianca di belakang.
“Hihhhhh, kenapa si. Disetiap moment selalu ada dia? Heran, jodoh saja bukan, lantas mengapa terus bertemu, aneh” Ujar Bianca dengan sebal.
Arsen pun menghentikan langkahnya, ia kemudian berbalik badan dan menghampiri Bianca.
"Kenapa balik lagi?" Bianca terlihat bingung dengan mantannya.
Pria itu benar-benar bersimpuh di hadapan Bianca, ia membawa barang yang bukan hanya untuk main-main, barang itu adalah cincin berlian cantik. Cincin berlian itu terlihat berkilau, sangat indah dan menurut Arsen, sangat cocok untuk di pakai Bianca.
"Bianca, maaf selama tiga bulan ini aku hanya diam, aku bahkan tak pernah tahu tentang kegelisahan di hatimu. Jadi aku mohon padamu, terimalah cincin ini! dan menikahlah denganku!"
Arsen benar-benar tak main-main, pria itu benar-benar melamar Bianca di tengah taman kota. Hal itu bahkan membuat orang yang berada di sekitar mereka, spontan langsung mendekat.
Pinggir danau yang semula sepi, kini mulai ramai, lantaran semua berkumpul di satu tempat.
Bianca menatap sekitar, semua kini menatapnya, seolah terjadi drama teater yang seru. Semua berkumpul, dan semua memberikan sorakan serentak. Mereka berdua, benar-benar seperti tokoh utama dalam sebuah serial drama dalam film.
Bianca tampak bingung, ia benar-benar menahan rasa malunya. "Ini memalukan Arsen." Ucapnya dalam hati.
"Terima-terima," seru semua orang yang melihat kejadian itu.
Dari balik pohon besar di dekat Danau itu, seorang pria dengan pakaian jas hitam serta kacamata di wajahnya, kini tengah mengamati Arsen dan Bianca. Pria itu mengambil ponselnya, membuka kamera ponsel dan mengambil beberapa foto.
Setelah mengambil foto ia pun mengirimkannya ke sebuah nomor.
"TING"
Suara notifikasi ponsel berbunyi, seorang pria dengan setelan jas yang lain. Mengambil ponsel itu dari atas meja.
Pria itu membawa ponselnya pergi, ia menyusuri lorong rumah besar. Para pelayan membungkukkan badan saat ia sudah sampai di depan sebuah ruangan.
Tok Tok Tok!
Pria itu membuka pintu, ia berjalan masuk. Dinding klasik, bernuansakan negara barat. Lukisan dinding yang sangat indah dengan nilai seni yang tinggi. Serta interior lampu yang besar, membuat ruangan itu terkesan sangat mewah dan berkelas.
Pria itu berjalan masuk, ia menatap lurus ke depan. Tepat pada sebuah meja kerja, seseorang tengah duduk di balik kursi kekuasaannya. Mengamati jendela luar.
Pria itu kini berhenti di depan meja itu, ia menaruh ponsel miliknya. Mendorong ponsel itu ke tengah, lalu kembali mundur beberapa langkah lalu setelahnya berdiri di tempat.
"Nyonya, hal yang Anda minta sudah sampai, ini adalah bukti foto kedekatan Tuan Muda Arsenio dengan gadis bernama Bianca." Ucap Pria itu kepada seseorang di balik kursi.
Kursi itu kini mulai berbalik, menampakkan sosok wanita paruh baya yang terlihat sangat menawan dan anggun. Sorot matanya tajam, dengan sebuah kipas yang menutup setengah wajahnya.
Wanita itu mengambil ponsel milik ajudannya. Ia lalu tertawa kecil, saat melihat foto itu. Tampak Arsen yang tengah bersimpuh di hadapan Bianca dengan di kelilingi banyak orang yang menyaksikan kejadian itu.
"Ow, jadi mereka masih berhubungan rupanya. Dasar wanita serakah ini, benar-benar tidak bisa di percaya" Wanita paruh baya itu menggenggam ponsel di tangannya kuat-kuat.
Wanita itu mulai memperlihatkan perubahan ekspresi, wajahnya yang semula tampak tertawa, kini terlihat sangat tajam dan penuh emosi.
Lalu tanpa pikir panjang, wanita itu pun langsung membuang ponsel milik ajudannya ke sembarang arah.
BRAAAAAAKKKKKK!
Ajudan itu hanya bisa pasrah, ia mengambil ponselnya yang sudah tergeletak di atas lantai dengan keadaan yang sudah retak.
"Nyonya, tenangkan diri Anda!" Pria itu mencoba menenangkan majikannya.
Namun wanita itu malah semakin marah dan kian semakin marah lagi. Wanita itu menatap komputer di atas meja. Tangannya dengan cepat mengambil komputer itu dan langsung membantingnya.
BRAAAAKKKK!
"Nyonya, tolong kendalikan diri Anda!"
Wanita itu kini menatap ke arah Ajudannya. "Josef, bagaimana aku bisa tenang, semua yang ku lakukan percuma."
BRAK!
Wanita itu kini memukul meja kerjanya, "ARRRGGHHHHHHH"
Ia berteriak sekencang mungkin, suaranya menggema pada satu ruangan itu.
"Bianca Renata putri, Lihat saja kau nanti. Kau telah bermain-main pada orang yang salah." Wanita itu tersenyum menyeringai.
BERSAMBUNG