Elena Larasati, tidak pernah menduga jika tiga tahun menikah dengan Angga Mahardika, membawa hidupnya dalam kehancuran.
Cinta yang selama ini ia genggam dan jaga dengan baik, ternyata dibalas pengkhianatan yang menyakitkan.
Elena tidak pernah tahu jika selama ini ada wanita lain yang juga berperan seperti dirinya di sisi Angga.
Hingga sebuah peristiwa membongkar semuanya, dan Elena merasa dunianya hancur seketika.
"Ceraikan aku sekarang juga, Mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbagi," desak Elena.
"Tidak. Saya tidak akan pernah menceraikan kamu, Elena!" tolak Angga tegas.
"Aku nggak bisa, Mas! Aku mau kita pisah!"
"Tidak akan, Elena. Saya sangat mencintai kamu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istri saya!"
Bagaimana Elena melewati kehidupan rumah tangganya dengan kenyataan ada istri lain di sisi suaminya?
Disclaimer hanya untuk yang kuat saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melia Andari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Ingin Ponselku
Siang itu, Angga memilih bekerja dari rumah. Ia duduk di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja. Hari itu sengaja ia kosongkan dari jadwal kantor karena ingin menemani Elena.
Sejak pertengkaran besar yang terjadi beberapa hari lalu, Angga merasakan jarak di antara mereka semakin melebar. Elena memang masih berada di rumah yang sama, tetapi hatinya seolah telah pergi jauh darinya. Dan Angga tidak ingin membiarkan keadaan itu terus berlangsung.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan.
Angga sontak mengangkat kepala. Rahangnya mengeras, nyaris saja ia memarahi orang yang berani masuk tanpa izin.
Namun, begitu melihat sosok yang berdiri di ambang pintu, seluruh emosinya langsung mereda.
"Elena..."
"Mas.." ucap Elena seraya berjalan mendekat.
Angga meletakkan pulpen yang sejak tadi berada di tangannya. Pandangannya tak lepas dari Elena yang kini berdiri tepat di depan meja kerjanya.
"Ada apa, Sayang?"
"Aku mau ponselku."
Angga terdiam.
"Kembalikan ponselku. Aku tahu kamu yang mengambilnya, kan? Tolong kembalikan padaku."
Permintaan itu membuat Angga terhenyak.
Sebenarnya ponsel itu masih ada. Ia sengaja menyimpannya agar Elena tidak bisa menghubungi siapa pun, terutama Siska atau orang lain yang mungkin Akan membawa Elena pergi darinya.
"Mas?" Elena kembali memanggil ketika tak mendapat jawaban.
Angga memaksakan senyum tipis.
"Saya akan ganti dengan yang baru," jawabnya.
Elena pun mengernyit.
"Kenapa memang dengan ponselku yang lama? Aku tidak mau yang baru. Aku mau ponselku."
"Ponsel itu sudah saya hancurkan, Elena. Nanti saya belikan yang lebih bagus."
"Tapi, Mas—"
Ucapan Elena terpotong ketika Angga lebih dulu mengangkat ponselnya dan menghubungi Asisten Rei.
"Rei."
"Ya, Tuan."
"Belikan istri saya ponsel keluaran terbaru. Aktifkan juga nomor baru."
Di seberang sana, Rei terdengar ragu.
"Maaf ini untuk nona Cindy atau nyonya Elena, Tuan?" terdengar suara Asisten Rei bertanya dengan bingung.
Tatapan Angga pun langsung berubah tajam.
Angga melirik Elena sejenak. Memastikan istrinya itu tidak mendengar percakapan mereka.
"Elena. Antarkan ponsel itu ke rumah saya hari ini," perintah Angga.
"Baik, Tuan. Segera saya antarkan."
Angga hanya mengangguk tipis lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Pria itu menurunkan ponselnya, lalu menatap Elena yang kini memandangnya dengan sorot mata penuh kekecewaan.
"Mas... kenapa kamu selalu mengatur hidupku? Bahkan soal ponsel pun aku tidak boleh menentukan sendiri?"
"Karena saya suami kamu, Elena."
"Kalau begitu, berhenti saja jadi suamiku dan bebaskan aku."
Kalimat itu menghantam jantung Angga. Pria tersebut menarik nafas panjang, lalu berjalan menghampiri Elena. Dengan hati-hati ia meraih kedua tangan wanita itu, seolah takut Elena akan kembali menjauh.
"Saya suami kamu, Elena," ucapnya pelan namun penuh penegasan.
"Sudah menjadi tanggung jawab saya menjaga dan melindungi kamu. Saya tidak akan membiarkan siapa pun mengambil kamu dari saya."
Elena perlahan menarik tangannya dari genggaman Angga.
"Jangan panggil aku sayang lagi, Mas. Aku muak mendengarnya," ucap Elena seraya melepaskan tangannya dari Angga.
"Apa kamu begitu membenci saya?"
Elena terdiam. Sejujurnya ia juga tidak tahu apa yang ia rasakan. Hatinya terluka. Rasanya sakit tapi juga rindu. Seperti membenci, tetapi juga masih ada sisa rindu di dadanya.
Melihat Elena terdiam dengan mata yang berkaca-kaca, Angga pun menarik Elena ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis, Elena. Maafkan saya," ucapnya dengan pelan.
"Saya tidak memenjarakanmu di rumah ini. Tapi saya tahu kalau saya lepaskan kamu sekarang, mungkin kamu tidak akan pernah kembali. Dan saya belum sanggup kehilangan kamu."
Tubuh Elena melemah di dalam pelukan Angga.
"Saya akan melakukan apa saja agar kamu tetap di sisi saya. Kamu boleh marah, membenci, atau mengabaikan saya. Tapi satu hal yang tidak akan saya izinkan..." Angga melepas pelukannya dan menatap Elena lekat-lekat.
"Saya tidak mengizinkan kamu pergi meninggalkan saya."
Airmata Elena pun kembali menetes. "Aku nggak mau dimadu mas. Aku nggak bisa."
"Elena...tolong pahami saya kali ini. Cindy sedang hamil anak saya. Tidak mungkin saya menelantarkannya. Saya akan berusaha untuk adil, tapi—"
"Cukup mas! Aku benci sama kamu!" teriak Elena kesal lalu berbalik badan hendak meninggalkan Angga.
Namun kakinya terbentur kursi sehingga membuat tubuhnya terhuyung. Angga dengan sigap menahan tubuh Elena agar tidak jatuh.
"Elena..."
Elena merasa jantungnya berdebar. Ia kira ia akan jatuh membentur lantai, tetapi ternyata Angga menahannya.
Baru saja Elena hendak berbicara, tiba-tiba saja pintu ruang kerja Angga diketuk dari luar. Keduanya pun menoleh.
"Masuk."
Iroh membuka pintu perlahan dan berhenti di hadapan Angga.
"Maaf Tuan, di depan ada tamu yang mencari Tuan Angga."
"Siapa? Katakan padanya kalau aku tidak menerima tamu hari ini."
"Tadi katanya namanya Cindy Tuan. Nona itu meminta saya menyampaikan namanya kepada Anda."
Elena sontak menoleh ke arah Angga. Pria itu tampak membeku. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Elena perlahan mengeras, sementara sorot matanya berubah dalam sekejap.
Elena pun tersenyum miris.
Jadi akhirnya wanita itu datang juga. Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Mas? Tetap memilihku atau kembali memilihnya?