"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30. Kejadian yang kebetulan
Sebelum pisau lipat yang berkilat itu sempat menyentuh dada Adam, Dokter Danu bergerak secepat kilat. Tanpa ragu sedikit pun, Danu menerjang dan memiting lengan Rosa ke belakang, melumpuhkan gerakan wanita yang sedang kalap itu dalam satu hentakan tegas.
PRANG!
Pisau lipat terlepas dari genggaman Rosa dan jatuh menggelinding di atas keramik lobi. Tiga orang petugas keamanan rumah sakit langsung berlari cepat membantu Danu mengunci kedua tangan Rosa.
"Lepasin aku! Lepas! Adam harus tanggung jawab! Dia penyebab hidup aku hancur!" jerit Rosa histeris, meludah dan berontak seperti orang kesurupan di atas lantai lobi.
"Mbak, tenang! Jangan membuat kerusuhan di ruang publik rumah sakit!" tegur satpam senior tegas seraya memiting kedua lengan Rosa semakin rapat.
Tidak sampai lima menit, raungan sirine mobil patroli polisi mendekat dan berhenti tepat di depan pintu otomatis lobi. Dua orang anggota kepolisian turun dengan sigap, membawa borgol besi yang langsung dikatupkan pada kedua pergelangan tangan Rosa yang masih terus melontarkan caci maki.
"Sdri. Rosa, Anda kami tangkap atas dugaan pengancaman dengan senjata tajam, penganiayaan, serta keterlibatan dalam kasus penipuan dan penggelapan laporan keuangan!" tegas salah satu petugas polisi seraya menarik Rosa berdiri.
"Enggak! Bukan aku! Adam yang salah! Lepasin aku!" teriakan histeris Rosa menggema di udara, memecah keheningan lobi saat tubuhnya diseret paksa masuk ke dalam mobil patroli yang langsung melaju kencang meninggalkan area rumah sakit.
Adam berdiri mematung di pelataran. Dadanya naik turun memburu, mencerna betapa gilanya sosok wanita yang dulu pernah membuatnya membuang anak dan istrinya sendiri. Fitri dan Danu mendekat untuk memastikan kondisi Adam.
"Pak Adam gak apa-apa? Ada luka?" tanya Danu memegang bahu Adam.
Adam mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin, lalu menatap Danu dan Fitri dengan rasa malu dan penyesalan yang membuncah. "Saya... saya gak apa-apa, Dok. Terima kasih banyak... Dokter lagi-lagi nyelamatin nyawa saya."
Fitri memandang mantan suaminya itu dengan tatapan teduh tanpa dendam. "Mas Adam, lebih baik Mas jalan pelan-pelan ke ruang perawatan bareng Mas Yudi. Selesaikan administrasi dan jaga kesehatan Mas."
Adam mengangguk pasrah. Ia membalikkan badan dan melangkah pelan bersama Yudi menuju koridor utama rumah sakit.
Cahaya matahari siang menerobos masuk melintasi kaca koridor lantai tiga Rumah Sakit Medika Utama, memantulkan pendar hangat di atas lantai keramik yang bersih. Adam melangkah pelan memegang tiang infus, didampingi oleh Yudi yang setia membawakan tas pakaiannya. Hari itu, Adam dijadwalkan menyelesaikan administrasi rawat jalan pasca penanganan kritis jantungnya.
Namun, belum sempat mereka melangkah menuju lift utama, jeritan histeris dari arah ruang tumbuh kembang anak seketika memecah ketenangan koridor.
"Tolong! Dokter! Tolong.. Anak asuh saya kejang-kejang!" teriak suara wanita pengasuh Aiden dengan wajah pucat pasi.
Adam dan Yudi tersentak kaget. Dari pintu ruang tumbuh kembang, sang pengasuh berlari keluar sembari memangku tubuh mungil Aiden yang membiru. Balita itu menggigil hebat, matanya mendelik ke atas dengan napas yang tersedak-sedak berat akibat serangan demam tinggi yang datang mendadak.
"Aiden!" jerit Adam histeris, rasa sakit di dadanya seketika menguap digantikan gelombang kepanikan luar biasa.
Tanpa memedulikan selang infus yang masih menempel di punggung tangannya, Adam berlari nekat mendekati sang pengasuh. Pria itu menyambar tubuh mungil sang putra ke dalam pelukannya, merasai suhu tubuh Aiden yang sangat panas bagaikan membakar kulitnya.
