NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Gengsi Setinggi Langit

Sesampainya di penthouse, Aira langsung menguasai area ruang tengah. Tanpa mempedulikan Devan yang kerepotan menenteng dua kantong besar berisi jajanan serta bahan makanan di belakangnya, Aira melepas sepatunya asal-asalan, menyambar beberapa bungkus cemilan favoritnya, lalu menjatuhkan diri ke atas sofa.

Srett!

Ia menyobek bungkus kripik kentang rasa rumput laut dengan antusias, menyalakan televisi, lalu menikmati cemilannya sambil menyelonjorkan kaki dengan santai. Rasa puas karena berhasil membuat Devan merogoh dompet lima juta rupiah lebih di supermarket tadi masih tersisa di dadanya.

Sementara itu, Devan membawa sisa kantong belanjaan ke area dapur. Pria itu meletakkan kantong-kantong plastik itu di atas meja.

Dengan gerakan yang luwes dan terbiasa, Devan mulai memilah-milah barang belanjaan. Sayuran segar ia masukkan ke dalam kompartemen bawah kulkas, daging ayam dan salmon ditaruhnya di freezer, sementara bumbu-bumbu dapur ia tata rapi di rak kabinet.

Di sela-sela aktivitas membongkar dan menata bahan dapur itu, mata Devan sesekali melirik ke arah ruang tengah.

Dari tempatnya berdiri itu, ia bisa melihat punggung Aira yang sedang asyik menatap layar TV, sesekali mengunyah ciki dengan pipi yang mengembung lucu. Senyuman tipis terukir di bibir Devan.

"Dasar bocah..." gumam Devan sangat pelan sambil menggelengkan kepala geli.

Melihat Aira yang akhirnya bisa duduk tenang membuat suasana hati Devan terasa jauh lebih ringan. Tanpa membuang waktu lagi, Devan mulai memotong bahan-bahan segar, menyalakan kompor, dan meracik makan malam untuk mereka berdua.

Satu jam kemudian, aroma gurih tumisan bumbu dan wangi salmon panggang saus mentai yang menggugah selera memenuhi udara penthouse.

"Ra, matikan TV-nya. Makan malam udah siap," panggil Devan dari meja makan, sudah menata dua piring dan lauk-pauk segar yang kelihatan sangat menggiurkan.

Aira yang sudah mencium aroma harum masakan Devan sejak sepuluh menit lalu pura-pura acuh tak acuh. Ia mematikan TV dengan santai, merapikan bungkus jajanannya, lalu melangkah menuju meja makan.

"Bau masakan lu lumayan juga," celetuk Aira sambil menarik kursi makan di seberang Devan.

Devan menyunggingkan cengirannya yang paling tengil. "Bukan cuma lumayan, Nyonya. Ini masakan kualitas chef bintang lima. Lu beruntung banget dapet suami kayak gue, udah ganteng, kaya, jago masak lagi."

Aira memutar matanya malas, menyambar sendoknya. "Narsis lu gak hilang-hilang ya dari zaman purba? Bisnis lu makin maju gara-gara jualan kepercayaan diri kelewat batas gini?"

"Tapi lu tetep mau makan masakan gue kan?" goda Devan memancing, matanya berkedip usil.

"Gue makan ya karena lapar! Bukan karena lu!" sembur Aira sarkas, menyuap sepotong salmon ke dalam mulutnya.

Aira mengunyah makanannya dengan cukup lahap. Masakan Devan bener-bener gak pernah gagal memanjakan lidahnya.

Namun... di tengah-tengah suapan ketiganya, pandangan mata Aira tanpa sengaja mendarat pada pergelangan tangan kanan Devan.

Di sana, melingkar sebuah gelang kulit hitam berdesain simpel dengan gesper perak yang agak memudar warnanya.

Gerakan tangan Aira yang mau menyuapkan nasi terhenti di udara.

Jantung Aira berdesir. Matanya membelalak pelan menatap gelang tersebut.

Aira sangat ingat gelang itu.

Gelang kulit hitam itu adalah hadiah ulang tahun ke-17 yang dipesan khusus oleh Aira delapan tahun lalu untuk Devan. Waktu itu, Aira merancang sendiri ukiran kecil di balik gesper peraknya, sebagai kejutan ulang tahun Devan saat mereka masih pacaran di SMA.

Mata Aira berbinar pelan.

Jadi... selama delapan tahun ini dia masih simpan dan pakai gelang pemberian gue?! batin Aira membuncah, ada rasa hangat yang mendadak menyeruak memenuhi dadanya.

Dengan sisa-sisa keberanian dan gengsinya, Aira menyunggingkan senyuman tipis yang terkesan mengejek, berniat balik menggoda Devan kali ini.

"Ciee..." ledek Aira, menunjuk pergelangan tangan Devan dengan ujung sendoknya. "Gak usah sok gengsi deh, Van. Ternyata gelang zaman SMA itu masih lu simpen dan lu pake sampai sekarang? Segitu gak bisa move on-nya lu dari hadiah ulang tahun dari gue?"

Aira menatap Devan dengan tatapan penuh rasa percaya diri, siap menikmati momen salah tingkah atau kepanikan Devan yang tertangkap basah masih menyimpan kenangan manis masa lalu mereka.

Namun... reaksi Devan sama sekali di luar dugaan Aira.

Raut wajah Devan yang tadinya ceria dan penuh godaan seketika memudar.

Devan merapikan gesper gelang di pergelangan tangannya dengan gerakan lambat, lalu mendongak menatap Aira.

Dengan nada suara yang sangat datar, Devan melontarkan kalimatnya tanpa ragu.

"Ini bukan pemberian lu," kata Devan dingin.

