NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 7 Menikahlah

Kaia berlari dengan napas memburu dari area basement menuju Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Meganthara.

Langkahnya nyaris tak berhenti sejak turun dari mobil.Hardja dan Farida bahkan tertinggal cukup jauh di belakang.

Ia masih mengenakan kaus oversize putih dipadukan celana kain rumahan berwarna krem.Sandal rumah pun masih melekat di kakinya.

Rambut bob sebahunya hanya diikat asal hingga beberapa helai menutupi wajah yang mulai basah oleh keringat.

Ia bahkan tak sempat mengganti pakaian. Yang memenuhi kepalanya hanya Kiara. Sepanjang perjalanan, bayangan kakaknya terus menghantui pikirannya.

Baru beberapa jam lalu............

Kiara masih tersenyum sambil menggodanya, lalu ditelpon sempat mengomel karena Kaia belum juga memilih gaun bridesmaid.

Bagaimana mungkin...

Sekarang kakaknya berada di rumah sakit?

Sesampainya di depan meja informasi IGD, Kaia berhenti sambil memegangi dada yang naik turun.

"Permisi...." Suaranya tercekat. "Kakak saya korban kecelakaan beruntun di jalan tol. Atas nama Kiara Luvena Hadinata."

Petugas resepsionis menatap wajah Kaia yang pucat. Ia segera memeriksa data di komputer. Beberapa detik kemudian wajahnya berubah sendu.

"Pasien atas nama Mbak Kiara Luvena Hadinata sudah dipindahkan ke ICU, Kak."

Deg.

Seakan ada sesuatu yang menghantam dada Kaia begitu keras. Ruang ICU? Meski bukan tenaga medis, Kaia tahu arti ruangan itu. Tempat bagi pasien-pasien yang sedang berada di batas antara hidup dan mati.

Jari-jarinya mulai terasa dingin. Ia menelan ludah yang terasa begitu berat. "Ruang ICU... di mana ya, Mbak?" tanyanya lirih. Suaranya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.

"Lantai empat, Kak. Dari lift nanti belok kiri."

Kaia mengangguk sekali. "Terima kasih."

"Kaia!" Saat Kaia hendak berlari lagi. Suara berat Hardja menghentikannya.

Ia menoleh. Kakek dan neneknya baru saja tiba. Napas keduanya juga tersengal akibat berjalan terburu-buru.

"Kiara di mana?" tanya Farida dengan wajah pucat.

Kaia menggenggam tangan neneknya erat. "Kak Kiara dipindah ke ICU, Nek...."

Kalimat itu saja sudah membuat matanya kembali memanas.

"Ayo... kita ke atas."

Hardja menggeleng pelan sambil mengatur napas. "Pelan sedikit.... Kakek sama nenekmu sudah tua."

Kaia mengangguk. Rasa panik masih menguasainya, tetapi ia memaksa langkahnya melambat. Tangannya menggandeng lengan Farida, memastikan sang nenek tetap seimbang.

Mereka bertiga berjalan menuju lift. Suasana lorong rumah sakit terasa begitu dingin. Brankar pasien sesekali melintas cepat diiringi langkah tergesa para perawat.

Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Di dalam lift hanya terdengar dengungan mesin dan napas mereka yang masih belum beraturan.

Kaia menatap angka digital yang terus bertambah. Dua, tiga, empat.

Tring!

Pintu lift terbuka perlahan. Mereka segera berjalan menuju ruang ICU. Begitu tiba di depan ruang perawatan intensif, langkah Kaia otomatis melambat.

Di sana sudah berdiri dua pria. Fadlan dan Elio. Biasanya jas dokter yang dikenakan Elio selalu tampak rapi tanpa sedikit pun lipatan.

Kini jas putih itu kusut.Rambutnya sedikit berantakan.Mata pria itu memerah seolah belum berhenti menangis.

Sementara Fadlan berdiri membelakangi semua orang.Kedua tangannya mengepal kuat. Entah sejak kapan.

"Fadlan...." Hardja mendekat perlahan. "Bagaimana keadaan Kiara?"

Fadlan menutup matanya beberapa detik. Seolah sedang mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ketika ia membuka mata lagi, suaranya terdengar jauh lebih berat.

"Dokter bilang... Kiara mengalami cedera kepala berat akibat benturan keras." Ia berhenti sesaat. Rahangnya mengeras. "Ada perdarahan di otaknya... juga cedera di bagian dada yang menyebabkan paru-parunya mengalami trauma."

