Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah tanpa kehangatan
Derap langkah kaki Alfa terdengar pelan menelusuri karpet tebal saat ia melangkah masuk kembali ke dalam kamar hotel. Suasana di dalam ruangan luas itu tampak begitu sunyi dan lengang. Hanya lampu temaram berkeemasan di sisi tempat tidur yang menyala, membiarkan sudut-sudut kamar lainnya tenggelam dalam keheningan malam yang larut.
Alfa menghentikan langkahnya di ujung tempat tidur. Pandangannya tertuju pada Senja yang tampak sudah terlelap damai di bawah selimut tebal. Pria itu berdiri membisu selama beberapa saat, menatap wajah polos wanita yang kini resmi menjadi istrinya. Rona wajah Alfa memancarkan rasa bersalah yang amat dalam, sebuah penderitaan batin dari seorang pria yang sadar telah menorehkan luka di malam pengantin mereka, namun merasa sama sekali tak bisa berbuat apa-apa demi mengubah takdirnya.
Dengan helaan napas yang sangat pelan, Alfa berbalik lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Namun tepat setelah pintu kamar mandi tertutup rapat, perlahan-lahan kedua mata Senja terbuka.
Sebenarnya Senja tidak tidur sama sekali. Sejak derak pintu kamar terbuka tadi, indranya sudah terjaga sepenuhnya. Namun, entah mengapa ia memilih untuk berpura-pura terlelap daripada harus berhadapan langsung dengan Alfa. Ia tidak tahu harus menunjukkan raut wajah seperti apa di hadapan pria yang baru saja kembali dari pelukan wanita lain.
Senja masih tetap terjaga dalam diam, menatap kosong ke arah langit-langit kamar yang temaram. Bahkan ketika Alfa keluar dari kamar mandi dan memilih untuk berbaring di atas sofa panjang, memilih untuk tidak tidur dalam satu ranjang dengannya, Senja tetap bergeming.
Anehnya, Senja tidak merasa tersinggung. Ia juga tidak merasa sedih, kecewa, ataupun marah atas keputusan Alfa untuk tidur terpisah. Justru menurutnya, apa yang dilakukan Alfa adalah hal yang sangat tepat. Senja sadar, ia pun akan merasa sangat canggung dan serba salah jika Alfa memutuskan untuk tidur di sampingnya malam ini.
Pagi harinya, Senja terbangun lebih dulu. Jam yang tertanam ketat dalam otaknya sejak kecil selalu memaksanya terbangun tepat pada pukul lima pagi tanpa cela.
Ketika ia menyibak selimut dan duduk di tepi ranjang, pandangan Senja langsung tertuju pada sofa di sudut ruangan. Alfa masih terlelap di sana. Pria itu tertidur dengan posisi miring, tubuhnya sedikit meringkuk menahan dinginnya udara pendingin ruangan karena tidak memakai selimut.
Senja berdiri pelan. Ia mengambil satu selimut cadangan dari dalam lemari, melangkah mendekati sofa, lalu menyelimutkannya dengan perlahan di atas tubuh Alfa agar pria itu tidak terbangun.
Senja sempat terdiam sejenak, menatap raut wajah Alfa yang sedang tertidur lelap. Garis-garis halus di dahi pria itu masih membayangkan rasa lelah dan beban pikiran yang sangat berat.
"Aku yakin dia pun punya beban sepertiku. Dia pun punya alasannya sendiri untuk menjalani pernikahan ini. Jadi... aku tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya" Batin Senja lirih sembari menatap wajah lelah Alfa.
Usai mengutarakan bisikan hatinya, Senja berbalik dengan tenang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk bersiap menyambut pagi.
Sikap canggung masih begitu tebal melingkupi hubungan mereka berdua. Setelah menikmati sarapan pagi dalam keheningan yang dipaksakan dan hanya diisi oleh obrolan formal seperlunya, Senja dan Alfa memilih untuk langsung chek-out dari hotel.
Alfa membawa Senja menuju rumah baru mereka, sebuah hunian yang sengaja disiapkan oleh Alfa satu bulan lalu tepat setelah keputusan perjodohan kedua keluarga besar diketok.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah pagar besi hitam berukir modern. Saat gerbang otomatis terbuka, Senja menyempatkan diri menatap bangunan di hadapannya dari balik kaca mobil.
"Ini rumah kita. Semoga kamu suka, Senja." Ujar Alfa ramah seraya mematikan mesin mobil.
Senja mengamati sekelilingnya dengan saksama. Rumah itu berdiri megah dan luas di atas lahan yang asri. Desain bangunannya mengusung konsep yang sangat diminati era sekarang, perpaduan antara dinding kaca berukuran besar, aksen kayu hangat, marmer abu-abu yang elegan, serta taman minimalis di bagian tengah yang menyegarkan mata. Mewah, namun tidak terkesan kuno atau berlebihan seperti kediaman orang tuanya.
"Nyaman. Aku rasa... aku cukup menyukainya, Mas" Sahut Senja pelan.
"Rumah sebagus dan senyaman ini untuk apa kalau tanpa kehangatan di dalamnya?" Batin Senja pedih di balik penampilannya yang tetap tenang.
Alfa tersenyum lega mendengar jawaban luar Senja. Pria itu mengimbau pelayan untuk membawakan koper-koper mereka, lalu mengajak Senja melangkah masuk menelusuri interior rumah yang lapang.
"Mengenai kamar... kita tetap akan berbagi dalam satu kamar utama" Ujar Alfa saat mereka mulai melangkah menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Alfa melirik Senja dengan tatapan sungkan.
