Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.
Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.
"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."
Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Kembali
"Mas, kamu harus membujuk Amara agar pria itu tidak mencabut semuanya!" ucap Siska dengan napas memburu dan raut wajah penuh kepanikan, menatap suaminya yang terkulai lemas di sofa ruang tamu yang kusam.
"Kamu mengira membujuk Amara semudah itu, Siska?" balas pria itu—Hendra—dengan suara berat dan sarat kekesalan. Tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.
"Terus kamu mau hidup kita begini terus, ha?!" jerit Siska hysteris, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Lihat rumah ini! Semua aset kita dibekukan! Tabungan kita dikuras habis! Itu semua gara-gara suami kaya raya si Amara itu!"
Hendra mendesis kasar, lalu berdiri mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang. "Lalu aku harus bagaimana?! Kamu pikir aku tidak malu, ha? Dulu kita membuangnya dan menganggapnya tidak berguna karena dia bisu dan tuli! Sekarang dia dipratokkan oleh Gabriel, pria paling berkuasa di kota ini!"
Siska merangsek mendekat, mencengkeram lengan kemeja Hendra tanpa peduli kemarahan suaminya. "Justru karena itu, Mas! Amara itu anakmu! Dia punya darah dagingmu! Minta dia berlutut di depan suaminya agar penghentian investasi dan pembekuan rekening kita dibatalkan!"
"Kamu gila, Siska!" bentak Hendra melepaskan cengkeraman istrinya. "Kamu lupa bagaimana tatapan pria bernama Gabriel itu saat melihat kita? Sekali saja kita menginjakkan kaki di kediamannya atau mencoba mendekati Amara, pria itu tidak akan segan-segan menjebloskan kita ke penjara!"
"Aku tidak peduli!" tangis Siska pecah, matanya merah memancarkan keserakahan sekaligus ketakutan. "Aku tidak mau jatuh miskin! Dulu Amara nurut dan penurut sekali padamu. Kalau kamu pura-pura menangis dan minta maaf di depannya, dia pasti kasihan! Putri bodohmu itu sangat mudah tersentuh!"
Hendra mengepalkan tangannya rapat-rapat. Sorot matanya goyah antara rasa gengsi, ketakutan pada sosok Gabriel, dan bayang-bayang kehancuran finansial yang melingkupi mereka.
"Cari tahu di mana Amara berada sekarang," desis Hendra akhirnya, suaranya berubah dingin dan licik. "Tapi ingat, Siska... jangan sampai Gabriel tahu rencana ini sebelum kita berhasil menyentuh hati Amara."
Sementara di mansion mewah, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai kamar utama, memancarkan kehangatan yang menenangkan.
"Selamat pagi, Sayangku," sapa Gabriel yang melihat Amara bersembunyi di bawah selimut tebal. Pria itu menyunggingkan senyum manisnya, baru saja selesai mengenakan celana santai dan membiarkan dada bidangnya terbuka.
Gabriel melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. "Ada apa, Sayang? Kenapa bersembunyi, hm?" tanya Gabriel lembut seraya mengusap bagian selimut yang menutupi kepala istrinya.
"M-malu..." cicit suara pelan dan serak dari balik selimut.
Gabriel terkekeh renyah, usapan tangannya berpindah perlahan menarik pinggiran selimut itu hingga memamerkan wajah Amara yang merona merah padam sampai ke telinga.
"Malu? Untuk apa malu, Sayang? Aku sudah melihat semuanya tadi malam tubuhmu," goda Gabriel dengan suara baritonnya yang berat, matanya berbinar jenaka menatap kepolosan sang istri.
Pipi Amara seketika makin membara. Ia spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. "G-Gabriel... j-jangan diingat lagi..." rengek Amara terbata-bata, menyembunyikan rengekannya di balik telapak tangannya.
Gabriel tak bisa menahan rasa gemasnya lagi. Ia menunduk, mengikis jarak dan mengecup punggung tangan Amara yang masih menutupi wajah manis itu, lalu meregangkan jemari istrinya perlahan.
"Kenapa tidak boleh diingat? Tadi malam itu momen paling indah dalam hidupku, Amara," bisik Gabriel tulus, menyapukan ibu jarinya di pipi Amara yang terasa hangat. "Kamu sangat indah. Sangat sempurna."
Amara mengerjap pelan, memberanikan diri menatap mata hitam suaminya yang sarat akan cinta tanpa batas. Rasa canggung yang tadinya melingkupi perlahan sirna, berganti dengan rasa hangat yang meluap di dadanya.
"A-aku... t-tadi malam... s-sakit tidak, Gabriel?" tanyanya pelan sekali, memastikan dengan penuh kepolosan.
Gabriel tersenyum amat lembut, mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Amara cukup lama. "Aku kan sudah janji akan pelan-pelan, Sayang. Yang penting kamu nyaman dan tidak tersiksa."
Amara menyunggingkan senyum tipis yang sangat anggun. Ia memberanikan diri menarik tangan Gabriel dan menyandarkan pipinya di telapak tangan kokoh suaminya.
"T-terima kasih... G-Gabriel..." cicit Amara manis. "...k-karena selalu... p-pelan dan sabar padaku."
"Apapun untukmu, Ratu kecilku," balas Gabriel seraya menunduk, mendaratkan ciuman hangat di bibir Amara yang merona, menyambut pagi pertama mereka sebagai pasangan yang telah menyatu sepenuhnya.