Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Kopi Pagi dan Senyum Kecil
Rabu pagi, Renard meminum kopi buatan Liana sebelum rapat pertama.
Gerakan itu sederhana. Ia menerima cangkir kopi tubruk dengan kayu manis dan kapulaga, menunggu Liana berbalik, lalu menyesapnya. Dari pantulan kaca lemari, Liana melihat sudut bibirnya naik hampir tak terlihat.
"Ada yang salah, Pak?"
Senyum itu langsung hilang. "Tidak."
"Takaran kopinya?"
"Benar."
"Baik."
Liana keluar sambil menahan senyum sendiri.
Sesi yang dipindah ke Minggu tengah malam telah berlangsung tenang. Tidak ada ciuman yang nyaris terjadi. Renard mengikuti latihan jarak, Liana menjaga komunikasi lewat telapak tangan, dan keduanya pura-pura kejadian Sabtu sebelumnya tidak ada. Kini, tiga hari kemudian, kepura-puraan itu berubah menjadi kebiasaan baru: mereka saling memperhatikan lalu cepat-cepat membuang muka.
Di pantry, Rizal dan Bayu sedang menghabiskan martabak sisa sarapan.
"Pak Renard belum marah pagi ini," kata Rizal. "Indeks keselamatan kantor naik dua tingkat."
"Karena kopi Mbak Liana," jawab Bayu.
"Atau terapi rahasia dari alam semesta."
Liana hampir tersedak air putih. "Kalian tidak ada laporan?"
"Ada. Tapi laporan tidak punya kayu manis."
Ponsel meja berdering sebelum ia perlu menjawab. Resepsionis lobi memberi tahu ada kiriman besar untuk Liana dan petugas GoSend membutuhkan bantuan membawa ke lantai dua puluh delapan.
Kiriman itu tiba sepuluh menit kemudian.
Sembilan puluh sembilan mawar merah memenuhi meja Liana sampai monitornya hampir tertutup. Aroma manis yang berat segera menyebar ke seluruh area. Pita emas melingkari vas besar, dilengkapi kartu putih bertuliskan dua kata.
Untuk Lia.
Keramaian meledak.
"Sembilan puluh sembilan!"
"Mbak Liana, dari siapa?"
"Pacar?"
Seseorang mengambil foto. Notifikasi grup WhatsApp mulai berbunyi bahkan sebelum petugas GoSend pergi.
Liana tidak mendengar separuh pertanyaan. Tatapannya terpaku pada tulisan di kartu.
Huruf `L` yang miring. Tekanan kuat pada titik di akhir kalimat. Tulisan Aldi.
Dalam kehidupan pertama, Aldi pernah mengirim bunga yang sama setelah mengambil tabungan Liana tanpa izin. Ia datang membawa mawar, menangis, lalu membuat Liana meminta maaf karena telah mencurigainya.
Mawar itu bukan kasih sayang.
Mawar itu adalah kain indah yang selalu dipakai Aldi untuk membungkus manipulasi.
Liana mencabut kartu dan membaliknya di meja.
"Wah, romantis sekali."
Pintu kantor Renard terbuka.
Suasana langsung berubah. Ia keluar membawa map, lalu berhenti ketika melihat dinding merah di meja Liana.
Tatapannya berpindah dari bunga ke kerumunan. "Tidak ada yang bekerja?"
Orang-orang bubar dalam tiga detik.
Rizal dan Bayu kembali ke kursi masing-masing, meski mata mereka masih mengikuti dari balik monitor.
Renard mendekati meja. "Siapa yang mengirim?"
"Tidak tahu, Pak."
"Kartu itu?"
"Hanya tertulis untuk saya."
Renard mengambil kartu yang terbalik. Liana menahan tangannya sebelum ia sempat membaca bagian belakang yang kosong.
Sentuhan itu membuat keduanya diam. Renard melihat jemari Liana di pergelangan tangannya, lalu wajahnya yang dingin.
"Kamu tahu pengirimnya."
"Saya akan membuangnya."
"Belum menjawab."
"Karena itu urusan pribadi."
Renard melepaskan kartu. Wajahnya tampak tenang, tetapi rahang yang mengeras menceritakan hal lain.
"Meja kerja bukan tempat memajang bunga."
Ia mengangkat seluruh vas. Beratnya membuat air bergoyang, namun Renard tidak meminta bantuan. Ia membawa sembilan puluh sembilan mawar itu ke ujung lorong dan memasukkannya ke tempat sampah besar di dekat ruang servis.
Satu lantai melihatnya.
Tak ada yang berani bersuara sampai pintu kantornya tertutup.
Di dalam kantor, Renard meletakkan map terlalu keras di meja. Ia masih dapat melihat dua kata pada kartu itu.
Untuk Lia.
Panggilan singkat, akrab, seolah pengirimnya berhak atas sisi Liana yang tidak dikenal Renard.
Ia menekan interkom. "Liana."
Perempuan itu masuk dua menit kemudian. "Ya, Pak?"
"Resepsionis tidak boleh menerima kiriman pribadi tanpa konfirmasi penerima. Buat prosedurnya."
"Baik."
"Dan blokir pengirimnya."
Liana mengangkat alis. "Itu ponsel pribadi saya."
"Dia mengganggumu di tempat kerja."
"Saya bisa menanganinya."
"Aku melihat wajahmu ketika membaca kartu."
Liana terdiam. Di balik semua alasan ketertiban, Renard benar-benar memperhatikan rasa takut yang hanya muncul sekejap.
"Saya akan blokir," katanya lebih lembut. "Bukan karena diperintah. Karena memang itu yang saya pilih."
Renard mengangguk. "Bagus."
"Ada lagi?"
Ada banyak yang ingin ia tanyakan. Seberapa lama hubungan itu? Mengapa pria tersebut boleh memanggilnya Lia? Apakah Liana pernah mencintainya?
"Tidak."
Liana berbalik. Sebelum pintu tertutup, Renard berkata, "Kalau ada kiriman lain, jangan sentuh sendiri. Security yang urus."
"Baik, Pak."
Kali ini, saat keluar, Liana tidak menyembunyikan senyum kecilnya.
Rizal perlahan berdiri. "Saya hanya ingin memastikan. Tadi bos membuang bunga orang untuk Mbak?"
"Bos menjaga ketertiban meja," kata Bayu tanpa ekspresi.
"Dengan wajah seperti mau membeli toko bunganya lalu membakarnya?"
Liana duduk. Anehnya, ia justru merasa lega. Ia memang hendak membuang bunga itu. Renard hanya melakukannya lebih cepat dan jauh lebih dramatis.
Ponselnya menyala.
Nomor baru. Pesan WhatsApp baru.
Liana mengenali pola nomornya. Aldi membeli kartu baru hanya untuk melewati blokir. Foto profilnya menampilkan mawar yang sama, seolah kiriman itu bukan gangguan melainkan bukti cinta yang harus dihargai.
Aldi: Lia, aku tahu bunganya sudah sampai. Kita tidak harus jadi orang asing.
Titik abu-abu di samping pesan masih menunjukkan belum dibaca.
Jari Liana menggantung di atas layar.
Kali ini, bukan karena ragu.