Saat Askar ada di rumah, Bu Surya selalu bersikap lembut dan memuji Miska.
Bu Surya: "Miska rajin sekali,ya. Penurut juga."
"Aku kan bilang Ibu pasti sayang dia. Miska, jangan banyak pikiran."
Tapi begitu Askar berangkat kerja, topeng itu langsung dilepas. Bu Surya memaki dan menghina Miska tanpa henti.
Bu Surya: "Dasar anak orang miskin beruntung! Cari makan di sini ya? Cepat kerja!"
Miska: "Bu, saya sudah selesaikan semua pekerjaan..."
Bu Surya: "Banyak alasan! Tak tahu diri!"
Miska akhirnya memberanikan diri mengadu, tapi yang ia dapat malah kemarahan suami.
Miska: "Mas, Ibu selalu memaki saya saat kau tak ada..."
Askar: "Berani kau menfitnah Ibu? Dia begitu baik padamu! Jangan cari masalah!"
Kesabaran Miska diuji tiap hari, sampai hadir Rara — cinta lama Askar yang kini jadi sekretarisnya. Kedekatan keduanya membuat Miska mulai curiga, tapi Bu Surya malah membela habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Sore itu hujan rintik-rintik. Rara berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya pelan-pelan. Ia mengenakan pakaian sopan dan rapi, tidak berlebihan namun tetap terlihat cantik. Di tangannya ada kotak kue dan buah-buahan yang sudah disiapkan sejak pagi. Malam ini, untuk pertama kalinya sejak Miska pergi, ia akan datang ke rumah Askar. Dan ia berharap, Bu Surya akan menyukainya.
Sesampainya di sana, pintu terbuka oleh Askar sendiri.
"Silakan masuk, Rara," ucap Askar tersenyum, menyambutnya masuk.
Begitu melangkah masuk, Rara melihat Bu Surya sudah berdiri di ruang tengah dengan wajah berseri-seri.
"Selamat malam, TANTE," sapa Rara lembut sambil mendekat dan menyerahkan bawaannya.
"Maaf mengganggu waktu istirahat nya tante Ini ada sedikit kue dan buah untuk tante."
Bu Surya langsung tersenyum lebar, menyambut uluran tangan Rara dengan hangat.
"Wah, terima kasih banyak, Rara! Kamu datang saja tante sudah senang hati,kenapa masih repot repot membawakan oleh-oleh . Ayo duduk, jangan sungkan."
Rara tersenyum malu. "Terima kasih,tante. tante ramah sekali. Saya sudah lama ingin berkunjung, hanya saja takut mengganggu."
"Tidak mengganggu sama sekali! Justru aku senang sekali kamu datang," ujar Bu Surya sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya.
"Duduklah di sini. Sudah lama aku ingin bertemu dengan wanita yang dicintai anakku."
Askar tersenyum melihat itu. "Lihat kan, iBu sudah menyukaimu sejak pertama kali melihat."
"Siapa yang tidak menyukai nya, Rara Sopan, lembut, dan tahu cara bersikap," puji Bu Surya tulus. "Berbeda jauh dengan wanita yang dulu kamu pilih, Kalau dia datang, rumah rasanya sepi dan dingin. Kamu datang saja, rumah ini langsung terasa hangat."
Rara tersenyum manis. "Ibu berlebihan. Saya hanya ingin menjadi anak yang bisa membahagiakan Ibu dan Askar."
Tak lama, jam makan malam tiba. Rara langsung berdiri. "biar saya siapkan makanannya, Bu."
"Tidak perlu, duduk saja kamu kan tamu," kata Bu Surya.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang bisa membantu," jawab Rara lembut. Ia berjalan ke dapur dengan ringan, mulai menata piring, sendok, dan garpu di meja makan. Semuanya diatur rapi dan cantik.
Bu Surya memperhatikannya dengan senang hati. "aku sangat suka sama dia Askar. Rajin, sopan, dan tahu diri. Kamu memang beruntung mendapatkan Rara."
Makan malam berlangsung dengan hangat. Bu Surya terus memuji Rara, dan Rara selalu menjawab dengan rendah hati serta senyum lembut.
"Masakan ini enak sekali, Bu. Ibu pandai sekali memilih makanan," puji Rara.
"Itu beli di luar, tapi memang selera Ibu bagus ya," jawab Bu Surya sambil tersenyum. "kalau Kamu suka Ibu senang."
Setelah selesai makan, Rara langsung berdiri dan mengambil piring bekas makan mereka. "ibu dan Askar istirahat saja dulu. Biar saya yang mencuci piringnya."
"Kamu itu tamu ra, tidak perlu begitu," cegah Bu Surya pelan, namun tidak benar-benar melarang.
"Bagi saya, rumah Askar juga rumah saya, Bu. Tidak ada tamu-tamuan di sini," jawab Rara lembut namun tegas. Ia membawa piring ke dapur dan mulai mencucinya dengan rapi.
Bu Surya berdiri di ambang pintu dapur, menonton dengan wajah puas. "Pintar rajin, dan bersih. Sungguh menantu idaman."
