NovelToon NovelToon
Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Tang Clan : Blood Poison Sovereign

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:378
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.

Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4. Perjalanan ke Gunung Hua

Tiga bulan setelah ujian di Lembah Kabut Ungu berlalu dengan sangat cepat bagi Tang Hyun, karena menjadi murid dalam Klan Tang tidak membuatnya hidup lebih mudah, justru sebaliknya, hidupnya menjadi neraka yang lebih terstruktur, di mana setiap pagi dia harus menghafal seratus resep racun baru, setiap siang dia harus berlatih melempar jarum dengan kecepatan yang bahkan mata manusia tidak bisa mengikuti, dan setiap malam dia harus menelan pil racun yang dosisnya selalu ditingkatkan sedikit demi sedikit sampai tubuhnya hampir terbiasa menganggap rasa terbakar di dalam perut sebagai hal yang normal.

Namun semua penderitaan itu terasa sepadan ketika pada suatu pagi, Tetua Ketiga memanggilnya ke aula utama dan dengan suara datar yang sama seperti biasanya mengumumkan bahwa rombongan Klan Tang akan berangkat ke Gunung Hua dalam waktu tiga hari untuk menghadiri Turnamen Besar Aliansi Murim, sebuah acara yang diadakan setiap lima tahun sekali dan mempertemukan semua sekte ortodoks, sekte netral, bahkan beberapa sekte iblis yang diberi izin khusus, untuk memperebutkan kehormatan dan juga untuk menunjukkan siapa yang paling kuat di generasi muda saat ini.

"Ini bukan perjalanan untuk bersenang-senang," kata Tetua Ketiga sambil menatap Tang Hyun dan enam murid dalam lainnya yang berdiri di aula, "ini adalah perang tanpa darah, dan jika kalian mempermalukan nama Klan Tang, maka lebih baik kalian mati di jalan daripada kembali ke Sichuan."

Di antara enam murid dalam itu, ada satu orang yang membuat dada Tang Hyun berdegup lebih kencang dari biasanya, dan orang itu adalah Tang So-yeon, yang berdiri di posisi paling depan dengan gaun ungu gelapnya yang disulam benang perak berbentuk bunga plum, wajahnya tetap sedingin biasanya, tetapi auranya jauh lebih berbahaya sekarang, karena selama tiga bulan terakhir ini dia sudah naik ke tahap puncak Alam Kondensasi Racun, sebuah tahap yang bahkan banyak Tetua belum capai di usia tiga puluh tahun.

Perjalanan dari Sichuan ke Gunung Hua memakan waktu hampir dua puluh hari, dan Klan Tang melakukan perjalanan dengan kereta kuda hitam yang dilapisi lambang bunga plum, dikawal oleh dua puluh murid luar dan dipimpin langsung oleh Tetua Kedua, seorang wanita tua yang wajahnya selalu ditutupi kerudung dan yang katanya bisa membunuh seseorang hanya dengan bersin.

Selama perjalanan, Tang Hyun hampir tidak pernah berbicara dengan siapa pun, karena murid dalam lainnya sudah membentuk kelompok mereka sendiri sejak lama, dan dia adalah orang baru yang datang dari murid luar, sehingga meskipun tidak ada yang berani mengganggunya secara terang-terangan karena semua orang tahu dia adalah murid Tetua Ketiga, tetap saja tidak ada yang mau duduk semeja dengannya saat makan malam.

Kecuali satu orang.

Tang Ling, gadis yang dulu pernah memberinya semangkuk sup di asrama murid luar, sekarang juga sudah menjadi murid dalam, dan entah karena kasihan atau karena alasan lain, dia sering datang ke gerbong Tang Hyun di malam hari untuk mengobrol sebentar, membawakan teh hangat dan sesekali bertanya bagaimana latihannya.

"Kau gugup?" tanya Tang Ling pada malam kesepuluh, ketika kereta mereka berhenti di sebuah kota kecil untuk beristirahat.

Tang Hyun menggeleng, "Aku tidak takut mati."

"Aku tidak bertanya itu," Tang Ling terkekeh pelan, "maksudku, kau gugup karena akan bertemu banyak orang dari sekte lain? Katanya Tiga Bunga juga akan datang."

Tang Hyun terdiam, dan tangannya yang sedang memegang cangkir teh berhenti di tengah jalan, karena nama itu saja sudah cukup untuk membuat jantungnya bergetar, Baek Seolhwa dari Emei, Nangong Yeon dari Klan Nangong, dan Tang So-yeon yang sekarang duduk tidak jauh darinya di gerbong sebelah.

