[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Martin.
Simon melangkah masuk ke gang gelap di bagian timur Kota Lune.
Suasana di sini jauh lebih mencekam dibandingkan pusat pasar gelap, hampir tidak ada manusia yang terlihat berlalu-lalang.
Hanya tikus-tikus dengan tubuh sebesar anjing kecil yang berkeliaran di antara tumpukan sampah, mata mereka berkilat kelaparan di tengah kegelapan.
'Apakah tikus-tikus ini bermutasi karena pengaruh oksigen dunia ini? Ukuran mereka tidak masuk akal untuk tikus biasa,' pikir Simon sembari mempererat jubah hitamnya.
Setelah menyusuri jalan yang berliku, Simon akhirnya menemukan sebuah toko kumuh dengan papan nama yang sudah nyaris lepas.
Ini adalah tempat penjual ramuan yang direkomendasikan oleh pria tua penjual topeng di gerbang kota tadi.
Teng-teng!
Suara bel tua berdenting saat Simon mendorong pintu kayu yang rapuh itu.
.......
Dua pasang mata mengintip dari balik celah sempit di gedung seberang toko.
Penampilannya yang menyeramkan memancar dari tubuh mereka yang terbalut jubah hitam.
"Itu dia?" bisik sosok pertama dengan suara pelan.
"Benar. Aku bisa merasakan tanda pemburuan sekte pada tubuhnya," jawab sosok kedua dengan kilatan dingin di matanya.
"Mari kita selesaikan ini dengan cepat sebelum ia meninggalkan kota."
"Sabar. Sepertinya ia ingin membeli ramuan ksatria disana, Kita harus memastikan orang ini membawa barang berharga itu dulu. Setelah ia keluar dari toko Martin, kita sergap dia,"
"Hehehe, rezeki ada di depan mata kita ternyata."
Mereka berdua terkekeh dengan rencana yang mereka buat.
.........
Simon melangkah masuk dan mendapati toko itu tampak kosong melompong pada pandangan pertama.
Udara di dalamnya berbau campuran herbal kering dan debu yang usang.
"Permisi!" panggil Simon, namun hanya suara angin yang menyelinap dari celah atap yang menjawabnya.
Ia melangkah lebih dalam, mendekati rak kayu di sudut ruangan.
Di sana berjajar botol-botol kristal unik berisi cairan dengan berbagai warna yang berkilauan, pada deretan ramuan itu.
Namun, pandangan Simon terpaku pada sebuah buku aneh yang terbuat dari serat kayu unik, tampak sangat kuno dan misterius.
Tangan Simon bergerak secara naluriah untuk menyentuh sampul buku tersebut, namun tiba-tiba sebuah cengkeraman kuat menahan pergelangan tangannya.
"Jangan disentuh," sebuah suara tua dan serak terdengar tepat di samping telinganya.
Simon tersentak. Ia segera menarik tangannya dan menoleh cepat. Di hadapannya berdiri seorang pria tua berjubah hitam dengan satu mata ditutup kain.
Meskipun sudah tua, Simon bisa merasakan kekuatan fisik orang ini sangat besar dari cengkeramannya tadi.
"Nak, apakah orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun? Menyentuh barang orang lain tanpa izin?" tegur pria tua itu dengan nada dingin.
"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak berniat mencurinya, hanya penasaran karena buku ini terlihat sangat unik," jawab Simon sembari menenangkan detak jantungnya.
"Siapa pria tua ini? Kecepatan pergerakannya hampir tidak tertangkap oleh persepsiku," pikir Simon dengan waspada.
"Permisi, apakah Anda Tuan Martin?" tanya Simon dengan sopan setelah cengkeraman itu dilepaskan.
Pria tua itu mengangkat alisnya. "Kau kenal aku?"
"Iya. Aku diperkenalkan oleh pemilik toko topeng di depan gerbang kota," jelas Simon
"Ternyata si tua licik itu..." gumam Martin sembari mendengus. "Baik, lain kali jangan asal menyentuh barang di rumahku. Karena kau tahu ini toko apa, tidak perlu basa-basi lagi. Kau ingin memesan Ramuan Ksatria, kan?"
"Benar, Tuan Martin. Aku ingin memesan Ramuan Ksatria tingkat tinggi. Berapa harganya?" tanya Simon dengan lugas.
Martin menatap Simon dengan pandangan ragu.
"Ramuan tingkat tinggi itu mahal, 17 koin emas per botol. Apa kau yakin punya uang sebanyak itu?"
Tanpa banyak bicara, Simon mengeluarkan kantong kulitnya dan menaruh tumpukan koin emas di meja.
Martin menghitungnya dengan cepat dalam hati. "1... 18... 34?" Martin sedikit terkejut melihat jumlah koin yang berkilauan di depannya.
'anak bangsawan manakah ini?' pikir Martin.
"Aku beli dua botol ramuan ksatria tingkat tinggi," kata Simon tegas.
Tapi, apakah ini ramuan sungguhan? Bukan racun, kan?"
Martin menyipitkan mata dan menunjuk ke arah pintu keluar.
"Tidak percaya? Kalau begitu kau bisa pergi sekarang. Aku sedang malas berdebat," usirnya dengan wajah ketus.
Simon terdiam sesaat sebelum mengangguk. "Oke, aku beli."
