Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - Dilema Sheyra
Sheyra duduk di kursi riasnya. Ia melihat dirinya dari pantulan cermin sambil mengoleskan blush on pink ke pipinya. Ia menggerakkan kuas make upnya dengan pelan dan lembut. Sesekali ia menambahkan warnanya ketika dirasa kurang.
“Cantik.” puji Sheyra kepada dirinya sendiri. Ia melihat ke arah handphonenya lalu mengetuk layarnya dua kali sehingga membuat layar handphone itu langsung menyala. Masih ada waktu sekitar 40 menit dari waktu janjiannya dengan Randy. Oleh karena itu Sheyra masih bisa bersantai sebentar.
Sheyra merapikan poninya dengan sisir. Ia juga sesekali merapikan rambut panjangnya agar terlihat rapih. Sentuhan terakhir, Sheyra memakai lipstik berwarna nude lalu ia ombre dengan warna pink di tengahnya. Sangat cantik.
Setelah selesai berdandan, Sheyra berdiri dari tempat duduknya. Ia memandangi seluruh tubuhnya di depan cermin. Sesekali ia berpose di sana, memutar tubuhnya ke samping dan ke belakang. Ia bergaya cukup centil sehingga membuat suasana hatinya bagus.
Sheyra mengambil tas yang tergantung di lemari. Setelah itu ia membereskan alat make upnya namun tiba-tiba terdengar suara panggilan telepon masuk sehingga membuat Sheyra menghentikan aktivitasnya seketika. Menyadari nama Alvaro tertera di layar handphonenya membuat Sheyra membelalakkan mata. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Alvaro meneleponnya? Apakah cowok itu tidak sengaja menekan telepon? Sheyra berpikir beberapa detik. Ia tidak langsung mengangkat telepon itu. Ia berpikir mungkin saja Alvaro sedang salah sambung.
Namun anehnya panggilan telepon itu tidak berhenti. Seolah Alvaro sedang menunggu Sheyra untuk mengangkatnya. Ada apa dengan Alvaro? Sheyra berpikir dalam kepalanya. Setelah itu Sheyra memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon itu.
“Halo? Al??” tanyanya memastikan. Ia masih berpikir mungkin Alvaro sedang salah sambung.
“Shey…” jawab Alvaro dari seberang sana.
Deg! Sheyra terdiam. Kenapa suara Alvaro terdengar lirih dan lemah? Apa yang terjadi dengan cowok itu?
Seketika kekhawatiran langsung memuncak dalam diri Sheyra. Ia takut Alvaro kenapa-kenapa. “Al?! Heyyy ada apa? Kamu kenapa? Gak ada apa-apa kan?” Sheyra menghujani Alvaro dengan banyak pertanyaan berharap rasa kekhawatirannya mendapatkan validasi dari Alvaro. Ia berharap Alvaro akan berkata bahwa ia baik-baik aja.
“Papa.. huhu kenapaaa? Hikss.”
Terdengar suara Lyra menangis pilu. Hati Sheyra terasa sakit. Ia tidak tega mendengar suara tangisan Lyra, gadis kecil yang sangat ia sayangi.
“Al.. jawab gue. Lo kenapa?!” seru Sheyra dengan suara yang bergetar.
Uhuk.. Suara Alvaro terbatuk. Dengan suara yang lemah dan bergetar Alvaro berkata, “Shey.. tolong bantu gue. Gue sakit. Badan gue lemes banget, pusing.. gue gak bisa jagain Ira hari ini.” Lalu ia terdiam sejenak dan kembali melanjutkan. “Gue minta tolong buat lo jagain Ira.. dia susah kenal dengan orang baru. Dia cuman deket sama lo.. gue bakal bayar berapapun yang lo minta. Hari ini aja, tolong...” pinta Alvaro terdengar memelas.
Sheyra diam mematung. Apa yang harus dia lakukan? Dia sangat mau menjaga Lyra. Tapi bagaimana janjinya dengan Randy? Bagaimana ini? Keputusan apa yang harus ia ambil?
“Kak Ei… huhu.. Papa..”
Sheyra mencengkeram bajunya saat mendengar tangisan Lyra. “Al.. lo harus pergi ke rumah sakit.” ucap Sheyra dengan suara bergetar.
“Hari ini aja tolong bantu gue Shey..”
Sheyra tidak langsung mengiyakan. “Bentar Al…” katanya sebelum ia menutup panggilan telepon. Sheyra terduduk di tempat tidurnya. Bagaimana ini? Ia harus bagaimana? Sheyra terus berpikir.
