NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Tidak Akan Kehilangan Lagi

"Kalian mengira Alkina akan selamanya sendirian? Kalian mengira keluarga Wiratmaja akan jatuh ke tangan kalian? Kalian mengira aku mati."

Tidak ada yang mampu membalas karena semua dugaan itu memang pernah mereka yakini.

Sisil mulai menangis tangannya gemetar.

"Bang Arkan..." Arkan langsung menoleh.

Tatapannya begitu dingin sampai membuat Sisil langsung kehilangan keberanian.

"Jangan panggil aku begitu, kamu tidak pantas."

Air mata Sisil semakin deras.

"Aku salah..."

"Kamu baru sadar sekarang?" Suara Arkan datar, tidak ada belas kasihan justru itu yang membuatnya lebih mengerikan.

"Aku, aku..."

"Kamu melihat semuanya."

Tubuh Sisil membeku.

"Kamu melihat Alkina diperlakukan buruk... Kamu melihat dia dihina... Kamu melihat dia menangis... Kamu melihat dia kelaparan..."

Sisil menangis semakin keras.

"Aku takut..."

"Lalu Alkina tidak takut, begitu?" Kalimat itu menghantam keras membuat Sisil tidak mampu berkata apa-apa lagi.

Sementara itu di rumah Mira.

Alkina masih belum bisa tidur entah kenapa perasaannya tidak tenang ia berjalan keluar kamar lalu turun perlahan ke ruang tengah.

Rumah sudah sepi hanya Mira yang masih duduk sambil membaca buku.

"Kenapa kamu belum tidur?"

Alkina duduk di samping wanita itu.

"Aku kepikiran bang Arkan."

Mira tersenyum kecil.

"Itu normal Alkina."

"Entah kenapa aku merasa khawatir."

Mira menutup bukunya.

"Khawatir karena apa?"

Alkina menunduk.

"Aku takut bang Arkan terlalu banyak memikul semuanya sendirian."

Sunyi Mira memandang gadis itu lama dan sekali lagi ia merasa bangga pada Alkina, karena setelah semua penderitaan yang dialaminya hatinya tetap lembut, tetap peduli pada orang lain.

"Alkina..."

"Hm?"

"Kamu tahu kenapa Arkan bertahan hidup selama ini?"

Gadis itu menggeleng, Mira tersenyum tipis.

"Karena kamu."

Alkina langsung membeku.

"Maksud nya?"

"Selama bertahun-tahun dia hidup hanya dengan satu tujuan..." Mata Mira mulai berkaca.

"Memastikan adiknya selamat." Air mata Alkina perlahan jatuh.

"Bang Arkan..."

Di apartemen.

Arkan akhirnya melepaskan kerah Hendro, pria itu langsung jatuh terduduk wajahnya pucat, tubuhnya gemetar.

Hendro benar-benar merasa kalah, bukan kalah karena uang, bukan kalah karena kekuasaan melainkan kalah karena kebenaran.

"Kalian punya dua pilihan." Suara Arkan terdengar jelas seluruh ruangan kembali tegang.

"Pergi jauh dari hidup Alkina..."

"Atau hadapi semua konsekuensi hukuman yang sudah aku siapkan."

Livia langsung mengangkat kepala.

"Hukuman?"

Arkan melempar sebuah map ke meja isinya langsung berhamburan.

Dokumen, rekaman, laporan, bukti transfer, kesaksian dan berbagai data yang selama bertahun-tahun mereka kira aman.

Wajah Hendra langsung kehilangan warna.

"Kamu, kamu..."

"Aku mengumpulkannya selama bertahun-tahun." Arkan memasukkan kedua tangan ke saku celana.

"Sementara kalian sibuk merencanakan cara mengambil harta keluarga kami."

Sekarang mereka sadar sesuatu selama ini mereka mengira Arkan bersembunyi karena lemah padahal tidak, Arkan bersembunyi karena menunggu.

Menunggu waktu yang tepat, menunggu semua bukti lengkap, menunggu sampai tidak ada jalan keluar bagi mereka dan sekarang waktu itu telah tiba.

"Aku mohon..." Livia tiba-tiba menangis.

"Ampuni Sisil."

Sisil langsung menoleh.

"Apa, Ma?"

"Dia masih muda..." Suara perempuan itu bergetar.

"Dia hanya mengikuti kami."

Arkan terdiam lama sekali lalu akhirnya berkata,

"Kalau Alkina dulu seusia dia."

Semua orang membeku.

"Siapa yang mengampuni Alkina?"

Sunyi, tidak ada yang berani membrikan jawaban karena memang tidak ada yang berani bicara sekarang.

