Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IDENTITAS ALUNA
Hujan sudah mereda, Hanya ada cuma suara serangga malam. Arya menatap Seno yang terlihat duduk di ujung kursi tua yang berada tak jauh darinya dan Aluna. Arya tak mengerti, Dengan sifat diam Seno. Pria itu terlihat termenung. " Apa dia baik-baik saja?" Tanya Seno, Arya menatap Aluna yang sudah kembali tertidur dengan nafas teratur.
Beberapa menit yang lalu, Seno terlihat berubah pikiran. Pemuda itu memerintahkan para bawahannya untuk menurunkan senjata, menyalakan api unggun dengan tungku yang lebih hangat, Dan menyediakan selimut.
"Apa Aluna juga berasal dari Dariyan?" Arya menatapnya tajam. "Tentu saja, Kami orang dariyan." Jawab Arya dengan sarkas. Ia tak suka melihat Seno menatap istrinya dengan tatapan yang dalam seperti itu.
"Kau sudah tahu identitas kami, Sekarang bunuh aku saja. Dan lepaskan Aluna. Aku tidak akan melawan." Ucap Arya dengan dingin. Seno berdiri dengan wajah datar, Tatapannya masih menatap Aluna, "Aku tidak akan menangkap kalian. Sebelum aku mengetahui identitas asli gadis itu." Jawabnya, Arya mengerutkan keningnya.
"Mengapa?" Pangeran Seno menatapnya dengan sendu. "Karna Aluna mirip dengan bibiku. Sebelum aku tahu siapa dirinya, Aku akan menahan kalian sementara waktu." Ucap Seno, Arya ingin protes tetapi para prajurit itu dengan sigap mengarahkan pedangnya.
"Hanya 1 Minggu, setelah itu. Jika Aluna memang tidak ada hubungannya dengan bibi, Maka kau akan aku tangkap. Sedangkan Aluna, Akan aku kirim dia ke perbatasan. Agar ia bisa pergi dari sini." Ucap Seno, Mendengar hal itu, Arya terdiam. Untuk sementara hanya ini yang bisa ia terima, Karna pangeran Arnold pasti tak akan tinggal diam karna sudah mengetahui identitas mereka. Ia hanya berharap bahwa Aluna akan tetap aman.
"Yang mulia, Jika kaisar tahu. Posisi anda bisa dalam bahaya." Bisik Arman, Seno tersenyum tipis. "Tenang saja, Jika Aluna benar berhubungan dengan bibi, Maka ayah akan merasa bangga padaku." Ucapnya.
Tepat malam itu juga, Arya menerima tawaran pangeran Seno. Ia ikut menaiki sebuah kereta kuda berlambang Singa biru. Lambang khas kerajaan Xuan. Meskipun cukup berbahaya menerima permintaan pangeran Seno. Tetapi ini lebih baik, Dari pada terus di buru. Di bawah perlindungan putra mahkota. Mungkin akan lebih aman untuk Aluna.
"Eumm Arya, Kita mau kemana?" Aluna terbangun di dalam kereta kuda, matanya menyipit memastikan indra penglihatannya. "Kita akan pergi ke kediaman putra mahkota. Pangeran Seno." Jawab Arya. "Apa!" Kaget Aluna.
***
Hujan berhenti sejenak, Kereta kuda itu berhenti tepat di depan gerbang kokoh kediaman putra mahkota kerajaan Xuan. Seno turun dari kudanya dengan senyap. Seolah sedang membawa sesuatu yang membahayakan.
Aluna dan Arya turun mengikuti pangeran Seno dengan jubah penutup tubuh, Mereka pergi mengarah pada paviliun paling ujung kediaman putra mahkota.
Paviliun itu di kelilingi oleh bambu. Lampunya sedikit redup. Seno menahan nafasnya menatap paviliun tua itu, Nafasnya berat seolah menyimpan sebuah beban.
Pintu kebuka.
Menampilkan ruangan kosong dengan perabotan tua yang cukup usang, Tatapan Seno menjadi sendu.
"Masuk." Perintah Seno.
Arya menggendong Aluna yang masih terlihat bingung, Di dalam terasa hangat. Ada tungku penghangat, Ada kasur empuk. Ada baju ganti.
"Untuk sementara, kalian tidur di sini saja." Ucap Seno, Arya menurunkan Aluna. Gadis itu terlihat bingung. Tetapi cukup merasa familiar. Seno duduk di sebuah kursi, Lalu menuangkan teh yang telah di siapkan oleh pelayan. Menghirupnya dengan tenang.
"Ini tempat bibiku tinggal, Semua barang-barang ini miliknya." Ucap Seno, Arya masih menatapnya datar.
Aluna melepaskan jubahnya perlahan. Matanya menyapu seluruh ruangan. Debu tipis menempel di sudut-sudut meja, tapi semuanya tertata rapi. Seperti seseorang sengaja merawatnya, tapi tidak pernah ditempati lagi.
