NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terus Belajar Demi Lilis 34.

Pukul sebelas malam, dan kamar Dafa sudah menyerupai ruang isolasi ujian tingkat nasional. Lembar-lembar kertas polio bergaris berserakan di atas karpet berbulu abu-abu, beberapa di antaranya dipenuhi coretan spidol merah milik Lilis yang menandai rumus-rumus fatal.

Di tengah kekacauan itu, Dafa duduk bersila dengan menyandarkan punggungnya pada tepi ranjang.

Sebuah pensil 2B terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya, berputar secara ritmis mengikuti ketukan kecemasannya sendiri.

Besok adalah hari pertama Ujian Tengah Semester.

Bagi cowok lain di SMA Wahidin, UTS mungkin hanya ritual membosankan dua mingguan yang bisa dilewati dengan mengandalkan keberuntungan atau secarik kertas contekan berukuran mikro.

Tapi bagi Dafa, UTS kali ini adalah pertaruhan harga diri yang mutlak.

Taruhan bodoh yang dia sepakati bersama Azril di kantin sekolah dua minggu lalu kini terasa seperti tali yang melilit lehernya sendiri.

“Kalau nilai rata-rata UTS lo di bawah gue, lo mundur dan berhenti caper ke Lilis. Dia butuh cowok yang otaknya jalan, Daf, bukan cuma modal otot di lapangan basket.”

Kalimat Azril malam kemarin kini berdengung di telinganya. Rupanya Azril juga sangat serius dengan taruhan akademis ini.

Dafa mendengus, melempar pensilnya ke atas meja belajar hingga membentur kaleng tempat pensil dengan bunyi klentang yang nyaring.

Sialan.

Azril itu anak peringkat paralel tiga umum. Sementara Dafa? Masuk peringkat dua puluh besar di kelasnya saja sudah membuat ibunya menggelar syukuran potong tumpeng.

Secara logika matematika, Dafa sudah kalah sebelum berperang.

Namun, ada satu variabel yang tidak diperhitungkan Azril dalam persamaan ini, Lilis.

Dafa meraih ponselnya yang tergeletak di atas kasur.

Layarnya menyala, menampilkan ruang obrolan WhatsApp yang sepi. Pesan terakhir dari Lilis dikirim tiga jam lalu, hanya berupa foto rangkuman materi fungsi kuadrat dengan teks singkat: “Tidur. Jangan begadang. Besok otak lo bisa nge-blank pas liat angka.”

Dafa menatap pesan itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir.

Di saat cewek-cewek lain di tribun lapangan basket meneriakkan namanya sampai serak, Lilis adalah satu-satunya orang yang berani melempar handuk basah ke mukanya karena dia telat datang ke sesi tutor privat di perpustakaan.

Tapi justru karena itu, kehadiran Lilis terasa nyata bagi Dafa. Di depan Lilis, dia tidak perlu menjadi Dafa si kapten basket yang keren dan serba tahu.

Dia bisa menjadi Dafa yang payah dalam aljabar, Dafa yang frustrasi, Dafa yang apa adanya.

Dafa mengetik balasan.

“Belum bisa tidur. Rumus eliminasi lo masih muter-muter di kepala gue. Tanggung jawab.”

Hanya butuh waktu sepuluh detik sampai status di bawah nama Lilis berubah menjadi ‘Online’, lalu ‘Typing…’. Dafa menahan napas tanpa sadar.

Ada sensasi menggelitik di perutnya yang aneh—sensasi yang sama sekali berbeda dengan ketegangan saat dia harus melakukan free throw di detik-detik terakhir pertandingan final.

“Kan udah dibilang, jangan dihafal, tapi dipahamin polanya. Lo emang keras kepala ya. Mau gue telpon terus gue dongengin rumus matriks?”

Dafa terkekeh pelan. Dia langsung menekan tombol ikon telepon tanpa berpikir dua kali. Panggilan itu langsung tersambung pada dering kedua.

“Halo?” Suara Lilis terdengar serak khas orang yang baru bangun tidur, atau mungkin dia memang belum tidur karena ikut cemas.

Suasana di seberang sana sangat sunyi, hanya terdengar suara gesekan samar selimut.

“Suara lo kok kayak abis nangis?” tanya Dafa, langsung melempar tubuhnya ke atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang ditempeli stiker bintang menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Nggak nangis, Dafa. Gue nguap,” jawab Lilis judes, walau ada nada lelah yang tidak bisa disembunyikan. “Kenapa nelpon? Jam segini tuh harusnya lo udah di fase REM tidur, biar memori jangka pendek lo nyimpen itu rumus.”

“Gue gak bisa fokus kalau gak denger suara lo yang lagi ngomelin gue,” sahut Dafa santai. Nada usilnya kembali, sebuah mekanisme pertahanan diri agar Lilis tidak tahu seberapa besar cowok itu sedang dilanda kecemasan.

Di seberang saluran, Lilis terdiam sejenak.

Keheningan itu berlangsung sekitar lima detik, tapi bagi Dafa terasa seperti lima menit. Dia mendadak teringat kejadian di perpustakaan waktu sore itu. Jarak yang memotong kewarasan mereka, wangi permen mint Lilis, dan bagaimana mata cewek itu membelalak panik saat menyadari posisi mereka yang terlalu intim.