"Sus! Dokter! Tolong anak saya!" teriak Adam keras, suaranya bergema menembus seluruh sudut koridor rumah sakit.
Fitri yang baru saja keluar dari ruang rapat dokter spesialis seketika berlari cepat saat mendengar teriakan histeris tersebut. Wajah anggunnya mendadak pucat pasi begitu mendapati putra tunggalnya terbaring kejang di dalam dekapan Adam.
"Aiden! Ya Tuhan, Anakku!" jerit Fitri panik, jemarinya yang gemetar mencoba memeriksa jalan napas dan denyut nadi Aiden. "Kejang demam kompleks! Bawa ke ruang tindakan darurat anak sekarang!"
Dokter Danu yang mendengar laporan darurat dari perawat langsung berlari membawa peralatan medis darurat. Wajahnya yang biasa tenang kini memancarkan keseriusan dan ketegangan tinggi.
"Baringkan Aiden di sini, Pak Adam! Cepat!" komando Dokter Danu tegas sembari menyiapkan tabung oksigen dan obat penstabil kejang.
Adam meletakkan tubuh Aiden di atas ranjang tindakan darurat dengan tangan yang bergetar hebat. Air mata ketakutan meledak membasahi pipinya yang tirus. Melihat tubuh kecil darah dagingnya berjuang melawan serangan kejang parah, rasa sakit batin Adam jauh lebih menyiksa dibanding rasa sakit serangan jantungnya kemarin.
"Tolong selamatkan anakku, Dok... Tolong..." rintih Adam serak, memegang ujung jas putih Dokter Danu dengan tatapan memelas yang teramat sangat.
Dokter Danu mengangguk mantap, menepuk pundak Adam untuk memberikan ketenangan. "Kami akan berjuang sekuat tenaga, Pak Adam. Tolong berdoa di luar bersama Fitri."
Fitri yang mendampingi di sisi ranjang memegang erat jemari kecil Aiden yang teraba dingin. Air mata sang dokter menetes membasahi pipinya. "Aiden... bertahan, Sayang... Ibu di sini, Nak..."
Dokter Danu dengan sigap dan dingin mulai melakukan tindakan medis darurat, memasukkan cairan anti kejang melalui jalur intravena dan memasangkan selang oksigen pada hidung mungil Aiden. Sementara itu, tim perawat bergerak cepat menyiapkan kompres dingin dan pemantau tanda-tanda vital.
Di luar pintu ruang tindakan, Adam terduduk lemas di atas lantai keramik dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding. Pria itu mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat, membenamkan wajahnya di antara kedua lutut sembari meledakkan doa-doa pasrah kepada Sang Pencipta demi keselamatan sang putra.
Di dalam ruangan yang tegang itu, takdir kembali menguji batas ketahanan, ketulusan, dan cinta dari orang-orang yang berjuang demi masa depan Aiden.
Suasana di dalam ruang tindakan darurat anak terasa amat tegang dan mencekam. Bip cepat dari monitor tanda-tanda vital mengisi keheningan ruangan. Dokter Danu bergerak cepat menstabilkan napas Aiden yang sempat tersedak, sementara Fitri memegang erat jemari kecil sang putra dengan derai air mata yang tak henti menetes.
Meskipun kejangnya berhasil dihentikan oleh tim medis, angka hemoglobin dan kadar trombosit Aiden mendadak anjlok drastis akibat reaksi komplikasi infeksi virus akut.
Dokter Danu memeriksa lembaran hasil laboratorium darurat yang baru saja keluar dari mesin pencetak. Wajahnya yang biasa tenang berubah sangat tegang.
"Fitri, kadar hemoglobin Aiden turun drastis ke angka lima," ujar Dokter Danu dengan nada suara yang sangat serius. "Dia mengalami pendarahan mikro akibat komplikasi demam tinggi. Kita butuh transfusi darah utuh golongan O Rhesus Negatif sekarang juga!"
Fitri tersentak kaget, wajah cantiknya seketika pucat pasi. "O Rhesus Negatif?! Tapi stok darah rhesus langka itu di bank darah rumah sakit sedang kosong, Mas Danu! Stok PMI juga butuh waktu beberapa jam untuk pengiriman!"
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.