NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA

Suasana di lapangan luas itu terasa begitu ramai dan hidup. Ratusan mahasiswa baru duduk berjejer rapi di atas alas yang telah disediakan, memenuhi segenap ruang lapangan hingga tampak menjadi lautan manusia yang padat. Suara riuh rendah percakapan terdengar bersahut-sahutan dari segala penjuru, berpadu dengan suara pengeras suara yang memantul ke mana-mana, serta sorak-sorai sesekali terdengar ketika para senior berjalan mondar-mandir menyapa dan mengatur barisan. Panas matahari siang menyengat dari atas, namun hal itu tak menyurutkan semangat para mahasiswa baru yang duduk berdekatan, saling berbisik, tertawa, dan sesekali menoleh ke kanan-kiri melihat wajah-wajah baru di sekeliling mereka. Semua mata tampak tertuju ke arah podium besar yang berdiri tegak di ujung lapangan, tempat para senior kampus berdiri memberikan pengarahan dan sambutan.

Di tengah keramaian itu, duduk Kristin. Keringat mulai menetes di pelipisnya, merembes perlahan membasahi punggung seragam barunya. Ia mengibaskan tangan di depan wajah, berusaha sekuat tenaga menghalau hawa panas yang terasa berat dan lembap menyelimuti udara. Di hadapannya, seorang senior berdiri tegap di atas podium, berbicara dengan nada lantang yang sesekali tertelan suara riuh penonton. Isi ucapannya nyaris tak satu pun masuk ke telinga Kristin. Pikirannya melayang jauh, tak tertambat pada kata-kata penyambutan yang terus mengalir dari atas panggung. Baginya, hari ini hanyalah sebuah prosesi panjang yang membosankan dan harus dilalui. Yang ada di benaknya hanyalah satu harapan tunggal: semoga hari ini cepat selesai.

Dalam hatinya, ia menyusun rencana yang rapi dan sederhana. Ia akan menjalani hari-hari perkuliahannya dengan tekun, duduk tenang di bangku paling depan, mencatat setiap materi yang disampaikan dosen, dan menghabiskan waktu luangnya di perpustakaan. Tidak akan ada yang lain. Tidak ada kegiatan yang menyita waktu, tidak ada hal-hal yang menurutnya hanya akan membuang tenaga dan pikiran. Kemudian, ia akan lulus dengan nilai yang membanggakan, membawa pulang predikat terbaik yang mampu ia raih dengan keringat sendiri. Setelah itu, pintu-pintu perusahaan besar akan terbuka lebar menyambutnya, dan ia akan diterima bekerja di sana dengan posisi terhormat serta gaji yang besar. Itulah satu-satunya jalan yang ia lihat untuk masa depannya. Tidak ada yang lain.

Tiba-tiba, suara lembut terdengar dari sebelahnya, memecah lamunannya.

"Sebentar lagi akan ada perkenalan dan pertunjukan dari masing-masing organisasi kampus," ucap suara itu di tengah riuh rendah suasana.

Kristin menoleh sedikit, menatap wajah wanita yang duduk di sampingnya sejak pagi tadi. Ia mengangkat bahu pelan, lalu berkata dengan nada yang terdengar datar dan tanpa minat sedikit pun.

"Apa gunanya ikut hal seperti itu? Toh buang-buang waktu saja."

Wanita itu tertawa kecil, seakan tak tersinggung sama sekali oleh jawaban Kristin yang terkesan ketus. Meski di sekeliling mereka terdengar suara riuh dan bisik-bisik tak henti dari barisan mahasiswa lain, suaranya tetap terdengar ramah dan tenang.

"Jangan begitu, ikut kegiatan kampus itu seru dan menyenangkan, lho. Aku punya saudara yang kuliah di kota lain. Dia sangat aktif di organisasi sana, dan sering bercerita betapa serunya mereka berpetualang ke berbagai tempat yang indah."

Kristin hanya mengangguk pelan, sekadar tanda bahwa ia mendengarkan. Sebenarnya, ia sama sekali tak berminat memperpanjang perbincangan soal itu. Ia memilih mengiyakan saja agar tak terjadi perdebatan yang tak perlu. Baginya, hari ini cukup melelahkan tanpa harus menambah beban pikiran dengan hal-hal yang tak ia minati.

Wanita itu seakan menyadari keraguan dalam diri Kristin, namun ia tak berniat memaksanya. Sebaliknya, ia tersenyum lebih lebar lalu mengulurkan tangannya dengan ramah.

"Perkenalkan, aku Cintya."

"Aku Kristin," jawabnya singkat sambil menyambut uluran tangan itu dengan genggaman yang ringan.