Setelah selesai, Rara kembali ke ruang tengah dengan wajah bersih dan wangi. Bu Surya langsung menggenggam tangan Rara dengan hangat.
"Rara, Ibu sangat menyukaimu. Sejak pertama kali melihat, Ibu sudah merasa cocok," ujar Bu Surya tulus. "Kamu lembut, tahu sopan santun, dan rajin. Berbeda dengan wanita yang dulu—kasar, tidak tahu berterima kasih, dan selalu saja membuat suasana rumah menjadi gelap."
Rara tersenyum lembut. "Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha menjadi menantu yang membanggakan Ibu. Saya akan selalu menjaga Ibu dan Askar."
"Itu yang Ibu inginkan! Mulai sekarang, sering-seringlah ke sini. Anggap saja rumahmu sendiri," kata Bu Surya dengan antusias.
Askar yang mendengar itu merasa sangat bahagia. Ia merangkul bahu Rara dengan bangga. "Lihat kan, Rara? Ibu sudah menyayangimu seperti anak sendiri."
Malam itu Rara pulang dengan hati yang senang. Bu Surya mengantarnya sampai ke pintu pagar sambil tersenyum lebar, berjanji agar Rara datang lagi keesokan harinya.
Di dalam rumah, Bu Surya duduk kembali dengan wajah puas. "Askar, kamu memang beruntung. Rara itu wanita sempurna. Sopan, cantik, rajin, dan pandai berbicara. Jauh lebih baik daripada wanita yang dulu. Seharusnya sejak dulu kamu memilih dia."
Askar mengangguk setuju. "Iya, Bu. Aku merasa lebih bahagia sekarang. Rumah ini terasa lebih hidup sejak Rara datang."
Mereka berdua merasa sangat puas. Bu Surya tidak lagi merindukan kehadiran Miska. Baginya, Rara adalah pengganti yang jauh lebih baik.
Keesokan harinya di kantor, Askar berjalan menuju ruang rapat. Di lorong, ia berpapasan dengan Arfan. Langsung ia menunduk sedikit, sikapnya penuh hormat dan segan.
"Selamat pagi, Pak Arfan," sapa Askar dengan lembut.
Arfan berhenti melangkah, menatapnya sebentar. "Pagi. Rapat sebentar lagi dimulai. Siapkan semuanya dengan baik."
"Siap, Pak. Saya sudah siapkan semuanya," jawab Askar hati-hati.
"Bagus. Fokuslah," ujar Arfan singkat, lalu berjalan pergi.
Askar menghela napas lega. Selalu begitu setiap kali berhadapan dengan Arfan. Beliau pemilik perusahaan sekaligus orang paling berpengaruh, jadi semua orang pasti segan.
Sementara itu, di tempat tinggalkannya, Miska sedang menyusun barang pesanan di atas meja kayu kecilnya. Pintu terbuka, dan Bu Siti masuk membawa kantong plastik berisi kemasan baru.
"Miska, kemasan yang kau minta sudah aku belikan," seru Bu Siti sambil meletakkannya di meja. "Dan lihat nih, pesanan hari ini makin banyak lho!"
Miska langsung tersenyum, wajahnya bersinar. "Wah, terima kasih banyak, Bu Siti! Ibu selalu saja menolongku."
"Itu sudah sewajarnya. Kita kan sudah seperti keluarga," jawab Bu Siti sambil duduk. "Gimana hari ini? Semangat ya?"
"Lancar sekali, Bu! Hari ini sudah ada tiga puluh pesanan masuk," jawab Miska dengan semangat. "Berkat Ibu yang sudah bantu aku buka toko dan ajari aku semua, aku nggak tahu harus bagaimana kalau nggak ada Ibu."
Bu Siti tersenyum bangga. "Itu karena kamu rajin dan jujur, Miska. Pelanggan itu bisa merasakan. Lagi pula, lihatlah dirimu sekarang. Sudah mulai cerah lagi wajahnya."
Miska mengangguk. "Aku merasa aku punya nilai, Bu. Aku bukan orang yang tidak berguna."
"Kamu itu wanita hebat, Miska. Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri," ucap Bu Siti lembut. "Jangan pernah berpikir untuk kembali ke rumah itu. Mereka tidak pantas untukmu."
"Aku tahu, Bu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku tidak akan pernah kembali," jawab Miska tegas.
Mereka berbincang sebentar, lalu Bu Siti pamit pulang. Miska kembali menyelesaikan pekerjaannya. Langit mulai gelap, namun ia belum merasa lelah. Justru semakin sibuk, semakin ia merasa hidup.
Di rumah Askar, Rara datang lagi sore itu. Bu Surya langsung menyambutnya dengan pelukan hangat, menyiapkan camilan, dan terus memuji-muji Rara. Suasana rumah itu terasa sangat bahagia—setidaknya untuk saat ini. Namun mereka belum tahu, bahwa kenyamanan yang mereka rasakan itu perlahan-lahan akan berubah menjadi sesuatu yang berbeda.
buktikan dengan keberhasilan mu sendiri 💪💪💪
terus sehat dan semangat Thor 😍💪