Farida spontan menutup mulutnya. Air matanya langsung jatuh.

"Tekanan darahnya sempat turun drastis di IGD." Suara Fadlan mulai serak. "Sekarang dia sudah dipasang ventilator dan dipindahkan ke ICU supaya kondisinya terus dipantau."

Kalimat terakhir itu nyaris terdengar seperti bisikan. Kaia melihat bahu ayahnya sedikit bergetar.

Belum sempat siapa pun berkata-kata, pintu ICU terbuka. Seorang perawat keluar sambil membawa map pasien.

"Permisi." Semua kepala menoleh. Perawat itu memandang Kaia dan Elio bergantian. "Mbak Kiara baru sadar beberapa menit."

Jantung Kaia berdegup semakin cepat.

"Beliau meminta bertemu dengan adiknya... dan Dokter Elio."

Air mata Kaia akhirnya jatuh. Ia langsung mengangguk. "Saya adiknya... saya mau masuk."

Perawat itu tersenyum tipis. "Silakan ikut saya. Sebelum masuk, cuci tangan terlebih dahulu dan gunakan pakaian steril."

Kaia melangkah mengikuti perawat. Di belakangnya, Elio ikut berjalan.Melalui kaca bening itu, tubuh kakaknya tampak terbaring tak berdaya di atas ranjang. Kepala Kiara dibalut perban tebal.

Selang oksigen menutupi hidungnya. Kabel monitor menempel di dada dan jemarinya, sementara cairan infus menetes perlahan memasuki pembuluh darahnya.

Untuk beberapa detik, Kaia hanya berdiri membeku.Dadanya sesak, seolah seluruh udara di ruangan itu mendadak menghilang.

"Kak..." Suara itu keluar nyaris seperti bisikan.

Langkahnya terasa berat ketika akhirnya mendekati ranjang. Setiap pijakan seperti menyeret beban yang tak sanggup ia pikul. Air matanya jatuh tanpa sempat ia tahan.

"Kak Kia...." Tangannya yang dingin meraih jemari Kiara dengan sangat hati-hati. Jemari yang biasanya hangat kini terasa begitu lemah.

Di sisi lain ranjang, Elio berdiri dengan mata merah. Jas dokternya masih dikenakan, namun kusut. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia bahkan tidak lagi terlihat seperti dokter. Ia hanya seorang laki-laki... yang sedang takut kehilangan perempuan yang dicintainya.

Perlahan, kelopak mata Kiara bergerak. Ia membuka matanya sedikit demi sedikit. Pandangannya yang kabur bergantian menatap Elio dan Kaia.

Senyum tipis yang sangat lemah muncul di bibir pucat nya. Tangannya terangkat perlahan hendak melepas selang oksigen.

"Sayang... jangan." Elio segera menggenggam pergelangan tangan Kiara, menahannya dengan sangat hati-hati. "Biarkan tetap terpasang."

Kiara menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang yang terdengar berat.

"K... Kaia...." Suara itu begitu lirih nyaris tenggelam oleh bunyi monitor jantung yang berdetak stabil.Kaia langsung membungkuk lebih dekat. "Iya, Kak... Kaia di sini."

"Badan... kakak...." Kiara memejamkan mata beberapa detik. Dahinya berkerut menahan nyeri yang menjalar ke seluruh tubuh. "Sa...sakit...."

Satu kalimat pendek itu saja membuat napasnya memburu.

"Aku... nggak kuat...."

Isakan Kaia pecah. Namun ia buru-buru membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tidak semakin membuat sang kakak gelisah.

"Jangan ngomong begitu...."

Air mata terus mengalir membasahi pipinya. "Kakak pasti sembuh. Kak Elio dokter terbaik. Rumah sakit ini juga milik keluarganya. Semua dokter bakal nolong kakak."

Elio menundukkan wajah.Dadanya seperti diremas. Sebagai dokter, ia tahu kondisi Kiara jauh lebih buruk daripada yang dikatakan kepada keluarga di luar.

Cedera otak berat, perdarahan masif, trauma multipel. Harapan itu... Sangat tipis. Namun sebagai laki-laki yang mencintainya, ia tetap berharap keajaiban datang.

Kiara memandang Elio cukup lama. Tatapan itu begitu lembut. Penuh cinta sekaligus... perpisahan.

Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. "El...."

Elio langsung menggenggam tangan Kiara menggunakan kedua tangannya. "Iya, Sayang."

