NovelToon NovelToon
Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Kian & Elora (Sahabat, Tapi Dijodohin?)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikahmuda / Idola sekolah
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mina

Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.

Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.

Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.

Sialan emang.

Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.

Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Jam Tiga Pagi

Kian berkedip beberapa kali, seolah mengira kehadiran gue cuma bagian dari halusinasi akibat kelelahan dan kurang tidur selama seminggu terakhir. Dia mengusap wajahnya kasar, lalu menatap gue lagi.

Gue masih berdiri membeku di tepi teras, menggenggam erat tali ransel di bahu. Udara malam yang menusuk tulang rasanya kalah dingin dibanding keheningan kaku yang mendadak membentang di antara kami.

"Elora?" suara Kian keluar, parau dan sangat pelan. Dia perlahan berdiri dari bangku kayu, menaruh cangkir kopinya di meja. "Lu... ngapain di sini? Jam berapa ini?"

Gue menelan ludah, mencoba menetralkan detak jantung gue yang kacau. "Jam tiga pagi. Gue naik mobil Bima ke sini."

Kian mengerutkan dahi, melirik ke arah mobil Bima yang terparkir di bawah pohon rindang tak jauh dari posko. Tatapannya kembali ke gue, berubah menjadi kombinasi antara cemas, bingung, dan kekecewaan yang belum sepenuhnya reda.

"Bima gila ya?" gumam Kian, suaranya naik satu oktav karena panik yang tertahan. "Jalanan ke sini tuh rawan, Elora! Kenapa lu nekat banget menerobos malam-malam begini doang?"

"Karena gue gak mau nunggu sampai lusa, Kian," potong gue cepat, melangkah maju dua tapak hingga berdiri tepat di hadapannya.

Kian bungkam. Rahangnya mengeras. Dia memalingkan wajah ke samping, menolak menatap mata gue langsung. "Kalau lu ke sini cuma mau nanya hal-hal aneh lagi atau debat soal Farra, mending lu istirahat di mobil Bima. Gue capek, Ra. Gue lagi gak punya energi buat berantem."

Rasa sesak di dada gue mendadak meningkat dua kali lipat. Tapi kali ini, gue gak akan mundur atau lari lagi.

Gue melepaskan ransel dari bahu, membiarkannya jatuh gitu aja ke lantai kayu teras. Gue maju satu langkah lagi, mengikis jarak di antara kami, lalu perlahan mengulurkan kedua tangan gue meraih jemari Kian yang dingin di sisi tubuhnya.

Kian sempat menegang seketika. Dia berniat menarik tangannya, tapi gue menggenggamnya makin erat.

"Gue ke sini bukan buat berantem," bisik gue, suara gue mulai gemetar menahan luapan emosi. "Gue ke sini... buat minta maaf."

Kian membeku. Matanya pelan-pelan bergulir menatap wajah gue.

"Gue bodoh, Ki," aku gue jujur, air mata hangat perlahan menetes membasahi pipi gue yang dingin. "Gue terlalu takut luka sampai gue gak bisa melihat ketulusan lu. Gue dengerin omongan Farra karena gue pengecut, bukan karena gue gak menghargai apa yang udah lu perbuat buat gue selama bertahun-tahun ini."

Kian menatap air mata yang jatuh di pipi gue. Ekspresi keras dan dingin di wajahnya perlahan-lahan runtuh, digantikan oleh raut lelah yang dipenuhi rasa penderitaan yang sama dengan yang gue rasakan.

"Bima udah cerita semuanya," sambung gue, menyapu air mata dengan punggung tangan gue yang bebas tanpa melepaskan genggaman tangan satunya. "Soal lu yang nekat naik kereta ke Jogja cuma buat melihat gue... soal alasan lu bertahan sama gue selama ini. Gue minta maaf, Ki. Gue bener-bener minta maaf udah bikin lu ngerasa perjuangan lu gak ada artinya."

Keheningan kembali menyelimuti teras posko. Cuma ada suara angin malam yang mendesing pelan menabrak dedaunan.

Kian menghela napas panjang, sebuah napas yang sangat dalam dan sarat akan beban berat yang akhirnya terlepas. Tangan Kian yang tadinya kaku perlahan berbalik, melebarkan jemarinya dan membalas genggaman tangan gue erat-erat.

"Ra..." gumam Kian lirih.

Sebelum gue sempat membalas, Kian menarik tangan gue, mengikis sisa jarak di antara kami, dan merengkuh tubuh gue ke dalam pelukannya.

Dia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher dan bahu gue, memeluk pinggang gue sangat erat seolah-olah takut gue bakal menghilang kalau dia melepasnya sedikit aja. Gue bisa merasakan embusan napas hangatnya yang tidak teratur dan getaran tipis dari tubuhnya.

Gue melingkarkan kedua lengan gue di lehernya, membalas pelukannya tak kalah erat. Aroma kayu manis dan rempah yang sangat familiar dari tubuhnya menyapu indra penciuman gue, membawa rasa aman yang luar biasa.

"Gue yang harusnya minta maaf karena udah bikin lu ragu," bisik Kian di telinga gue, suaranya serak dan dalam. "Gue terlalu defensif sampai lupa kalau benteng yang lu bangun itu juga karena salah gue di masa lalu."

"Kian..."

"Jangan pernah raguin gue lagi, Ra," potong Kian pelan, makin mempererat dekapannya. "Gue gak pernah merasa terpaksa, gue gak pernah merasa kasihan. Gue di sini karena cewek yang ada di dekapan gue sekarang ini adalah satu-satunya orang yang gue mau."

Di bawah pendar lampu neon teras yang redup dan dinginnya dini hari Bogor, seluruh rasa asing dan keraguan yang sempat memisahkan kami mendadak mencair total.

Gue tersenyum kecil di dalam pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat. "Iya. Gue janji."

Tiba-tiba, suara engsel pintu posko yang berderit nyaring memecah keheningan di antara kami.

Gue dan Kian refleks mengurai pelukan, meski tangan Kian masih enggan melepas pinggang gue sepenuhnya.

Di ambang pintu kayu yang terbuka, Farra berdiri memegang segelas air hangat. Dia memakai kardigan panjang, dan raut wajahnya yang biasanya selalu tenang dan terkontrol... kini kelihatan terkejut dan membeku sempurna saat melihat gue berdiri di sana, di dalam dekapan Kian pada jam tiga pagi.

1
ms. S
bima.. oh bima galaumu bikin sejoli juga galau karena ngantuk🤣🤣
ms. S
lanjut... novelnya menarik buat dibaca hingga bisa inget jaman pdkt sama gebetan. bikin deg2an juga Krena serasa jatuh cinta
ms. S
up lagi kak. novelnya kocak abis . aku sng novel yg kyk gini, lucu, sedih tapi ga mewek2 bgt, dan masih sesuai realita lha . sgra nikah yuk mereka berdua penasaran
Mina: makasih kak, seneng deh baca komennya🫰
total 1 replies
paijo londo
asli fix nih yg bloon kyaknya elora Ter la lu polos g tau kalo si kian itu udah suka elora dari lama🤭🤭🤭
paijo londo
mampir' thor🤦🤦aduh kyaknya hidup elora bakal kiamat kena serangan mental menghadapi kelakuan si kian q yg baca kok ikut2an jadi stress ya🤔🤔🤔
ms. S
ya ampun aku jadi deg2an ini kayak akunsama kian🤭🤣
Nurwana
asik asik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!