Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke makam
Setelah nasi, ikan, serta sayurnya matang, Tiyas membawanya ke luar untuk disajikan. Mereka pun sarapan di teras. Tidak ada obrolan di antara keduanya. Mereka makan dengan hikmat.
Setelah selesai makan, Zain pamit kepada istrinya.
"Boleh aku pinjam motor bapak?"
"B-boleh, tapi mau ke mana?"
"Mau ke makam bapak."
Tiyas hampir saja lupa kalau hari ini ia akan meninggalkan rumahnya untuk ikut dengan suaminya. Seharusnya ia juga pergi ke makam untuk berpamitan. Meskipun saat ini ua sedang berhalangan.
"A-aku ikut."
"Hem, ayo."
Tiyas mengambil kunci motor dari dalam kamarnya lalu keluar. Ia memberikan kunci tersebut kepada suaminya.
"Kamu bisa mengendarai motor?"
Tiyas menggelengkan kepala.
Zain naik ke atas motor. Disusul kemudian Tiyas berbonceng di belakangnya.
"Bismillahirrahmanirrahim... "
Zain melajukan motor dengan kecepatan yang rendah. Hal tersebut dilakukannya karena ingin menjaga perasaan istrinya yang mungkin masih trauma. Ia sendiri juga masih takut.
Saat bertemu dengan orang yang berjalan kaki, Zain menganggukkan kepala seraya menyapa dengan sopan. Sedangkan Tiyas, pikirannya sedang berkelana ke mana-mana.
Akhirnya mereka sampai di makam. Zain memarkirkan motor di luar pagar makam dan mengunci setir nya.
Terihat dari kejauhan tanah yang masih menggunduk dan basah. Makam Pak Zakir berjejer dengan istrinya dan kedua orang tuanya. Tiyas dan Zain berjongkok dulu samping makam pak Zakir.
Zain langsung mengirim tawassul kepada keempat orang yang sudah berada di dalam kubur tersebut setelah meminta nama-namanya kepada Tiyas. Ia memimpin do'a dan Tiyas meng-amini. Setelah selesai berdo'a mereka tidak langsung pulang. Zain mengusap nisan kayu itu dengan tangan kirinya.
"Pak, saya sudah menikahi anak bapak. Saya sudah memenuhi janji saya untuk menjaganya. Saya akan bertanggung jawab untuk hidup Tiyas, pak. Tolong ridhai kami. Insyaallah saya akan berusaha untuk menjadi imam yang baik. Semoga Tiyas dapat menerima saya sepenuhnya." Batin Zain.
Tiyas pun menyeka air matanya yang jatuh tanpa permisi.
"Pak,bu, maaf baru ke sini lagi. Tiyas sudah mengambil keputusan yang sangat besar dalam hidup Tiyas. Ini semua Tiyas lakukan agar Tiyas bisa bertahan hidup. Kalian pasti ngerti kan. Hari ini Tiyas akan meninggalkan rumah. Tapi tenang saja satu bulan lagi Tiyas akan pulang menjelang 40 hari bapak. Tiyas tidak tahu bagaimana jadinya hidup Tiyas nanti. Sebenarnya Tiyas takut, pak, bu. Tapi Tiyas harus menghadapi dunia walau tanpa kalian."
Zain pun berdiri dan masih menunggu Tiyas yang masih betah mencurahkan isi hatinya.
Beberapa saat kemudian, Tiyas pun berdiri. Mereka meninggalkan makam dan kembali ke rumah.
Dalam perjalanan pulang , Tiba-tiba seekor kampung menyebrang. Sontak Zain menarik rem. Kepala Tiyas membentur punggung Zain, tangannya pun menggenggam erat baju bagian pinggang Zain.
"Astaghfirullah.... "
"Allah Allah.... "
Bayang-bayang kejadian naas bersama sang Bapak langsung terlintas di mata Tiyas. Ia mendadak tremor.
"Tiyas, kamu tidak apa-apa kan?"
Tiyas tidak menjawab.
"Tiyas.... hei" Zain menggerakkan bahunya berharap Tiyas menjawabnya.
"Takut.... aku takut."
Zain pun langsung memegang tangan Tiyas lalu turun dari motor.
Nampak tubuh Tiyas gemetar. Zain pun panik.
"Tiyas, nggak pa-pa. Kita selamat kok. Maaf sudah membuatmu begini. Tadi ada kambing yang tiba-tiba nongol." Ujar Zain sambil mengusap punggung istrinya. Hal itu dilakukannya dengan spontanitas.