"Karena kamu tahu sendiri bagaimana orang tua kita. Papa dan Papamu pasti akan sering menugaskan orang untuk memantau kita. Kita tidak bisa mengambil risiko."
"Aku mengikuti saranmu, Mas" Jawab Senja singkat, padat, namun tetap pada intinya, sebuah jawaban khas yang mencerminkan kerapian bertuturnya.
Alfa membuka pintu kayu jati tebal di ujung koridor lantai dua, menampilkan sebuah kamar utama yang amat luas dengan fasilitas lengkap, balkon pribadi yang menghadap ke taman belakang, serta ranjang king-size di bagian tengah.
Alfa menghentikan langkahnya di dekat meja kerja kamar, lalu berbalik menatap Senja.
"Mengenai pekerjaan... kata Papa, mulai besok kamu sudah bisa mulai berkantor di Arthanagara Group" Terang Alfa membuka topik baru.
Pria itu menatap Senja dengan keseriusan seorang profesional.
"Kamu akan menempati posisi sebagai Vice President of Strategic Development. Posisi ini cukup penting dan krusial, hampir setara denganku yang menjabat sebagai Chief Operating Officer. Karena untuk posisi CEO saat ini masih dipegang penuh oleh Papaku."
"Baiklah. Papaku juga sudah mengatakannya padaku sebelumnya" Sahut Senja dengan senyum tipis yang amat santun melingkupi bibirnya.
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik nantinya, Mas."
Toh, Senja tidak memiliki kuasa sedikit pun untuk menolak. Semua keputusan karier dan alur hidupnya sudah ditata rapi oleh Prasetya Anjasmara dari jauh-jauh hari. Ia hanya perlu melangkah mengikuti alur papan catur yang sudah dibuat.
Namun di samping itu, berada di perusahaan keluarga Alfa membawa sedikit kelegaan di dada Senja. Setidaknya, ia bisa melepaskan diri sejenak dari cengkeraman langsung Papanya yang selama ini selalu memaksanya bergelut dalam intrik politik dan ekspansi bisnis yang kejam.
"Tentu saja, Senja. Aku yakin kapasitasmu akan sangat membantu perusahaan" Balas Alfa mengangguk mantap.
Senja mengamati Alfa sejenak. Ada sebuah pertanyaan yang sejak semalam mengusik benaknya, bukan karena cemburu, melainkan murni karena rasa kemanusiaan.
"Oh ya, aku lupa bertanya padamu, Mas..." Ujar Senja pelan.
"Bagaimana keadaan Dila?"
Alfa tertegun untuk sejenak. Pria itu tidak menyangka bahwa Senja akan menanyakan kabar kekasihnya secara mendadak dengan nada suara yang amat tenang tanpa ada sisa amarah.
"Dia... dia sudah stabil" Jawab Alfa sedikit ragu, tenggorokannya terasa kering.
"Syukurlah, aku ikut lega mendengarnya." Sahut Senja tulus.
"Tapi... kenapa dia begitu susah mendapatkan donor ginjal yang cocok, Mas?"
Alfa menarik napas panjang, tatapannya menyendu.
"Dila memiliki rhesus darah yang sangat langka, ditambah lagi ada kondisi antibodi di tubuhnya yang sangat sensitif. Beberapa kandidat donor yang sempat terdaftar sebelumnya selalu gagal di tahap uji kesesuaian jaringan. Tubuhnya akan langsung menolak organ baru jika golongannya tidak benar-benar identik sampai ke tingkat sel terperinci. Itu yang membuat pencarian donor untuknya menjadi sangat sulit dan memakan waktu bertahun-tahun."
Senja mendengarkan penjelasan teknis itu dengan saksama. Anggukan kecil terlaksana dari kepalanya.
"Kebetulan aku ikut beberapa komunitas sosial dan jaringan yayasan kesehatan" Kata Senja menatap Alfa.
"Siapa tahu dari sana ada informasi tentang donor ginjal yang cocok untuknya, Mas."
Alfa seketika terpaku. Pria itu membeku di tempatnya, menatap Senja dengan pandangan tak percaya.
Matanya melebar tipis, mengamati wanita di hadapannya seolah sedang melihat keajaiban yang tak masuk akal.
"Bagaimana mungkin seorang istri sah ditawari untuk membantu mencari donor ginjal bagi kekasih gelap suaminya sendiri? Tanpa ada dendam, tanpa ada makian, dan tanpa syarat" Batin Alfa.
"Baiklah... terima kasih banyak, Senja" Bisik Alfa dengan suara yang nyaris tenggelam oleh rasa haru dan takjub yang berkecamuk di dadanya.
Senja hanya mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis nan anggun di wajah cantiknya, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri usai perjalanan panjang mereka.
Pintu kamar mandi perlahan tertutup. Alfa masih berdiri membatu di tengah kamar utama. Pandangannya tak lepas memandangi pintu kayu tempat Senja baru saja menghilang. Dada Alfa bergemuruh hebat, dipenuhi oleh sebuah pertanyaan besar yang terus berputar-putar di dalam kepalanya.
"Terbuat dari apa hati wanita itu...?" Tanya Alfa dalam hati sembari takjub sekaligus merasa teriris.
Di tengah dunia elite yang penuh dengan keserakahan, egoisme, dan kebohongan, Senja berdiri bagaikan sebuah samudra luas yang teramat tenang, begitu indah, namun menyimpan misteri dan kedalaman luka yang tak mampu terselami oleh siapa pun.
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.