NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjualan Aset Atas Nama Laras

Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah kayu kontrakan yang retak terasa begitu menyilaukan dan menyakitkan bagi mata Bagas. Ia mengerang pelan, mencoba menggerakkan bahunya yang kaku karena harus menahan dinginnya lantai semen semalaman. Di sampingnya, Ibu Melati masih meringkuk seperti janin, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun akibat guratan kekhawatiran yang tak henti-hentinya mendera. Siska, yang tertidur di sudut lain, tampak menggigil hebat meski ia sudah menutup tubuhnya dengan kain tirai jendela yang ia copot paksa kemarin malam.

Suara dentuman keras dari arah pintu depan membuyarkan lamunan Bagas yang baru saja mulai terkumpul. Bagas tersentak bangun dengan jantung yang berdegup kencang, ia segera berdiri meski kepalanya terasa berdenyut pening. Ia melangkah tertatih menuju pintu kayu yang engselnya sudah mulai goyah, lalu membukanya dengan tangan gemetar. Di sana, sudah berdiri seorang pria berbadan tegap dengan seragam sekuriti dan seorang pria paruh baya berkacamata yang Bagas kenali sebagai perwakilan pemilik kontrakan.

"Bagas, ini sudah lewat jam tujuh pagi," ucap pria berkacamata itu dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan. "Sesuai dengan perjanjian kemarin, kamu sudah janji akan melunasi sewa bulan ini atau keluar dari sini hari ini juga. Mana uangnya?"

Bagas menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir. Ia menoleh ke arah ibunya yang kini sudah terbangun dan menatap mereka dengan tatapan memelas.

"Bisakah Bapak memberikan kami waktu satu hari lagi?" tanya Bagas dengan suara yang hampir tidak terdengar karena rasa malu yang membakar wajahnya. "Saya sedang berusaha mencari pekerjaan pagi ini, dan saya yakin akan ada penghasilan dalam waktu dekat."

Pria itu mendengus sinis, ia melipat tangannya di dada dan menatap Bagas dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan itu penuh dengan penghinaan, seolah sedang melihat hama yang harus segera dibasmi dari lingkungannya.

"Satu hari lagi? Kamu sudah bilang begitu sejak minggu lalu," balas pemilik kontrakan itu dengan nada suara yang meninggi, cukup keras untuk didengar oleh tetangga di sekitar. "Rumah ini sudah ada penyewa baru yang akan masuk siang ini. Cepat angkut barang-barangmu sekarang atau saya akan membuangnya ke tempat sampah di depan gang!"

Ibu Melati bangkit dengan susah payah, ia mencoba mendekat namun langkahnya terhuyung. Ia menarik ujung kemeja Bagas dengan tangan yang gemetar hebat, air mata mulai mengalir di pipinya yang kusam.

"Tolong, Pak, kami tidak punya tempat tujuan lain," rintik Ibu Melati sambil terisak pilu. "Berikan kami kasihan sedikit saja, anak saya baru saja mengalami musibah besar. Kami tidak mungkin tidur di jalanan."

Pemilik kontrakan itu tidak bergeming sedikit pun, hatinya sudah tertutup rapat oleh rasa kesal karena tunggakan yang menumpuk. Ia menunjuk ke arah jalanan dengan jari telunjuknya yang kaku.

"Ibu jangan bicara soal musibah kepada saya," sahut pria itu dengan ketus. "Masalah kalian bukan urusan saya. Saya cuma butuh uang sewa dan ketenangan, bukan drama orang kaya yang jatuh miskin di rumah saya."

Siska yang tadinya masih terbaring segera melompat bangun, wajahnya tampak merah padam karena marah dan frustrasi yang sudah sampai ke ubun-ubun. Ia berjalan mendekati pintu, menatap pemilik kontrakan itu dengan tatapan menantang yang justru membuat suasana semakin panas.

"Bapak jangan berani-berani membentak Ibu saya!" teriak Siska dengan nada melengking yang memekakkan telinga. "Kami bukan pengemis! Kami hanya sedang dalam masa transisi, dan kalau Bapak punya sedikit saja rasa kemanusiaan, Bapak harusnya mengerti situasi sulit ini!"

Pria pemilik kontrakan itu tertawa keras, tawa yang terdengar sangat meremehkan dan menyakitkan bagi harga diri Bagas. Ia kemudian memberi kode kepada sekuriti di belakangnya untuk segera masuk ke dalam kontrakan.

"Transisi kalian adalah kebangkrutan, bukan masa transisi," ucapnya dingin. "Sekuriti, tolong bantu mereka mengeluarkan sisa sampah yang ada di dalam sana agar rumah ini bisa segera dibersihkan."