Martin pergi ke ruangan belakang dan kembali membawa dua botol kecil berisi cairan berwarna merah muda terang.
Konsentrasi ramuan ini tampak jauh lebih pekat dan murni dibandingkan ramuan tingkat sedang yang diberikan Baron Brent.
"Ini ramuanmu," ucap Martin sembari menyerahkan botol-botol itu.
Simon menerimanya dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di tempat paling aman di balik zirah kulitnya.
'Ramuan kecil ini seharga vila di wilayah fana, aku tidak boleh membiarkannya pecah,' pikir Simon.
"Terima kasih, Tuan Martin. Aku pasti akan mampir kembali." Simon ingin segera kembali dan mempraktikan teknik pernafasan ular hitam.
Begitu Simon melangkah keluar dari toko, Martin berjalan mendekati meja dan mengambil kembali buku kayu yang hampir disentuh Simon tadi.
Martin menggelengkan kepalanya pelan.
"Sepertinya anak itu tidak mengalami 'hal menyimpang' Apakah ia memiliki bakat untuk hal itu?" gumam Martin sembari menatap punggung Simon yang menghilang di gang gelap.
"Entahlah. Sebaiknya aku tidak ceroboh menaruh buku ini di depan toko.
Martin membawa buku kuno itu masuk ke dalam.
.......
Ketika ia melangkah keluar dari toko Martin yang kumuh, Simon memperhatikan dua botol Ramuan Ksatria tingkat tinggi yang tersimpan aman di balik zirah kulitnya, namun kewaspadaannya tidak mengendur sedikit pun.
Setelah berjalan cukup jauh, Simon mendadak berhenti di tengah kesunyian gang.
Matanya yang merah tampak telah menemukan sesuatu yang janggal.
"Berhenti mengikutiku! Keluarlah!" perintah Simon dengan suara yang dingin
Dari balik bayang-bayang pilar bangunan yang retak, dua sosok terbalut jubah hitam pekat melangkah keluar. Salah satunya tertawa mengejek, suaranya berat dan penuh kebencian.
"Hehehe... salahkan dirimu sendiri karena telah mengganggu Sekte Sunyi kami. Aku bisa mencium 'Bau Perburuan' yang sangat pekat di tubuhmu. Aku yakin, kamulah yang telah membantai saudara kami!"
Bau perburuan?
Simon terdiam sejenak, menyentuh dadanya yang masih terasa panas akibat simbol kutukan yang ditinggalkan Edie.
"Jadi ternyata simbol ini memancarkan sinyal kepada anggota sekte lainnya!" Pikir Simon dengan geram.
Tanda aneh itu membuatnya seperti seonggok bangkai segar yang mulai dikerumuni lalat-lalat pengganggu.
"Dan juga, kau pasti telah membeli sesuatu yang berharga di toko Martin tadi, bukan? Cepat serahkan pada kami!" gertak pria berjubah di sebelah kanan sembari menghunus belati beracun.
"Jika kau menyerahkannya, kami mungkin akan mempertimbangkan cara matimu dengan cepat dan tenang tanpa merasakan sakit."
"Hmmph, mana sudi aku memberikannya pada kalian!" desis Simon dengan tajam
Tanpa peringatan, Simon menarik pedang panjang hitam dari punggungnya.
Seketika, bilah pedang itu mengeluarkan kabut hitam pekat yang dingin dan mematikan, energi gelap terasa menyatu dengan ototnya.
"Mati!!"
Simon melesat maju dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]
Ia mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan menyilang yang eksplosif.
TEKNIK PEDANG SILANG!
Sebuah gelombang gelap yang tajam melesat keluar dari bilah pedang hitam tersebut, menghantam kedua musuh sebelum mereka sempat bereaksi.
[ Teknik Pedang Silang +2 ]
Kekuatan benturannya begitu dahsyat hingga kedua sosok itu terpental keras ke dinding batu.
Salah satu dari mereka tewas seketika dengan tubuh yang terbelah menjadi dua bagian yang mengenaskan.
Sosok satunya lagi masih bernapas, meskipun ia hanya bisa bersandar lemah di dinding dengan darah yang mengucur deras dari luka-lukanya.
Matanya membelalak ngeri saat menatap pedang di tangan Simon.
"Kau... ah? Itu kan pedang milik Tuan Ascar? Mengapa pedang ini ada padamu?!" teriaknya dengan sisa tenaga yang penuh keputusasaan.
Simon melangkah perlahan mendekat, bayangan Asura Sembilan Pedang seolah-olah berkelebat samar di belakang tubuhnya yang tegap.
Ia menyunggingkan senyum tipis yang membekukan darah.
"Mau tahu? Cari tahu sendiri di neraka!"
Srat!
Dengan satu tebasan presisi, Simon memenggal kepala orang itu sebelum ia sempat mengeluarkan suara lagi.
Melihat mayatnya simon segera melakukan kebiasaan umunya, kali ini ia dapat 10 koin emas dari mereka.
"Lumayan, paket EXP tambahan," gumam Simon sembari memasukkan koin-koin itu ke dalam kantongnya.
Tidak ada yang lebih mengasyikan dari Merampas sumber daya dari musuh, inilah caranya untuk menjadi kuat lebih cepat.
Simon segera memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari gang gelap itu, kembali menyatu dengan kerumunan di depan.