"Aku hanya ingin melihat seberapa jauh aku sudah berjalan," jawabnya akhirnya, dan itu adalah kalimat paling panjang yang dia ucapkan sepanjang hari itu.

Hari kelima belas, rombongan mereka melewati perbatasan antara wilayah Klan Tang dan wilayah Aliansi Murim, dan di sana suasana langsung berubah, karena jalanan menjadi lebih ramai, banyak pedagang, banyak pendekar, dan banyak spanduk dari berbagai sekte yang berkibar di sepanjang jalan menuju Gunung Hua.

Di sebuah kedai teh, Tang Hyun tanpa sengaja melihat sekelompok murid Gunung Hua berlatih di halaman, gerakan pedang mereka cepat dan bersih, dan di tengah mereka ada seorang pemuda tampan dengan jubah biru yang tertawa sambil mengajari juniornya, dan pemuda itu adalah salah satu kandidat terkuat untuk menjadi murid utama Gunung Hua dalam sepuluh tahun ke depan.

"Jangan menatap terlalu lama," bisik Tang Ling, "orang Gunung Hua benci Klan Tang. Mereka bilang kita pengecut karena pakai racun."

Tang Hyun hanya mengangguk, karena dia sudah terbiasa dibenci, dan kebencian tidak akan membunuhnya, tetapi kelemahan pasti akan membunuhnya.

Malam sebelum mereka sampai di kaki Gunung Hua, terjadi insiden kecil yang hampir memicu perang, ketika beberapa murid dari Sekte Iblis Darah mencoba merampok gerbong logistik Klan Tang di tengah hutan, mungkin karena mereka mengira Klan Tang membawa banyak emas dan pil mahal.

Pertarungan hanya berlangsung kurang dari satu menit, karena Tang So-yeon keluar dari gerbongnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dan dengan sekali kibasan lengan, kabut ungu keluar dari kantong di pinggangnya dan menyebar ke seluruh area, dan ketika kabut itu menghilang, semua perampok sudah tergeletak di tanah dengan wajah membiru dan mulut berbusa.

Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang memohon ampun, karena racun Klan Tang bekerja terlalu cepat untuk itu.

Setelah kejadian itu, tidak ada satu pun orang dari sekte lain yang berani mendekati kereta Klan Tang terlalu dekat, dan Tang Hyun menyadari bahwa kekuatan sejati bukan tentang seberapa keras kau bisa memukul, tetapi tentang seberapa besar rasa takut yang bisa kau tanamkan di hati orang lain.

Akhirnya, pada hari kedua puluh, mereka tiba di kaki Gunung Hua.

Gunung itu menjulang tinggi ke langit, puncaknya tertutup salju meskipun sekarang masih musim semi, dan di sepanjang jalannya ada ribuan tangga batu yang diukir oleh para pendahulu Aliansi Murim, dan di setiap seratus anak tangga ada gerbang kecil yang dijaga oleh murid Gunung Hua dengan pedang di tangan.

Suasana di kaki gunung seperti pasar, penuh dengan tenda, spanduk, dan orang-orang dari seluruh penjuru Jianghu, ada murid Shaolin dengan kepala gundul, ada murid Wudang dengan jubah tao, ada pemburu hadiah, ada pedagang senjata, dan ada juga beberapa wanita cantik dari Rumah Teh Bunga Merah yang datang untuk "menghibur" para pendekar muda.

Tang Hyun berjalan di barisan paling belakang rombongan Klan Tang, dan setiap kali orang melihat lambang bunga plum di jubah mereka, mereka akan langsung minggir dan berbisik-bisik, karena reputasi Klan Tang sudah mendahului mereka.

Pendaftaran dilakukan di Aula Penerimaan, sebuah bangunan besar dari kayu yang bisa menampung seribu orang, dan di sana Tang Hyun untuk pertama kalinya melihat begitu banyak wajah terkenal dalam satu tempat.

Ada Ketua Sekte Shaolin yang duduk di kursi tinggi dengan tasbih di tangan.

Ada Pemimpin Aliansi Murim yang usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun tetapi auranya masih seperti gunung yang tidak bisa diguncang.

Dan ada juga... mereka.

Baek Seolhwa berdiri di sisi kiri aula, dikelilingi oleh murid perempuan Emei yang semuanya mengenakan putih, dan seperti rumor yang beredar, kecantikannya memang seperti salju, dingin, bersih, dan tidak bisa disentuh.