Dua pria bertubuh kekar langsung merangsek masuk ke dalam ruangan sempit itu, membuat Bagas terpaksa mundur hingga punggungnya membentur tembok. Mereka mulai mengangkat tas-tas berisi pakaian kotor yang berserakan, lalu menyeretnya keluar ke arah jalanan berdebu di depan kontrakan.

"Jangan sentuh barang kami!" teriak Siska sambil mencoba menghalangi jalan salah satu sekuriti, namun ia justru didorong hingga terduduk kembali di lantai semen yang dingin.

Ibu Melati menjerit histeris melihat pakaian dan barang-barang tersisa miliknya dilempar keluar begitu saja ke tanah. Beberapa kain sutra yang dulu ia banggakan kini terkena noda tanah dan debu jalanan, terlihat sangat kontras dengan kemewahan yang dulu selalu ia pamerkan di depan para tetangga.

"Bagas, lakukan sesuatu!" teriak Ibu Melati sambil memukul-mukul dada Bagas dengan tangannya. "Kenapa kamu diam saja seperti orang bodoh saat harga diri kita diinjak-injak seperti ini?"

Bagas hanya berdiri mematung, matanya menatap kosong ke arah lantai. Ia merasa seolah jiwanya sudah mati sejak hari ia diusir dari rumahnya sendiri oleh Laras. Ia sadar bahwa melawan sekarang hanya akan membawa mereka ke kantor polisi, dan itu akan jauh lebih memalukan bagi status mereka yang dulunya terpandang.

"Sudahlah, Bu," bisik Bagas dengan nada yang sangat datar, nyaris tak beremosi. "Tidak ada gunanya kita melawan. Memang inilah tempat yang pantas bagi orang-orang seperti kita sekarang."

Siska mulai menangis meraung-raung, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, merasa dunianya benar-benar sudah berakhir. Tetangga sekitar mulai berkerumun, mereka menonton adegan pemindahan paksa itu dengan tatapan yang sulit diartikan, antara kasihan dan rasa puas melihat keangkuhan keluarga itu akhirnya runtuh sepenuhnya.

"Lihat, itu keluarga Bagas yang dulu sombong sekali," bisik salah seorang ibu-ibu di kerumunan. "Sekarang mereka diusir seperti kucing kurap. Benar-benar karma itu nyata, ya."

Bagas mendengar bisikan itu dengan jelas, namun ia tidak lagi memiliki tenaga untuk membela diri. Ia memunguti tas pakaiannya yang tergeletak di jalanan, merasakan beratnya kain yang sudah tak terurus itu di pundaknya.

"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Bagas kepada ibu dan adiknya tanpa menoleh lagi. "Kita cari tempat lain yang bisa menerima kita dengan sedikit uang yang tersisa di saku bajuku."

Ibu Melati berdiri dengan langkah yang tertatih-tatih, ia mengikuti Bagas dengan tatapan yang masih belum percaya dengan kenyataan pahit ini. Mereka berjalan meninggalkan kontrakan itu tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, sementara pemilik kontrakan sudah menutup pintu dan mengganti gemboknya dengan kasar.

Mereka bertiga melangkah di bawah terik matahari yang mulai memuncak, menyusuri trotoar kota yang ramai dengan orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Tidak ada yang peduli pada mereka, tidak ada yang menoleh untuk menawarkan bantuan, karena bagi dunia luar, Bagas dan keluarganya hanyalah sekumpulan orang asing yang tidak berarti.

"Kita mau ke mana, Kak?" tanya Siska dengan suara serak karena sisa tangisan. "Aku tidak mau tidur di kolong jembatan seperti gembel."

Bagas berhenti sejenak, ia menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan, tempat di mana ia dulu pernah bekerja dengan penuh kebanggaan dan kekuasaan. Ia memejamkan mata, membayangkan betapa bodohnya ia membuang segalanya demi sebuah keangkuhan yang semu.

"Aku tidak tahu," jawab Bagas pelan. "Mungkin ke terminal, atau ke mana saja asal kita tidak mati kelaparan malam ini."

Ia memimpin langkah, membawa ibu dan adiknya berjalan semakin jauh ke dalam pusat kota yang asing dan keras. Di belakang mereka, debu jalanan beterbangan, menutupi jejak mereka yang perlahan-lahan menghilang dari ingatan orang-orang yang pernah mereka hina sebelumnya. Bagas terus berjalan, memikul beban penyesalan yang jauh lebih berat daripada seluruh pakaian yang ia bawa di pundaknya saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!