NovelToon NovelToon
Si Kembar Genius Putra Om Presdir

Si Kembar Genius Putra Om Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:24.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.

Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.

Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.

Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.

Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.

Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Malam kian melarut saat mobil Edgar akhirnya memasuki pelataran Mansion Ganendra. Pria itu melangkah masuk dengan penampilan yang jauh dari kesan berwibawa,dimana dasinya sudah terlepas, kemeja putihnya kusut, dan sorot matanya redup diliputi rasa frustrasi.

Tuan Fernando yang duduk di kursi roda segera mengayuh roda kursinya mendekati sang putra. Matanya menyapu area belakang Edgar dengan bingung.

"Edgar... mana menantuku? Kok dia tidak bersamamu?" tanya Tuan Fernando penasaran.

Pertanyaan itu menjadi tetes terakhir yang meruntuhkan ketahanan Edgar. Tubuhnya yang tegap seketika ambruk. Edgar berlutut di lantai, menyandarkan kepalanya yang terasa berat di atas pangkuan sang ayah. Seumur hidupnya, Tuan Fernando belum pernah melihat putra tunggalnya yang gagah dan dingin itu berubah menjadi sosok yang serapuh ini.

"Kamu kenapa, Nak? Jelaskan sama Papahmu ini!" tanya Tuan Fernando lembut seraya mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang.

Edgar mendongak. Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes membasahi pipi. "Pah... aku tidak bisa menemukan Aruni... Dia... dia sedang mengandung anakku!"

"Apa?!" Tuan Fernando terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "Jadi... wanita itu hamil? Aku... aku akan jadi seorang kakek?!"

"Iya, Pah! Aruni mengandung darah dagingku... Tapi dia diusir oleh ayahnya dan sekarang pergi entah ke mana seolah ditelan bumi! Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi hasilnya nihil!" ratap Edgar dengan suara parau.

Di balik reputasinya sebagai pengusaha dingin dan tak tersentuh, Edgar sebenarnya memiliki hati yang peka dan penuh kasih. Sepanjang hidupnya, ia baru dua kali merasakan kepedihan kehilangan yang teramat sangat: pertama saat mendiang ibunya berpulang, dan kini saat ia kehilangan jejak Aruni beserta calon buah hati yang sangat dinantikannya.

Tuan Fernando memeluk erat kepala putranya, mencoba mengalirkan kekuatan. "Edgar, kita coba cari lagi Aruni! Papah yakin kita pasti bisa menemukannya. Bahkan sampai ke ujung dunia pun akan Papah cari! Jangan menyerah, Nak... ada Papah yang akan selalu ada bersamamu!"

*

*

Sementara itu, malam telah menyelimuti Desa Sukomakmur yang terletak asri di lereng Gunung Sumbing. Udara dingin pegunungan menyambut kedatangan Aruni dan Bik Sumi setelah menempuh perjalanan jauh dari ibu kota.

Di rumah kayu yang hangat milik Bik Sumi, hadir pula Larasati, putri Bik Sumi yang seusia Aruni bersama Bik Atun, adik Bik Sumi. Suasana canggung perlahan mencair saat mereka berkumpul di ruang tamu bersama Kompol Rama.

"Pak Polisi mau minum apa? Nanti saya buatkan!" ujar Bik Sumi ramah.

Laras, yang matanya sejak tadi tak lepas memperhatikan perwira polisi berbadan tegap itu, menyenggol lengan ibunya pelan.

"Bu, siapa polisi itu? Terus wanita itu siapa juga?" bisik Laras penasaran.

Bik Sumi menepuk pelan tangan putrinya. "Mereka kerabat Ibu dari kota. Sudah, kamu jangan kebanyakan tanya!"

Rama yang mendengar tawaran Bik Sumi merasa sungkan. "Ah, tidak usah repot-repot, Bu."

"Gak ngerepotin kok, Pak Polisi!" sahut Bik Sumi.

"Jangan panggil Pak Polisi, panggil Rama saja, Bu," ujar Rama menyunggingkan senyum hangat.

"Ya sudah Nak Rama, kalau begitu Ibu siapkan minuman dulu ya buat kalian. Ayo Laras, bantu Ibu di dapur!" ajak Bik Sumi.

"Siap, Bu!" jawab Laras cepat. Sebelum berbalik, gadis desa itu sempat melirik malu-malu ke arah Rama.

Rama membalas lirikan itu sekilas, lalu menggelengkan kepalanya saat Laras setengah berlari ke dapur. "Ck... dasar bocil," bisik Rama terkekeh pelan.

Suasana kembali hening. Aruni terduduk diam, merasa sedikit canggung sendirian di dekat Rama. Menyadari hal itu, Rama memulai percakapan dengan nada bicara yang santai namun terarah.

"Kebetulan aku ada properti di daerah sini, Runi. Aku punya vila dekat kampung ini. Kalau kau mau, kau bisa menempatinya. Kau tenang saja, vila itu sangat aman untuk dihuni," tawar Rama.

"Tidak usah, Kak... Aruni sudah banyak merepotkan Kakak," tolak Aruni halus.

