Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan Dan Pengawasan Rahasia
Saat Kirana menutup kalimat terakhir dari presentasinya dengan senyuman anggun, ruang rapat utama yang tadinya hening seketika pecah oleh suara tepuk tangan meriah. Para jajaran direksi dan petinggi perusahaan saling berbisik kagum, mengangguk-angguk puas dengan kedalaman analisis dan penyampaian Kirana yang begitu luar biasa.
"Presentasi yang sangat tajam dan efisien. Penjelasan strateginya sangat masuk akal," puji salah satu Direktur Operasional seraya bertepuk tangan penuh apresiasi.
Devan menyandarkan punggungnya di kursi kepemimpinan, menyunggingkan senyum tipis—sebuah wujud kebanggaan yang sangat tersirat namun kentara bagi siapa saja yang mengenalnya.
"Kerja yang bagus, Kirana. Laporan dan analisis ini disetujui tanpa revisi," ujar Devan dengan suara bernada rendah yang berwibawa, membuat seluruh ruangan mengagumi keberhasilan anak magang baru tersebut.
"Terima kasih, Tuan Devan dan Bapak/Ibu sekalian," jawab Kirana dengan membungkuk sopan dan penuh keanggunan.
Rapat resmi pun diakhiri. Satu per satu peserta rapat keluar dari ruang direksi dengan wajah puas, membicarakan kehebatan Kirana yang dinilai seperti profesional berpengalaman. Kirana merapikan barang-barangnya lalu berjalan kembali menuju lift bersama rombongan tim divisi pemasaran.
Di sepanjang koridor menuju lantai 12, Siska berjalan paling belakang dengan wajah yang sangat pucat dan rahang menegang. Rasa malu, bingung, dan amarah bercampur menjadi satu di dalam dadanya. Ia tidak habis pikir bagaimana file yang sudah ia hapus permanen dan dokumen yang telah ia robek-robek semalam bisa hadir dengan begitu sempurna di layar proyektor.
Setibanya di area kerja divisi, suasana menjadi jauh lebih hangat untuk Kirana. Beberapa rekan kerja menghampiri mejanya untuk memberikan ucapan selamat.
"Luar biasa sekali, Kirana! Baru hari kedua tapi kamu sudah dipuji langsung oleh Tuan Devan!" puji salah satu staf senior.
Kirana tersenyum ramah dan rendah hati. "Ini semua berkat bimbingan tim juga, terima kasih ya."
Sementara di sudut ruangan lain, Siska melemparkan tubuhnya ke kursi kerja dengan kasar. Matanya menatap Kirana dari kejauhan dengan sorot kebencian yang makin membara, tak menyadari bahwa badai sebernarnya baru saja akan dimulai.
Di tengah hiruk-pikuk pujian yang masih mengalir di area kerja, Manajer Divisi melangkah keluar dari ruangannya sambil bertepuk tangan pelan untuk menarik perhatian seluruh staf.
"Perhatian semuanya!" seru sang Ketua Divisi dengan wajah berbinar penuh semangat. "Karena analisis pasar yang dipresentasikan Kirana tadi berhasil menyakinkan jajaran direksi, perusahaan resmi memenangkan proyek besar ini! Jadi nanti malam, kita ada acara makan-makan kantor untuk merayakannya!"
Sorak-sorai riang langsung membahana di seluruh ruangan. Para karyawan saling bersalaman dan membicarakan restoran mana yang akan mereka datangi nanti malam.
di sudut ruangan, Siska hanya bisa menyunggingkan senyum paksa, dadanya makin sesak mendengar perayaan yang justru dipicu oleh keberhasilan Kirana.
Ting!
Suara notifikasi ponsel Kirana berbunyi halus di atas meja. Kirana melirik layarnya, dan sebuah pesan singkat masuk dari kontak bertuliskan nama suaminya.
Devan: Nanti malam ada makan malam kantor, aku akan mengawasimu dari jauh okeee 😉
Membaca pesan bernada protektif namun manis itu, bibir Kirana tak tahan untuk tidak mengukir senyum tipis. Ia mengetik balasan singkat sambil sesekali melirik ke arah Siska yang masih menatapnya dengan pandangan tidak suka dari kejauhan.
Kirana: Baik, Tuan Suami. Jangan sampai ketahuan karyawan lain ya!
Kirana mengunci kembali ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia tahu betul, acara makan malam nanti bukan sekadar perayaan biasa. Dengan Siska yang makin tersudut dan keberadaan Devan yang mengawasi dari balik layar, malam nanti pasti akan menjadi arena permainan yang sangat menarik.