Nangong Yeon duduk di sisi kanan, dikelilingi oleh pemuda-pemuda dari berbagai sekte yang berlomba-lomba menawarkan teh dan buah, dan senyumnya yang manis membuat semua orang di ruangan itu rela melakukan apa saja.

Dan di tengah, tidak terlalu dekat dengan siapa pun, berdiri Tang So-yeon, bersandar di pilar dengan mata tertutup, seolah semua keramaian di sekitarnya tidak ada artinya sama sekali.

Tang Hyun menundukkan kepala dan mengikuti rombongannya ke meja pendaftaran, tetapi sebelum dia sempat menulis namanya, sebuah suara dingin terdengar dari belakangnya.

"Kau."

Dia menoleh, dan di sana berdiri Tang So-yeon, yang entah sejak kapan sudah berada hanya tiga langkah di belakangnya.

"Kau anak yang di lembah itu," lanjut Tang So-yeon, "anak dengan bau racun aneh."

Tang Hyun membeku, karena dia tidak menyangka wanita itu masih ingat padanya.

"Ya... ya, Nona," jawabnya dengan suara pelan.

Tang So-yeon menatapnya selama beberapa detik, lalu dia mengangkat tangan dan melemparkan sesuatu yang kecil ke arah Tang Hyun, dan secara refleks dia menangkapnya, ternyata itu adalah sebuah pil kecil berwarna ungu.

"Minum itu sebelum pertandingan besok," kata Tang So-yeon, "tubuhmu belum sepenuhnya beradaptasi dengan racun Gunung Hua. Udara di sini lebih tipis, dan racunmu bisa berbalik menyerang dirimu sendiri."

Setelah mengatakan itu, dia berbalik dan pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Tang Hyun berdiri dengan pil di tangannya dan jantung yang berdetak terlalu cepat.

Tang Ling yang melihat semua itu dari jauh mendekat dan berbisik, "Wah, Nona Tang So-yeon memberimu pil? Kau tahu nggak, terakhir kali dia melakukan itu adalah ke sepupunya sendiri."

Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menggenggam pil itu erat-erat, karena untuk pertama kalinya sejak dia bereinkarnasi, ada seseorang dari dunia yang selama ini dia kagumi yang benar-benar berbicara dan peduli padanya, meskipun hanya sebentar.

Malam itu, di penginapan yang disediakan Aliansi Murim, Tang Hyun tidak bisa tidur.

Dia duduk di dekat jendela dan menatap Gunung Hua yang diterangi cahaya bulan, dan di kejauhan dia bisa mendengar suara latihan pedang dari murid-murid Emei dan suara tawa dari murid-murid Klan Nangong.

Besok adalah hari pertama turnamen, dan dia akan bertarung bukan sebagai Gu Cheol si pengemis, tetapi sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, murid dalam, dan pembawa racun yang suatu hari nanti akan membuat seluruh Jianghu mengingat namanya.

Dia mengeluarkan pil yang diberikan Tang So-yeon dan menelannya, dan rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, menetralkan rasa tidak nyaman di dadanya karena udara tipis di pegunungan.

"Terima kasih," gumamnya pelan, meskipun tidak ada siapa pun yang mendengar.

Di kamar sebelah, Tang So-yeon juga belum tidur, dia duduk bermeditasi dengan mata tertutup, dan entah kenapa bayangan anak laki-laki dengan bau racun aneh itu terus muncul di pikirannya.

"Bau yang liar," pikirnya, "bukan seperti racun Klan Tang. Lebih seperti... racun yang dibuat oleh seseorang yang tidak takut mati."

Dia membuka matanya dan menatap bulan, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sangat jarang terlihat di wajahnya.

"Turnamen ini akan menarik."

Dan dengan itu, tirai untuk Turnamen Besar Aliansi Murim akhirnya dibuka, dan di dalamnya, nama Tang Hyun akan mulai ditulis dengan tinta darah.

1
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
Mengesankan... 🤗
Oppojaya
👍👍👍👍
Arni Arlinawati Pratiwi💃
punya banyak dendam thor.. mc nya di bikin kesiksa dulu, lanjutan nya balas dendam.. kebiasaan author urban nih, sekali kali ada cinta cinta an nya thor kasian mc nya taku metong gak ngerasaain mencintai seseorang.. kan sian. /Facepalm/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
baru aja masuk thor.. tiba tiba nyesek, /Facepalm/
Chandra Arbara
seorang pemuda yang terlehir kembali, untuk menjadi seseorang yang layak berdiri didunia murim
the virtuso
saling support thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!