Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016: Suster yang Terlalu Rapi
Alexander kembali ke RS Kota dengan langkah cepat, tetapi tidak berlari.
Orang yang berlari membuat lorong panik. Orang yang panik membuat lawan tahu bahwa perangkapnya hampir terlihat.
Di depan ruang rawat Anwar, Yanti berdiri memegang gagang pintu dari dalam. Matanya merah, ponsel masih menyala di tangan.
"Dia belum masuk lagi," bisiknya begitu Alexander tiba. "Tapi dia lewat dua kali."
"Pintu tetap terkunci?"
"Iya. Saya panggil perawat lain seperti pesanmu."
Alexander mengangguk, lalu masuk.
Anwar duduk bersandar. Wajahnya lemah, tapi matanya lebih sadar daripada siang tadi. Di meja kecil, semua obat masih dalam blister. Yanti sudah memfoto satu per satu, bahkan menulis jam di kertas tisu.
"Bagus, Tante."
Yanti hampir menangis karena satu kata itu.
Pintu diketuk.
Kali ini dokter jaga masuk bersama dokter senior beruban tipis. Name tag-nya tertulis dr. Tanto Wijaya. Di belakang mereka ada perawat farmasi membawa kantong plastik bening.
"Pak Alexander?" kata dr. Tanto. "Saya diminta mengecek catatan obat pasien Anwar Halim."
"Terima kasih, Dokter."
Suster Melly berdiri di ujung lorong, tidak ikut masuk. Dari celah pintu, Alexander melihat seragamnya tetap rapi, tangannya menggenggam papan catatan. Di atas kepalanya, tanda merah itu muncul lagi.
Tanda Peringatan Bahaya【!】
Ting! Tanda Peringatan Bahaya【!】 tetap aktif.
Ting! Pengumpulan Bukti memprioritaskan objek: cairan infus, catatan obat, akses petugas.
Alexander menahan napas.
Ia tidak menunjuk Melly.
"Dokter," katanya, "keluarga meminta semua obat dan infus yang masuk ke tubuh Pak Anwar malam ini diverifikasi ulang, termasuk asal dari farmasi dan tanda tangan dokter."
dr. Tanto menatapnya. "Bapak menemukan apa?"
"Keanehan prosedur. Bukan diagnosis medis."
Jawaban itu membuat dokter senior sedikit melunak. "Baik. Kita mulai dari infus."
Perawat farmasi membuka kantong bening. Ada satu botol cairan infus baru dengan label yang tampak normal. Namun tutup pengamannya sudah tidak semulus botol lain di troli. Ada bekas tekanan kecil di sisi plastik.
Alexander memotretnya sebelum tangan siapa pun menyentuh lebih jauh.
Perawat farmasi mengerutkan dahi. "Botol ini tidak dari batch yang saya keluarkan tadi."
dr. Tanto langsung menoleh. "Yakin?"
"Nomor batch-nya beda, Dok. Yang saya keluarkan untuk kamar ini berakhiran 47B. Ini 47D."
Lorong di luar terasa makin sunyi.
Anwar menelan ludah.
Yanti memegang bahu suaminya.
Alexander berkata pelan, "Tolong jangan dibuang."
"Tentu," jawab dr. Tanto. Nada suaranya berubah. "Ini harus disimpan sebagai sampel."
Ia meminta kantong segel rumah sakit. Botol infus dimasukkan, difoto, lalu diberi catatan jam, kamar, nama pasien, dan nama petugas yang menerima. Alexander memotret setiap tahap dari posisi yang tidak mengganggu.
Suster Melly masih di luar.
Terlalu diam.
dr. Tanto memeriksa catatan elektronik. "Ada entri pergantian infus pukul 16.40, tetapi tanda tangan digitalnya memakai akun perawat jaga lain."
Perawat yang dipanggil dari meja jaga langsung pucat. "Saya tidak mengganti infus, Dok. Jam itu saya di ruang 305."
"Ada CCTV koridor?"
"Ada, tapi tidak langsung mengarah ke meja obat."
Alexander mencatat: CCTV koridor, ruang 305, akun perawat dipakai.
