Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16— Kau herubah
Aroma tumisan daging tercium kian hangat di dapur kediaman. Hari ini, Shen Yueli bermaksud membuat hidangan kesukaannya. Tangannya sibuk memotong iga babi, lalu memasaknya dengan bumbu tumisan pedas yang menggugah selera.
"Wah, Nona, harum sekali," ujar Bai Ting sembari mengaduk nasi di dalam periuk. Beras di kehidupan dinasti ini merupakan komoditas mahal yang langka dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas serta para bangsawan.
Yueli juga melengkapi masakannya dengan membuat beberapa roti pipih isi daging yang dipanggang harum di atas wajan pipih. "Bai Ting, cepat siapkan piring," ucapnya di tengah kesibukan.
Pelayannya itu buru-buru mengambil sebuah piring keramik dan menyerahkannya kepada Yueli. Gadis itu lantas memindahkan tumisan iga babi yang masih mengepulkan uap panas ke atas piring, sementara beberapa mangkuk sayur pendamping juga telah selesai diracik rapi.
"Nona, Tuan Pei Chanqing telah menanti di kamar Anda," seorang pelayan tua tiba-tiba mendekat seraya menawarkan diri untuk membawakan nampan makanan tersebut.
Namun, Yueli menggeleng lembut sambil tersenyum penuh arti. "Tidak perlu, biar aku saja yang membawakannya untuk suamiku."
Ia melangkah masuk ke dalam kamar, mendapati Pei Chanqing sudah berada di sana. Sementara itu, Xuer berdiri di hadapan sang jenderal dengan isak tangis yang kian kencang.
"Pei Gege, aku tidak ingin..."
Telinga Yueli seketika waspada; alarm dalam dirinya langsung menyala tajam. Jika sebelumnya ia menganggap kelakuan Xuer hanyalah manja seorang adik pada umumnya, kini ia melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Gadis ini... terasa licin seperti ulat bulu yang selalu mencari celah untuk menempel pada siapa pun yang bisa melindunginya.
"Tidak ingin apa, Adik?" Suara Yueli yang tenang berhasil menghentikan isakan gadis itu.
Xuer sontak memutar kepalanya. Matanya tampak sembab dan merah, sementara Pei Chanqing duduk kaku di tempatnya dengan ekspresi serba salah.
"Aku tidak ingin menikah dengan Pei Yu," cicit Xuer lirih.
Yueli berjalan mendekat, lalu meletakkan nampan makanan yang dibawanya ke atas meja dengan gerakan santai. Ia menghela napas lesu. "Kalau begitu, katakan pada Ayah. Kenapa kau malah harus melaporkannya pada suamiku?" tanyanya telak, membuat Xuer terdiam seketika dan isakannya tertelan di tenggorokan.
"Aku hanya takut..." Xuer menunduk, suaranya kian pelan hingga nyaris tak terdengar. "Ayah akan kecewa nantinya."
"Bukankah kemarin kau sendiri sudah setuju?" cecar Yueli.
"Itu... setelah bertemu langsung dengan Pei Yu, dia..."
Yueli menyunggingkan senyum sinis di sudut bibirnya. Sekilas, ingatannya melayang pada paras pria bernama Pei Yu yang ditemuinya di toko pakaian tadi siang. Memang pria itu tidak terlalu buruk, tapi jika dibandingkan dengan Pei Chanqing, jelas jauh tertinggal dalam hal aura maupun ketampanan.
Yueli melipat tangan di dada, menatap gadis di hadapannya dengan tatapan menyelidik. "Bukankah Ayah sudah menjelaskan semuanya kemarin?"
Xuer terdiam cukup lama sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar dari kamar Yueli. Kepergian gadis itu membuat Pei Chanqing nyaris memanggil namanya, jika saja gerakan itu tidak terhenti oleh lirikan tajam dari calon istrinya.
"Kejar dia, lalu katakan pada Ayahku kalau kau ingin menikahinya," sindir Yueli telak.
Wajah Pei Chanqing mematung kaku. "Yueli, sudah cukup omong kosongmu. Aku sudah setuju untuk menikah denganmu."
"Tidakkah kau dengar dia tadi bilang tidak ingin menikah dengan Pei Yu?" ujarnya ketus sambil menata mangkuk di atas meja. "Makanlah," lanjutnya seraya menyodorkan sepasang sumpit kepada Pei Chanqing.
Pria itu terdiam sesaat, menatap hidangan pedas mengepul yang tersaji di hadapannya dengan perasaan campur aduk. "Kau..."