Malam itu saat Arkan meninggalkan apartemen, tidak ada seorang pun yang berani menghentikannya.

Mereka hanya bisa melihat pria itu pergi membawa seluruh kendali yang selama ini mereka coba rebut.

Di perjalanan pulang salah satu anak buah Arkan bertanya pelan.

"Tuan muda."

"Apa?"

"Kenapa tidak langsung menyerahkan mereka ke polisi?"

Arkan menatap keluar jendela. Lampu kota terlihat berkilauan di kejauhan. Karena setelah bertahun-tahun ia merasa sedikit tenang.

"Nana."

Pria itu hanya mengucapkan satu nama, anak buahnya langsung mengerti. Nana adalah pangilan sayang Arkan untuk adiknya.

Karena Arkan tahu kalau semuanya dilakukan sekarang Alkina akan kembali terluka.

Media, persidangan, skandal. Semuanya akan menyeret nama gadis itu dan Arkan tidak ingin itu terjadi.

Sesampainya di rumah Mira, hari sudah hampir pagi namun lampu ruang tengah masih menyala.

Arkan masuk perlahan lalu membeku karena Alkina tertidur di sofa sambil memeluk bantal menunggunya.

Dadanya langsung terasa hangat Mira yang duduk di dekat sana tersenyum kecil.

"Dia menunggu kamu. Dia takut kamu tidak kembali ke sini." Suara perempuan itu dibuat pelan Agar Alkina tidak terbangun.

Arkan duduk perlahan di dekat adiknya, tatapannya sangat melembut.

Berbeda jauh dengan sosok mengerikan yang baru beberapa jam lalu membuat Hendro ketakutan.

Tangannya perlahan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Alkina.

"Nana..." Bisikannya hampir tidak terdengar namun saat itu juga Alkina membuka mata perlahan.

"Bang Arkan?" Suaranya masih mengantuk.

Arkan tersenyum kecil. "Iya, abang di sini."

Dan ini pertama kalinya senyum itu benar-benar sampai ke matanya, senyum seorang abangyang akhirnya menemukan kembali alasan hidupnya.

Alkina langsung duduk. "Abang baru pulang?"

"Iya."

“Abang dari mana saja.”

“Ada pekerjaan yang harus abang selesaikan.”

“Jangan bekerja terlalu keras, luangkan waktu untuk istirahat.” Perhatian itu membuat Arkan senang karena setelah sekian lama ia mendapatkan perhatian lagi dari adiknya.

"Abang terlihat sangat lelah, lebih baik sekarang abang istirahat."

"Abang tidak lelah kok." Bohong Arkan.

Karena melihat Alkina di depannya sudah cukup menghapus kelelahan apa pun.

Alkina lalu melakukan sesuatu yang membuat semua orang di ruangan itu terdiam ia menyandarkan kepalanya ke bahu Arkan.

Sangat sederhana namun bagi Arkan itu adalah kepercayaan yang tidak ternilai.

"Aku senang abang pulang dalam keadaan baik-baik saja."

Suara Alkina pelan, tulus dan hangat.

Arkan memejamkan mata sejenak merasakan kedamaian, bukan balas dendam, bukan kemarahan, bukan rasa bersalah melainkan kedamaian karena akhirnya ia tidak lagi berdiri sendirian. Sekarang ia sudah bertemu lagi dengan adiknya yang menjadi sumber kekuatan untuk dirinya.

Saat matahari pagi mulai muncul di ufuk timur kakak beradik itu duduk berdampingan dalam keheningan yang hangat.

Tidak perlu banyak kata karena setelah bertahun-tahun kehilangan, kehadiran satu sama lain sudah lebih dari cukup.

Matahari pagi menyinari rumah Mira dengan hangat setelah bertahun-tahun, Alkina merasa hidupnya berjalan ke arah yang lebih baik.

“Ayo kita sarapan bersama.” Ajak Mira.

Mira sudah menyiapkan sarapan untuk mereka. Mira yakin kakak beradik itu pasti merindukan sarapan bersama.

“Ok nenek.” Ucap Alkina penuh semangat.

“Ayo bang.” Ucap Alkina sambil menarik tangan abangnya. Tidak ada penolakan sama sekali dari Arkan.

Mereka sarapan bersama, suasana di meja makan begitu hangat.

Arkan ada di sisinya, Mira menjadi keluarga yang melindunginya, Rian selalu berhasil membuatnya tersenyum dan perlahan, luka-luka di hatinya mulai sembuh namun di balik ketenangan itu ada orang-orang yang tidak mau menerima kekalahan.

1
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
Ds Phone
yang sorang menesal yang sorang tamak harta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!