Suster Melly akhirnya masuk setengah langkah. "Dokter, mungkin ada kesalahan input. Ruang rawat sedang sibuk."
Semua orang menoleh.
Senyumnya masih lembut. Namun Tanda Peringatan Bahaya【!】 di atasnya tampak lebih tajam.
dr. Tanto berkata datar, "Suster Melly, siapa yang meminta Anda membawa obat tambahan siang tadi?"
"Saya tidak membawa obat tambahan. Saya hanya mengikuti jadwal."
"Pasien mengatakan mulut pahit dan dada panas setelah obat pagi."
"Efek samping bisa terjadi."
Alexander menyela tenang, "Maka catatan efek samping harus ditulis, bukan diabaikan."
Melly menatapnya. "Pak Alexander, Bapak pengacara. Saya tenaga medis. Jangan sampai kekhawatiran hukum mengganggu perawatan pasien."
"Perawatan pasien tidak terganggu oleh catatan yang rapi."
Kalimat itu menghantam tepat ke kata yang melekat padanya.
Terlalu rapi.
Melly terdiam sebentar.
dr. Tanto mengambil alih. "Mulai malam ini, akses obat pasien Anwar Halim dibatasi. Semua pemberian obat harus disaksikan keluarga atau perawat kepala. Botol infus ini saya kirim ke lab internal untuk pemeriksaan kandungan. Catatan akun perawat jaga akan diaudit."
"Dokter menuduh staf sendiri?" tanya Melly.
"Saya menjaga pasien sendiri."
Untuk pertama kali, wajah Melly tidak bisa mempertahankan kelembutan penuh.
Alexander melihat retakan itu.
Ia tidak mengejar. Belum.
Setelah Melly keluar, dr. Tanto merendahkan suara. "Pak Alexander, saya tidak bisa menyimpulkan percobaan pembunuhan tanpa hasil lab."
"Saya paham."
"Tetapi botol infus yang tidak sesuai batch tidak boleh masuk ke pasien."
"Apakah Dokter bersedia mencatat kejadian ini dalam laporan internal?"
"Saya akan buat laporan insiden keselamatan pasien. Salinan untuk keluarga bisa diminta lewat administrasi."
"Terima kasih, Dok."
Anwar memejamkan mata. "Kalau infus itu dipasang..."
Yanti menutup mulutnya.
Alexander tidak menjawab dengan dugaan. Ia hanya berkata, "Karena belum dipasang, Pak Anwar masih bisa duduk di sini dan bertanya."
Itu bukan penghiburan kosong. Itu fakta.
Di luar ruang rawat, Suster Melly berjalan ke ujung lorong. Alexander mengikutinya dari jarak aman, cukup dekat untuk melihat, cukup jauh agar tidak memancing keributan.
Melly berhenti di depan mesin minuman otomatis. Ia mengeluarkan ponsel, mengetik cepat, lalu menoleh ke belakang.
Tatapan mereka bertemu.
Kali ini, ia tidak tersenyum.
Alexander mengangkat ponselnya sedikit, seolah baru saja memotret lorong kosong. Melly segera memasukkan ponselnya ke saku.
Ting! Pengumpulan Bukti meningkat signifikan.
Ting! Kasus baru terbentuk: Kasus Percobaan Pembunuhan Berencana oleh Suster Melly.
Notifikasi itu muncul tanpa suara di udara.
Alexander tahu nama kasus bukan dakwaan. Belum ada polisi. Belum ada pengakuan. Belum ada rantai perintah ke Robert Salim.
Tetapi hari ini, ancaman yang tadinya hanya tanda merah sudah punya bentuk.
Botol infus.
Batch berbeda.
Akun perawat dipakai tanpa izin.
Ponsel Suster Melly yang terlalu cepat disembunyikan.
Ia kembali ke ruang Anwar dan menulis satu halaman baru di buku catatannya.
Jangan biarkan Melly tahu semua yang sudah kita tahu.
Di bawahnya, ia menulis baris kedua.
Cari siapa yang menerima kabar dari lorong RS Kota.