Diana melihat suaminya mencium atasannya di mobil, kala hujan deras di depan rumah. Alih-alih minta maaf, Geo malah menceraikan Diana saat istrinya itu minta penjelasan. Bahkan kedua orang tua Geo menghina dan mengusir Diana dari rumah itu.
Tak hanya itu, Sandra wanita selingkuhan suaminya, yang ternyata adalah salah satu putri orang terpandang di kota itu, membayar orang untuk membakar toko orang tua Diana. Memaksa Diana mempercepat perceraian dan menyerahkan hak asuh anak mereka pada Geo.
Saat Diana merasa sangat putus asa dan terpuruk, karena tak punya sepeser pun untuk membayar biaya rumah sakit ibunya dan operasi ayahnya. Seorang pria datang mendekat dan berkata,
"Kamu Diana kan? mau menikah denganku? aku akan bayar semua pengobatan ayah dan ibumu. Juga mengambil kembali hak asuh putrimu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Para pemegang saham tidak akan setuju!" gertak tuan Hartawan ketika John memaksa bertemu dengan Ravi, di ruangannya.
Tapi, John terus menghalangi. Karena Ravi di dalam ruangan nya sedang menyelesaikan beberapa dokumen sebelum akan menyusul Diana ke rumah sakit untuk menemani istrinya itu menjenguk ayah dan ibunya.
Dan John pikir, masalah seperti seperti ini, dia bisa menangani nya.
"Tidak bisa tuan Hartawan, tuan Ravi masih punya banyak urusan yang lebih penting..."
"Kamu sadar, kamu sedang bicara dengan siapa?" tanya Tuan Hartawan menyela.
"Sangat!" sahut John tanpa ragu sama sekali, "saya sedang bicara dengan seorang ayah, yang kerap menutupi apapun kesalahan anaknya. Bahkan meski itu melanggar hukum!" lanjut John yang membuat mata tuan Hartawan lebih melotot lagi dari sebelumnya.
"Kamu..."
"Tuan Hartawan bisa menghentikan sampai di sini. Atau semua hal yang terjadi beberapa waktu ini, yang menyeret nama Sandra Hartawan akan kembali di usut oleh pihak berwajib. Tuan Hartawan pastinya tahu, tak akan sulit bagi tuan Ravi menjebloskan Sandra ke penjara dengan hukuman yang sangat lama, karena telah melakukan penganiayaan, pembakaran, percobaan pembunuhann terhadap tuan Arman dan nyonya Desy!"
Tak ada lagi basa-basi, John memaksa tuan Hartawan untuk menyerah pada apa yang telah ditetapkan perusahaan.
Dan tuan Hartawan, masih diam di tempatnya. Dia sudah keluar uang banyak untuk menutupi masalah itu. Dan bukan mustahil, kalau seorang Ravindra Wiratama akan bisa mengungkapkan semua itu ke publik pada akhirnya kalau dia mau.
"Silahkan!" kata John menunjukkan jalan keluar pada Tuan Hartawan.
Meski dengan amarah yang tertahan di dadanya. Tuan Hartawan harus pergi dari perusahaan itu tanpa hasil. Jangan tanya seperti apa marahnya Sandra di rumah. Dia marah pada ayahnya tapi melampiaskannya pada Geo.
Plakk
Sebuah tamparan, mendarat sangat keras di pipi Geo.
Dan dengan mata berkaca-kaca, pria itu bahkan hanya bisa menyentuh pipinya yang terasa panas tanpa bisa membalas.
"Semua ini gara-gara kamu yang gak becus!" pekik Sandra.
Pertengkaran mereka sangat besar, Sandra memaki-maki Geo. Tapi Geo hanya bisa diam. Kalau dia membalas satu kata, Sandra akan sangat murka sampai melemparkan apapun yang ada di dekatnya pada Geo. Geo terdiam, dia melihat wanita yang ada di depannya itu.
Membandingkannya dengan sikap lemah lembut Diana, dengan sikap perhatian dan kata-kata yang selalu menenangkan dari Diana. Sayangnya bahkan untuk merasa bersalah pun, Geo masih mementingkan harga dirinya. Dia tidak mau mengakui kesalahan yang dia lakukan pada Diana. Dia tidak mau menyesal. Dia enggan mengakuinya.
Hingga Sandra mulai tak terkendali, dan berjalan dengan cepat ke kamarnya dan Geo. Menarik sebuah koper yang tersimpan di samping lemari dengan rapi. Lalu membukanya, membuka lemari dan mengambil semua pakaian Geo dengan kasar. Melemparkan semuanya ke dalam koper. Dan mendorong koper itu sampai menabrak Geo.
Brakk
"Apa ini?" tanya Geo bingung.
"Apa matamu butaa?" pekik Sandra, "pergi kamu! kamu itu cuma bawa sial!"
Suara Sandra makin melengking tinggi, Geo mengepalkan tangannya. Dia mulai kehabisan kesabaran, bagaimana pun dia seorang pria. Di injak-injak harga dirinya seperti itu, tentu saja nalurinya sebagai seorang pria merasa tidak terima.