Sheyra segera menggeleng cepat. Ia harus mengambil keputusan dengan cepat. Alvaro ataupun Randy sama-sama menunggunya. Ia harus memilih salah satu di antara mereka.
Sheyra menghela nafas berat. Ia sudah mengambil keputusan. Keputusan yang ia rasa harus ia lakukan. Dengan berat hati Sheyra kembali menyalakan ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan yang ada di sana. Lalu mengetikkan kata “Maaf” disertai dengan alasannya. Sedetik kemudian Sheyra mengirimkan pesan itu.
Setelah pesan itu terkirim, Sheyra berlari bergegas keluar kamarnya. Ia akan berangkat menuju tempat yang akan ia tuju. Tempat di mana ia akan bertemu dengan seseorang yang sedang menunggunya.
***
“Ini bener neng alamatnya di sini?” tanya abang ojek online yang Sheyra pesan. Ia menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah dengan warna dominan putih.
Sheyra tampak berpikir, “Kalau di google maps sih bener Pak ini alamatnya.” katanya sambil memastikan kembali alamat yang ia tuju.
“Oke kalo gitu neng.”
Sheyra menyerahkan beberapa lembar uang kepada abang ojek. “Makasih banyak ya Pak.”
”Iya neng.” kata abang ojek itu sebelum ia pergi meninggalkan Sheyra.
Sheyra berdiri mematung di depan rumah yang terasa asing baginya. Rumahnya cukup besar dan terdiri dari dua lantai. “Semoga engga salah alamat.” gumam Sheyra pelan. Ia melihat kembali alamat yang dikirimkan di handphonenya. “Harusnya sih udah bener.” katanya meyakinkan diri.
Sheyra membuka pagar rumah tersebut lalu berjalan masuk ke dalamnya. Perkarangannya luas dan banyak tanaman hias di sana. Sheyra menoleh, lalu ia melihat sebuah mobil berwarna hitam yang sedang terparkir. Mobil yang tidak asing baginya. Ia langsung tersenyum karena menyadari bahwa ia tidak salah alamat. Alamat yang ia tuju sudah benar.
Ketika yakin alamatnya benar, Sheyra langsung berjalan cepat. Saat berada di depan pintu ia mengetuk pintu itu lalu menekan bel rumah. Sheyra memanggil nama pemilik rumah berkali-kali. Beberapa menit kemudian seorang pria bertubuh jangkung membukakan pintu. Wajahnya terlihat pucat sambil memegangi perutnya.
Seorang gadis kecil muncul dari balik tubuh pria tersebut. Melihat kedatangan Sheyra, gadis kecil itu langsung berlari dan memeluknya.
“Kak Ei!!” seru Lyra senang.
Sheyra membalas pelukan gadis kecil itu. Lalu ia menggendong Lyra dalam dekapannya. Ia memandang wajah Lyra yang terlihat sembab dan basah karena air mata. Sheyra mengusap air mata Lyra dengan lembut.
“Masuk Shey.” ucap Alvaro mempersilahkan.
Sheyra berjalan mengikuti Alvaro dari belakang. Ia menatap punggung pria itu. Terlihat rapuh dan lemas. Sheyra sedih melihatnya. Alvaro duduk di sofa yang kemudian diikuti oleh Sheyra.
“Makasih banyak ya Shey udah datang ke sini. Gue gak tau lagi gimana caranya gue berterima kasih ke lo.” Alvaro menatap Sheyra dengan mata yang berkaca-kaca.
Sheyra mengangguk, “Iya Al. Sekarang lo istirahat aja ya di kamar. Lyra biar sama gue.”
Alvaro tersenyum lemah, “Sekali lagi makasih Shey… Gue mau ke kamar dulu ya. Lo bebas mau ngapain aja di sini. Makanan banyak di kulkas. Toilet ada di dapur..” katanya.
“Iya Al. Yang penting lo istirahat dulu.” jawab Sheyra.
Alvaro mengangguk, lalu ia melihat ke arah Lyra. Menatap anaknya dengan tatapan yang dalam, “Ira gak boleh nakal ya. Harus jadi anak baik, okay?? Ira harus nurut sama Kak Shey. Harus dengerin kata Kak Shey.. Papa mau istirahat sebentar biar cepat sembuh. Ira ngerti??”
Mendengar nasehat Alvaro, Lyra langsung mengangguk cepat. “Iya Papa!!” seru Lyra. “Papa harus sembuh ya…” kata Lyra pelan.
“Iya sayang..” Alvaro membelai rambut Lyra dengan lembut kemudian ia berjalan menuju kamarnya meninggalkan Sheyra dan Lyra berdua di ruang keluarga.
^^^Bersambung…^^^