Belum lama berselang, suara tepuk tangan dan sorak-sorai tiba-tiba menggema keras dari segenap penjuru lapangan. Para senior dari berbagai organisasi mulai maju secara bergantian ke atas podium. Satu per satu mereka memperkenalkan diri, mempertunjukkan keahlian dan atraksi khas organisasi mereka. Suara riuh penonton membahana setiap kali satu atraksi selesai ditampilkan. Ada yang bersorak kagum, ada yang bertepuk tangan meriah, dan keramaian itu seakan semakin memuncak semangatnya. Wajah-wajah muda di bawah sana tampak berseri-seri, mata mereka berbinar penuh antusiasme melihat setiap penampilan yang ditampilkan. Namun di tengah lautan manusia yang bersemangat itu, Kristin tetap duduk tenang dengan wajah yang datar, sesekali mengangguk tanpa benar-benar melihat ke arah panggung.

Cintya seakan lupa pada rasa panas yang menyengat kulitnya. Matanya berbinar penuh antusiasme, tak berkedip sedikit pun menatap ke arah panggung. Sesekali ia ikut bertepuk tangan dan bersorak pelan, seakan tak mau kalah oleh semangat ratusan mahasiswa baru yang duduk di sekeliling mereka. Kristin memperhatikannya sekilas dari sudut matanya, lalu kembali melamun, berharap agar acara ini segera berakhir dan ia bisa segera melangkah pulang.

Hingga tiba giliran sekelompok pemuda yang tampak berbeda penampilannya — mengenakan pakaian lapangan yang sederhana namun rapi, dengan wajah-wajah yang memancarkan ketegasan dan ketangkasan. Seketika itu pula, sorak-sorai terdengar semakin lantang dari barisan penonton. Cintya mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kristin, lalu berbisik dengan suara penuh semangat, seakan tak sabar ingin segera menyampaikan apa yang ia lihat.

"Lihat itu! Aku akan bergabung dengan mereka."

Jari telunjuk Cintya terulur lurus menunjuk ke arah podium. Seorang pemuda tampan bertubuh tegap berdiri di tengah, memegang mikrofon dengan percaya diri. Kulitnya putih bersih, senyumnya menawan memikat siapa saja yang memandangnya. Di belakangnya, layar proyektor menampilkan foto-foto pemandangan pegunungan yang megah, hamparan hutan hijau membentang luas, serta sekelompok pemuda yang tampak bahagia berpose bersama di puncak tertinggi. Suara penonton sesekali terdengar berdecak kagum melihat gambar-gambar itu, namun bagi Kristin, pemandangan indah di layar itu sama sekali tak menarik hatinya.

Kristin mengerutkan kening sejenak, menatap sekilas lalu kembali menoleh kepada Cintya dengan wajah yang tetap datar.

"Itu emangnya organisasi apaan?" tanyanya singkat.

"Itu MAPALA — Mahasiswa Pencinta Alam," jawab Cintya cepat, matanya tak beralih sedikit pun dari pemuda di atas podium. "Itu dia yang sedang berbicara, namanya Kak Kevin. Dia sedang menunjukkan rekam jejak petualangan mereka. Lihat foto-foto itu? Mereka sering menjelajahi hutan dan pegunungan yang indah sekali."

Cintya tampak semakin bersemangat, suaranya terdengar penuh kekaguman. "Katanya, organisasi ini juga sangat aktif dalam kegiatan sosial, terutama saat terjadi bencana alam di mana-mana. Mereka cukup dikenal dan dihormati di lingkungan kampus ini."

Kristin kembali mengangguk pelan, seakan tertarik mendengar penjelasan panjang lebar itu. Padahal dalam hatinya, ia hanya berpura-pura antusias sekadar menghindari perdebatan dengan Cintya. Di sekelilingnya, suara tepuk tangan dan sorak-sorai masih terus bergema menyambut setiap kata yang terucap dari atas podium. Namun bagi Kristin, semua itu hanyalah deretan kata-kata yang terdengar indah namun jauh dari rencana yang telah ia susun rapi di dalam kepalanya sejak awal. Petualangan ke hutan dan pegunungan? Kegiatan yang menyita waktu dan tenaga? Sama sekali tak masuk dalam daftar rencananya.

Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan di tengah keramaian yang masih terus bersorak menyambut penampilan Kak Kevin dan rekan-rekannya. Matanya kembali menatap langit yang terang benderang, lalu berdoa dalam hati — semoga saja acara yang baginya terasa begitu membosankan ini segera berlalu. Semoga matahari segera turun, dan ia bisa segera melangkah pulang. Pulang untuk beristirahat, pulang untuk tidur sepuasnya, menjauh sejenak dari keramaian dan hiruk-pikuk yang sama sekali tak ia minati.

Di sampingnya, Cintya masih terus menatap ke arah panggung dengan wajah berseri-seri, seakan masa depan yang penuh petualangan dan keindahan sedang menantinya di sana. Sementara Kristin, duduk diam di tengah lautan manusia yang penuh semangat itu, hanya menunggu. Menunggu hari ini berakhir, agar ia dapat kembali melangkah sesuai jalan yang telah ia tetapkan sejak awal — jalan yang lurus, tenang, dan jauh dari segala hal yang dianggapnya hanya akan membuang waktu berharganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!