"Tenang saja, aku tidak akan meracunimu," potong Yueli ringan. "Membunuhmu hanya akan merugikanku."
"Setelah selesai makan, kita bahas pasal-pasal kontrak."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Tidak banyak, hanya kelayakan hidup. Dan aku akan menjalankan kewajibanku sebaik mungkin selama hakku terpenuhi."
Pei Chanqing menatap wanita di hadapannya lekat-lekat, mencoba mencari celah keraguan atau niat tersembunyi di balik sorot mata Yueli. Namun, yang ia dapati hanyalah ketenangan mutlak—seperti seorang pedagang yang sedang menimbang untung-rugi di atas meja transaksi.
"Kelayakan hidup," ulang Pei Chanqing pelan, mencerna kalimat itu dengan alis bertaut. "Kau adalah putri dari keluarga Shen, Yueli. Selama ini fasilitas dan tempat tinggalmu sudah lebih dari cukup. Jika kau menikah denganku kau mendapatkan dua kali lipat, kelayakan hidup seperti apa lagi yang kau cari?"
Yueli mendengkus pelan, lalu mengambil sumpitnya sendiri dan mulai menikmati potongan iga babi berlapis bumbu pedas yang menggugah selera. Rasa gurih dan pedas langsung meledak di lidahnya, membuat matanya menyipit puas. "Tidak ada yang tahu masa depan," ujarnya santai.
"Yueli..." Pei Chanqing mendesah menyerah atas kelakuan wanita itu yang kian berubah aneh.
Yueli mendongak, menatap Pei Chanqing tepat di manik matanya. "Ada apa?"
"Kau berubah... akhir-akhir ini kau terasa sangat asing," gumam Pei Chanqing, nada suaranya menyiratkan kebingungan sekaligus rasa penasaran yang sulit disembunyikan.
Yueli justru tersenyum tipis, sebuah senyuman sarkastik yang menghiasi bibirnya. "Seseorang memang harus berubah ketika keadaan tak lagi menguntungkan, bukan?"
"Benar, hanya saja..." Pei Chanqing tertegun sejenak, mencari rangkaian kata yang tepat untuk mendefinisikan wanita di hadapannya ini.
"Kesetiaan itu hanyalah sebuah metafora, kepalsuan manis bagi mereka yang imannya mudah goyah," tandas Yueli tanpa ragu, suaranya terdengar dingin dan realistis. "Tapi tenang saja, selama kau bisa menjamin keamanan dan kelayakan hidupku, aku akan menjadi sekutu paling setia yang pernah kau miliki."
"Setelah kita makan, mari membahasnya dengan cermat," tandas Pei Chanqing tanpa memberi celah lagi. Mereka harus segera menyelesaikannya.
Setelah hidangan pedas itu tandas, meja kecil di kamar mereka dibersihkan dan digantikan oleh kepulan uap hangat dari teko poci berisi teh hijau. Yueli merogoh lengan bajunya, mengeluarkan selembar kertas catatan sementara, sementara Pei Chanqing melakukan hal yang sama dari balik jubahnya.
"Mana?" ujar Yueli dengan senyuman penuh percaya diri, menyodorkan kertas miliknya ke atas meja.
Pei Chanqing mengulurkan lembaran kertas miliknya tanpa ragu.
Namun, begitu mata Yueli menangkap deretan tulisan tangan di kertas sang jenderal, manik matanya langsung melebar. Bulat sempurna. Bibirnya sedikit terbuka, hidungnya mengembang dan mengepis menahan geram, sementara dahinya berkerut hingga alisnya menyatu rapat.
"Pei Gege! Haruskah kau menulisnya segamblang ini?!" seru Yueli tertahan.
Pei Chanqing mengangkat sebelah alisnya dengan tenang. "Bagian apa yang kau maksud?"
Yueli berdecak kesal, menggelengkan kepalanya dengan kaku. "Kau benar-benar... punya hasrat yang luar biasa, ya."
"Apa sebenarnya maksudmu?" tanya pria itu, masih memasang ekspresi tanpa dosa.
"Soal hak dan kewajiban hubungan suami istri! Harus sekokoh apa kau menulisnya di pasal pertama, seolah-olah..." Ucapan Yueli menggantung di udara. Wajahnya merona tipis karena jengkel. "Aku tidak mau melakukannya," cicitnya pelan, mengalihkan pandangan.
Pei Chanqing mendengkus geli, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang jarang ia tunjukkan. "Yah, mau bagaimana lagi? Mengingat kau begitu bernafsu meminta kontrak pernikahan ini dari awal, kupikir kita harus memperjelas semua aspek kehidupan bersama."
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu