Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA RAHASIA JESSICA
Begitu menerima nomor Luna, Jessica segera beranjak menuju ruang eksekutif. Dia mencari tempat duduk yang agak tenang, kemudian menekan tombol panggil.
Sementara itu, Bandung berada di kafetaria kapal. Secangkir kopi terletak di hadapannya, ditemani sebatang rokok yang sesekali dia isap. Pandangannya tertuju ke laut lepas, tetapi pikirannya sama sekali tidak menikmati pemandangan itu.
Dia masih memikirkan Luna.
Masih membayangkan bagaimana wajah perempuan itu jika mereka bertemu nanti.
Dan masih takut pada satu kemungkinan yang paling tidak ingin dia hadapi: Luna ternyata benar-benar telah memilih orang lain.
“Halo, Jessica! Gimana kabarnya?”
Suara Luna terdengar ceria dari seberang telepon.
“Gue baik banget! Lu gimana?”
“Gue juga baik. Ngomong-ngomong, lu mau ke mana, sih? Kok bisa-bisanya nyasar sampai Lampung?”
Jessica terkekeh.
“Coba tebak! Kira-kira kita mau ke mana?”
Luna terdiam sebentar, seolah sedang menyusun kemungkinan.
“Jangan-jangan… mau nyariin gue?”
Jessica langsung tertawa.
“Idih! Bener banget firasat lu, Luna! Kita memang mau kondangan ke tempat lu!”
“Kondangan?”
“Iya! Bandung pengin menyaksikan pernikahan lu!”
Hening sesaat.
Lalu Luna bertanya dengan nada bingung.
“Siapa yang mau nikah?”
Jessica mengerutkan kening.
“Lah, bukannya hari Minggu besok lu nikah?”
Tawa Luna langsung meledak dari seberang telepon.
“Hahahaha! Ya ampun, Jessica! Yang mau nikah itu sepupu gue!”
Jessica terdiam.
“Hah?”
“Sepupu gue!” ulang Luna sambil masih tertawa. “Gue memang izin cuti buat menghadiri pernikahan, tapi bukan pernikahan gue sendiri!”
Jessica menepuk dahinya.
“Ya ampun! Jadi selama ini kita salah paham?”
“Memangnya siapa yang bilang gue mau nikah?”
Jessica menggaruk kepalanya, lalu tertawa canggung.
“Pokoknya, gosip yang sampai ke telinga Bandung begitu. Dia sampai stres sendiri gara-gara mikirin pernikahan lu!”
“Serius?”
“Serius! Makanya gue bilang, rupanya Bandung masih punya kesempatan!”
Luna terdiam beberapa detik.
“Kesempatan apa buat Bandung, Jess?”
Jessica menyeringai, meskipun Luna tidak bisa melihat ekspresinya.
“Kesempatan buat mendapatkan hati lu, lah!”
“Jessica!”
“Apa? Gue ngomong jujur, kok!”
Luna terdengar tertawa kecil, tetapi setelah itu suaranya berubah lebih pelan.
“Beneran Bandung bilang ke lu kalau dia jatuh cinta sama gue?”
Jessica menyandarkan punggung ke kursi.
“Ya ampun, Luna. Emangnya selama ini lu nggak bisa ngerasain sikap dia ke lu?”
“Ya, gue sebenarnya sempat mikir begitu.” Luna berhenti sejenak. “Tapi gue takut cuma kegeeran. Sikap Bandung kadang bikin gue merasa dia punya perasaan yang sama, tapi di lain waktu dia malah seperti sengaja menjaga jarak.”
Jessica mengangguk-angguk meski tahu Luna tidak bisa melihatnya.
“Gue ngerti. Bandung memang begitu. Dia udah terlalu lama menutup hati sampai sekarang pun masih bingung menghadapi perasaannya sendiri.”
“Gue tahu dia punya alasan,” jawab Luna lirih. “Gue juga nggak pernah mau memaksa dia.”
Jessica terdiam sesaat.
Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di benaknya. Dia menegakkan tubuh, lalu tersenyum penuh arti.
“Eh, Luna! Gue punya rencana, nih. Lu bisa bantu gue nggak?”
“Rencana apaan, sih, Jessica?”
“Gimana kalau kita coba lihat kesungguhan Bandung? Kita lihat apakah dia benar-benar berani menyatakan perasaannya ke lu!”
Luna terdiam.
“Caranya gimana?”
Jessica mendekatkan ponselnya ke telinga, lalu berbicara dengan suara sedikit lebih pelan, seolah sedang membocorkan rahasia besar.
“Begini. Di pikiran Bandung sekarang, lu bakal menikah hari Minggu. Nah, gimana kalau kita biarkan dia tetap percaya bahwa pernikahan itu pernikahan lu? Kita lihat, dia berani nggak menyatakan perasaannya sebelum semuanya terlambat!”
“Jessica, lu gila, ya?”