"Sandra!" bentak Geo.
Mata Sandra melebar, Geo berani membentaknya. Dia tidak terima, sebuah vas bunga di atas meja diraihnya dan di lemparkan pada Geo.
Brakk
Prang
Geo memejamkan matanya sekilas, cairan merah menetes perlahan di pelipisnya.
"Aku sudah terlalu menahan diri, Sandra. Kamu memang wanita kasar yang egois!"
Akhirnya kata-kata itu bisa terlontar begitu mulus dari mulut Geo. Pada akhirnya pria yang selalu mencoba mengalah itu menyadari posisi nya saat ini bahkan tidak mungkin bisa bertahan lagi di sisi Sandra.
Geo bilang kendali, garis rahang itu terlihat sangat jelas. Pikirannya sudah kacau, tanpa sadar dia bahkan merangsak mendekati Sandra dan mencekikk wanita yang bahkan dulu berbuat apapun tidak pernah Geo balas itu.
"Agkkkk!"
Brakkk
Brukkk
"Agkkkk!"
Tangan Geo gemetaran, dia melihat genangan merah di lantai. Tepat ketika dia menendang Sandra sampai membentur tembok dan tersungkur di lantai.
"Brengsekk! aku akan menghabisimu..." suara Sandra semakin mengecil, tapi tatapannya sangat penuh kebencian pada Geo yang saat ini malah terlihat begitu shock.
Tangannya masih di posisi yang sama, menggantung di udara. Seorang pelayan yang tak mendengar suara Sandra, masuk ke kamar itu.
"Nyonya..." pekiknya.
Geo menggelengkan kepalanya, dia ketakutan. Dan langsung berlari keluar dari kamar itu lalu pergi dari rumah besar mereka itu. Bukannya membawa Sandra ke rumah sakit, Geo malah kabur.
Pelayan Sandra berteriak, dia menghubungi tuan Hartawan dan akhirnya Sandra di bawa ke rumah sakit.
Di rumah ibunya, Geo tampak masih seperti orang yang panik dan kebingungan. Keringat membanjiri keningnya, kemeja yang dia pakai sudah sangat lusuh. Bahkan bagian belakangnya juga basah. Padahal di mobilnya ada pendingin udara.
"Geo, kamu pulang..."
"Bu, Bu... jangan katakan pada siapapun aku pulang! Bu... aku mendorong Sandra sampai jatuh, dia berdarahh..."
Dewi kaget bukan main, mendadak wajahnya menjadi pucat dan kedua telapak tangannya terasa begitu dingin.
"Kalian bertengkar? kamu sudah bawa Sandra ke rumah sakit?" tanya Dewi cemas.
Tapi alih-alih merasa tenang dengan jawaban dari Geo. Dewi malah di buat makin tegang, melihat anaknya menggelengkan kepalanya.
"Bu, tidak! aku kabur. Aku takut, dia masih memakiku, dia bahkan masih memakiku saat dia hampir pingsan!"
"Kamu ini bagaimana? kalian ini kenapa sih?" tanya Dewi yang mulai frustasi.
"Bu, kita... kita bawa Chia pulang kampung saja. Cepat Bu, bawa barang-barang yang masih bisa dijual di jalan. Bu, Tuan Hartawan, tidak akan melepaskan aku!"
Mata Geo merah, dia tahu betul konsekuensinya mencelakai Sandra. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Karena begitu emosi, dia benar-benar lepas kendali.
Dewi panik, suaminya dalam keadaan yang tidak baik. Bagaimana mereka akan pergi. Tapi, kalau tidak pergi... setelah apa yang sudah Geo lakukan pada Sandra. Anaknya itu juga pasti akan berakhir tidak baik.
***
Bersambung...
tp puas siih ,, akhirnya semua org mendapat balasan yg setimpal sesuai ap yg mereka perbuat ,,
ad yg makin bahagia ,, ad pula yg malah terpuruk ,,
makasih buat cerita ny yx kak ,,
sukses buat karya terbaru ny kak ,,
kok kyk terburu buru kah?
tapi begitulah kalau kita sudah termakan nafsu duniawi semua nya akan berakhir tragis pada akhirnya.
terimakasih atas cerita indah nya Thor 😍🫰
semoga lekas pulih kembali
semangat berkarya
ditunggu karya selanjutnya 🫰
kyk artis yg Ono juga ntar..anggep perempuan yg baru dikenalnya paling lembut dan sempurna sampe sebegitu nya ngotot nyerein istri nya.
karma datengnya ga pernah salah alamat
selamet yeee🫣
boleh bikin slametan ga si kita
atas pemecatan mereka
ehhh,ga boleh ya senang diatas penderitaan orang lain🤣🤣🤣..
KA Noer up nya jangan lama lama🥹🥹🥹
lanjut kak
melihat mu dari jauh bersamanya.
walaupun pasti ku akan cemburu...
tapi pastikan kau jangan kemana-mana ...
aku merindu.
ku yakin kau tau
tanpa batas waktu...
ku terpaku...
akh meminta
walaupun tanpa kata
cinta berupaya
jiaaaah jadi nyanyi🤣🤣🫰