NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu desa

Pandanganku menerobos layar tablet, tapi kata-kata para aktor di sana tidak lagi masuk ke dalam otakku. Adegan romantis itu tiba-tiba terasa hambar, jauh dari realitas pahit yang sedang kuhirup setiap detiknya.

Aku memejamkan mata, membiarkan imajinasiku melayang jauh dari kamar mewah ini, jauh dari kemewahan yang terasa seperti penjara emas.

Desa.

Kata itu terdengar seperti mantra penyembuh. Aku membayangkan udara pagi yang segar, bukan berbau parfum mahal dan mobil mewah. Aku membayangkan suara jangkrik di malam hari, bukan hening mencekam yang penuh ancaman. Aku membayangkan sawah hijau yang luas, jalan tanah berdebu, dan rumah kayu sederhana yang atapnya bocor saat hujan, tapi hangat karena tawa.

Di sana, hidup itu sulit secara materi, tapi mudah secara jiwa. Tidak ada topeng. Tidak ada manipulasi. Tidak ada orang yang tersenyum manis sambil menyimpan racun di balik giginya.

Dan di tengah kenangan itu, dua wajah muncul dengan jelas.

Vina. Sahabat kerjaku di cafe kecil "Kopi Senja" di pinggir kota desa dulu. Dia gadis yang ceria, selalu tertawa renyah meski gajinya pas-pasan. Dia yang selalu membagi bekal makan siangnya denganku saat aku lupa membawa uang.

Bagus. Rekan kerja lainnya, pemuda pendiam yang rajin. Dia yang selalu diam-diam meninggalkan secangkir teh hangat di mejaku saat aku terlihat lelah setelah shift malam. Matanya selalu menatapku dengan kekaguman tulus, tanpa hasrat posesif, tanpa niat menguasai.

Mereka adalah keluarga kedua bagiku di masa-masa sulit sebelum Ibu bertemu Samudra. Kami bekerja bahu membahu, berbagi cerita, berbagi mimpi. Mereka tahu betapa kerasnya hidup kami, betapa berharganya setiap rupiah yang kami dapatkan.

Tapi kemudian, semuanya berubah begitu cepat.

Samudra muncul seperti badai. Uang mengalir deras. Ibu tersilaukan. Dan dalam sekejap, kami dipindahkan ke kota besar ini. Ke rumah megah ini. Ke kehidupan yang asing ini.

Dan aku... aku menghilang.

Tanpa pamit. Tanpa penjelasan.

Rasa bersalah yang tajam menusuk dadaku, lebih sakit daripada ketakutan akan Samudra.

"Maafkan aku, Yah, Vina... Bagus..." bisikku pelan di keheningan kamar, air mata mulai menggenang di sudut mataku. "Aku tak memberitahu kalian soal aku pindah. Aku tak memberitahu kalian soal Ibuku menikah. Aku bahkan tidak memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal."

Aku membayangkan kekecewaan mereka. Kebingungan mereka. Mungkin mereka mengira aku sombong. Mungkin mereka mengira aku melupakan mereka begitu mendapat kehidupan baru. Padahal, kebenaran jauh lebih kelam. Aku tidak memilih untuk pergi. Aku ditarik paksa oleh arus nasib yang dikendalikan oleh ibu dan pria berbahaya itu.

Aku ingin menghubungi mereka. Sangat ingin. Tapi bagaimana? Jika Samudra memantau ponselku, dan aku yakin dia melakukannya, setiap panggilan atau pesan ke nomor lama bisa menjadi alasan baginya untuk marah. Bisa menjadi alasan baginya untuk semakin mengurungku.

"Kamu harus memutuskan hubungan dengan masa lalumu," pernah kata Samudra suatu kali dengan nada datar. "Orang-orang dari bawah tidak cocok dengan duniamu sekarang."

Dulu, aku mengira itu hanya sikap arogan orang kaya. Sekarang, aku tahu itu adalah strategi isolasi. Dia memutus akar-akarku agar aku tidak punya tempat untuk lari, tidak punya orang untuk meminta bantuan.

Aku menarik selimut lebih tinggi, memeluk lututku erat-erat. Rindu pada kesederhanaan itu terasa menyakitkan. Rindu pada kebebasan untuk menjadi diri sendiri, bukan boneka cantik yang dipajang di rumah mewah.

Jika saja aku bisa kembali ke desa. Jika saja aku bisa bekerja lagi di cafe itu. Jika saja Vina dan Bagus masih di sana, menunggu kepulanganku dengan senyuman tulus...

Tapi kenyataan menghantamku lagi. Aku terjebak di sini. Di kota ini. Di rumah ini. Dengan monster bernama Samudra.

Air mata akhirnya jatuh, membasahi bantal sutra yang dingin. Aku menangis dalam diam, meratapi hilangnya diriku yang dulu, dan hilangnya teman-teman yang kucintai tanpa sempat berpamitan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!