Sial, jantung Dafa kembali berdegup abnormal mengingatnya.

“Daf,” panggil Lilis pelan. Kali ini tanpa nada ketus. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah dia sedang berbisik tepat di samping telinga Dafa.

“Hmm?”

“Lo... beneran serius sama taruhan itu?”

Pertanyaan Lilis memotong udara malam dengan tajam. Bersih, tanpa basa-basi. Lilis bukan cewek bodoh yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Gosip di SMA Wahidin menyebar lebih cepat daripada infeksi flu, dan Lilis pasti sudah mendengar spekulasi di koridor tentang mengapa seorang Dafa tiba-tiba mendadak rajin belajar di perpustakaan bersamanya.

Dafa mengubah posisinya menjadi miring, memeluk satu bantal gulingnya erat-erat.

Senyum usilnya lenyap. Sisi dewasanya yang jarang dia tunjukkan pada orang lain perlahan mengambil alih.

“Awalnya iya,” Dafa jujur. Tidak ada gunanya berbohong pada cewek yang bisa membaca kebohongannya lewat gestur tubuh. “Gue gak suka kalah dari Azril. Apalagi dia nantangin gue di depan seantero sekolah waktu istirahat. Masalah ego cowok biasa.”

Lilis menghela napas. Dafa bisa mendengar embusan angin kecil dari speaker ponselnya. “Terus sekarang?”

“Sekarang gue gak peduli sama Azril,” kata Dafa lambat, memastikan setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar tegas dan tidak menyisakan ruang untuk keraguan. “Gue belajar sampai jam sebelas malam begini bukan buat buktiin ke dia kalau gue pinter. Gue cuma... gak mau keliatan bego di depan lo. Dan gue gak mau lo ngerasa kalau usaha lo ngajarin gue berjam-jam di perpus itu sia-sia.”

Dafa menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan bagian tersulit dari pengakuannya. “Gue mau menang, Lis. Tapi bukan buat jadiin lo piala bergilir karena taruhan itu. Gue mau menang supaya gue punya hak buat jalan di sebelah lo tanpa ada orang yang bilang kalau kita gak selevel.”

Hening lagi.

Kali ini keheningan yang tebal dan sarat akan emosi yang tertahan.

Dafa hampir bisa membayangkan ekspresi Lilis sekarang: menggigit bibir bawahnya, menatap ke arah jendela kamar dengan pipi yang perlahan memerah, persis seperti reaksinya di perpustakaan tadi sore.

“Lo tuh... bener-bener ya,” suara Lilis terdengar agak bergetar, seolah dia sedang menahan sesuatu antara rasa kesal dan haru yang bercampur aduk. “Bisa-bisanya ngomong kayak gitu pas besok mau ujian matematika wajib.”

Dafa tertawa low-profile. Ketegangan di pundaknya entah bagaimana menguap begitu saja setelah mengeluarkan apa yang mengganjal di dadanya. “Jadi, gimana tutor? Nilai minimal gue harus berapa biar gak didepak dari perpus?”

“Gak ada nilai minimal,” jawab Lilis cepat, suaranya kini kembali normal, sedikit lebih tegas tapi ada kelembutan yang terselip di sana. “Lo cuma harus ngerjain soalnya sekemampuan lo. Jangan buru-buru keluar kelas sebelum bel. Dan satu lagi...”

“Apa?”

“Gue udah cek lembar jawaban lo yang terakhir tadi sore. Otak lo sebenernya pintar, Daf. Lo cuma sering ceroboh di perhitungan tanda minus dan plus. Jadi, tolong teliti.” Lilis berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan volume yang lebih kecil, hampir menyerupai bisikan, “Gue... bakal nungguin lo di depan mading pas pengumuman nilai nanti.”

Kalimat sederhana itu bagi Dafa jauh lebih efektif daripada kafein dosis tinggi. Rasa kantuknya hilang total, digantikan oleh gelombang motivasi yang mendesak di dadanya.

“Oke,” jawab Dafa, suaranya merendah penuh keyakinan. “Gue tutup telponnya ya. Lo tidur. Makasih buat malam ini, Lis.”

“Yuk. Good luck besok, Dafa. My pacar salah tembak!”

Pip.

Sambungan terputus.

Dafa menurunkan ponsel dari telinganya, menatap layar yang kini menggelap.

Dia diam selama beberapa detik, membiarkan keheningan kamarnya kembali terisi oleh detak jarum jam dinding.

Namun, rasa cemas yang tadi mencekiknya kini telah bermutasi menjadi sesuatu yang lain: tekad yang dingin dan terarah.

Dafa bangkit dari kasur. Dia berjalan kembali menuju meja belajarnya, menarik kursi kayu itu dengan pelan agar tidak menimbulkan suara bising di tengah malam yang sunyi. Dia meraih kembali pensil 2B yang tadi dia lempar, membuka lembaran baru kertas polio yang masih kosong, dan menyalakan lampu meja belajarnya lebih terang.

Dia tidak tahu apakah dia bisa melampaui nilai Azril besok. Tapi satu hal yang pasti, besok pagi di ruang ujian, Dafa tidak akan menyerah pada barisan angka itu tanpa perlawanan sengit.

Demi harga dirinya, dan yang paling penting, demi cewek dengan aroma permen mint yang sedang menunggunya di ujung koridor sekolah.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!