"Janji sam..ma a...aku...." Kiara kembali terdiam.

Napasnya tersengal. Seolah setiap kata harus ia rebut dari rasa sakit yang memenuhi tubuhnya.

"A..aku...." Ia menoleh pada Kaia, tatapannya begitu hangat, begitu penuh kasih sayang. Seperti seorang kakak yang masih ingin melindungi adiknya... meski waktunya tinggal menghitung detik. "... punya.... satu.... permintaan...."

Kaia buru-buru menggeleng. "Jangan ngomong dulu, Kak. Istirahat aja."

Namun Kiara kembali menggeleng. Ia tahu... Kalau bukan sekarang... Ia tidak akan sempat lagi mengatakannya.

"Kaiaa...." Ia menggenggam jemari adiknya dengan sisa tenaga yang dimiliki. "Lan.. jutkan... hidupmu...."

Kaia menangis semakin keras. "Kak...."

"Menikahlah...." Suara Kiara semakin mengecil. "...dengan.... Elio."

Ruangan mendadak sunyi. Waktu seolah berhenti. Kaia membeku sementara Elio ikut terdiam. Keduanya sama-sama menatap Kiara dengan wajah yang tak percaya.

"Apa...?" Suara Kaia bergetar hebat.

Kiara mengalihkan pandangannya kepada Elio. "El.. .." Ia menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. "To..long.... Jaga.... Kaia.... Menikahlah dengannya."

"Sayang...." Suara Elio pecah. "Jangan ngomong begitu."

"Ini.... permintaan.... terakhirku...."

Air mata Elio akhirnya jatuh. Ia menggeleng berkali-kali. "Tidak. Aku nggak mau. Kamu pasti sembuh. Kita masih harus nikah. Kita masih banyak rencana dimasa depan...."

Kiara hanya tersenyum sangat tipis. Senyum yang justru membuat hati Kaia semakin hancur. Ia kembali memandang adiknya.

"Kaia.... Kakak.... cuma ingin.... kamu.... bahagia...." Kalimat itu menghantam Kaia tepat di dada.

Sejak kecil... Hanya Kiara dan Kakek, Nenek yang selalu memeluknya ketika Ayah memarahinya.

Hanya Kiara yang diam-diam membelikannya hadiah ulang tahun. Hanya Kiara yang membuatnya merasa... dirinya memang layak dicintai. Kini... Orang itu sedang meminta izin untuk pergi.

"Enggak...." Kaia menggeleng kuat. "Kakak jangan tinggalin aku.... Aku nggak mau sendiri...."

Napas Kiara mulai semakin pendek, tersengal. Monitor di samping ranjang perlahan berubah.

Bip... bip... bip...

Angkanya mulai turun.Saturasi oksigen menurun.Tekanan darah melemah.

Elio langsung menyadari perubahan itu. "Kiara!" Matanya membelalak. Ia menoleh cepat ke arah pintu. "Dokter Zoya!Panggil tim resusitasi!"

Pintu ICU langsung terbuka.

Dokter dan perawat berlari masuk membawa troli emergensi.Sementara Kaia berdiri mematung. Tangannya masih menggenggam jemari sang kakak yang perlahan kehilangan tenaga.

"Kakak....!" Tangisnya akhirnya pecah memenuhi seluruh ruangan ICU.

...****************...

* Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Fadillah Ahmad
Sinopsis Novelnya bagus sekali Kak... Aku suka. 😂😂😂 Aku jadi penasaran di buatnya... 😂😂😂 Covernya juga bagus... 🙏🙏🙏😁

Aku boleh mampir kan, Kak? 🙏🙏🙏😁
Putri Anggraini: boleh banget dong🤭
total 1 replies
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Kaia, segera kamu bercerai dengan laki-laki yang masih ga bisa move on dari masa lalunya, apalagi kamu lagi hamil dan Elio kan ga mau punya anak dari kamu, jadi lebih baik kamu pergi ke LN, kamu cari kerja di LN untuk menghidupi kamu dan juga bayi dalam kandungan kamu
Ariany Sudjana
pasti si tukang foto ini suruhan si Mak Lampir (mama kandung Kiara)
Ariany Sudjana
sebaiknya kamu tinggalkan saja Elio itu kaila, percuma mau kamu jungkir balik berusaha jadi istri yang baik, di mata Elio kamu tetap bukan siapa-siapa
falea sezi
lanjut bahaya jg elio😒
Putri Anggraini: MLM ini kita lanjut lagi ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!