SQUEL "GAIRAH SANG CASANOVA"
SERI KETIGA.
Karena perebutan harta dan kekuasaan, Cyara Pavita Ramsey harus menerima penderitaan. Di saat bersamaan, dia harus melihat sang ayah terbaring koma di rumah sakit, akibat dendam dari pamannya sendiri.
Namun, secercah harapan hadir begitu saja. Pertemuan tanpa kesengajaan antara dirinya dengan dokter tampan—pemilik rumah sakit—membawa dirinya terjerat dengan pria bermata tajam itu.
Follow Ig @nitamelia05
Salam Anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demam
Saat itu, De masuk ke dalam rumah sakit. Namun, langkahnya langsung dicegat oleh Candra yang berjalan tergopoh-gopoh. Pria muda itu langsung menahan De dengan berdiri dan nafas yang terengah-engah.
"Dokter De," panggil Candra sambil mengatur nafasnya yang menderu tak biasa. De mengernyitkan dahi, menatap Candra yang terlihat sangat cemas.
"Kenapa, Can?" tanya De dengan kepala yang sedikit miring.
Candra menghembuskan nafas kasar. Lalu mengangkat kepalanya, wajah pria itu sudah diselimuti rasa gelisah. "Dokter De, Cia sepertinya sakit. Dia tidak mau membuka pintu dan tak menjawab apapun. Saya takut dia pingsan di dalam."
Mendengar itu, kelopak mata De langsung terbelalak lebar. Tanpa berkata apapun De langsung berlari ke arah ruangan di mana Cyara berada. Dia teringat akan dua pria yang mengejar Cyara, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada gadis cantik itu?
Laju kaki De terasa sangat cepat, hingga dengan mudah dia sampai di depan ruangan Cyara. De mencoba mengetuknya, tetapi tak bisa dipungkiri gerakannya terlihat tak sabaran.
Tok Tok Tok
"Kudek, apa kamu di dalam?" tanya De, mencoba untuk memastikan Cyara menjawab atau tidak pertanyaannya. Namun, sampai beberapa saat, tidak ada suara apapun dari dalam sana.
Perasaan De tak kalah cemasnya. Hingga dia mendengar sebuah lenguhan kesakitan. De tak tak dapat lagi menahan tubuhnya yang sudah ingin mendorong pintu. Dengan tenaganya De mendobrak ruangan tersebut, dengan mata kepalanya sendiri, De melihat Cyara yang menggigil kedinginan.
"Kudek," panggil De seraya menjatuhkan tubuhnya di samping Cyara. Bibir gadis itu sangat pucat dan mata yang terpejam kuat.
De hendak menyentuh kening Cyara, tetapi dia malah tak fokus dengan penampilan gadis itu saat tidur. Dengan wajah yang sedikit berpaling, De menutup dada Cyara yang menyembul sedikit ujungnya menggunakan selimut.
Lantas setelah itu, dia memeriksa suhu tubuh Cyara. Seperti tersengat, De merasakan panas yang luar biasa menyapa telapak tangannya.
"Can, kita tidak bisa biarkan di sini. Suhu tubuhnya panas sekali, sepertinya dia demam dari semalam," ucap De, lalu mencoba mengangkat tubuh Cyara. "Cepat ambil brankar!" Titahnya, lalu Candra langsung mengangguk patuh dan berlalu dari sana.
Suasana pagi itu cukup menghebohkan sebab De terlihat khawatir sekali, bahkan dia yang langsung turun tangan untuk mengatasi gadis cleaning servis itu.
"Daddy," lirih Cyara dengan suara yang begitu lemah. Mata dan hidungnya terasa sangat panas, dengan nafas yang memberat.
"Hah, kenapa kamu bisa sakit begini sih?" gerutu De di sela langkahnya membawa Cyara keluar dari ruangan tersebut. Hingga akhirnya Candra datang membawa brankar lengkap dengan satu perawat di sampingnya.
"Daddy, Cia mau ketemu Daddy," rancau gadis cantik itu dengan menggigil. De langsung merebahkan tubuh Cyara di atas brankar, tetapi saat dia ingin mendorongnya tangan Cyara menggenggam erat lengannya.
Gadis itu menggeleng dengan lelehan air mata yang terasa panas. "Jangan tinggalin Cia, Cia takut, Dad. Jangan tinggalin Cia." Ucap Cyara berulang kali dengan nada memohon.
De memerhatikan wajah Cyara yang berkerut penuh ketakutan. Lalu dia membiarkan Cyara menggenggam tangannya. "Aku tidak akan pergi." Ucap pria itu meyakinkan Cyara, bahwa gadis itu tidak akan pernah sendiri.
Pemandangan itu tak lepas dari tatapan mata Candra. Dia mulai bisa menangkap kedekatan di antara keduanya. Lalu setelah itu mereka sama-sama mendorong brankar dan membawa Cyara untuk diperiksa.
Candra keluar dari ruangan untuk menunggu hasilnya. Sementara De melakukan serangkaian pemeriksaan. De meminta perawat untuk memasangkan jarum infus pada tubuh Cyara, agar gadis itu tidak terlalu lemas.
"Jangan lupa juga nanti beri dia sarapan, aku akan menuliskan resep untuknya," ucap De sambil terus memperhatikan wajah Cyara yang diliputi rasa gundah. Perawat itu mengangguk patuh dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Kini di tangan gadis itu tertancap jarum infus, Cyara kembali melenguh dengan mata yang samar-samar terbuka. Dia kembali terisak-isak. "Daddy, jangan tinggalin Cia, Dad. Cia takut di sini."
Mendengar itu, De semakin mendekat ke arah pembaringan Cyara. Tangan pria itu kembali bergerak ragu, hingga akhirnya sentuhan lembut menyapa puncak kepala Cyara.
"Beristirahatlah, setelah ini kamu harus minum obat. Jangan jadi gadis yang cengeng, aku tahu kamu tidak begitu, karena kamu itu gadis menyebalkan," ucap De, entah didengar atau tidak oleh Cyara yang masih setengah sadar.
De semakin menarik selimut Cyara hingga ke atas leher. Lalu kembali menoleh ke belakang di mana perawatnya berada. De terlihat kikuk sendiri untuk bicara, tetapi kalau tidak yang ada Candra pun akan menyadarinya.
"Eee, kamu nanti tolong gantikan baju dia yah. Jangan lupa juga pakaikan apa yang semestinya dipakai," ucap De merasa malu sendiri. Sebab sang perawat terlihat menahan senyum.
Tak ingin semakin malu, akhirnya De pamit undur diri dan melangkah menuju ruangannya. Dia tidak mau semua orang menyadari telinganya yang memerah.