"Aku mau jalan kaki saja."
"Jangan... ayo naik lagi. Aku akan lebih berhati-hati."
Tiyas menggelengkan kepalanya.
Zain tidak ingin memaksanya. Akhirnya ia membiarkan Tiyas jalan kaki. Namun untuk memastikan Tiyas baik-baik saja, ia mengikutinya dari belakang.
Akhirnya mereka sampai di rumah.
Tiyas masuk ke kamarnya. Ia melipat baju-bajunya yang akan dibawa ke dalam tas. Selama ini Tiyas belum pernah meninggalkan rumahnya dalam waktu yang cukup lama. Baju-baju Tiyas memang tidak banyak karena memang biasanya dia hanya membeli baju saat hari raya atau ada ketika ada acara. Meski saat ini sudah marak toko online, Tiyas hanya berbelanja seperlunya saja. Karena ia sadar diri dan menyesuaikan pemasukan.
Cukup lama Tiyas di dalam kamarnya. Zain khawatir kepadanya. Akhirnya Zain memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Tiyas.
Tok tok tok
Tidak ada sahutan
Tok tok tok
Pintu pun terbuka.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, maaf mengganggu. Aku takut kamu kenapa-kenapa."
"Aku sedang memasukkan barang-barangku yang mau dibawa."
"Oh, ya sudah silahkan lanjutkan."
Zain berbalik badan hendak kembali ke teras.
"Tunggu!"
Zain kembali berbalik badan.
"Ya, ada apa?"
"Nanti kalau aku ikut ke Surabaya, apa boleh aku bekerja?"
Zain mengerutkan keningnya.
"Bekerja? Kamu mau bekerja apa?"
"Apa saja, asal aku bisa menghasilkan uang."
"Aku tidak akan melarangmu bekerja. Tapi selama aku masih mampu menafkahimu, aku mau kamu di rumah saja."
Tiyas pun terdiam.
Dalam benaknya ia langsung teringat kewajiban seorang istri.
"Tapi jika aku tidak bekerja bagaimana nanti kalau sampai aku bercerai? Astaghfirullah... kenapa pikiranku buruk sekali."
"Jangan khawatir, selama jadi istriku tugasmu hanya menjadi istri yang baik. Kamu tentu sudah cukup tahu itu. "
Lalu Zain berlalu dari hadapannya.
Tiyas membuang jauh pikiran buruknya kini yang ada di pikirannya justru tugas yang dimaksud suaminya.
"Astaghfirullah... kenapa dengan otakku ini!" Liriknya sambil memukul dahinya sendiri.
Sekitar jam 11 siang, Tiyas menggoreng tempe dan tahu yang tadi sudah dibeli untuk makan siang. Ia juga memanaskan ikan mujair yang masih tersisa.
Adzan Dhuhur pun berkumandang. Nampak Zain memakai baju koko dan kopiah nya. Ia pamit kepada Tiyas mau pergi shalat di Masjid.
Tidak lama kemudian, Indri datang membawa Ubi rebus.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. "
"Ehem ehem... pengantin baru, lagi apa?"
"Apaan sih, dri. Lagi nyiapin makan siang ini."
"Wah, yang sudah jadi istri sibuk ya? Aku ke sini karena tahu suamimu nggak ada, hehe... "
"Tahu dari mana?"
"Tadi aku lihat dia jalan ke Masjid, iya kan?"
"Iya, betul. Bawa apa kamu?"
"Oh iya, ini dari ibu. Katanya buat Tiyas dan suaminya."
"Makasih, ya."
"Sama-sama."
Senyum Tiyas tiba-tiba berubah sendu.
"Yas, kamu kenapa?"
"Dri, kita bakalan jauh."
Indri baru menyadari hal itu. Ia langsung memeluk sahabatnya.
"Yang sabar ya. Kamu pergi untuk kehidupan barumu yang lebih baik. Aku pasti akan merindukanmu. "
"Hik hik... Kalau aku sendirian nanti siapa yang akan menemaniku di sana, dri? "
"Hei, gimana ceritanya sendirian? Ada suamimu, mertuamu dan keluarganya yang lain. Kamu akan mendapatkan keluarga baru di sana. Justru aku takutnya kamu akan melupakan aku."
"Itu tidak mungkin."
Indri segera pamit pulang sebelum Zain pulang dari Masjid.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maju Zain pantang mundur.. hehehehe
sabar, sabar.... 🤣🤣🤣