Rama menatap Aruni dengan raut wajah serius. "Runi, ingat... namamu sekarang adalah Seruni. Jangan sampai kau salah ucap. Nanti saat Bik Sumi memperkenalkan identitas barumu kepada RT dan instansi desa ini, kau harus menunjukkan identitas barumu yang sekarang."

Rama merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebuah ponsel pintar baru ke hadapan Aruni.

"Dan ini ponsel untukmu untuk berkomunikasi denganku dan Rena. Di dalamnya sudah ada identitas digital milikmu yang baru. Nanti saat mereka menanyakannya, kau tunjukkan saja ini pada mereka," tambah Rama.

Aruni menerima ponsel tersebut dengan ragu. Dalam hatinya, ia merasa terkejut luar biasa. Bagaimana bisa seorang polisi intel seperti Rama mengubah seluruh data kependudukannya menjadi identitas baru bernama Seruni hanya dalam hitungan jam? Bagi rakyat biasa, mengurus dokumen administrasi butuh waktu berhari-hari. Namun di tangan Rama, semuanya begitu cepat dan rapi, seolah identitas Aruni yang lama telah menguap tanpa sisa.

Usai menyeruput kopi hitam hangat dan menikmati camilan tiwul serta singkong goreng khas Desa Sukomakmur, Rama bangkit dari duduknya. Hari makin larut, dan ia memutuskan untuk menginap di vila nya yang terletak tak jauh dari perbatasan desa sebelum kembali ke Jakarta keesokan harinya.

"Bu, Runi, aku pamit ke vila dulu ya. Besok pagi-pagi sekali aku harus kembali ke Jakarta," pamit Rama ramah.

"Iya, Nak Rama. Hati-hati di jalan, terima kasih banyak sudah mengantar kami," balas Bik Sumi penuh rasa syukur.

Rama melangkah keluar menembus dinginnya malam pegunungan. Namun, di setiap pijakan langkahnya menuju mobil, ada rasa khawatir yang bergelayut erat di dada. Sebagai seorang perwira, rasa tanggung jawab untuk melindungi Aruni mendadak menyerupai naluri seorang kakak, meski di antara mereka tak mengalir darah yang sama.

Saat menyetir menyusuri jalanan desa yang sepi, Rama menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan yang menghadap lembah. Ia menyandarkan kepalanya pada kemudi, menatap kosong ke kegelapan malam.

"Kasihan sekali Aruni... Maafkan aku, Aruni, karena aku harus memakai nama Seruni untuk kau gunakan," gumam Rama lirih dengan suara parau.

Tatapan matanya menerawang jauh ke masa lalu, teringat pada sosok pemilik asli nama tersebut.

"Dan... Seruni, maafkan aku karena identitasmu kuberikan pada Aruni. Semoga kau tenang di alam sana... Aku sangat merindukanmu," bisik Rama, menahan sesak di dadanya.

Seruni yang asli adalah kekasihnya Rama, ia seorang gadis sebatang kara yang tumbuh di panti asuhan. Hidupnya sejak kecil penuh derita, hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir akibat leukemia stadium lanjut yang tak tertolong. Rahasia tentang Seruni ini tersimpan rapat oleh Rama, bahkan Rena, adik kandungnya sendiri, tidak pernah tahu akan keberadaan wanita yang pernah mengisi hati sang kakak.

Sementara itu, di rumah sederhana milik Bik Sumi, Aruni merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur berpasang kayu ukuran satu orang. Kamar itu memang tidak luas dan berdinding papan, namun kehangatan serta rasa aman yang terpancar di rumah ini jauh melebihi kemewahan rumah ayahnya yang penuh kepalsuan.

Malam itu, Bik Sumi tertidur lelap di kamarnya, sementara Bik Atun sudah kembali ke rumahnya yang berjarak beberapa meter. Laras pun sudah mendengkur halus di kamarnya. Aruni mengelus perutnya pelan sebelum akhirnya tertidur nyenyak.

Keesokan paginya, kekhawatiran Rama terbukti. Sekitar pukul delapan pagi, Ketua RT setempat bersama Ketua Karang Taruna mendatangi rumah Bik Sumi untuk mendata warga baru yang datang semalam.

"Selamat pagi, Bu Sumi. Kami cuma mau mendata kepindahan keluarga Bu Sumi yang baru datang dari kota semalam," ujar Pak RT sopan namun tegas.

Aruni melangkah keluar dengan tenang. Dengan jemari yang mantap, ia menunjukkan dokumen identitas kependudukan digital yang tersimpan di dalam ponsel pemberian Rama.

Ketua RT mencermati layar ponsel itu sejenak, lalu mengangguk puas. "Oh, baik Mbak Seruni. Semuanya lengkap dan terdaftar secara sah di sistem. Terima kasih atas kerjasamanya, ya. Selamat datang di Desa Sukomakmur."

Setelah para pengurus desa berpamitan pulang, Aruni menarik napas lega. Ia menggenggam erat ponsel itu di dadanya.

‘Terima kasih, Kak Rama... Akhirnya aku bisa terselamatkan!’ batin Aruni mengucap syukur tiada tara.