“Sedikit!” jawab Jessica enteng.
Luna tertawa tidak percaya.
“Gue nggak tega, Jess! Kalau ternyata Bandung nggak jadi menyatakan perasaannya, gimana? Masa gue harus nembak dia duluan?”
Jessica menggeleng sambil tersenyum.
“Luna, justru selama ini Bandung nggak pernah mau jujur. Dia selalu menghindar setiap kali perasaannya mulai kelihatan. Sesekali, dia perlu didorong supaya berani menghadapi apa yang sebenarnya dia inginkan.”
Luna terdiam cukup lama.
“Gue ngerti maksud lu. Tapi gue juga nggak mau mempermainkan perasaan dia.”
Jessica mulai melunakkan nada suaranya.
“Gue juga nggak mau menyakiti dia. Kita nggak akan melakukan sesuatu yang benar-benar merugikan siapa pun. Gue cuma pengin dia berani ngomong jujur. Kalau dia memang punya perasaan buat lu, setidaknya dia harus berani mengakuinya.”
Luna menarik napas di seberang telepon.
“Jessica…”
“Apa?”
“Sebetulnya, ada satu hal yang mungkin bisa kita manfaatkan.”
Jessica langsung duduk tegak.
“Apa itu?”
“Di tempat gue, ada tradisi pernikahan yang agak berbeda dari yang biasa lu lihat di Jakarta. Dalam prosesi tertentu, pengantin laki-laki bisa duduk di hadapan bangku kosong sementara pengantin perempuannya disembunyikan lebih dulu. Setelah akad nikah dinyatakan sah, barulah pengantin perempuan muncul bersama para pengiringnya.”
Mata Jessica langsung berbinar.
“Wah!”
Dia menahan tawa, lalu berbisik dengan nada penuh semangat.
“Luna, kayaknya Tuhan aja mendukung rencana gue!”
“Jangan senang dulu!” Luna buru-buru mengingatkan. “Gue mau bantu, tapi jangan keterlaluan, ya. Gue nggak tega kalau harus melihat Bandung benar-benar hancur gara-gara ini.”
Jessica menghela napas, berusaha terdengar lebih serius.
“Gue janji, kita pikirkan baik-baik. Gue nggak mau dia sampai terluka terlalu dalam. Tapi, Luna, lu juga harus ngerti. Bandung perlu belajar bahwa nggak semua hal bisa dia kendalikan dengan logika. Ada kalanya dia harus berani mengambil risiko kalau memang menginginkan sesuatu.”
Luna terdiam sesaat.
“Bukan berarti dia nggak punya perasaan, Jess. Dia cuma pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk nggak jatuh cinta lagi.”
Jessica tidak langsung menjawab.
“Gue tahu.”
“Dan gue juga sadar kalau usia gue masih muda banget dibandingkan dia. Kadang gue berpikir, mungkin gue lebih cocok jadi anaknya daripada jadi pacarnya.”
“Luna, jangan mulai melankolis!” potong Jessica sambil tertawa kecil. “Urusan itu kita pikirkan nanti. Yang penting, sekarang kita lihat dulu apakah Bandung berani jujur sama dirinya sendiri.”
Luna ikut tertawa pelan.
“Dasar lu!”
“Udah, ya. Besok kita ketemu. Sekarang gue tutup dulu. Kapalnya sudah mulai jalan, dan kayaknya sebentar lagi sinyalnya bakal hilang.”
“Oke. Hati-hati di perjalanan, ya. Salam buat Bandung!”
Jessica langsung mengernyit.
“Lah, kok malah nitip salam? Pura-puranya gue belum teleponan sama lu, dodol!”
Luna tertawa.
“Ya sudah, ya. Hati-hati!”
Jessica baru saja hendak membalas ketika suara Luna mulai terdengar putus-putus.
“Lun? Halo? Luna?”
Suara di seberang semakin samar.
Jessica mengangkat ponselnya lebih tinggi, lalu memeriksa layar.
Satu garis sinyal menghilang.
Disusul garis berikutnya.
Tak lama kemudian, sinyal di ponselnya lenyap sama sekali.
Jessica mendesah sambil menatap layar.
“Yah, putus beneran!”
Dia menyandarkan tubuh ke kursi, kemudian menatap keluar jendela. Laut terbentang luas, sementara kapal perlahan menjauh dari Pelabuhan Merak.
Di wajah Jessica muncul senyum kecil.
Sekarang dia tahu bahwa Luna belum menikah. Namun, ada satu hal yang masih menjadi tanda tanya besar: apakah Bandung benar-benar akan berani memperjuangkan cintanya ketika berhadapan langsung dengan perempuan itu?
Jessica melirik ke arah pintu kafetaria, tempat Bandung tadi pergi mencari kopi.
“Semoga aja lu berani, Kolot,” gumamnya pelan. “Gue udah bantu buka jalannya. Selebihnya, lu sendiri yang harus melangkah.”