Aira tertegun. "Hah?"

Devan menyunggingkan senyuman miring yang begitu dingin, menatap Aira seolah cewek di depannya ini hanya seseorang yang terlalu percaya diri.

"Ini pemberian seseorang waktu gue di luar negeri," lanjut Devan dengan intonasi yang begitu tenang tapi mampu mengoyak dada Aira. "Kamu pikir kamu siapa, Ra? Jangan kebiasaan percaya diri berlebihan gitu."

Jleg!

Dunia Aira serasa berhenti berputar detik itu juga.

Kalimat itu... meluncur begitu mulus dari bibir Devan, bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di ulu hati Aira.

'Seseorang di luar negeri...'

'Kamu pikir kamu siapa...'

Rasa hangat di dada Aira yang baru saja mekar seketika hancur, digantikan oleh rasa sakit yang luar biasa hebat.

Aira terpaku di tempatnya. Senyuman mengejek di wajahnya berganti dengan raut wajah pucat.

Gue... gue bodoh banget, batin Aira menjerit miris. Gue pikir itu gelang dari gue... ternyata dia dapet dari cewek lain pas dia kuliah di luar negeri?

"Oh..." gumam Aira sangat pelan, hampir tak terdengar.

Aira buru-buru menundukkan kepalanya, memfokuskan pandangannya pada makanan di depannya. Ia tidak berani menatap mata Devan lagi.

Pelupuk matanya terasa amat panas, dan pandangannya mulai mengabur, genangan air mata menumpuk di sudut matanya.

Aira menggigit bibir bawahnya, berjuang mati-matian agar air mata itu tidak menetes di depan Devan. Rasa malu, hancur, dan terhina bercampur aduk menjadi satu gumpalan rasa sakit yang membakar.

Tanpa mengicaukan kalimat sarkas lagi, Aira menyuap sisa makanan di piringnya secara terburu-buru, lalu meneguk air putihnya.

Sret.

Aira mendorong kursinya ke belakang, berdiri dengan gerakan sangat cepat tanpa menatap Devan.

"Gue... gue udah kenyang. Makasih makanannya," cicit Aira dengan suara yang sengaja ditahan agar tidak terdengar bergetar.

Aira berbalik dan setengah berlari melangkah menuju koridor kamarnya.

Brak! Klek!

Begitu masuk ke dalam kamar, Aira langsung meluncur masuk ke dalam kamar mandi.

Aira memutar keran wastafel, membiarkan suara gemericik air menyamarkan suara tangisannya.

Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, terduduk di atas lantai, lalu menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

Hssskkk... hhh...

Isakan kencang akhirnya pecah dari tenggorokan Aira.

"Jahat... lu jahat banget, Devan..." bisik Aira tersedu-sedu di tengah tangisannya. "Kalau emang lu udah ada cewek lain di luar negeri... kenapa lu harus nikahin gue?! Kenapa lu harus datang lagi di hidup gue kalau cuma mau bikin gue merasa gak berguna kayak gini?!"

Sementara itu, di meja makan...

Devan masih terduduk di kursinya.

Devan menatap piring bekas Aira yang ditinggalkan begitu saja. Pria itu mengangkat tangan kanannya, menatap gelang kulit hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Gelang itu... bener-bener gelang pemberian Aira delapan tahun lalu. Devan tidak pernah melepaskannya dan selalu merawatnya dengan sangat baik bahkan saat ia menempuh pendidikan di luar negeri.

Devan merutuki dirinya sendiri!

"Gila... bodoh banget lu, Devan!" maki Devan pelan pada dirinya sendiri, menyisir rambutnya ke belakang dengan rasa frustrasi.

Tadi, saat Aira menggodanya dengan raut wajah mengejek itu, gengsi Devan yang setinggi langit mendadak tersenggol. Jiwa gengsinya yang tidak mau kelihatan 'kalah' atau 'terlalu mengharapkan Aira' membuat mulutnya melontarkan kalimat bohong yang sangat tajam dan kasar itu secara refleks.

Devan menyadari perubahan di wajah Aira tadi. Ia melihat bagaimana bibir cewek itu bergetar, dan melihat dengan jelas pelupuk mata Aira yang berkaca-kaca menahan tangis.

Saat melihat mata Aira berkaca-kaca tadi, ada rasa penyesalan luar biasa dahsyat yang langsung meremas jantung Devan sampai sesak.

Devan ingin sekali berdiri detik itu juga, menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya, dan berbisik kalau ia cuma berbohong. Devan ingin minta maaf dan bilang kalau gelang ini memang pemberian Aira yang sangat ia cintai.

Tapi... niat tulus itu tertahan oleh gengsi dan rasa takutnya sendiri.

Devan mengepalkan tangannya di atas meja, mendengus frustrasi.

Brak...

Dari arah lorong kamar, Devan samar-samar bisa mendengar suara gemericik air keran yang menyala deras dari dalam kamar mandi Aira.

Devan memejamkan matanya, meremas jemarinya sendiri dengan penyesalan yang membakar ulu hatinya. Ia tahu... malam ini, ia baru saja menancapkan luka baru yang sangat dalam di hati cewek yang sebenarnya paling ingin ia lindungi di dunia ini.

1
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
Fazira
semangat Kak 💪
Fazira
seru kak , lanjutkan 😍😍
zeylin
Wowwww baguss banget
Ael
🤭
Fazira
Ihh gemezz banget sih mereka 😍😍
Ael
next next 💪💪
nebula🌌
sukaaa
semangat thorr💪💪😍
Fazira
😍😍
Fazira
😍😍😍
Ael
next
Ael
lanjut
Fazira
lucu banget aira🤣
siapa ya yang di ruangan itu🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!