"Tempat bibinya?" Aluna berbisik.
Seno mengangguk tanpa menatapnya. "Bibi Selina. Adik dari ibuku. Dia menghilang 18 tahun lalu."
Arya langsung menarik Aluna lebih dekat ke belakang tubuhnya. "Jadi kau mengurung kami di tempat orang hilang?"
"Bukan mengurung," Seno menaruh cangkir tehnya. Suaranya tetap datar. "Melindungi. Paviliun ini tidak pernah dimasuki siapa pun selain aku. Bahkan Arman tidak berani masuk tanpa izinku. Kaisar pun melarang siapa pun menyebut namanya lagi."
Aluna melangkah pelan ke meja rias tua di sudut. Di atasnya ada sisir kayu yang gagangnya sudah retak, kotak bedak yang kosong, dan sebuah cermin perunggu yang buram.
Tangannya bergetar saat menyentuh sisir itu.
Entah kenapa... rasanya familiar. Aroma kayu cendana yang samar dari lemari. Wangi yang ia ingat dari mimpi-mimpi kecilnya dulu, saat ia masih di Dariyan dan sering demam di pelukan sang ibu.
"Aluna?" Arya memanggil pelan.
Aluna membuka laci meja rias itu. Di dalamnya hanya ada satu benda. Selembar kain kecil yang sudah menguning, dengan sulaman bunga lili putih. Sulaman yang sangat berantakan, seperti dibuat oleh anak kecil.
Jantung Aluna berdegup kencang.
"Bunga ini..." bisiknya, "Ibu pernah mengajarkanku sulam ini. Katanya... ini lambang keluarga ibuku. Tapi ibu bilang dia tidak punya keluarga lagi."
Seno yang sedari tadi diam, tiba-tiba berdiri. Matanya membesar menatap kain itu.
"Itu," suaranya akhirnya pecah, tidak lagi datar. "Itu sulaman bibi. Dia tidak pernah bisa menyulam rapi. Ibu Suri selalu memarahinya karena itu."
Suasana paviliun itu langsung sunyi. Hanya suara tungku yang berderak pelan. Arya menatap Seno tajam. "Apa maksudmu?"
Seno berjalan mendekat, tapi berhenti dua langkah di depan Aluna. Ia berlutut, agar sejajar dengan gadis itu. Untuk pertama kalinya, Arya melihat sorot mata pangeran Xuan yang terkenal kejam itu... berkaca-kaca.
"Bibi Selina kabur dari istana karena dia hamil," ucap Seno pelan, seperti mengakui sebuah dosa. "Dia jatuh cinta pada seorang prajurit dari Dariyan. Kaisar marah besar. Dia bilang dia akan menghapus nama bibi dari silsilah keluarga, Sejak malam hujan delapan belas tahun lalu, bibi pergi dan tidak pernah kembali. Kami semua mengira dia sudah mati di perbatasan."
Aluna memegang kain itu erat. Napasnya sesak.
"Ibuku... ibuku meninggal tahun lalu," suaranya pecah. "Sebelum meninggal, dia bilang... Aku harus menjaga diriku, Dan ibu tak pernah bilang soal keluarga dan kerabatnya, Dia hanya bilang bahwa aku orang desa."
Seno tersenyum. Rasa hangat yang aneh menjalar di hatinya. Tangannya bergerak mengusap lembut surai hitam Aluna.
"Jadi benar," bisik Seno. "Kau... kau anak bibi Selina. Kau sepupuku." Arya membeku. Tangannya yang menggenggam bahu Aluna mengeras.
Aluna menatap Arya, lalu menatap Seno. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
Di luar paviliun bambu, hujan kembali turun. Tapi di dalam paviliun tua yang sudah lama kosong itu, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, tungkunya menyala lagi. Dan ada isak tangis kecil yang akhirnya pulang.
Seno berdiri. Ia menatap Arman yang menunggu di depan pintu.
"Arman," perintahnya, suaranya kembali tegas sebagai putra mahkota. "Mulai malam ini, tidak ada satu prajurit Xuan pun yang boleh mendekati paviliun bambu tanpa izinku. Siapkan tabib terbaik. Dan katakan pada dapur istana... masak sup jahe. Yang banyak."
Arman mengangguk bingung, tapi patuh.
Arya masih belum percaya. "Kau... kau tidak akan menyerahkan kami ke Kaisar xuan?" Seno menatapnya, lalu menatap Aluna yang masih menggenggam sulaman lili putih itu.
"Aku berjanji pada bibiku dulu," jawab Seno pelan. "Jika dia punya anak perempuan, aku akan menjaganya. Sekarang aku menepati janjiku. Kau boleh membenciku, pangeran Arya dari Dariyan. Tapi Aluna... dia harus tinggal di sini. Di rumah ibunya."
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