*

*

Di belahan tempat lain, suasana kantin Universitas Airlangga mendadak senyap dan penuh ketegangan.

Dugaan Kompol Rama kemarin terbukti tepat seratus persen. Pagi ini, Edgar Ganendra sudah berdiri anggun namun mengintimidasi di tengah kantin. Kehadiran konglomerat muda yang wajahnya kerap berseliweran di media sosial dan berita bisnis itu langsung menyedot perhatian ribuan mata mahasiswi yang berbisik-bisik kagum.

Namun, di sudut meja kantin, Rena justru merasa kiamat telah datang lebih awal.

Edgar melangkah dingin dan langsung duduk tepat di kursi hadapan Rena. Tatapan matanya tajam, dan sanggup membekukan darah siapa pun yang memandangnya. Asisten Harry berdiri tegap di samping Edgar dengan berkas di tangannya.

Rena meremas ujung roknya di bawah meja. Tubuhnya menggigil hebat, peluh dingin bertetesan di pelipisnya.

‘Duh, mampus gue! Mesti ngomong apa ini?!’ jerit Rena panik setengah mati dalam hati. Matanya menatap ketakutan pada figur pria raksasa berkuasa di depannya. ‘Kak Rama tolong aku... hueeee!’

Bersambung...

1
Lucy
lanjut thor🤭😀😀Rayyan dan zayyan cepat satukan ibu dan ayahmu😀
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Sri Rahayu
Aldo sama Dona...tumbu ketemu tutup klop sama2 jahat....hati2 Aruni
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: harus klop kak, pemeran antagonis harus dapat yang sepadan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
Laras ayo saingan sm aku buat dapatin Rama 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, gak jadi saingan sama aku, Nih 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
profil poto keluarga edgar dan sikmbr bagus cakep kak eli👍🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih akak 😘😘😘
total 1 replies
fatmawati (pipit)
rayyan dan zayyan cepat bantu ayah kmu untuk membongkar kejahatan paman david dan juga antek anteknya serta membongkar kejahatan ibu tiri dari aruni
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 🤗
total 1 replies
fatmawati (pipit)
tinggal anak cewek yg belum ada🤣🤣🤣🤣🤣
fatmawati (pipit): ditunggu tapi setelah membongkar kejahatan paman david, serta antek anteknya dan juga ibu tiri aruni
total 2 replies
Ilfa Yarni
Edgar itu pamanmu udah kembali lho km udah tau kan kebusukannya ayo singkitkan dia Dr kehidupan mu dan kluarga kecilmu
Oma Gavin
semoga segera dibongkar itu kelicikan david dan aldo dua serangkai yg tabiat nya sama" lucknut
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip Oma 🤗
total 1 replies
Ariany Sudjana
happy holiday Edgar dan keluarga 😄
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Grin/
total 1 replies
Lucy
si kembar bisa ja menggoda ayahnya🤣🤣lanjutkan Rayyan dan zayyan biar ayahmu cepat ungkapkan rasanya agar kalian kumpul sekeluarga 🤣🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 🤭
total 1 replies
fatmawati (pipit)
rayyan dan zayyan pinter buat ayahmu salting 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 dekatkan ayahmu dengan bundamu agar bersatu menjadi keluarga lalu membongkar kejahatan paman david dan ibu tiri aruni
fatmawati (pipit): sip lanjut kan🤭🤭🤭
total 2 replies
Ilfa Yarni
a to Edgar km pria sunset mask menaklikan satu perempuanaja ga bisa Ayo semangat searching dibah google jg boleh cari cara menaklukan hati perempuan
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: oalah, bener Bun 🤣🤣🤣
total 1 replies
Sri Rahayu
tentu kangen lah ayah pd bunda kalian...palagi semaleman memeluk bunda nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm/🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
tuh Rama, ada Larasati yang menyukai kamu, tapi kamu bodohnya berharap jadi suami Aruni ....mimpi, kamu itu hanya dianggap kakak sama Aruni, sedangkan Edgar sudah jelas papa kandungnya si kembar
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
Edgar semangat yah berjuang supaya Aruni bisa membuka hatinya lagi, karena si kembar butuh kehadiran papa kandungnya. dan juga minta si kembar menyelidiki asal trauma Aruni dan hancurkan penyebab trauma Aruni itu
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: semangat selalu 🤗
total 1 replies
Nar Sih
hubungan edgar dan putra kembar nya semakin lengket semoga sja dgn aruni juga begitu☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin 😊
total 1 replies
depoll_poll aje 😉😉😉
teruskan twins goda ayah n bunda mu biar salah tingkah.. wkwkwk
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk 😊
total 1 replies
Sri Rahayu
yauda cepetan nikahi Aruni biar kamu bisa menjaga dan melindungi Aruni da anak2 kalian...lanjut Thorr😘😘😘
dyah EkaPratiwi
🤣🤣🤣 sabar edgar
Nar Sih
segra lamar aruni edgar biar sgra sah jdi kmu gk tersiksa☺️
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: bener kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!